Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 43 - The Case (Deadly Bullying 5)



"Ayahnya punya saham terbesar dan donasi terbanyak juga dari ayahnya. Kepala sekolah sangat membanggakan dirinya karena dia yang terbaik di bidang akademis. Sebelum Vina masuk." Jelas Riska sambil menerawang jauh ke tahun lalu.


Flashback


Para siswa sedang heboh karena ada anak baru yang datang di akhir semester kelas 11, bahkan kurang dari 2 bulan adalah ujian kenaikan kelas. Semua orang menatap takjub pada gadis remaja itu yang bernama Vina.


"Lihat, itu Vina.. gak cantik-cantik amat sih tapi katanya nilainya sempurna." Bisik seorang siswa disana.


"Benarkah? Gila.. bahkan nama mereka mirip Vina dan Vani seperti kembar dengan nilai sempurna." Balas sesorang lagi. Kebetulan siswi bernama Vani melewati mereka dan menatap tajam pada 2 siswa itu yang kemudian diam dan berlari menghindari Vani.


"Siapa Vina itu?" Tanya Vani pada Sora salah satu temannya.


"Anak baru, biasa aja hanya pintar." Jawab Sora dengan enteng tanpa tau kalau hati Vani sudah memanas. Dia tidak suka di samakan dengan orang lain apalagi membandingkan. Dia tak ada bandingannya.


"Ehm.." Vani hanya berdehem karena merasa tidak penting pada anak baru itu. Dia lanjut melangkahkan kakinya dengan sikap angkuh.


Vina melewati harinya dengan sangat baik, kurang dari 2 bulan bukan masalah baginya untuk mendapatkan peringkat 1 di HIS.


Teman sekelasnya bahkan sangat bangga padanya, ada anak kelas B menjadi peringkat 1 dan itu adalah sejarah baru. Tapi tidak dengan Vani, dia merasa tersaingi yang selama ini tak ada yang bisa atau sanggup berada dekat pada posisinya.


Ujian di HIS sangatlah sulit bahkan Vani mendapatkan 2 nilai B dari 2 mata pelajaran, matematika dan bahasa asing.


Vani meremas hasil ujiannya dan menggeram marah karena bukan lagi dia yang diperingkat pertama melainkan Vina yang baru masuk ke sekolah ini kurang lebih 2 bulan.


"Brengsek, Vina." Vani menggeram bahkan Sora dan Judy tidak berani menginterupsinya.


Bisik-bisik kembali terdengar dan kali ini membuat Vani sangat marah, Vina yang namanya mirip dengannya telah dibanding-bandingkan.


"Akhirnya tahta Vani ada yang menggeser, malah kembarannya Vina hahahah..." Terdengar salah satu siswi menertawakannya.


"Apa kau bilang!?" Amarah Vani tak terbendung, dia menarik rambut siswi itu lalu membenturkan wajahnya di dinding hingga membuat hidungnya patah.


Vani melanjutkan langkahnya dan menuju kelas B dimana Vina berada.


BRAKK


Vani memukul keras meja Vina yang sedang asik membaca buku.


"Astaga!" Seru Vina kaget dan mengelus dadanya dan melihat siapa yang menggebrak mejanya.


"Maaf ada apa ya?" Tanya Vina dengan polos karena memang tidak mengenal Vani.


"Kau Vina? Aku Vani. Ikut denganku." Ucap Vani menyeringai. Vina di seret oleh Sora untuk mengikuti mereka.


Vani dan yang lainnya menuju atap gedung yang merupakan markas mereka. Disanalah mereka nongkrong, bolos sambil main game atau merokok.


Sora menghempaskan Vina dengan kuat hingga terjatuh.


"Aduh.." Vina mengelus sikunya yang terbentur lantai semen kasar disana.


"Aku gak suka dengan namamu.. Vina Vani. Kau.. tidak pantas dengan nama yang mirip denganku. Aku benci itu!" Ujar Vani sambil menunjuk wajah Vina yang masih kebingungan bercampur takut.


"Aaahhkk.." Vina kembali berteriak karena Vani menarik rambutnya dengan sekuat tenaga. Setelah mengancam Vina mereka kembali ke ruang kelas dan mengunci pintu menuju atap agar Vina bisa disana lebih lama dan tidak masuk kelas. Dengan begitu point nya akan di potong dan tidak akan berada di peringkat 1 lagi.


.


.


.


Semua menggeleng karena takut dengan Vani, mereka melihat sendiri kalau Vani dan Sora menyeretnya ke atap dan sampai sekarang belum kembali.


Tak lama Vina sudah ada di pintu kelas, "Maaf pak, tadi saja terjatuh dan ke UKS dulu." Ucap Vina dan memperlihatkan luka di siku dan dengkulnya.


Guru wali kelas melihatnya dan Vina tampak tak berbohong karena memang ada luka di tubuh gadis itu.


"Ya sudah lain kali hati-hati." Ucap sang guru lalu Vina duduk di kursinya melanjutkan pelajaran.


"Siapa yang buka pintu atap?" Tanya Vani di koridor kelas, beberapa orang disana hanya menggeleng dengan takut-takut. Vani dan Sora melirik Vina yang masuk ke kelas dan merasa geram dengan orang yang membuka pintu atap.


"Sora, Judy cek cctv." Perintah Sora dan 2 temannya segera ke ruang keamanan dan melihat siapa yang membukanya.


Setelah tau Vani mendatangi orang tersebut yang ternyata seorang siswa dari kelas D. Siswa itu akhirnya jadi bulan-bulanan Vani. Dua minggu kemudian siswa itu keluar dari sekolah karena tak bisa menahan malu karena di bully.


Sementara Vina aman karena Vani melampiaskan marahnya ke siswa lainnya. Tapi itu hanya berlangsung beberapa bulan. Setelahnya kembali Vina dibully habis-habisan, seperti biasa karena Vina tetap di peringkat pertama dengan nilai A+.


Flashback end ~


"Gila... brengsek si Vani itu!" Ella mengumpat keras.


"Hanya karna nama mirip dan nilai? Lah kalau dia sendiri gak mampu pertahankan bukan salah orang lain dong?" Aster juga gerah mendengar cerita Riska.


"Dan apa masalahmu dengannya hingga kena bully juga?" Tanya Aster pada Riska yang duduk dengan lesu.


"Aku seperti lainnya, samsak hidup karena amarahnya yang entah karena apa." Jawab Riska dengan lirih.


"Vani aja atau yang 2 juga ikutan?" Ella bertanya.


"Vani aja tapi kadang Sora ikut pegang atau ambilin barang, kalau Judy hanya diam tanpa melihat." Jawab Riska.


"Huh.." Aster menghembuskan nafasnya kasar.


"Gak ada bukti." Keluh Aster lagi.


"Ada, aku hanya punya beberapa video tanpa wajah pelaku tapi semua yang terjadi direkam oleh Sora dan terkadang Vani melihat ulang video penyiksaan itu sambil tertawa-tawa."


"Dasar sikopat!"


"Dia gila emang!"


Aster dan Ella tampak berpikir kembali, mereka bingung untuk memasang cctv karena pasti ketahuan. Karena setiap masuk sekolah ponsel dan barang elektronik pasti akan di simpan dalam loker dan ada pemeriksaan sebelum masuk ke kelas.


"Kita rundingkan dulu dengan Cello." Ucap Aster akhirnya dan Ella pun mengangguk.


"Kembali lah.. kami akan cari cara untuk membantumu dan cari keadilan untuk Vina." Ucap Ella dengan pelan dan Riska pun kembali ke kelasnya.


"Aku ingin memberinya pelajaran dulu sepertinya." Kata Aster dan Ella setuju.


"Ya ya aku juga, kesel banget." Ella pun mendukung.


"Kau pernah jadi pembully?" Tanya Ella dan Aster malah melihatnya dengan heran.


"Kita selalu sekelas ya kalau kau lupa! Kapan aku membully orang?" Tanya Aster dengan kesal tapi Ella hanya nyengir.


"Sekarang lah waktunya, kita balas dia tapi... aku akan bikin dia yang mencari masalah denganku dulu. Dia suka sama Javi jadi kita manfaatkan itu." Ella menjelaskan rencananya dan Aster tentu setuju dengannya.


TBC~