Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 39 - The Case (Deadly Bullying 1)



BRAAAKKK


Suara sesuatu terjatuh sangat keras terdengar, beberapa orang malah sudah berteriak histeris.


"Ada yang jatuh!!" Teriak salah satu siswa yang kebetulan paling dekat dengan tubuh yang tergolek tak berdaya itu. Warna merah mengalir dengan cepat dan sudah banyak siswa berkerumunan. Ada yang mendekat, ada yang hanya melihat dari jendela dan balkon kelas mereka.


"Itu itu.. Vina." Lirih salah satu Siswi, dari name tag nya dia bernama Riska.


Harmony International School biasa disebut HIS, adalah salah satu sekolah para elite yang sangat mahal, meskipun HIS juga ada program beasiswa namun yang masuk disana tidak ada yang gagal, semua lulus dengan nilai sempurna. HIS sangat menjunjung tinggi Hospitality. Tidak ada kekesaran ataupun saling ribut meskipun hal sekecil apapun. Satu lagi, sekolah ini sangat-sangat pemilih dalam segala hal.


Tapi kasus bunuh diri Vani mencoreng nama baik sekolah ini, HIS menjadi omongan dimana-mana. Salah satu siswi terbaiknya bunuh diri dan tidak ada yang tau kebenarannya sampai saat ini.


-,-,-,-,-,-,-,-,-


"CK.. bagaimana sih sekolah itu? Masa ada kasus bunuh diri tapi kasus ditutup gitu aja?" Gerutu Ella karena HIS tetap diam dan kasus mendingin dengan sendirinya. Tak ada kejelasan lagi dan sekolah berjalan seperti biasa tanpa ada yang berani mengulik kasus Vina.


"Apa memang begitu pa? Gak bisa di tuntut gitu? Kasihan orang tuanya." Tanya Ella pada Fano, mereka baru selesai makan malam dan Ella membuka sosmednya.


"Tergantung keluarganya, makanya handle sekolah kita atau yayasan biar ngerti." Jawab Fano sekalian memberi nasihat.


"Gak ah.. lulus kuliah Ella mau kerja di.. ah entalah pikir nanti aja, yang pasti Ella mau magang di Saros Studio." Jawab Ella yang kekeh pada pendiriannya. Besok dia sudah harus menyerahkan pengajuan magang dan yang dia pilih adalah Saros Studio milik Keluarga Sadana, sepupu dari keluarga Hastanta tentunya. (Keluarga ini bisa dibaca pada novel berjudul Elara)


"Kan ada perusahaan kita sendiri Ella ngapain ke Saros?" Tanya Imelda tapi Ella menggeleng cepat.


"Gak ma.. maunya di Saros ada Oktav disana." Sahut Ella keras kepala.


Ella tetap pada pendiriannya ingin lebih dekat dengan Oktav yang baru memberi kabar kalau akan bergabung dengan Agency terbaik negri ini yaitu Arche Model & Star atau AMS.


"Sudah pasti Oktav masuk ke AMS?" Tanya Imelda pada Fano.


"Iya sayang.. katanya sih begitu." Jawab Fano sambil melirik Ella.


"Di AMS kan gak ada peraturan gak boleh pacaran ya, artis mereka bebas. Berarti Oktav bisa punya pacar dong." Jarred bermaksud menggoda Ella. Tapi Ella yang masih sensitif perihal Oktav langsung cemberut dengan mata berkaca-kaca, idungnya mulai memerah menahan tangis.


"Aku pasti akan ke Saros dan setelah lulus akan kerja disana juga!" Pekik Ella kesal lalu berdiri dan menghentakkan kakinya dengan kuat dan naik ke lantai 2 menuju kamarnya.


Fano melirik tajam pada Jarred yang juga sedikit terkejut dengan respon adik kesayangannya itu. Sedangkan Imelda hanya menghela nafas.


.


.


.


Harmony International School


Lobi sekolah mulai ramai pagi ini, pada jam 8 pagi semua harus sudah berada di kelas masing-masing jika terlambat maka pasti akan ada pengurangan 2 point. Jika dalam 1 bulan terakumulasi pengurangan point mencapai 20 maka tidak akan bisa mengikuti ujian. Jika tetap ingin ikut ujian maka harus membayar denda yang sangat besar nominalnya.


Bisik-bisik masih terdengar, kalangan nilai mengengah tidak berani membuka suara bahkan berbisik. Yang berbisik biasanya adalah kalangan nilai A dan B atau mereka merupakan anak dari kalangan sosial yang tinggi.


"Lihat mereka masih bisa bersantai padahal sudah ada korban." Bisik salah satu siswi sambil melirik takut-takut pada 3 gadis dengan seragam yang sama.


"Gila yah.. Vani benar-benar jahat." Balas yang lain.


Mereka akhirnya diam karena Vani , Sora dan Judy melewati mereka sambil mengobrol dan tertawa riang.


Banyak siswa yang hanya melirik atau sengaja bersikap biasa saja seperti tidak ada kejadian apapun.


Vani Megantara adalah putri pengusaha garmen, minuman kemasan dan RS, beberapa butik ternama adalah milik ibunya. Sora Limanto, anak bungsu dari pemilik salah satu maskapai penerbangan dengan harga menengah tapi mereka sudah pasti sangat kaya. Sedangkan Judy  Williams adalah putri dari salah satu mentri luar negri.


Mereka bertiga mendominasi sekolah ini, tentu saja karena uang dan kepintaran. Vani dalam bidang akademis, Sora di bidang seni dan Judy adalah model remaja yang sangat diperhitungkan. Dari ketiganya hanya Judy yang bersikap cuek, tidak ikut mengganggu ataupun menolong. Dia hanya diam karena memang jarang masuk sekolah, lebih sering online karena kesibukannya.



Sebuah video tersebar liar di sosial media dan video itu berisikan seorang gadis sedang dirundung, gadis itu terpojok dan ada 2 gadis lainnya terus-terusan menampar pipinya.


Vina, dia adalah Vina yang sedang menangis dan memohon ampun untuk berhenti menyakitinya tapi video itu berakhir di detik ke 13. Seragam sekolah yang sama.


Detik itu juga orang tua Vina mendatangi sekolah bersama beberapa tetangganya, mereka menuntut keadilan karena video itu menjadi bukti kalau Vina telah mengalami pembulian dan pelakunya juga bersekolah di HIS.


"Buka! Suruh kepala sekolah keluar, saya mau meminta keadilan!" Teriak Mutiara dengan garang, dia sedih tapi juga sangat marah saat ini.


"Jangan ganggu buk! Pergi dari sini atau kami panggil polisi." Gertak salah satu security disana yang menjaga gerbang sekolah.


"Panggil, saya tidak takut. Buka ga?" Mutiara dan beberapa orang yang mendampingi dengan total 7 orang itu mendorong pagar sekolah itu. Sementara keributan yang ditimbulkan membuat fokus anak-anak berbagi antara belajar dan melihat keluar.


Tak lama polisi datang menangkap Mutiara dan teman-temannya.


"Saya mau menggugat sekolah itu." Ucap Mutiara dengan menggebu pada polisi yang menahannya di kantor polisi.


"Bu.. iklaskan saja, ibu gak akan menang. Ibu pikir mereka itu siapa?" Sahut salah satu polisi sambil terkekeh lucu.


"Dimana keadilan di negara ini? Kami rakyat kecil harus iklas dan diam? Bagaimana jika anakmu yang mati gara-gara sekolah itu, apa anda iklas?" Tanya Mutiara berteriak sambil menangis. Dia menepuk kuat dadanya berulang kali.


Disana juga ada beberapa wartawan dan dengan segera berita tentang Mutiara yang ditahan menjadi berita utama. Nama sekolah HIS kembali disorot.


\=


\=


Beberapa hari berlalu tapi berita tentang Mutiara yang ditahan kembali hilang, Mutiara dan teman-temannya sudah dibebaskan dalam waktu 24jam. Dia kembali melaporkan dan akan menuntut HIS tapi sia-sia.


Sudah 2 hari Mutiara memasang spanduk meminta keadilan di sekitar sekolah dan kantor polisi, membawa spanduk juga dengan berdiri di depan sekolah, terkadang di kantor polisi tapi setiap ada yang lewat hanya tertawa mengejek.


Sebenarnya ada beberapa orang yang ikut membantu Mutiara mengakkan keadilan untuk Vina tapi semuanya juga tak berarti apa-apa.


Salah satu guru senior bernama Sumiati dan guru muda bernama Julia berkali-kali membantu Mutiara membuat laporan tapi hasilnya, mereka mendapatkan SP 2 dari sekolah. Tentu mereka langsung diam karena tak punya kuasa untuk melawan.


Seorang polisi muda juga sangat iba pada Mutiara dan Vina, dia berusaha meyakinkan para seniornya, detektif muda itu bahkan pernah berkelahi dengan seniornya di kantor polisi karena kekeh ingin melakukan penyelidikan.


"Jika kau bisa membawa bukti konkret yang tidak bisa dibantah, saya akan mengeluarkan surat perintah penyelidikan dan penggeledahan pada sekolah itu." Kata kepala polisi tempatnya bekerja dengan lantang tapi meremehkan.


Kalimat itu terus terngiang di telinga Haris, polisi muda berbakat itu begitu ingin mencari bukti tapi masuk ke sekolah itu saja sangat sulit karena hanya para murid dan wali murid terdaftar yang boleh masuk. Paling tidak ada surat resmi dari lembaga tertentu atau orang yang diizinkan kepala sekolah.


TBC~