Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 29 - The Case (Pengantin Merah - 9)



Hari mulai sore, Aster dan Ella juga Jarred sampai di kota tujuan tapi mereka harus menempuh perjalanan lagi sekitar 4 jam naik mobil ke pedalaman perkampungan lagi. Jarred menyewa penduduk lokal untuk membawa mereka kesana besok paginya. Malam ini mereka akan tidur di hotel kecil di kota itu.


"Sisa 1 kamar?" Tanya Jarred tak percaya.


"Iya den.. cuma sisa 1 kamar dengan kasur besar kok. Bisa lah sama adeknya bertiga." Jawab petugas hotel sambil melirik ketiga orang itu, meskipun Aster berbeda sendiri tapi entah kenapa petugas hotel itu percaya.


"Apa rame ya pak sampe habis di booking?" Tanya Ella yang tak enak hati dam kasihan melihat Jarred yang sangat lelah.


"Iya non, ada acara di desa sebelah dan semua hotel, penginapan sudah habis dari semalam." Jawab bapak itu dan mau tak mau mereka harus mengambil kamar itu. Kota ini kecil dan hanya ada 3 hotel dan penginapan saja yang merupakan rumah warga. Dan Jarred tak nyaman jika 2 gadis ini harus tidur di penginapan atau rumah warga.


Minimal hotel, meskipun kecil tapi keamanan dan peralatan pasti komplit.


Ella masuk duluan dan melihat ada kasur besar di depannya, "Cukup kok untuk bertiga." Ucap Ella dan membuat Aster juga lega melihat ukuran kasurnya.


"Mandi dulu, habis itu kita cari makan." Perintah Jarred dan 2 gadis itu mengangguk dan mereka mandi bergantian.


Tiga orang dengan wajah rupawan ada di kota kecil membuat orang-orang berdecak kagum.


"Pakai ini." Jarred memberikan masker untuk menutupi wajah mereka. Mau makan juga akhirnya mereka hanya membeli dan akan makan di kamar saja demi kenyamanan. Memang benar kota kecil ini sangat ramai dan banyak umbul-umbul di tepi jalan.


.


.


.


Pagi harinya, warga lokal yang disewa Jarred sudah menunggu mereka.


"Ayo pak.. kita cari sarapan dulu." Kata Jarred dan Pak Samsudin mengiyakan dengan mengangguk sekali.


Mereka sarapan bubur ayam di pinggir jalan karena hanya ini yang terlihat. Mereka jalan terlalu pagi.


"Nanti di jalan ada restoran kecil di tepi sawah. Kalau den Jarred mau kita bisa berhenti disana juga." Kata Pak Samsudin memberitahukan.


"Ya boleh pak, nanti kita berhenti makan dulu menjelang siang." Jawab Jarred.


Sementara Aster tetap diam karena sangat malu pada Jarred. Entah apa yang terjadi, yang tadinya Ella yang tidur di tengah malah gantian dialah yang tidur ditengah dan memeluk Jarred dengan erat.


Jarred yang terbagun duluan hanya membiarkan saja Aster memeluknya hingga dia bangun dengan sendirinya.


Yang terjadi adalah, Ella yang berpindah setelah ke toilet tengah malam.


"Ella memang pembawa masalah iihhh..." Gumam Aster sepelan mungkin, namun Jarred yang memang duduk di kursi depan mendengar rutukan Aster pada adiknya itu. Ella hanya nyengir tak bersalah saat Aster bertanya tadi.


Perjalanan panjang akhirnya selesai juga, Aster menelisik rumah kayu sederhana di depannya, melihat seorang ibu-ibu sedang mencangkul lahan tak seberapa di sebelah rumah dan ada 2 remaja juga membantu mencabut rumput.


"Siang bu, apa benar ini rumah Bima?" Tanya Jarred dengan sopan.


"Ah iya.. kalian teman Bima?" Tanya Ibu seraya melepaskan cangkulnya.


"Iya.. kami ingin mengambil barang Bima yang disini." Jawab Jarred.


"Maaf tangan ibu kotor, masuk saja. Bima sudah telepon ke rumah pak RT tadi malam. Katanya akan ada temannya yang datang." Ucap Ibu dan mempersilakan ketiganya masuk.


"Cakep-cakep ya temannya Bima di ibu kota." Lanjut ibu dengan pelan sambil tersenyum.


Jarred dan Ella jalan beriringan sementara Aster yang melihat lahan yang dicangkul ibu begitu miris. Beberapa tanaman mati dan benih yang baru di semai tampaknya juga kurang bagus nantinya.


"Ini kangkung, disana ada bayam dan sawi." Jawab remaja perempuan yang adalah adik Bima.


"Ohh.. boleh bantu?" Tanya Aster dan gadis remaja itu mengangguk. Saat dia mengambil benih di dalam rumah, Aster dengan jari-jarinya membuat beberapa gerakan dan bayam yang masih akan tumbuh itu berubah segar lalu sinar keunguan bercampur biru itu menyapu seluruh tanah ini.


"Semoga semua tumbuh dengan baik." Gumamnya pelan.


"Kakak ini benihnya." Ucap gadis itu.


"Siapa namamu?" Tanya Aster sambil mengambil benih dari tangan gadis remaja.


"Shinta." Jawab Shinta dengan senyum tak kalah manisnya.


"Ok Shinta kita tanam ini di sana saja. Lebih cocok." Ajak Aster dan mereka menanam bersama.


Ella dan Jarred sudah sampai di kamar Bima dengan ukuran sangat kecil namun rapi meskipun banyak barang di sana.


"Katanya di lemari bawah meja." Bisik Ella pada Jarred. Ella membuka lemari itu tapi tidak ada kamera yang dimaksud.


"Mungkin dipindah oleh ibu.. cari lagi kak."


Jarred dan Ella mencari ke seluruh lemari tapi tidak ada. Ella sudah frustasi dan keluar untuk mencari ibunya Bima. Hanya sebentar lalu Ella kembali lagi.


"Kata ibu gak pernah pindahin barang Bima dan Bima itu pelupa kalau simpan barang." Jelas Ella dan Jarred juga sudah mencari ke segala tempat kecil ini.


"Apa mungkin Bima lupa, bukan rumah ibu tapi apartemen?" Tanya Ella dan dia memikirkan segala kemungkinan.


Bug..


"Adduuh... sakiiittt hiks.." Ella mengelus kepalanya, dia hampir menangis. Jarred juga terkejut mendengar suara Ella dan benda jatuh.


"Sakit ini.." Keluh Ella yang kini kepalanya di elus Jarred.


"Ini apa?" Tanya Ella mengambil kotak yang menimpa kepalanya tadi, cukup keras.


"Kamera kak!" Pekiknya girang dan melupakan kepalanya yang sakit.


"Kita cek dulu, jangan salah nanti." Kata Jarred dan mereka membawa kamera itu ke mobil dan mengeceknya.


Aster yang sudah selesai menyemai benih kembali bergabung bersama Ella dan Jarred.


Video yang menampilkan seluruh peristiwa itu membuat semua orang lega, semua terkuak sekarang. Yang anehnya tidak ada sosok Bima didalam video dan kemungkinan dia aman dari jeratan hukum.


Setelah berpamitan, mereka bertiga kembali ke kota dengan membawa barang bukti nyata. Bima memang belum sempat mengecek semua yang ada di dalam kamera karena takut. Dia hanya melihat beberapa video Redy dalam sosok lain yang mungkin membuat Yunita marah, dan tidak sempat melihat video yang terekam disana.


Redy suka makeup, memakai wig dan baju wanita yang rata-rata adalah gaun. Dia berubah menjadi Mila.


Di sebuah apartemen mewah,


Redy yang sedang mondar mandir sangat gelisah karena belum bisa menampakkan diri sementara berita tentang dirinya sudah berseliweran di televisi. Redy juga tidak berani membuka sosial media apapun dengan akun miliknya yang dapat di lacak oleh polisi. Dia menggunakan akun dan ponsel Mila untuk memantau.


"Brengsek!!" Pekiknya tak terima saat semua orang memojokkan dirinya.


TBC~