Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 62 - Tertangkap Basah



Sore ini Aster kembali ikut Jarred ke salah satu restoran untuk bertemu client. Aster sebenarnya masih canggung dengan Jarred tetapi dia berusaha bekerja dengan baik dan begitu juga dengan Jarred.


"Tuan Michael akan sedikit terlambat karena jalur yang dia lewati tadi ada kecelakaan Pak Jarred." Lapor Aster setelah dapat informasi melalui pesan singkat dari sekretaris client mereka.


"Sudah jam 7 malam, kita makan dulu. Pesanlah." Sahut Jarred dan dia mulai melihat menu dan memesan makanan mereka di ruangan VIP itu.


Client mereka hanya punya malam ini saja bertemu karena tengah malam nanti akan kembali ke negaranya. Makanya Jarred bersabar menunggu, apa lagi ini diluar kuasa mereka jika penghalangnya adalah kecelakaan.


Beberapa jam berlalu dan meeting mereka akhirnya selesai, Jarred melihat jam tangannya ternyata sudah jam 11 malam.


"Nginap saja ya.. " Ujar Jarred.


"Hem.. ok, aku kirim pesan ke ibu dulu." Jawab Aster dan kemudian mengirim pesan. Bukan tanpa sebab Jarred memintanya menginap, besok jam 8 pagi mereka akan ke kota sebelah untuk meninjau proyek pembangunan supermarket disana.


Tuan Michael tadi adalah salah satu investornya dan perusahaan yang Jarred kelola juga hanya untuk sementara karena sempat bermasalah dan tugas Jarred lah untuk memajukan perusahaan itu. Setelah ini selesai Jarred akan mengemban tugas yang lebih besar dari Fano.


"Ibu bilang ok kak J." Lapor Aster dan Jarred hanya berdehem.


.


.


"Hai kakak ipar!" Pekik Ella karena terbangun saat Aster masuk ke kamarnya, dia baru saja tertidur.


"Sorry.. aku ganggu tidurmu. Hehehe.. nginap malam ini karna besok pagi mau ke luar kota." Aster menjelaskan dan Ella sebenarnya tidak mau tau karena mereka memang biasa saling menginap.


Aster mandi dan karena rambutnya masih basah dia gerai begitu saja, dia ingin mengeringkan rambut tapi malah sangat haus. Perlahan dia membuka pintu lagi karena tak mau Ella yang kembali tidur terbangun.


Aster menuju dapur, air minum di kamar Ella habis tadi.


"Astaga kak J bikin kaget." Pekik Aster tertahan karena saat dia menyalakan lampu ada seseorang disana dan itu Jarred.


"Sorry.. mau minum juga?" Tanya Jarred melihat Aster yang juga mengambil gelas di lemari atas.


"Iya.. haus banget." jawab Aster lalu mengisi air dan meminum air putih sampai habis.


Jarred tak melepaskan pandangannya pada Aster yang sangat seksi menurutnya. Rambut basahnya tergerai, baju tidur yang dipakai Aster sebenarnya biasa saja hanya memang dia memakai celana yang sangat pendek seperti biasa saat mau tidur.


Yang Aster tidak sadar adalah, rambut basahnya membuat sebagian bajunya juga basah menjadi menerawang dibagian dada. Hal itu sukses membuat Jarred menelan salivanya berulang kali. Pucuk gunung kembar menyembul malu-malu dan mengintip.


Jelas dimata Jarred, dia terpesona dengan gadis cantik sahabat adiknya.


"Aster.. " Panggil Jarred saat Aster meminum air gelas keduanya, entah kenapa malam ini dia sangat haus.


"Ya kak J?" Jawab Aster tapi dia segera menyingkir saat Jarred mendekat padanya bahkan begitu dekat. Hingga pinggang Aster menempel ke meja dan tubuhnya condong ke belakang.


"Kak J mau apa?" Lirih Aster sedikit cemas karena wajah Jarred sudah mendekat di wajahnya, dua tangan Jarred malah sudah mengurung Aster.


"Hoaaammm Aster kemana sih?" Ella mengerjabkan matanya, dia bangun karena haus juga dan melirik gelas besarnya telah kosong dan juga mencari Aster.


Ella turun ke bawah dan melihat lampu di dapur masih menyala dan menuju dapur dengan mata kantuknya.


"Hah.." Ella membungkam mulutnya sendiri saat melihat pemandangan yang mencemari matanya untuk kesekian kalinya.


"Ada apa Ella? Kenapa bangun tengah malam?"


"Astaga!"


Ella terkejut begitu juga Imelda yang sudah ada di belakangnya, melihat bagaimana Jarred mencium Aster dengan sangat dalam. Tubuh Aster sampai melengkung kebelakang dan Jarred merengkuhnya begitu erat.


"Papa mama Ella!" Jarred juga terkejut saat menoleh ke arah suara.


"Kalian segera ke ruang keluarga!" Titah Fano tak bisa dibantah siapapun.


Semua anggota keluarga menurut dan duduk dengan rapi di sofa ruang keluarga, Aster duduk di sebelah Ella, Jarred sendirian di depan Fano dan Imelda. Sebentar lagi dia akan disidang.


'Mati aku.. mati, kalau ayah dan ibu tau gimana? Dasar kak J main nyosor aja!' Ucap Aster dalam hati, dia tidak tenang. Wajahnya sudah merah padam dan juga menahan tangis karena sangat malu.


"Tenang lah.. kak J aja yang dimarahin papa nanti." Bisik Ella yang langsung dapat pelototan dari Jarred karena masih dapat mendengarnya.


Ella menahan senyumnya karena dia sangat sangat ingin Aster yang jadi kakak iparnya. Dimana lagi dapat kakak ipar yang bisa sedekat ini, jalan bareng, makan bareng, nakal bareng dan mereka sefrekwensi meskipun dengan sifat yang sangat berbeda.


'Gimana lucunya nanti keponakanku, akan aku dandani seperti peri jika cewek, kalau cowok akan kubawa kemana-mana dan dandani seperti idol.' Batin Ella yang tanpa dia sadari sedang ditatap semua orang karena senyum-senyum sendiri.


"Ada apa Ella?" Tanya Fano dengan suara tegasnya.


"Ahh ini pa, cucu papa lucu banget!" Ella terkejut dan menjawab sesuai kata hatinya.


"Cucu?" Imbuh Imelda dan Ella membungkam mulutnya sendiri setelah sadar. Semua orang menatap Jarred dan Aster bergantian.


"Apa sih Ella.." Lirih Aster pada Ella yang menambah masalah. Aster masih memilin ujung cardigannya. Imelda yang tadi sadar dengan pakaian Aster memberikannya cardigan rajut miliknya.


"Jelaskan J.. ada hubungan apa dengan Aster?" Tanya Fano dengan tatapan tajamnya. Jarred sedikit deg degan karena dia tau Fano jika sedang marah.


"Belum ada hubungan apa-apa pa." Jawab Jarred dengan jujur, karena mereka memang tidak ada hubungan resmi.


"Jadi kau mencium anak gadis orang tanpa ada hubungan apa-apa? Apa papa mengajarimu kurang ajar seperti ini J?" Fano semakin emosi.


"Maaf pa tadi J..."


"Nikahkan aja mereka pa.." Celetuk Ella asal saat Jarred baru akan menjelaskan.


Aster langsung mencubit lengan Ella, Imelda dan dan Fano melihat Ella dengan mata memicing dan Jarred sendiri entah kenapa jadi tersenyum sendiri.


"Aduh sakkiiitt.." Pekik Ella lalu melirik sejenak ke Jarred dan ketahuan kakaknya itu tersenyum.


"Tuh kak J aja senyum-senyum. Berarti nikahkan aja pa ma.." Lanjut Ella dan semua mata kini menoleh ke Jarred.


"Benar itu J?" Tanya Fano dan Jarred mengangguk dengan cepat.


"Boleh pa.. daripada kami berbuat hal diluar batas." Jawab Jarred dengan pasti.


"No! Berarti kamu hanya bernafsu pada Aster bukan cinta J." Tolak Imelda.


"Tapi ma.."


"Benar aunty.. Aster juga gak setuju. Kak J mungkin hanya butuh pelarian dan nafsu melihat.. maaf pakaian Aster kurang sopan." Aster menunduk lagi.


"Gak gitu Aster, kak J itu gak akan sentuh cewek kalau dia gak tertarik. Liat aja muka datar itu, secantik apapun kalo ga suka ya gak deket-deket, iya kan kak?" Ujar Ella lalu melihat ke arah Jarred mencari pembenaran.


"Betul." Jawab Jarred cepat.


"Ya sudah.. kita sudahi ini sekarang kalian tidur dulu. Besok J dan Aster akan ke luar kota dan sekretaris papa akan ikut. Papa gak bisa biarkan kalian hanya berdua." Titah Fano dan lagi-lagi tidak ada yang berani membantah.


"Saat semua anak-anak sudah kembali ke kamar, Fano dan Imelda masuk ke ruang kerja Fano. Fano menghubungi Florian dan Imelda chating dengan Flora.


TBC~