Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 46 - The Case (Deadly Bullying 8)



Hari senin dan hari pertama rencana mereka.


Ella dan Javier datang bersama dan saling bergandengan masuk ke ruangan kelas. Javier mengantar Ella masuk kelas lalu ke kelasnya sendiri.


Vani yang melihatnya sungguh kesal, dia ingin melabrak Ella tapi guru sudah masuk dan mereka akan ujian. Ella mengerjalan ujian dengan santai tanpa halangan apapun.


Jam istirahat, Ella dan Aster bertengkar hebat. Mereka bahkan saling mencaci. Vina yang melihat itu pun tersenyum sinis apalagi Aster berhasil menampar Ella.


Aster yang pura-pura kesal pun ke kantin dan kebetulan disana hanya ada Judy dan Aster duduk di sebelahnya. Beberapa kali memang Aster dan Judy berjalan di catwalk bersama pas latihan namum mereka hanya bertegur sapa.


"Hai.. Kau hebat, sungguh aku juga ingin menampar si Vio yang sok cantik sok imut itu." Ujar Vani yang baru saja bergabung.


"Ck.. dia menyebalkan." Aster berdecak kesal.


"Kapan-kapan ajak aku kalau mau memberinya pelajaran." Kata Vani lagi dan tertawa puas mengingat tamparan telak yang diberikan Aster ke Ella.


Yang dibicarakan masuk ke kantin dan melewati Vina dkk dan Aster. Mata Ella tampak sembab dan masih berkaca-kaca.


'Aktingmu luar biasa Ella.' Batin Aster gemas dan ingin tertawa tapi dia menahannya.


Tak lama Javier datang dan menghampiri Ella yang sedang duduk sendirian di meja dan memakan makan siangnya. Mereka tampak mesra membuat Vani kembali meradang.


.


.


.


Hari kedua,


Seperti biasa Ella dan Javier datang sengan bergandengan tangan. Ella tampak mesra dan selalu tersenyum manis saat menatap Javier dan begitu juga sebaliknya. Vina juga jadi jauh dengan Javier membuatnya kembali kesal dan ingin menghajar Ella.


Pelajaran di jam pertama adalah olahraga dan mendadak banyak siswi yang menjadi lemah letih karena datang bulan dan guru pun mau tak mau membiarkan mereka beristirahat.


Ella dan Aster juga termasuk karena mereka malas olahraga disana. Begitupun Vani dkk.


"Daisy, Seret dia ke atap." Bisik Vani pada Aster dan dia mengangguk. Vina, Sora dan Judy duluan sampai ke atap dan menunggu Ella dan Aster.


"Ke atap dan kau boleh menghajarnya sampai puas." Bisik Aster lalu Ella pura-pura diseret oleh Aster disaksikan oleh teman sekelas mereka. Ada yang kasihan dan ada yang tak mau tau.


Ella pura-pura berontak saat Aster menariknya dengan paksa sampai ke atap. Vani tersenyum puas saat melihat Ella sudah ada di depannya.


"Sampai juga." Ujar Vani tersenyum miring. Sora dan Judy hanya diam karena Sora siap dengan ponselnya untuk merekam dan Judy tak mau tau.


"Mau apa kau!?" Tanya Ella sedikit menantang.


"Heh.. berani juga kau." Seru Vani lalu melayangkan sebuah tamparan ke wajah Ella tapi berhasil di tangkis.


"Jangan coba-coba menyentuhku." Ella menangkis tangan Vina membuat yang lain syok karena Ella berani melawan.


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu." Hardik Ella dengan garang. Vani yang kesal pun coba menarik rambut Ella yang juga membuatnya marah. Rambut Ella sangat lebat dan indah.


Ella tak sempat mengelak karena rambutnya yang panjang berhasil di tarik oleh Vani. Terjadilah tarik menarik karena Ella melawannya.


"Ini sudah tak kondusif lagi." Kata Aster pada Sora dan Judy yang tampak bengong.


Setelah tarik menarik yang cukup lama akhirnya mereka berhasil di pisahkan. Untung tak ada luka sekali beberapa helai rambut yang rontok. Nafas Ella masih ngos-gosan dan menggebu ingin menghajar Vani tapi ditahan oleh Aster.


Sedangkan Vani sedang merapikan rambutnya yang berantakan hasil jambakan kuat Ella.


"Huh.. cuma segitu kemampuanmu?" Ejek Ella lalu mengibaskan rambutnya 2 kali dan rambut indah itu sudah rapi kembali.


'Sial, rambutnya bagus banget.' Batin Vani tak terima melihat rambut Ella yang sempurna indahnya.


"Jangan coba menyentuhku atau kau akan babak belur." Ancam Ella lagi, dia berbalik dan turun dari atap gedung itu.


"Kurang ajar! Aku pasti akan membunuhmu dasar cewek keparat, ****** murahan, brengsek!" Vani mengupat tak ada habisnya. Aster hanya tersenyum miring melihat tingkah Vani yang seakan tersakiti.


Dia tak sadar kalau dialah yang paling banyak menyakiti orang lain. Aster sudah tidak sabar untuk menghabisi kesombongan gadis remaja di depannya.


Aster melirik sejenak ponsel Sora yang masih merekam, dia sangat ingin mengambilnya saja tapi nanti ketahuan.


"Kita ke taman belakang saja nanti pulang sekolah, aku ada ide untuk membalasnya." Ajak Aster dan mereka melirik padanya.


"Ide apa?" Tanya Sora infin tau.


"Nanti saja, dia akan dapat balasan." Ucap Aster lagi untuk meyakinkan mereka. Sora mengangguk dan Vani langsung setuju tanpa curiga sama sekali, sedangkan Judy hanya ikut saja seperti biasa.


.


.


Aster sudah mengirim pesan untuk Marcello untuk bersiap sesuai waktu yang ditentukan Aster.


Keempat gadis itu duduk di sebuah kain yang dibentangkan dekat pagar dan di samping dinding yang menjulang tinggi. Aster memilih tempat itu untuk berlindung dari sinar matahari karena dinding tinggi itu menutupinya dan ada tanaman merambat yang tumbuh disana mempermudah Aster nantinya.


Aster menceritakan hal-hal yang dia tidak suka dari Ella agar semuanya fokus, tentu saja itu cerita karangan. Saat mereka serius membahas ide Aster untuk mengerjai Ella, tangannya diam-diam menumbuhkan akar rambat dan membawa ponsel sora.


Akar rambat itu menggulung ponsel lalu menyusup masuk ke semak dan tiba di sisi lain dari pagar disana. Marcello sudah bersiap mengambil ponsel dan mencolokkan kabel usb, memindahkan seluruh file.


"...." Marcello masih menunggu.


"...." Marcello menunggu lagi dengan sabar, menit ke 3, menit ke 4 hampir 100% dan akhirnya selesai.


"Yes, selesai!" ucapnya lalu mengembalikan ponsel pada lilitan akar tersebut. Marcello membuat suara burung dengan bersiul tanda sudah selesai dan dengan cepat akar itu kembali ke tempatnya semula.


Aster menarik kembali akar itu kembalikan ponsel itu ke tempat semula yaitu di samping Sora yang duduk paling ujung dekat pagar.


Aster lega karena misinya sudah selesai, dia cukup deg-degan meskipun hanya 7 menit dia melakukan hal itu.


"Jadi besok kita hadang dia dan permalukan ke seluruh kelas pas di aula." Ucap Aster.


"Hem.. biar saja dia malu dan kita lah pemenangnya." Vani tersenyum dan merasa dirinya akan menang dari Ella besok.


Aster belum mengatakan rencana ini pada Ella, biarkan saja besok akan menjadi kejutan dan Vani yang akan malu. Rencana sempurna dan dia butuh bantuan Marcello nanti untuk memuluskan rencananya.


TBC~