
Pagi-pagi sekali Ella dan Aster sudah berangkat entah kemana. Fano hanya menggeleng saja saat Aster datang. Ella yang izin akan liburan ke Imelda tentu diizinkan sebab bersama Aster. Tapi tidak dengan Fano yang sudah tau apa yang dilakukan oleh sang putri kesayangan.
"Hati-hati sayang, kalau terluka sedikit saja papa akan hentikan semua kegiatan kalian." Ancam Fano pada kedua gadis berpenampilan culun itu.
"Ya papa."
"Pasti om."
Jawab kedua gadis itu lalu pergi menuju rumah Indra.
Ella mengerjakan semua yang di perintahkan oleh Betty, dari pintu belakang tempat dia masuk memang sudah ada seliter botol susu yang tergantung. Ella membawa masuk dan menghangatkan susu itu di tempat yang sudah disediakan.
Sambil menunggu, Ella membersihkan area dapur yang memang sudah bersih tapi dia tetap membersihkannya, selesai dengan bersih-bersih, dia segera siapkan susu dan taruh di meja makan.
Tak lama terlihat Indra turun dengan pakaian yang sudah rapi, Indra meminum segelas susu dan Betty meghidangkan sarapannya, pria itu sarapan sendiri meskipun calon istrinya juga tinggal disini.
Seina juga sudah sejak tadi mengurus Randy dan membawa bayi itu turun untuk berjemur. Seina dan Ella memang belum diberikan pakaian pelayan jadi masih menggunakan pakaian sendiri.
"Kenapa kau pakai baju ini?" Tanya Ella sedikit berbisik.
"Sengaja, mancing buaya." Jawab Seina asal.
"Ha?" Ella ternganga, mana ada buaya, pikirnya.
"Sudah diem aja dan saksikan hasilnya." Ucap Seina dan Ella pasrah saja mengikuti permainan gurunya.
Benar saja, Indra ternyata sejak tadi memperhatikan Seina yang mengenakan kaos ketat berwarna biru muda dan leging hitam ketatnya. Tubuh Seina yang bahenol membuat siapapun akan melihatnya penuh damba.
"Ehem!" Indra mendekat dan menyapa putranya yang sejak tadi anteng berjemur di kursi bayi. Sedangkan Seina segera berdiri dari duduknya, dia melirik sekilar ke balkon kamar dan ternyata disana ada Lilian yang sedang melihat ke arah taman.
"Tuan, mau gendong Tuan muda?" Tanya Seina dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Boleh, tolong aku belum terbiasa." Jawab Indra dan tentu Seina dengan senang hati membantu dengan modus. Seina sedikit mendekatkan dadanya agar terkena lengan Indra.
"Berhasil." Batin Seina karena Indra sedikit terkejut namun dengan sengaja juga menyentuhkan lengannya lagi ke arah dada Seina yang indah.
Sedangkan diatas sana Lilian sudah menggeram dan kesal melihat kedekatan Indra dan pengasuh itu. Lilian baru sadar kalau pengasuh itu cantik dan mempunyai tubuh yang sangat indah melebihi dirinya.
Hanya sebentar akhirnya Indra pergi ke kantor dengan perasaan senang, dia mengira Seina sengaja merayunya dan akan dia pastikan menikmati tubuh Seina secepatnya.
Seina kembali ke kamar Randy dan menidurkan kembali bayi itu, tapi baru saja dia keluar kamar Lilian sudah ada di depannya.
"Ada apa Nyonya, perlu bantuan?" Tanya Seina pada Lilian yang terlihat marah.
"Apa tidak ada baju lain? Kenapa bajumu seperti wanita penggoda?" Tanya Lilian sedikit menahan emosinya
"Maaf nyonya, saya hanya punya sedikit baju yang saya bawa." Jawab Seina dengan wajah sendu.
Di lantai yang sama, Ella sedang mengepel dan melihat kejadian Seina dan Lilian, "Sungguh kau sangat pintar akting guru." Gumam Ella sedikit tertawa lalu melanjutkan pekerjaanya lagi.
"Betty!! Betty!!" Teriak Lilian dan Betty berlari secepat mungkin menaiki tangga begitu mendengar namanya diteriakkan.
"Ya nyonya." Jawab Betty sambil terengah.
"Siapkan baju pelayan untuknya, jangan biarkan tubuhnya menggoda Indra." Perintah Lilian dan Betty langsung paham.
"Baik nyonya, baju pelayan baru datang 10 menit lalu." Jawab Betty yang langsung menarik Seina untuk ikut dengannya.
Betty langsung membuka paket dan memberikan 3 baju pelayan untuk Seina, wanita cantik itu langsung tersenyum saat melihat ukuran baju itu.
"Cepat ganti kalau tidak nyonya akan marah lagi." Betty sedikit mendorong Seina untuk masuk ke kamarnya.
Tiga baju pelayan itu ternyata adalah 2 rok dan 1 celana panjang, tentu Seina akan memakai rok yang lumayan terlihat pendek di tubuhnya yang tinggi apalagi baju ketat berwarna hitam berenda putih itu sangat pas di tubuhnya, bahkan lekukan indah terpampang jelas.
"Astaga Lina..." Pekik Betty saat melihat penampilan Seina, bahkan jauh lebih cantik dan seksi dari pakaiannya tadi.
"Sudah lah, kan nyonya yang suruh ganti." Betty hanya bisa pasrah saja tapi untungnya Lilian sudah berangkat barusan.
Setelah selesai urusan pekerjaan rumah tangga, Betty melihat Tuan nya pulang di jam makan siang, entah apa gerangan yang membuat Tuan nya pulang. Hal yang tidak pernah dia lakukan selama mengikuti majikannya ini selama 5 tahun.
"Tuan, apa ada masalah?" Tanya Betty pada Indra saat dirinya ke dapur.
"Tidak ada, kenapa?" Indra balik bertanya.
"Ah, tidak Tuan hanya saja Tuan tidak biasanya pulang untuk makan siang." Betty beralasan, padahal Betty selama ini menjadi mata dan telinga Lilian juga karena diberikan upah tambahan.
"Ehm.." Jawab Indra sekenanya.
"Kau mau kemana Betty?" Tanya Indra karena melihat pelayannya itu tidak memakai seragamnya.
"Saya mau belanja mingguan Tuan seperti biasa bersama Pak Toto." Jawab Betty dan Indra hanya mengangguk.
"Kau, kemari." Perintah Indra yang melihat Ella sedang mencuci piring di dapur.
"Ya Tuan.." Ella menghampiri Indra, Indra melihat Ella dengan aneh karena meskipun tidak cantik tapi kulit pelayan seperti Ella terlihat bersih dan putih.
"Siapa namamu?" Tnaya Indra masih melihat pada Ella.
"Saya Leli Tuan." Jawab Ella sambil menundukkan kepalanya.
"Siapkan makan siangku." Perintahnya lalu ke ruang makan dan duduk sembari menunggu disana. Tak lama Ella sudah keluar dengan nampan dan bolak-balik beberapa kali untuk menyiapkan makan siang Indra.
"Ella.. ssttt..." Panggil Seina sambil berbisik berharap Ella mendengarnya, pasalnya Ella masih menunggu Indra selesai makan siang.
Ella menoleh ke arah suara yang sejak tadi mengganggunya, "Apa?" Hanya bibir Ella yang bergerak, tanpa suara.
Seina melambaikan tangannya, Ella mendekat pelan ke arahnya.
"Aku yang membereskan itu, kau pura-pura sakit perut saja. Kalau nanti si brengek itu mendekatiku foto dengan angle yang bagus ya.." Seina berbisik serius dan Ella menganguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Indra yang selesai makan, disuguhkan makanan penutup oleh Seina yang sengaja seperti rencananya.
"Ah.. Dia cantik sekali, Lilian tidak ada apa-apanya." Batin Indra. Matanya terus mengikuti pergerakan Seina yang bolak-balik antara dapur dan meja makan.
"Kau sudah punya pacar?" Tanya Indra saat Seina kembali ke meja makan.
"Saya janda Tuan." Jawab Seina mulai berakting.
"Sejak kapan?" Tanya Indra mulai penasaran.
"Sejak 4 bulan lalu, suami saya pergi sama wanita lain yang lebih cantik dari saya. Padahal kami baru menikah 1 bulan." Air mata Seina mulai mengalir, Indra yang tidak tega langsung berdiri dan mengusap pipi Seina.
Ella yang tidak mau membuang kesempatan langsung mengambil foto mereka dengan sudut yang luar biasa, mereka seperti sedang berciuman.
"Maaf Tuan, saya harus cuci piring, Leli sedang sakit perut dan Tuan kecil sebentar lagi bangun." Seina berbalik dan tidak sengaja kakinya tersandung kaki meja dan terjatuh. Kesempatan Indra memeluk pinggang Seina agar wanita itu tidak terjatuh.
Akhirnya mereka seperti berpelukan, Ella yang masih sembunyi di tempatnya tak melewatkan kesempatan ini dan mengambil beberapa foto lagi sambil cekikikan melihat tingkah gurunya itu.
TBC