
Yunita dan Redy
Yunita sangat senang karena Redy mengajaknya untuk foto pre wedding, tapi bukan ditempat cantik yang biasa orang lakukan. Dia tau Yunita suka tempat yang sedikit misterius tapi hasilnya akan sangat bagus.
"Yuk.. berangkat sekarang, langsung pakai gaunmu." Ujar Redy dan Yunita tersenyum senang, akhirnya hubungan mereka sebentar lagi akan resmi di publikasikan. Selama ini hubungan mereka memang dirahasiakan untuk kebaikan Redy yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya, Redy hanya selebgram bukan artis.
"Selesai ganti dan makeup. mereka bertiga, Redy, Yunita dan Bima menuju salah satu rumah mewah namun sudah kosong selama 3 tahun dan itu sangat menarik dijadikan tempat foto.
"Duh.. nih kamera kenapa sih?" Keluh Bima karena kamera yang dia bawa benar-benar tidak mau menyala padahal sebelum datang dia baru saja coba dan normal.
"Pakai ini aja deh.. biar cepet." Kata Redy melempar 1 buah kamera yang sama persis dengan milik Bima.
"Ok.." Bima bersiap begitu juga Redy dan Yunita.
ceklek ceklek
Beberapa foto telah diambil, untuk melihat hasilnya Yunita merebut kamera itu dari tangan Bima.
"Sabar BuYut." Ucap Bima sambil menggoda Yunita, wanita itu hanya tersenyum.
"Karna sore kita ambil angle nya dari sana aja Bim." Saran Redy menunjuk ke tepi kolam yang ada di samping rumah mewah itu. Karena suasana sepi mereka memang mengendap-endap masuk kesini lewat gang samping rumah. Biar tidak ada warga komplek yang melihat.
"Redy!!" Teriak Yunita terdengar marah.
Redy dan Bima menoleh ke arah Yunita dan juga menghampirinya.
"Apa ini? Kau... membohongiku dan.." Yunita memandangi Redy dengan jijik. Redy tidak suka dipandang begitu.
"Kenapa? Apa salahnya, aku tetap laki-laki." Ucap Redy tanpa dosa. Bima yang bingung hendak mengambil kamera itu tapi duluan direbut oleh Redy dan melemparkan kamera itu jatuh di dekat pintu gerbang.
Yunita yang merasa gagal menjadi wanita, memukul Redy dan dengan sigap Redy menangkap tangan Yunita dan menghalangi pukulan wanita itu. Redy yang kesal mendorong Yunita hingga jatuh di samping pagar.
Bima hanya bisa melihat dan saat akan membantu Redy kembali mendekat ke Yunita dan Bima disuruh menjauh dengan isyarat tangannya.
"Aku akan sebarkan ke seluruh dunia kalau kau adalah banci!" Tantang Yunita tapi Redy malah tertawa remeh.
"Coba saja Yut, lihat apakah public lebih percaya kamu atau aku yang sangat baik hati ini." Jawab Redy membuat Yunita kembali menciut.
"Aku bisa, karena sikap baikmu itu hanya ada di depan public, dibelakang kamera kau adalah orang sombong tak punya apa-apa, ingat semua yang kau punya adalah atas bantuanku Red." Yunita bangkit berdiri dan berbalik.
"Ingat, aku punya bukti kelakuan busukmu selama ini. Aku bertahan dengan tabiatmu yang jauh dari kata baik karena mencintaimu!" Ancam Yunita lagi.
Redy yang kesal melepas jaketnya dan melemparnya dengan sembarang. Redy sangat marah, dia tidak mau image baik yang selama ini dia buat runtuh begitu saja.
Redy melihat sebuah pisau yang entah dari mana asalnya ada di tumpukan sampah kayu, dia mengambilnya lalu menarik rambut Yunita dan menusukkan pisau berkarat itu beberapa kali sampai Yunita meregang nyawa.
Bima memang disana, tapi dia kira sudah selesai dengan melihat Yunita yang berbalik pergi dia juga menjauh dari lokasi itu. Merapikan dan menyimpan kembali peralatan. Bima tidak sempat menolong Yunita saat Redy sudah menceburkan wanita itu di kolam renang berlumut.
"Red, astaga! Yunita!" Pekik Bima dan segera ingin menolong Yunita tapi Redy menghalangi. Bima masih jauh dari kolam renang itu, dia berlari cepat tapi Redy juga berlari dan menarik Bima.
"Biar saja." Ucap Redy tanpa rasa kasihan atau bersalah.
"Tapi Red, Yunita bisa mati." Bima masih ingin menolong tapi Redy menarik Bima kuat hingga menjauh.
"Dia sudah mati, kau segera bereskan semuanya. Awas, kehidupan ibu dan adik-adikmu ditanganku Bima." Ancam Redy karena dia tau keluarga adalah kelemahan Bima.
Bima hanya bisa melihat Yunita yang sudah tak bergerak hampir tenggelam dengan gaun pengantinnya yang mengembang.
Redy juga memandangi Yunita yang sudah menjadi mayat, senyum tersungging di bibirnya sementara Bima merapikan peralatan dan mengambil jaket Redy yang dia lempar tadi. Disinilah kancing jaket itu terlepas tanpa Redy dan Bima tau.
"Kamera.." Kata Redy dan Bima baru ingat ada kamera di bawah pagar, Bima mengambilnya dan terkejut karena kamera ini menyala. Bima segera menukar kamera ini dengan miliknya agar Redy tidak tau. Karena Bima melihat foto seorang wanita dengan make up tebal dan mirip Redy.
Untung saja Redy tidak memeriksa apapun dan memilih langsung membakar kamera yang sebenarnya milik Bima itu, agar foto-foto yang mereka ambil hilang tak berbekas.
"Kenapa di bakar Red? Tinggal cabut memory nya." Pekik Bima kesal.
"Biar gak ada bukti tersisa. Ingat, tutup mulutmu dan semua akan baik-baik saja." Ujar Redy dengan nada mengancam dan Bima hanya mengangguk pasrah.
Kembali ke masa sekarang,
"Jadi ini alamatnya?" Tanya Ella memastikan dan Aster mengangguk.
"Gimana caranya minta izin kesana?" Tanya Ella sambil memutar otak mencari alasan. "Desa ini cukup jauh dan kalau kereta bisa 6 sampai 7 jam dan tidak ada pesawat sampai disana." Lanjut Ella lagi dan sepertinya susah untuk bisa kesana tanpa ketahuan orangtua mereka.
"Kalo bang Jarwo yang kesana gimana?" Tanya Aster dan Jarwo menolak.
"Bukan gak mau non tapi kan kami harus apel pagi dan malam jadi kalau abang ga ada bisa di pecat." Tolak Jarwo dengan alasan kuat.
"Bujuk kak J deh.." Usul Aster dan Ella hanya menghela pasrah.
.
.
.
"Ok tapi dengan syarat kakak ikut." Kata Jarred.
"Benar kak?" Tanya Aster meyakinkan.
"Yay.. ye ye ye..." Ella sudah melompat kegirangan seperti anak tk mendapatkan coklat.
Jarred yang akan cari alasan pada orang tua mereka dan izin. Tentu Ella dan Aster akan packing dengan alasan liburan juga meskipun hanya 2 hari disana.
Selagi Ella dan Aster menuju rumah orang tua Bima, Marcello juga sudah beraksi dengan pura-pura menjadi netizen dan komen di video yang mereka temukan.
"Eh.. baru sadar kalau video ini ada Yunita si Pengantin Merah loh. Apa aku salah lihat?"
Hanya 1 kalimat itu, mata jeli netizen sendiri sudah dapat menemukannya. Banyak screenshot bertebaran dan mempertanyakan apa hubungan Pengantin Merah dengan Redy?
Redy yang sedang panik tidak bisa berbuat apa-apa karena Bimo yang tertangkap, dengan bodohnya Bimo ingin mencari kancing baju itu padahal Redy mengatakan sudah punya penggantinya dan jangan cemas dengan kancing itu lagi.
"Sial! Kurang ajar sekali mereka? Mengobrak-abrik video lamaku." Redy langsung mengnonaktifkan kolom komentar, tapi percuma karena pesan masuk terus-menerus.
Redy sudah menduganya, Polisi tanpa berlama-lama sudah menghampiri dirinya di apartemen Redy yang cukup mewah. Tapi Redy sudah tidak ada lagi disana, dia menyembunyikan diri karena takut.
Diperjalanan yang sangat panjang, Ella dan Aster terus saja mengobrol sedangkan Jarred tetap bertanggungjawab dengan nilai mahasiswanya. Dia mengoreksi semua tugas dan beberapa kali menguap karena ngantuk.
"Tidur aja kak?" Kata Ella kasihan melihat Jarred. Ella lalu berpindah yang dari sebelah Aster menjadi duduk di sebelah Jarred.
"Ah gak jadi deh, Aster aja disini." Ella pindah lagi dan menarik Aster duduk di sebelah Jarred karena Ella mau berfoto di jendela saat melewai persawahan nanti.
Mereka duduk di kelas eksekutif dan terlihat sangat nyaman pada gerbong yang tidak terlalu ramai itu.
Aster sedikit canggung tapi Jarred yang memang sangat mengantuk akhirnya terpejam dan kepalanya nyaman di pundak Aster yang memang lebih tinggi dari Ella.
"Tuh kan, lebih nyaman bahumu karena aku pendek." Celetuk Ella tanpa tau jantung Aster berdetak lebih kencang dari biasanya.
TBC~