Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 65 - Dijodohkan



Jarred, Aster dan Martin akhirnya menginap satu malam. Hujan lebat mengguyur seluruh kota sehingga perjalanan malam mereka dengan mobil sangat membahayakan.


"Bawa baju ganti kan?" Tanya Jarred pada Aster yang sedikit kedinginan. Mereka sudah sempat keluar dari wilayah kota namun berbalik karena derasnya hujan.


"Iya, untung aja bawa." Jawab Aster. Tak lama Martin sudah membawa 3 buah akses kamar hotel mereka. Bukan hotel mewah, mereka hanya mencari hotel terdekat saja.


"Ok, mari kita ke kamar dan makan malam di sebrang sana saja." Tunjuk Jarred pada sebuah restoran kecil di seberang hotel.


"OK, setengah jam lagi kita bertemu disini. Karna restoran itu 1 jam lagi tutup." Jawab Martin dan mereka bergegas karena sudah lapar.


Aster menyempatkan diri untuk mandi karena sudah kulitnya terasa lengket seharian bekerja. Hanya 15 menit Aster sudah selesai dan dia menggunakan pakaian gantinya yang untungnya dia membawa tambahan tanktop crop top dan di tambah blazer yang dia pakai tadi siang.


"Nah itu Aster Tuan.." Ucap Martin setelah melihat Aster keluar dari lift.


"Maaf, apa lama nunggu?" Tanya Aster tidak enak meskipun masih ada 10 menit sebelum waktu janjian mereka.


"Belum kok, ayo aku sudah lapar." Jawab Jarred. Hujan yang masih saja mengguyur kota itu membuat Jarred menghela sejenak. Untung Martin yang gerak cepat meminjam payung pada security dan hanya mendapat 2 payung, itu udah cukup.


"Tuan pakai payung besar ini saja." Martin memberikan payung besar itu, Jarred membukanya dan menarik Aster untuk bersamanya.


"Ayo.." Aster di rangkul dan Jarred begitu menjaganya, mereka menyebrang dan sampai pada restoran kecil yang sangat sepi itu.


"Selamat malam.." Sapa pemilik restoran pada mereka.


"Malam.." Jawab Martin dan meminta menu. Mereka memilih menu hangat dan berkuah. Cuaca dingin membuat mereka sangat lahap menyeruput kuah kaldu mie yang ternyata sangat enak.


"Kayanya mie nya Aster enak ya?" Tanya Martin pada Aster dan Fano.


"Ya.. ini enak." Jawab Aster lalu menyeruput lagi kuah mienya. Fano tadi sempat memakannya karena Aster tidak bisa menghabiskan seporsi besar itu.


"Mau lagi gak bos? Tanya Martin pada Jarred yang dibalas anggukan. Jarred belum kenyang begitupun Martin. Aster hanya bisa tertawa kecil melihat 2 lelaki yang kelaparan itu.


^^^^^^^^^^


Paginya Aster melihat sebentar keluar jendela dan ternyata pagi sangat cerah, masih tersisa tanah basah dijalan tapi matahari sudah terik saja, namun udara masih terasa dingin.


Sudah jam 7 jadi Aster segera membereskan barang dan keluar, mereka akan sarapan dan melanjutkan perjalanan kembali.


Diperjalanan Aster kembali tertidur karena tadi malam dia tidur kurang nyenyak karena gelisah dan hujan yang turun terus dengan derasnya.


Tampak Jarred menyuruh Martin menanyakan kondisi sungai di sebelah proyek mall mereka dan ternyata sungai itu aman saja, debit air tidak terlalu naik hanya arus yang lebih deras dan masih aman untuk hanya duduk di tepian.


"Bagus lah, nanti kita pikirkan ulang mau untuk apa sungai itu." Ujar Jarred. Lalu dia menoleh ke belakang melihat Aster masih pulas tidur sambil duduk.


"Kemana dulu Tuan?" Tanya Martin yang juga melirik Aster.


"Kerumah Aster dulu, lalu pulang saja aku akan disana karena mama disana juga." Jawab Jarred. Untunglah Martin menggunakan mobil perusahaan jadi tidak perlu bolak balik.


.


.


.


"AAkkhhh emm.." Aster menggerakkan badannya, sambil mengerjabkan mata. Tidurnya sangat pulas sampai tidak terasa apa yang terjadi.


"Akhirnya bangun juga." Gumam Ella yang juga rebahan disebelah Aster sambil menonton video-video Oktav.


"Loh.." Aster melihat-lihat dengan bingung.


"Kok aku dikamar?" Tanya Aster terlihat bodoh.


"Iya lah.. ini udah jam makan siang." Jawab Ella menunjuk ke arah jam dinding. Aster terbengong, seharusnya dia akan sampai rumah paling siang juga jam 10 atau 11, tapi ini sudah jam 12 lebih 20 menit.


"Kau tidur sangat nyenyak bahkan terlihat nyaman dan damai saat kak J menggendongmu bahkan kau memeluk lengannya tak mau lepas." Ucap Ella sambil terkekeh geli.


"Gak mungkin." Sanggah Aster tak percaya.


"Gak percaya.. iihh tanya sana ke uncle Flo. Tadi uncle mau gendong tapi tangannya kotor karena bantu tante Flo bereskan pot bunga yang jatuh. Jadilah kak J yang gendong." Jelas Ella yang masih membuat Aster menggeleng.


"Sudah lah.. ayok aku lapar, semua menunggumu." Ella keluar kamar lebih dulu, Aster ke kamar mandi untuk mencuci muka agar segar.


"Akhirnya bangun juga, lapar tau!" Vered, adik Aster sejak tadi menggerutu. Mereka sudah menunggu sejak Ella turun dan melapor kalau Aster sudah bangun.


"Bawel ya..." Aster mencubit pipi Vered yang masih sedikit gembul. Adiknya yang baru saja menginjak usia remaja itu pun berdecak kesal, dia tidak suka Aster selalu menganggapnya anak kecil.


"Sudah duduk dan makan siang." Flora menjadi penengah kalau tidak mereka akan ribut terus. Aster duduk dan tersenyum pada semuanya, sebenarnya dia malu karena berpikir hanya Ella yang ada disini tetapi seluruh keluarganya lengkap juga ada di meja makan.


Mereka makan dengan tenang, sesekali berbincang ringan. Kedua keluarga itu bukan keluarga yang melarang berbicara saat makan hanya saja obrolan ringan yang membuat rasa kekeluargaan semakin kental.


Selesai makan siang, Florian dan Fano memilih duduk di ruang keluarga sementara Flora dan Imelda masih di dapur, membuat teh dan sedikit cemilan untuk menemani mereka mengobrol. Jarred ada bersama Vered yang sedang mengerjakan tugas sekolah dan meminta Jarred yang sangat pintar itu mengajarinya.


Ella dan Aster, mereka hanya duduk di kursi meja makan karena tak tau akan kemana dan berbuat apa. Mereka bosan sejak web MH di tutup sementara oleh Marcello karena mereka sedang sibuk magang.


"Ayoo kumpul sama ayah.. semuanya..." Flora memanggil semua penghuni rumah dengan sedikit berteriak. Dalam beberapa menit semua sudah bergabung dengan Florian dan Jarred di ruang keluarga.


"Jadi, apa yang ingin kau sampaikan Fano?" Tanya Florian dengan serius, semua terdiam karena tiba-tiba aura ruangan menjadi tegang.


"Kami.." Fano mulai berucap dan menoleh kesamping, ada Imelda di sebelahnya yang mengangguk kecil sambil tersenyum.


"Kami ingin menjodohkan Jarred dengan Aster." Lanjut Fano. Florian tampak diam sejenak dan melihat ke arah Flora yang tepat disampingnya. Istrinya tersenyum dan mengangguk.


Sedangkan Aster dan Jarred, mereka tentu saja terkejut tapi tidak berani bersuara.


"Kami sih setuju saja, daripada anak-anak ini terlalu jauh.. ya kalian tau sendiri lah." Jawab Florian dengan wajah serius, begitu juga Fano.


Jarred? Tentu dia tegang, gugup dan cemas menjadi satu. Florian memang sudah tau semuanya namun masih diam saja karena percaya pada Jarred.


"Bagaimana dengan Jarred dan Aster?" Tanya Fano pada keduanya. Menatap mereka bergantian.


"Jarred... ok, setuju." Jawab yang awalnya meragu, namun akhirnya menjawab dengan mantap.


"Aster?" Tanya Florian, kini semua menatap Aster tak terkecuali Vered yang masih beranjak remaja itu. Aster gugup dan meremas kuat tangannya. Hatinya bimbang, karena tidak yakin dengan Jarred.


"Hm.. aku.." Aster tidak bisa menjawab.


"Sayang.. kau tidak suka pada J?" Tanya Flora lembut.


"Bukan bu.. tapi kak J sendiri?" Aster malah balik bertanya.


"Aku kenapa?" Tanya Jarred bingung.


"Kak J bukannya masih belum bisa melupakan mantan?" Tanya Aster, mereka saling menatap.


Jarred tersenyum, dia kira Aster tak menyukainya. Jarred sebenarnya yakin karena ciuman terakhir mereka bukan hanya Jarred tapi Aster mulai membalasnya.


"Gak.. aku sudah melupakan mantan. Tidak ada lagi dia di hatiku." Jawab Jarred dengan tegas. Aster mendesah lega.


"Baiklah aku setuju." Jawab Aster lirih, kemudian menunduk malu.


"YEEAAAYY..." Ella bersorak girang, ketegangan mencair karena Vered juga ikut melompat bahagia. Sudah lama pria kecil itu sangat mengagumi Jarred yang tampan dan pintar.


TBC~