Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 12 - Ella dan Konser



Ella lembali ke rumah dan dengan hati senang dan riang dia berjalan masuk dan mulai merapikan barang bawaannya, dia akan 2 hari berada di luar kota dan besok akan berangkat.


"Ella sayang..." Panggil Imelda yang masuk ke kamar Ella.


"Ya mama.." Sahut Ella dengan riangnya.


"Kata J, Ella mau nontonĀ  konser. Mama takut kamu pergi sendiri." Ujar Imelda dengan wajah sendu, meskipun penampilan putrinya dapat mengelabui orang-orang tapi tetap saja dia khawatir.


"Tenang mama sayang.. Ella akan baik-baik saja. Kalau ada yang berani macam-macam mereka akan kena tendangan maut." Ella berdiri sembari menendang-nendang udara membuat Imelda menjadi tertawa lucu melihat ulah putri cantiknya ini.


"Ok, tapi hati-hati dan jangan matikan ponselmu. Pakai terus kalungmu agar kalau ada apa-apa papa mudah mencarimu sayang." Ujar Imelda mengingatkan dan Ella tentu paham akan wejangan yang selama ini dia terima.


Kalung yang dia pakai hanya kalung biasa, bukan emas atau perak tapi titanium yang sudah tertanam gps, begitu juga jam tangan dan ponsel. Semua yang digunakan Ella terlihat biasa saja tapi sebenarnya di rancang khusus untuk penjagaan.


Ella akhirnya tertidur setelah packing sambil memeluk bantal dengan wajah Oktav yang begitu tampan.


.


.


.


Penampilan Ella jauh dari kata cantik, dengan rambut panjang di kepang dua, kaca mata tebal dan makeup yang membuatnya menjadi jelek. Pakaian kedodoran dan celana jeans lusuh menutupi lekukan tubuh indahnya.


"Akhirnya aku bebas 2 hari ini..!" Teriak Ella saat keluar dari bandara. Tentu saja Ella tidak tau jika tetap ada 2 orang pengawal yang di utus untuk menjaganya, tapi mereka hanya akan bertindak jika Ella terdesak.


Ella masuk ke salah satu taxi yang mengantri rapi untuk menuju hotel tempatnya menginap, hotel yang sangat dekat dengan tempat konser. Tentu saja hotel milik keluarga sepupunya yang juga kaya raya.


Hari masih sore dan Ella sangat senang dapat keluar sendirian seperti ini, dia yang merasa gerah mengganti bajunya dengan kaus lebih tipis dan longgar seperti biasa, namun celana panjangnya dia ganti menjadi celana pendek selutut, benar-benar mirip anak remaja.


"Pak, jus jeruk nya 1." Pesan Ella pada penjual jus pinggir jalan. Setelah membayar Ella menyeruput jus segar itu lalu lanjut jalan mencari jajanan. Sore ini cukup sepi karena sedang hujan gerimis kecil membuat orang malas keluar rumah.


Ella memilih duduk sambil menunggu perutnya lapar, dia memilih taman tengah kota yang sudah sepi karena menjelang malam.


Dari kejauhan, dia melihat seseorang yang duduk sendiri juga tapi tak lama ada segerombolan pemuda yang mengerumuninya. Terlihat lelaki itu sedikit ketakutan karena salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat. Ella duduk di taman itu dengan tenang karena banyak penjual makanan di sekelilingnya.


Ella paling tidak bisa melihat perundungan meskipun dia di kampus juga sering di rundung.


"Hei kalian!!" Teriak Ella begitu lantang dan menunjuk ke arah gerombolan pemuda disana.


"Wah.. adik kecil, ada apa?" Tanya salah satu dari mereka. Pria bermuka seram itu mencoba menyentuk pudak Ella tapi langsung di tepis olenya.


"Berani sekali kau gadis kecil, akan kuberi pelajaran." Pemuda itu berusaha merangkul Ella namun terus di tepis dengan kuat. Ella berlari mendekat ke lelaki yang di rundung tadi, menarik tangannya dan lari dari sana.


"Hei lari yang cepat, jangan lemah jadi laki-laki." Teriak Ella. Tapi mereka berhasil di kejar oleh gerombolan itu yang berjumlah 4 orang.


Ella meninju menendang dan si lelaki muda yang ditolong hanya tersenyum melihat Ella yang bertarung melawan 4 orang yang lebih besar darinya dan dia terkagum-kagum dengan sosok Ella yang pemberani.


"Selesai." Ucap Ella setelah menghabisi 4 orang itu lalu kembali ke lelaki yang masih anteng menikmati pertunjukan. Lelaki dengan tubuh tinggi, dengan manik mata abu-abu itu memakai topi dan masker.


"Kakak, sudah selesai dan pulang lah." Kata Ella lalu berjalan santai untuk kembali mencari makan malam untuknya. Tapi sialnya dia malah terpeleset karena menginjak kulit pisang.


Lelaki tadi untungnya sempat menolong Ella, tangannya di lingkarkan ke pinggang Ella yang ternyata ramping.


"Perutnya ramping dan matanya indah." Batin lelaki itu menatap lekat wajah Ella, meskipun mata itu tertutup oleh kaca mata tapi terlihat sangat indah.


"Terima kasih kak, sudah ya aku pergi." Ucap Ella sedikit canggung karena baru kali ini dia bersentuhan dengan lawan jenis selain kakaknya dan ayahnya.


"Dia cantik." Gumam lelaki itu sambil tersenyum, dia menyadari kalau Ella adalah gadis cantik, dengan garis wajah bulat dan kecil, mata indah, hidung mancung dan bibir mungil.


"Sangat cantik." Ucapnya lagi sambil berlalu pergi.


Agak jauh dari lokasi Ella, 2 pengawal yang diam-diam mengikuti sudah memberi laporan pada Tuan mereka.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Hari yang di tunggu Ella telah tiba, gadis itu sudah bersiap dengan rambutnya yang dikuncir kuda, tak lupa kaca mata besarnya, celana jeans dan kaus kebesaran, sling bag berbahan kanvas besar untuk menyimpan segala pernak perniknya.


"Kakak luar biasa, aku dapat posisi terbaik." Gumam Ella sendiri, dia sangat senang berada di kursi paling depan dan ditengah-tengah panggung.


Dua puluh menit menunggu akhirnya konser dimulai, Ella sangat tidak sabar melihat idolanya akan bernyanyi tepat di depannya.


Tiga menit pertama, Ella sangat bosan kerena Octav belum keluar, masih band pembuka entah sampai kapan. Wajah Ella sangat tidak bersahabat.


Barulah di menit ke 12 seorang pria tinggi tidak terlalu berotot tapi lengannya terlihat cukup kekar dengan baju kaos hitam tanpa lengan.


"AAAAHHHH..." Teriak menggema, mayoritas adalah suara perempuan, termasuk Ella. Sungguh ini hari terbahagia baginya, sudah sejak remaja Ella mengidolakan sosok Oktavio Jazzy. Pria 25 tahun saat ini dan sudah 10 tahun dia menjadi penyanyi.


"OKTAAAAVVV..." Teriak Ella begitu 1 lagu selesai. Sang idola melihat ke arahnya dan tentu saja Ella kembali berteriak histeris karena senang sang idola mengetahui tentang dirinya, cukup Oktav tau kalau dia ada.


Ella sampai menangis karena Oktav tersenyum kearahnya, tak peduli sang idola tersenyum pada siapa yang penting dia merasa kalau Oktav tersenyum padanya.


Lagu kedua, Oktav bernyanyi lagu melow yang membuat Ella kembali terharu dan tersentuh, lagu kesukaannya begitu mendamaikan hati. Ella terus menatap Oktav dengan tatapan penuh cinta.


Sepertinya Ella memang sudah gila, dia sudah tergila-gila pada Oktaf sejak dia remaja.


TBC ~