Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 67 - Aku Suka Gadis Pemberani



"Ella mau duduk dimana?" Tanya Aster yang sudah terlepas dari Jarred karena pria itu sedang mengobrol dengan Oktav.


"Hem.. dimana ya..." Ella melihat sekeliling ke 12 kasur empuk di depannya. Tapi Oktav malah melambaikan tangan menyuruhnya naik ke kasur kasur paling atas dan Ella menurut. Sedangkan Aster dan Jarred memilih di tengah-tengah.


Ella duduk dengan selonjoran sama dengan Oktav dan lainnya, cemilan dan minuman sudah tersedia sesaat setelah mereka duduk. Oktav masih menggunakan maskernya sampai semua petugas keluar barulah dia membukanya.


"Maaf tadi aku sedang fokus menyetir dan sangat mengantuk jadi tidak banyak bicara." Ujar Oktav pelan karena ruangan itu sangat sunyi dan dia tak mau Jarred mendengarnya.


"Kau terlihat lelah kak." Sahut Ella yang akhirnya paham.


"Ya dan aku akan menggunakan waktu ini dengan baik. Malam nanti harus syuting lagi." Kata Oktav lalu Ella mengangguk, setelah itu mata mereka fokus ke layar lebar di depan mereka dan mulai menikmati film.


Lima belas menit saja Oktav sudah tertidur, bahkan kepalanya sekarang ada di pundak Ella. Sedangkan Ella tidak berani bergerak takut membangunkan Oktav.


Ella yang sudah pegal sedikit menggeser duduknya tapi Oktav malah melorot dan kini kepalanya ada di perut Ella, tangan Oktav memeluknya seperti memeluk bantal. Oktav tidur sangat nyenyak.


Hampir 2 jam Ella tidak bisa menikmati film yang dia tonton, jantungnya berdetak cepat dan Ella tidak mau melewatkan kesempatan menikmati pelukan Oktav seperti ini.


"Kapan lagi aku dipeluk 2 jam begini." Gumam Ella sambil mengelus kepala Oktav, "Bahkan rambutnya halus sekali." Lirih Ella senang.


"Ya ampun!" Kaget Aster melihat posisi Oktav dan Ella. Jarred juga berbalik dan penasaran.


"Astaga... Ella Oktav!" Pekik Jarred melihat keintiman posisi mereka sekarang.


"Hehehehe... " Ella hanya terkekeh pelan dan terlihat senang. Aster menggeleng dan Jarred langsung menepuk punggung Oktav lumayan keras.


PLAAKK


"ADOH!" Teriak Oktav tapi posisinya masih sama, hanya kepalanya yang bergerak-gerak. Sedetik kemudian Oktav malah makin mengeratkan pelukannya.


"Oktav!" Teriak Jarred dan Oktav pun terkejut dan baru sadar kalau dia tidur memeluk Ella.


"Eh sorry.. jadi nyaman." Kata Oktav lalu duduk tegak dan Ella akhirnya bisa menggerakkan badannya yang sedikit kaku bahkan kakinya kebas.


"Maaf.." Sekali lagi Oktav meminta maaf tapi Ella hanya tersenyum manis.


"Bantu aku.." Kata Ella yang ingin berdiri.


"Jangan dulu, duduk agak lama." Kata Aster dan Ella hanya menggeser duduknya, menurunkan kakinya.


"Eh eh..." Ella terkejut karena Oktav berlutut di depannya dan mengangkat kaki Ella dan memijatnya pelan.


"Ini gara-gara aku jadi aku harus bertanggungjawab." Ujar Oktav yang masih memijat kaki Ella dengan lembut. Ella merasa malu dan memalingkan wajahnya.


"Ciee yang malu." Bisik Aster membuat Ella melotot gemas. Oktav hanya tersenyum dan beberapa menit kemudian kaki Ella sudah lebih baik mereka jalan keluar.


"Mau makan dulu?" Tanya Jarred pada Aster, hari sudah malam dan mereka belum makan malam.


"Iya.. aku sudah lapar kak J." Jawabnya.


"Kalian mau makan ga?" Tanya Jarred menoleh ke belakang ada Ella dan Oktav.


"Gak." Oktav menjawab lebih dulu sedangkan Ella menatapnya bingung.


"Mana bisa.. aku mau syuting nanti tengah malam dan mau makan bakso." Lanjut Oktav lalu menggandeng Ella dengan cepat berjalan melewati Jarred dan Aster.


"Nanti aku antar Fio pulang tenang aja." Teriak Oktav lagi.


Oktav dan Ella mencari tukang bakso malam-malam karena Oktav memang sangat ingin sekali bakso.


"Kak Oktav kayak orang lagi ngidam." Ucap Ella yang lucu meihat Oktav melaju pelan dan melihat-lihat di jalanan.


"Karna belum ada jadwal nyanyi aku akan makan bakso dulu Fio, kalau sudah nyanyi gak boleh makan pedas, managerku akan marah." Jelas Oktav dan dia tersenyum melihat gerobak bakso di depan komplek perumahan.


"Nah itu dia.." Oktav memarkirkan mobilnya di tepi jalan, sudah lumayan sepi karena jalanan komplek ini hanya komplek kecil.


"Mau juga kan?" Tanya Oktav.


"Mau tapi mie ayam plus bakso, mie nya setengah matang." Jawab Ella karena melihat menu digerobak ada mie ayam juga.


"Ok cantik.." Oktav memakai maskernya dan keluar memesan makanan mereka. Oktav hanya memesan dan akan makan dimobil saja.


"Sudah.. kita tunggu sebentar." Ella mengangguk dan tampak Oktav terus memandangi Ella.


"Fio.." Panggilnya dan Ella menoleh.


"Ya?"


"Kamu cantik." Ucap Oktav membuat wajah Ella bersemu merah.


"Tentu saja!" Jawab Oktav dengan lantang.


"Hahaha ada-ada aja, dia tuh cantik, tinggi, badannya bagus, dadanya besar dan berani." Ucap Ella membeberkan pandangannya pada Syakila.


"Ck.. jangan bicarakan dia." Oktav berdecak kesal.


tok tok


Oktav menurunkan jendela mobil dan mengambil pesanan mereka.


"Mie ayam untuk gadis cantik dan bakso untuk pria tampan ini." Ucap Oktav sambil memberikan mangkok mie ayam itu.


"Makasih.."


Mereka makan dalam diam, Oktav sangat menikmati baksonya yang sangat jarang bisa dia nikmati selama ini.


"Kak Oktav sangat suka bakso?" Tanya Ella setelah selesai makan, dia makan dengan pelan dan anggun.


"Hem.. sangat suka." Jawab Oktav lalu menyeruput lagi kuah baksonya sampai habis.


"Sebentar." Ucapnya lalu membawa keluar mangkok mereka dan membayar. Oktav juga ke warung seberang membeli air mineral dingin untuk mereka.


.


.


.


Oktav melanjutkan perjalanan, mereka sudah lumayan jauh dari rumah Ella dan melewati sebuah taman yang sudah kosong karena malam semakin larut.


"Sempat gak kak ke lokasi syuting?" Tanya Ella cemas karena sudah hampir jam 10 malam.


"Sempat kok, cuma ke studio aja." Jawab Oktav lalu dia mengerem mendadak karena ada seorang yang tiba-tiba menyebrang.


"Astaga!" Pekik Ella panik, untung sabuk pengamannya dia pakai kembali tadi.


"Mereka kenapa?" Tanya Ella yang melihat 2 pria mengejar dan menangkap remaja laki-laki yang hampir tertabrak itu.


Ella yang sangat tidak suka dengan kekerasan dan ketidak adilan langsung membuka pintu mobilnya.


"Hey.. kalian!" Teriak Ella lantang menunjuk 2 pria itu yang sudah memukul remaja tadi.


"Astaga Fio!" Oktav juga turun dan tidak lupa menggunakan maskernya.


"Jangan Fio.. biarkan saja nanti kamu terluka." Oktav menarik lengan Ella karena Oktav sendiri tidak bisa berkelahi.


"Ella yang sadar kalau ada Oktav menjadi ciut, dia tidak mau Oktav ilfil padanya dan tidak suka dengan gadis bar-bar.


"Ada apa gadis kecil.. hahahaha.." Salah satu pria itu tertawa melihat Ella yang mungil dan cantik.


"Mau bermain dengan om?" Tanya pria satunya saat tau Ella sangat cantik.


"Ayo pergi Fio.." Oktav menarik tangan Ella untuk masuk kembali kedalam mobil namun tangan Ella juga ditarik oleh 2 pria itu. Ella memberontak namun dia tetap tidak mau terlihat kasar di depan Oktav.


'Duh gimana ini.. pengawal papa juga sudah aku usir tadi.' Batin Ella menyesal karena sebelum pergi dia sudah mengancam 2 pengawal yang selalu mengekorinya.


"Fio bisa berkelahi kan?" Tanya Oktav sedikit berbisik saat Ella berhasil melepaskan tangannya dari pria tadi.


"Tapi.. nanti kak Oktav ilfil gimana?" Tanya Ella dengan polos, Oktav sangat ingin tertawa namun dia tahan.


'Bisa-bisanya dia memikirkan aku ilfil atau ngga? Gemas sekali.' Ucap Oktav dalam hati.


"Aku suka gadis pemberani dan apa adanya." Bisik Oktav membuat Ella termenung tapi dia tersentak kaget saat lengannya ditarik lagi oleh 2 pria tadi. Satunya menarik Oktav dan satunya merangkul Ella.


"Kurang ajar!" Pekik Ella lalu melepaskan diri dari rangkulan pria itu. Dengan gerakan cepat satu tangannya meninju hidung pria itu.


"Akkhh kurang ajar, gadis sialaann!" Pekiknya kesakitan dan memegang hidungnya yang sudah mengeluarkan cairan merah.


Satu pria yang menangkap Oktav mendorongnya hingga Oktav jatuh lalu mendekat ke Ella yang sudah siap dengan kuda-kudanya dan menendang tepat di tengah-tengah diantara paha pria itu. Lalu Ella berputar dan memberikan tendangan maut di wajah pria yang sudah kesakitan.


"Ayo cepat!" Ella menarik Oktav masuk kembali ke mobil. Ella sempat menoleh ke remaja yang berlari menjauh dari mereka.


Oktav melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan lokasi tadi agar cepat sampai di rumah.


TBC~