
Aster yang sudah berkeliling mencari Ella tapi tidak mendapatinya dimanapun.
"Gimana?" Tanya Aster pada Javier yang juga berlari mendekatinya.
"Gak ada di sana." Javier menunjuk ke arah kantin dan sekitarnya. Di halaman sekolah sudah sepi karena semua sudah masuk ke dalam kelas.
"Gak ada juga di lantai atas." Kata Aster dan dia mulai panik.
"Ah mungkin di atap!" Pekiknya dan mulai berlari menuju tangga tapi Aster terhenti saat Javier berteriak.
"Ella itu Ella kan?" Teriak Javier melihat ke atas gedung dan Ella berdiri disana lalu tubuhnya jatuh...
Aster yang melihat itu segera berlari dan menumbuhkan semak dan rumput menjadi lebih tinggi untuk bisa menopang tubuh Ella.
"ELLA...!!" Aster berteriak, 'Semoga berhasil.' Batinnya saat melihat tubuh Ella semakin dekat dengan lantai.
BRAAKKK!!
Tubuh Ella mendarat sempurna diatas semak besar yang dibuat Aster, untunglah tidak ada orang disana kecuali Javier yang segera membawa tubuh Ella.
.
.
.
Sirine terdengar, Aster dan Javier sudah ada di UKS menunggu Ella sadar. Mau tidak mau Aster sudah melapor pada Florian dan Fano. Berpapasan Marcello juga telah mengetahui sisi gelap HIS beserta beberapa siswi disini beserta kepala sekolah dan beberapa guru.
Marcello melaporkan semua pada Florian dan Fano, sebagai salah satu pemegang saham yang lumayan banyak Fano juga menggeram. Florian yang ada meeting penting menyerahkan semua ke Fano untuk melindungi putri-putri mereka.
Dengan bukti yang ada Stefano Aelisius Hastanta sendiri yang mendatangi kantor polisi untuk melaporkan Harmony International School.
"Halo, ya ada apa Aster?" Tanya Fano saat Aster meneleponnya.
"Om, Ella pingsan. Sekarang kami di UKS. Aku gak tau kenapa dan ada apa tapi tadi Ella jatuh dari gedung sekolah." Jelas Aster sambil terisak.
"APA?!" Fano berteriak panik, beberapa polisi disana sangat ketakutan mendengar suara Fano yang menggelegar.
"Tapi Ella gak apa-apa om, aku.. Ella selamat, tapi mungkin terekam cctv."
Fano seketika lega mendengarnya, tubuhnya luluh tak bertenaga. Dia tau maksud Aster yang menggunakan keajaibannya untuk menolong Ella.
"Baiklah, tolong jaga Ella dulu ya.. om akan selesaikan semuanya." Suara Fano melembut, dan menutup ponselnya.
Fano masuk ke salah satu ruangan khusus dan melemparkan semua bukti yang dia dapat dari Marcello ke kepala polisi disana. Fano tidak mengenal mereka karena bukan dari daerah domisili Fano ataupun perusahaan. Tapi karena Fano yang datang dan semua polisi mengenali dirinya maka dengan mudah dia dapat membuka kasus kembali.
"Jadi polisi mana yang akan bantu penyelidikan?" Tanya Fano dengan wajah datar dan nada tegas.
"Kami belum bisa membuka kasus lagi tuan Fano, tapi untuk penyelidikan.. " Polisi itu terdiam saat petinggi dari kepolisian pusat masuk ke ruangan itu. Semua polisi terdiam dan kini ketakutan.
"Tuan Stefano, sudah lama tidak berjumpa." Sapa Kepala polisi bernama Pratama dan mereka berjabat tangan. Dengan mudah akhirnya kasus kematian Vina dan HIS dibuka kembali.
"Perintahkan salah atu anggotamu yang jujur dan masih baru untuk kasus ini." Ujar Fano. Beberapa polisi disana sempat bingung atas permintaan Fano itu.
"Kenapa bukan polisi senior tuan?" Tanya salah satu kepala polisi disana.
"Aku butuh polisi jujur yang belum terkontaminasi oleh uang dan jabatan." Jawab Fano jujur dan semua terdiam dan menununduk.
"Baiklah, anda tenang saja. Surat perintah penyelidikan ulang akan segera keluar." Ucap Pratama dan Fano hanya mengangguk.
"Amankan area UKS karena putri saya dan teman-temannya ada disana. Buka akses cctv dan amankan segera." Bisik Fano pada Pratama saat dia hendak keluar dari ruangan itu dan Pratama mengangguk saja.
[Cello, saat polisi berhasil buka akses segera bereskan cctv 1 jam terakhir, hubungi Aster.]
Pesan itu dkirimkan dan Marcello dengan cepat pada posisinya untuk mengakses semuanya.
^^^^^^^^^^^^
Polisi sudah berada di HIS, dengan surat resmi penyelidikan dan penangkapan pada Sora Limanto.
"Ayo pergi sebelum ada yang naik." Kata Sora pada Vani yang masih sedikit syok. Vani sedikit ketakutan karena kali ini dia pasti jadi yang tertuduh lagi karena ceksok dengan Ella tadi pagi.
"Jangan khawatir, ayahmu dan ayahku akan membereskan semuanya." Kata Sora lalu merangkul Vani dan turun bersama.
"Aneh, kok sepi?" Tanya Sora dan Vani juga melihat semuanya masih dalam kelas masing-masing. Lantai 4 dan 3 juga sama, barulah Sora melihat ke bawah, tidak ada apapun selain beberapa orang yang sibuk berlari, entah siapa mereka pikir Sora dan Vani.
"Kemana si Viona?" Tanya Sora bingung begitu juga Vani, tidak ada tanda-tanda seseorang jatuh dibawah sana.
Tak lama beberapa pria naik ke lantai 3 dan berhasil menemukan Sora dan Vani.
"Itu dia.." Teriak pria itu dengan keras, beberapa siswa mengintip dan menyaksikan segalanya.
"Anda ditahan Sora Limanto atas kasus pembunuhan. Segera hubungi wali anda." Kata Pria itu yang adalah polisi.
"Apa maksud mu? Pembunuhan? Hahaha apa kalian ada bukti?" Tanya Sora berkelit dan berusaha menjauh dari polisi itu namun beberapa polisi lainnya datang dan masih dengan sopan mereka meminta Sora ikut ke kantor polisi.
Sedangkan Vani terlihat syok, 'Dari mana mereka tau?' Batinnya tak tenang.
"Ada apa ini?" Tanya kepala sekolah yang baru saja sampai disana, dia dihubungi oleh salah satu guru saat polisi datang.
Tak lama sirine mobil polisi terdengar mulai jauh lalu mendekat, semua orang terkejut dan panik termasuk kepala sekolah.
Sora akhirnya dibawa paksa dan menunggu walinya datang ke kantor polisi.
Di UKS, Ella masih belum sadarkan diri, Aster menunggu Fano datang dan Javier juga berjaga di pintu UKS agar tidak ada yang masuk. 30 menit kemudian ada seorang polisi datang dan juga berjaga disana.
'Pasti utusan om Fano nih.' Batin Javier yang membiarkan saja pria dengan seragam polisi itu disana.
"Sudah datang?" Tanya Aster dan Javier menggeleng pelan.
"Ella baik-baik aja kan?" Tanya Javier khawatir, dia merasa gagal menjaga Ella begitu juga Aster.
"Gak tau, dia seperti tidur saja. Belum tau ada luka atau gak. Seharusnya tadi biarkan saja dokter jaga masuk untuk periksa." Jawab Aster dengan wajah pucatnya, dia takut terjadi sesuatu pada Ella.
"Gak bisa, kata om Fano jangan biarkan guru atau staff sekolah masuk kesini, mereka gak bisa dipercaya." Dengan serius Javier menjelaskan. Fano sudah menghubunginya untuk menjada kedua gadis itu sebentar.
"Baiklah, kita tunggu saja." Aster pasrah.
.
.
Aster dan Javier merasa lega saat melihat Jarred lah yang datang, Aster tersenyum lega lalu Javier membuka pintu UKS itu.
"Ella.. " Lirih Jarred dan langsung membopong Ella dan keluar dari ruang UKS diikuti Aster dan Javier yang sedikit berlari karena langkah Jarred sangat lebar dan cepat.
Jarred menyetir sendiri mobilnya dan Ella direbahkan di jok belakang dengan Aster yang tetap menjaganya, Javier duduk di sebelah Jarred.
"Bang pelan-pelan bang.. bahaya." Javier panik, dia mencengkram sitbelt yang dia pakai karena Jarred menyetir dengan sangat cepat. Setelah sadar barulah Jarred sedikit menurunkan kecepantan di jalanan yang sedikit lenggang di pagi menjelang siang itu.
Marcello masih berkutat dengan laptopnya, setelah dapat membobol seluruh akses cctv di HIS dia segera menghapus video Ella yang jatuh dari atap gedung.
"Shitt!! Ini pasti ulah Sora lagi, akan kubalas dia." Gumam Marcello, lalu dengan cekatan jari-jarinnya membuat sebuah video singkat dan di sebar ke sosial media.
"Mampus.. " Umpatnya lalu kembali menutup laptopnya. Dia segera menyusul Jarred ke RS milik Archer.
Sesampainya disana, Ella segera ditangani oleh dokter dan sudah berada di kamar rawatnya sendiri. Sudah ada Fano dan Imelda disana.
Aster dan Javier juga masih disana, sedangkan Jarred yang tau Ella tidak apa-apa kembali ke kampus karena pekerjaannya terbengkalai sejak pagi.
"Ella baik-baik aja. Hanya syok dan tidak ada luka." Kata Aster pada Marcello dan pria muda itu hanya mengangguk.
TBC~