
-Flashback-
Vina yang keginginan karena disiram air dingin oleh Vani akhirnya jatuh, dia tidak tahanĀ lagi dan terduduk di lantai atap sekolah itu.
Hari sudah malam, dia sudah menghubungi ibunya kalau sedang mengerjakan tugas dan pulang sedikit larut malam.
"Wah hujan!" Pekik Vani senang begitu juga Sora. Dia meletakkan ponselnya di sisi yang tidak terkena air hujan lalu mendekat pada Vina.
"BUGHH.."
Sebuah tendangan didapatkan Vina di perutnya. Sora tertawa bahagia dan kembali menginjak paha Vina sampai dia berteriak kesakitan.
"Ahkkk tolong jangan lagi.. sakiiittt tolong..kumohon." Vina terus-terusan memohon tapi Sora makin menguatkan injakannya sampai akhirnya seseorang menariknya.
"Sora sudah.. ayo pulang." Judy menarik lengan Sora. Mereka semua basah kuyup.
"Jangan ikut campur, dasar bodoh."
PLAKK
Sora juga menampar Judy karena kesenangannya terusik, sementara Vani hanya melihat dan sedikit tersenyum. Dia juga puas karena kesal dengan Vina yang terus menerus menjadi yang pertama di sekolah ini.
"Kau hanya kacung jangan ikut campur dan lebih baik diam!" Hardik Sora lagi dan Vani menarik lengan Judy agar menjauh dari Sora yang akan menghajar Vina.
"Please.. jika dia mati kalian akan kena kasus." Judy sekali lagi bersuara memohon untuk Vina tapi yang ada Sora naik pitam dan menendang kaki Judy yang mejadi asetnya yang seorang model.
"Baru kakimu brengsek, atau aku lukai wajahmu juga?" Ancam Sora pada Judy yang sudah terjatuh.
"Please.. kalau benar terjadi kau akan hancur, kalian berdua akan dipenjara." Lirih Judy masih berusaha.
"Kau bilang impianmu ingin jadi jaksa, jika ada catatan kriminal kau tidak akan bisa." Ucap Judy pada Vani.
"Kau mau menjadi pilot wanita, dengan temperamenmu seperti ini apakah bisa?" Judy melayangkan tatapannya pada Sora yang semakin menggeram.
Bukan hanya Vani, akhirnya Judy juga menjadi sasaran amukan Sora yang membabi buta sampai Judy juga menangis kesakitan.
"Sudah Sora, biarkan dia.. benar kata Judy. Kalau ada yang mati kita akan habis." Vani berusaha menarik Sora dan berhasil membawa Sora turun dari atap itu meskipun Sora berteriak keras.
"Pergilah, jangan membuatnya marah atau kau akan lebih menderita."
Judy dengan susah payah juga berdiri, mengambil ponsel Sora dan mematikan video itu. Dia juga hanya pesuruh Sora, dia berhutang budi pada gadis itu dan tidak bisa berbuat banyak.
Vina dengan susah payah juga berdiri dan menahan sakitnya. Dia mengambil obat dari tas sekolahnya dan meminumnya. Pereda rasa sakit yang dia beli dari apotik dengan resep obat ibunya yang pernah juga jatuh tertimpa galon air dikakinya.
Vina menunggu sampai obat bekerja baru pulang agar ibunya tak curiga dengan apa yang telah dia alami. Dia akan pulang dengan tersenyum meskipun penampilannya acak-acakan terkena air hujan.
Wajahnya pucat karena kedinginan dan ibunya akan menyiapkan air hangat untuknya mandi.
Tapi semua selesai saat Sora menyuruhnya ke atap, Sora memasang kamera ponselnya seperti biasa. Dia senang melihat video penyiksaan seperti itu.
Selama ini apapun yang dilakukan Sora dan Vani selalu bisa diberekan oleh keluarga Vani jadi dia akan aman-aman saja.
Vina yang hanya tau dia akan di siksa seperti biasa pun datang dengan tenang. Setelah dipukul, tahan sakitnya dan selesai. Begitu pikirannya.
"Sudah datang rupanya..." Seru Sora dengan senang.
"kemari lah..." Sora melambaikan tangannya dan Vina menurut. Vina mendekati Sora yang sedang duduk di pinggiran gedung.
"Kau tau.. sebenarnya aku gak benci denganmu. Hanya saja Vani akan senang jika aku juga menyiksamu. Aku punya mainan baru jadinya. Judy itu gak seru, dia gak bisa merespon dengan baik jadinya dia jadi kacung kami saja." Jelas Sora pada Vina yang bingung dengan ucapan Sora.
"Dulu waktu SMP, di gedung belakang sana." Sora menunjuk sebuah gedung milik HIS juga. Gedung itu hanya sampai tingkat SMP dan SMA nya ada di gedung ini.
Vina menoleh ke belakang dan memang dia tau disana ada adik-adik kelasnya juga.
"Kami pertama kali berbuat ulah.. Vani pintar tapi tak cukup pintar setelah masuk sini. Dulu dari SD sampai SMP dia selalu nomor 1 tapi kini jadi nomor 2 sebelum kau datang dia juga nomor 2. Tapi tak apa-apa kami bisa handle itu semua."
Sejenak Sora diam karena tanda bell masuk sudah berbunyi. Tak ada yang tau kalau ada 2 siswi duduk di pinggir atap gedung itu.
"Setelah kami mematahkan salah satu tangan teman sekelas, kami bebas begitu saja. Menarik bukan?"
Vina begidik, selama ini dia hanya di pukul, paling parah hanya di injak seperti kemarin.
"Kami bebas melakukan apa saja, uang memnag yang terbaik. Makanya kau harus kaya dulu biar bisa seperti kami. Polisi bodoh itu juga tinggal disuap dengan uang. Mereka.. guru-guru itu juga tinggal disumpal dengan uang."
"Hahahahha seru bukan.." Sora tertawa kencang, dia sungguh senang pagi ini.
Mereka masih disana, Sora menahan Vina sampai jam istirahat. Sora memang sudah izin ke guru UKS kalau dia akan menggunakan ruangan itu untuk tidur dan guru itu mengizinkan. Dia berpikir Sora disana sejak pagi.
"Lalu untuk apa ceritakan itu padaku?" Tanya Vina dengan takut-takut.
"Hanya ingin membuktikan sesuatu." Jawab Sora lalu tersenyum manis pada Vina yang membuat Vina tergidik, tiba-tiba dia merasa takut.
"Sudah lah.. aku akan kembali dengan bahagia." Sora bergegas turun dan tinggal lah Vina yang juga ingin turun.
"Aku ingin buktikan kalau uang bisa membebaskan ku dari kasus pembunuhan atau tidak." Bisik Sora lalu mendorong Vina hingga jatuh.
-Flasback End-
Seminggu terlewati, sidang pertama dimulai. Semua bukti dan saksi dihadirkan dan di sidang pertama ini semua bukti diungkap ke public dan membuat public geram dan marah. Apalagi beberapa preman tertangkap saat ingin melukai bahkan melenyapkan seseorang karena suruhan Sora dan Vani, mereka menambah hukuman mereka sendiri.
HIS juga mendapatkan imbasnya meskipun sudah dibawah yayasan HS Group. Banyak orang tua yang mengeluarkan anak mereka dari sekolah itu hanya tinggal 60% dari keseluruhan siswa di sekolah menengah atas. Untung saja adik kelas tidak ikut terseret karena memang berbeda management.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Biadab kamu!" Mutiara menangis dan berteriak histeris. Dia ditemani oleh adiknya yang datang jauh dari luar kota ujung timur pulau.
"Sabar mba.. yang iklas." Ujar paman Vina itu.
"Mohon tenang." Bisik pengacara yang mendampingi Mutiara, dia berusaha tenang namun masih menangis melihat video yang diputar di persidangan.
Sementara pihak Sora tidak bisa melawan atau membela, semua terekam dengan jelas, saham perusahaan keluarga juga anjlok karena kasus ini.
"Biarkan saja dia mendekam di penjara." Ucap ayah Sora yang sudah pasrah. Dia telah gagal menjadi orang tua.
Vani juga mendapat hukuman yang cukup membuat keluarganya murka, selama ini Vani selalu dimanja dan dibela jika berbuat kesalahan dan kini semua terkuak. Uang tidak ada apa-apanya jika public sudah bertindak.
Apalagi beberapa video Vani yang menggandeng mesra gurunya tersebar dan setelah penyelidikan ternyata Vani memang tidak sepintar itu. Ada beberapa mata pelajaran yang memang tidak dia kuasai. Dengan kedekatannya dengan beberapa guru maka nilai sempurna pun bisa dia dapatkan.
Saksi yang di panggil adalah beberapa siswa dari HIS, termasuk Riska dan Judy. Mereka jujur apa adanya menjawab. Judy tidak termasuk tersangka karena dia memang tidak berbuat sesuatu pada Vina malah ada beberapa video Judy membela meskipun akhirnya dia juga jadi sasaran pemukulan.
Semua terkuak dan keadilan ditegakkan bukan hanya untuk Vina namun seluruh anak-anak yang bersekolah di Harmony International School.
TBC~