Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 40 - The Case (Deadly Bullying 3)



-Flashback-


"Ris.. ada latihan hari ini?" Tanya Vina dengan senyum mengembang dan terlihat sangat manis. Vina bukan tipe gadis yang membuat mata pria menatapnya tapi senyum manis Vina sungguh sangat indah dipandang.


"Ya ada, mau lihat lagi?" Tanya Riska yang tau kalau Via sangat suka melihatnya berlatih, akting di drama sangat mengasikkan.


Riska yang memang tergolong cantik mempunyai impian untuk jadi aktris, setelah lulus dia akan lanjut kuliah di sekolah akting terbaik di luar negri.


"Yuk.. " Ajak Riska tapi Vina masih diam ditempat, dia melipat bibirnya kedalam dan memicingkan matanya melihat Riska.


"Oh iya.. lupa hehehe aku duluan ya." Riska melambaikan tangan meninggalkan Vina di sudut ruang kelas itu.


Vina menunggu 15 menit barulah dia masuk ke ruang yang lebih cocok disebut aula. Disanalah semua siswa siswi belajar dan berlatih memainkan drama pendek sambil sesekali guru memperbaiki dan menjelaskan.


Vina sangat senang melihatnya, dia ingin suatu saat nanti dia bisa masuk dalam pembuatan suatu drama atau film luar  biasa.


Satu setengah jam, latihan selesai. Hanya tinggal Riska disana yang selalu terakhir selesai dengan urusannya. Memang lah dia sengaja agar bisa mengobrol dengan Vina yang merupakan siswi terkucilkan.


Meskipun nilai Vina adalah A di setiap mata pelajaran, tidak serta merta dia disukai bahkan oleh guru sekalipun.


"Hari ini aku aman." Ucap Vina sambil tersenyum tipis.


"Aman?"


"Ya, Vani dan Sora gak masuk karena mau lihat show nya Judy. Aku mendengarnya kemarin waktu mereka mengobrol."


Jelas Vina dan Riska menatapnya penuh penyesalan dan rasa kasihan yang mendalam.


"Jangan melihatku begitu ah.. tenang aja, tinggal 1 setengah tahun kita bersama dan penderitaanku akan berakhir disana."


"Kau harus kuat.."


"Pasti, banyak impian yang menunggu untuk aku raih. Tak ada kata menyerah apapun itu."


"Aku akan menunggumu kembali dan aku akan membuat film yang sangat bagus lalu kau akan jadi pemeran utama wanita."


Vina tertawa bahagia, dia menceritakan mimpinya dan pasti akan dia raih nantinya. Riska tau dibalik senyum cerianya, Vina menahan sakit luar biasa. Fisik dan hatinya, bahkan mentalnya tapi dia bertahan dan terus semangat menunggu 1 setengah tahun akan segera berakhir.


-Flashback end~


\= = = = = = =


Di kediaman Ella, dia memang sedang melihat kasus Vina dan ibunya, Mutiara lalu masuk notifikasi email MH.


"SHIITT!!" Teriak Ella kesal bercampur sedih. Potongan video itu adalah Vina yang siksa dengan memukulkan tongkat baseball ke sluruh tubuhnya kecuali tangan, kaki dan wajah. Si pemukul fokus pada bagian tubuh tak terlihat.


-Grup-


Marcello


[Kalian udah lihat?]


Ella


[Udah..]


Ella


[Bangsat!!]


Aster


[Cepat balas email itu, kita ambil kasusnya.]


Marcello


[ok, tapi kalau kita ambil pasti harus dapat dukungan minimal kak Jarred. AKu punya rencana.]


Aster


[Nanti kita bahas tatap muka.]


Ella


[OK]


Marcello yang membalas email tersebut dan juga mencoba meretas dan mencari keberadaan si pengirim email bernama Viska.


Ella juga melakukan hal yang sama, tapi dia lebih mencari sosial media dari email tersebut.


"Hem.. dia rupanya penulis di platform ini, bisa nih buka dengan akun mama." Gumam Ella dan mencoba login ke akun Imelda untuk mencari tau tentang Viska ini. Imelda sudah menjadi salah satu admin dari platform itu dan dengan mudah Ella mengaksesnya.


"Hanya cerita novel yang masih menggantung."  Ella kembali berselancar tapi tidak menemukan apapun karena HIS memang membatasi penggunaan sosmed pada anak didik mereka.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Pagi ini Aster dan Ella yang memang sudah tidak kuliah karena akan magang berangkat ketujuan yaitu Magical Flower.


Karena banyak pesanan jadi mereka memutuskan untuk bertemu disana saja. Marcello ikut dengan kedua kakak sepupunya dan tetap dengan laptop yang tak bisa jauh darinya.


"Jadi apa rencanamu?" Tanya Aster sembari menyusun bunga beberapa warna menjadi 1 ikatan dan diserahkan ke Ella yang membungkusnya dengan kertas wrapping biru dan pink.


"Aku cari data di yayasan dan ada pertukaran pelajar antara HIS dan HS. Yah.. HS Group ternyata ada saham lumayan besar di HS dan setiap 3 tahun sekali pasti ada pertukaran seperti ini."


"Dan yang dikirim adalah siswa siswi berprestasi tapi bukan yang terbaik."


Marcello berhenti sejenak, menarik nafasnya dan memandang kedua gadis yang 2 tahun lebih tua darinya.


"Lalu?" Tanya Ella penasaran, tangan mereka berhenti bekerja sejenak.


"Aku ada ide, karena aku gak bisa retas cctv maupun jaringan mereka maka kita pake cara lama. Antara kalian masuklah kesana dan pura-pura jadi siswi disana."


Aster dan Ella saling pandang, mereka meragu lalu menatap Marcello tanpa berkedip.


"Tapi... gimana caranya?" Tanya Aster lalu kembali bekerja.


"Minta bantu kak J atau sekalian om Fano, atau papa Morgan." Marcello memberi pilihan dan Ella yang benar-benar tidak tega pada Vina pun mengangguk.


"Aku akan berusaha bujuk papa deh kalo gitu."


"Siipp.. cepat selesaikan,papa dan om Fano meeting hari ini dan pasti makan siang bareng, kita kesana."


"OK"


.


.


.


Jam makan siang, lobi perusahaan Hastanta Group sangat padat karena semuanya akan keluar makan siang, ada pun sebagian makan di kantin perusahaan.


"Langsung ke ruang papa aja." Ucap Morgan lalu menekan tombol lift disana, Morgan memang sudah biasa datang ke perusahaan sekedar membantu.


Mereka bertiga sampai ke lantai 26 dimana kantor CEO berada dan tanpa permisi lagi karena memang jam makan siang Marcello hanya melirik sekilas pada sekretaris Morgan yang mengangguk pelan tanda boleh masuk.


"Pa.." Panggil Marcello pada Morgan yang menengok siapa yang membuka pintu tanpa mengetuk, memang dia tau pasti salah satu dari anak-anaknya.


"Siang om Morganteeenngggg..." Sapa Ella setengah berteriak dengan suara dibuat secempreng mungkin. Morgan tersenyum melihat keponakan cantiknya itu.


"Siang om." Diikuti Aster yang menyapa Morgan. Berpapasan Fano juga masuk keruangan itu.


"Loh kok rame? Kenapa ga bilang papa?" Tanya Fano melihat putrinya itu lalu mengelus kepala Aster juga.


"Dadakan om hehehe.." Aster yang menjawab.


"Ya sudah makan siang bareng aja, tapi disini ya.. jam 1 masih ada meeting." Kata Morgan dan mereka mengangguk bersamaan.


"Ada apa, kalian pasti ada maunya." Ucap Fano melihat gelagat anak-anak ini. Setelah makan siang  mereka masih punya waktu 15 menit untuk mengobrol.


"Gini paa... izinkan Ella atau Aster masuk ke sekolah HIS. Ya pa yaaa..." Ucap Ella dengan suara dibuat seimut mungkin dan wajah memelas.


"Untuk?" Tanya Morgan bingung karena Ella dan Aster bahkan tahun ini seharusnya sudah lulus kuliah, umur mereka juga sudah 20 tahun.


"Jadi gini pa.." Morgan menyambung dan menceritakan ide mereka untuk membantu Vina dan ibunya mencari keadilan.


"Boleh ya paaa... masa papa tega lihat ibunya Vina tiap hari bawa banner di depan gedung sekolah itu. Lagian Hastanta kan punya saham disana, jadi kita berhak mencari tau apa yang terjadi di dalam sana. Bisa jadi sekolah yang bagus, megah dan tampak hebat dari luar malah bobrok di dalam." Ucap Ella panjang lebar membujuk Fano, berharap papanya akan luluh.


"Tapi bener juga, kita hanya diam dan tanpa ikut campur dalam sekolah itu. Kejadian ini memang harus diselidiki." Jawab Morgan yang sebenarnya juga kesal dengan pemberitaan HIS akhir-akhir ini.


"Ya sudah bole." Jawab Fano pasrah.


"YEAY!!!"


TBC~