
Ella telah bersiap dan sangat semangat untuk berbelanja. Mereka menggunakan dandanan culun kembali untuk menghindari gangguan para lelaki.
Jam 11 siang mereka ke mall dan berbelanja sesuka hati, karena memang uang jajan mereka sangat banyak.
"Kemeja putih, sepatu hitam dengan tinggi minimal 5 senti, jangan menggunakan aksesoris berlebihan. Hanya boleh 3 titik. Anting, cicin atau kalung, jam tangan." Sebut Aster membaca peraturan di perusahaannya.
Mereka memang magang di perusahaan berbeda. Ella di Saros studio bagian perencanaan bisnis, sedangkan Aster di salah satu perusahaan besar milik Hastanta.
"Aku malah santai, apakai apapun bisa yang penting sopan aja." Kata Ella lalu mereka masuk ke salah satu toko sepatu. Aster memilih 2 pasang sepatu hitam dengan model simple tapi beda. Lalu 1 flat shoes hitam juga untuk dia pakai sebagai ganti di mobil nantinya.
Ella juga ikut masuk dan memilih 2 flat shoes dan 2 sneakers untuknya bekerja yang memang lebih banyak gerak nantinya.
"Sepatu udah nih, kita cari kemeja dulu." Ajak Aster dan mereka bergandengan masuk ke salah satu toko pakaian dengan harga menengah, tidak terlalu mahal juga tidak murah.
"Ini bagus.." Ella menarik keluar baju itu namun direbut oleh seseorang. Ella langsung menoleh dan melihat Vani lah yang mengambil baju putih itu.
"Iihh kok bisa dia disini?" Kesal Ella tapi Aster segera menenangkan teman bar bar nya itu.
"Sabar, cari yang lain aja." Kata Aster lalu menarik 1 baju putih lainnya.
"Di coba dulu bajunya." Kata Ella dan Aster mencobanya. Aster dan Vani sama-sama keluar dari fitting room.
"Kamu cantik." Seru Ella melihat ke arah Aster.
"Cih.. cantik?" Decak Vani menlihat penampilan Aster yang tampak culun. Ella lalu melirik tajam padanya namun Vani malah jalan keluar dan tampak ada seorang pria disana.
Ella dengan kekepoan tingkat tingginya mengintip dan terbelalak karena pria itu adalah salah satu guru mereka di HIS. Vani tampak mesra dengan guru itu. Aster yang gerak cepat mengambil video dengan diam-diam dan dapatlah video dengan durasi hampir 1 menit.
"Mau kita ikuti?" Tanya Aster dan Ella mengangguk pasti. Mereka tidak jadi belanja baju dan malah mengikuti Vani dan guru itu.
Di kantor polisi,
"Haris! Ada apa denganmu? Kalau gak bisa ikuti perintah atasan lebih baik keluar dari tim ini." Teriak senior Haris karena polisi muda itu kembali masuk ke kasus Vina dengan HIS.
Haris baru kembali dari RS dimana tubuh kaku Vina masih ada di ruang pendingin, Mutiara masih belum mau memakamkan putrinya.
"Aku hanya melihat, manatau ada sesuatu." Jawab Haris dengan tenang.
"Kalo gitu kau di keluarkan dari tim ini." Putus atasannya dan melemparkan map berisikan pemindahan ke tim lain.
"Ok, makasih pak kepala." Ucap Haris dengan menyunggingkan senyum mengejek. Ini lah yang dia mau. Haris sengaja ingin dikeluarkan agar bisa masuk ke tim yang lebih profesional meskipun adalah tim yang terkucilkan di kantor polisi itu.
Haris berjalan santai sambil membuka map dan surat pemindahannya ke tim terbuang, yaitu dengan polisi senior Susilo.
"Selamat siang!" Sapa Haris dengan semangat, Susilo melihatnya lalu menghembuskan nafas keras, dia juga baru menerima surat pemindahan Haris ke timnya.
"Sudah ku katakan jangan sampai kau masuk kesini." Ucap Susilo tapi Haris malah terkekeh.
"Ini tujuanku pak, sekarang aku mengajukan ini." Haris memberikan surat permintaan untuk menyelidiki kasus Vina lagi dengan permintaan resmi dari Mutiara.
"Huh.. baiklah, kerjakan dengan baik dan ajak salah satu senior mu agar kau banyak belajar." Jawab Susilo dan haris dengan semangat menerima pekerjaan itu.
"Mulai dari mana ya?" Gumam Haris pelan, seniornya yang bernama Yuda mendengarnya dan tersenyum.
"Sudah di setujui malah bingung. Cari Bu Mutiara dulu." Ajak Yuda dan Haris mengikutinya, sedikit banyak Yuda tau kasus itu.
Mereka mencari Mutiara yang masih ada di depan kantor polisi dengan banner nya. Mereka masuk ke salah satu cafe dekat sana untuk berbicara.
"Bu, apa selama ini Vina ada cerita tentang sesuatu?" Tanya Haris dengan lembut.
"Gak ada.. dia pergi dan pulang sekolah dengan ceria tiap hari." Jawab Mutiara dengan mata berkaca-kaca. Dia lelah dan sedih, tidak rela juga.
"Tapi.. beberapa kali ada noda darah di seragamnya tapi katanya dia bantu temannya yang jatuh dan berdarah." Jelas Mutiara.
"Coba ibu cari lebih teliti mana tau ada seauatu yang di sembunyikan Vina, apapun itu sekecil apapun bisa kami jadikan petunjuk untuk selidiki lebih dalam." Ujar Yuda dan Mutiara mengangguk.
Setelah berbincang Mutiara segera pulang dan akan mencari apapun yang ada di kamar Vani untuk jadi petunjuk.
Dua polisi muda itu pun ke lokasi selanjutnya yaitu HIS untuk melihat-lihat, meskipun hari ini libur.
Haris melihat beberapa cctv di depan gerbang sekolah yang tidak mungkin mereka ambil, lalu beberapa mobil terparkir di seberang sekolah ada beberapa toko dan rumah.
"Kita cari cctv sekitar sini pasti ada yang merekam setiap hari." Kata Yulda lalu mereka berpencar.
Tanpa mereka sadari disana Marcello juga melakukan hal yang sama. Tapi cara Marcello adalah meretas untuk mengcopy semua rekaman yang ada. Marcello menyunggingkan senyum saat Haris eminta cctv dari kasir toko itu.
'Masih ada polisi jujur.' batinnya. Marcello akan menggunakan polisi itu nantinya untuk mempermudah aksinya dan beberapa polisi akan dia singkirkan karena gemas dengan pekerjaan para polisi rakus.
Selesai dengan permintaannya, Haris lanjut ke seluruh area ini sedangkan Marcello hanya perlu duduk disana sambil meretas satu persatu area 1km di sekelilingnya. Pria itu masih santai, menyeruput kopinya sambil mengunyah roti dan beberapa cemilan.
Marcello seperti anak kuliahan yang sedang mengerjakan tugas dan tak akan ada yang curiga. Penampilannya yang sederhana tapi rapi bisa mengecok siapa saja.
.
.
Kembali ke Ella dan Aster yang sedang mengikuti Vani. Mereka masih asik menjadi detektif sambil berbelanja. Sudah ada beberapa kosmetik yang mereka beli sebenarnya tidak terlalu butuh tapi lumayan jadikan stock bulan depan.
"Sudah berapa banyak foto yang kau ambil Aster?" Tanya Ella yang sebenarnya sudah lelah.
"Banyak, cukup lah karena sudah dapat 1 foto Vina cium bibir guru itu." Jawab Aster lalu mengirim semua foto ke email HS untuk di sortir nantinya.
"Apa mungkin Vina sebenarnya gak pintar-pintar amat? Tapi karna... " Kata Ella dan Aster memandang dan paham dengan maksud Ella.
"Pulang yuk, capek." Ajak Ella dan Aster setuju.
"Tapi makan dulu laper tau."
"iya.."
Mereka akhirnya makan siang menjelang sore lalu pulang ke rumah masing-masing.
TBC~