Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
Part 11 - The Case (Selingkuh Berdarah 8)



Dengan bantuan Yogi, pekerjaan Aster dan Ella semakin mudah. Akhirnya mereka menyerahkan semuanya pada Yogi. Mereka sudah lepas tangan dan akan jadi penonton saja sambil melihat apakah nantinya Yogi butuh bantuan.


"Siapa sebenarnya mereka nyonya?" Tanya Yogi begitu Aster dan Ella pergi.


"Mereka adalah malaikat." Jawab Morina sambil tersenyum, Yogi masih bingung tapi dia akhirnya fokus pada masalah yang mereka hadapi. Dengan semua bukti yang dia dapatkan dari Aster dan Ella tentu mudah bagi Yogi untuk menjalankan rencananya.


Pertama, membatalkan surat kematian Morina dan akan menuntut Indra dengan kasus penganiayaan terhadap Bima.


Kedua menuntut Lilian yang lalai sehingga membuat seseorang kehilangan nyawa, Aditya membantu dan lalai sebagai petugas.


Ketiga, mencari bukti pembunuhan berencana terhadap Morina dan yang terakhir hak asuh Randy yang dipastikan menjadi milik Morina setelah mereka bercerai.


\~\~\~\~\~\~\~\~


"Anda sudah siap nyonya?" Tanya Betty pada Lilian yang sudah selesai dengan makeup dan gaun pengantinnya. Dia ditemani Betty dan beberapa teman juga pihak keluarga hanya ada Aditya saja.


Hotel bintang 5 yang dipilih Lilian sangat mewah, bahkan para undangan juga tidak main-main. Kolega bisnis Indra juga hadir, beberapa pesohor negri ini karena perusahaan yang di kelola Indra merupakan salah satu dari 100 perusahaan yang maju pesat di negara ini.


"Tumben mau ikut papa mama ke pesta?" Imelda mulai mencibir putrinya yang biasanya tidak mau ikut ke pesta manapun apalagi melepaskan dandanan culunnya. Kini Ella menjelma menjadi putri cantik yang sangat di jaga oleh Fano.


"Karena ada Aster makanya Ella mau ikut." Jawab Ella mencari alasan, Fano yang tau alasan sebenarnya memilih diam saja. Tak lama keluaraga Flo sudah tiba yang juga turut hadir karena hotel ini tentu milik Florian yang kian berkembang pesat.


"Gimana? Ada yang mencurigakan?" Tanya Aster bebisik pada Ella.


"Gak ada, aman sepertinya. Tuan Yogi menjaga dengan baik dan Nona Morina juga semakin berani menampakkan dirinya tadi tapi belum ada yang menyadari." Jawab Ella yang juga berbisik.


Para tamu undangan tampak tidak sabar menunggu acara sakral pernikahan Indra dan Lilian, karena mereka terlihat sangat serasi meskipun Indra seorang duda tapi dia cukup tampan dan banyak wanita yang juga mengejarnya.


Semua tau kalau Indra lah yang akan menjadi pewaris tunggal perusahaan keluarganya karena kondisi kesehatan Bima yang buruk.


"Permisi.. kami dari kepolisian." Ucap seorang pria dan rombongannya yang baru masuk ke aula pesta. Sebagian menggunakan pakaian polisi dan sebagian tidak. Mereka menunjukkan surat penangkapan terhadap 3 orang yang adalah tokoh utama dalam pesta ini.


"Tuan Indra, anda di tuntut karena kasus penganiayaan terhadap Tuan Bima dan otak pembunuhan berencana pada Nyonya Morina. Anda Nona Lilian, di tuntut karena lalai yang menyebabkan meninggalnya Tuan Bagas dan otak dari pembunuhan berencana Nyonya Morina." Ucap salah satu polisi dengan tegas dan lugas. Dua orang petugas lainnya dengan sigap menangkap Indra dan Lilian yang meronta, berontak tidak terima.


Semua orang sangat terkejut dan terjadi kericuhan karena ada beberapa orang yang tidak percaya pada polisi.


"Anda Aditya, pertanggungjawabkan kesalahan anda. Surat penangkapan juga sudah ada dan jangan berontak." Aditya terpaku, dia tidak menyangka akan ketahuan secepat ini.


"Lepaskan! Saya tidak melakukanya. Kalian akan bertanggung jawab jika putra saya kenapa-napa. Dia masih bayi.." Teriak Indra saat polisi dengan paksa menyeretnya.


"Tidak perlu khawatir, putraku akan aman bersamaku." Morina tiba-tiba berada di depan Indra, berdiri dan berbicara tegas di depan suaminya itu.


"Kau.. kau masih hidup?" Indra melebarkan matanya, dia tak percaya.


"Ya aku masih hidup untuk membuatku membusuk di penjara bersama selingkuhanmu!" Sekali lagi Morina sangat tegas.


Morina langsung berlari menuju putranya yang masih dalam gendongan pengasuh.


"Anak mama.. maaf mama lama ya sayang." Morina memeluk Randy sambil menangis, rindu yang selama ini tertahan. Bayi mungil itu pun tau dan juga menangis di pelukan ibunya.


.


.


.


"hikss.. hikss.." Terdengar suara isak tangis tertahan. Imelda dan Fano menoleh dan ternyata Ella yang menangis.


"Ella terharu." Jawab Ella masih terisak lalu memeluk Imelda. Fano yang paham langsung tertawa pelan, Imelda malah aneh melihat putrinya itu. Sedangkan Aster juga terharu melihat memandangan memilukan itu namun dia tahan airmatanya agar tidak keluar.


Semua telah selesai, Aster dan Ella sudah kembali ke rutinitas mereka sebagai mahasiswi. Tentu dengan segudang tugas yang sudah menunggu mereka.


"Sudah lihat berita kasus Morina?" Tanya Aster pada Ella. Ella menggeleng, dia tidak sempat karena Jarred benar-benar menyiksanya dengan banyak sekali tugas.


"Morina ke Jerman setelah rapat pemegang saham, saat ini saham terbesar Bima tapi yang bisa mengelola adalah Morina dan untuk sementara dia menunjuk salah satu orang yang di percaya Tuan Bagas untuk mengelola perusahaan. "


"Indra dan Lilian masih dalam penyelidikan tapi sudah di pastikan, miminal penjara 20 tahun untuk Indra dan 13 tahun untuk Lilian. Sedangkan si Aditya di copot terus 7 tahun penjara." Jelas Aster panjang lebar agar Ella tau perkembangan kasus mereka.


"Lalu Bima?" Tanya Ella yang penasaran.


"Nah Morina ke Jerman mungkin untuk Bima." Jawab Aster lagi.


Memang Morina sudah ke Jerman sejak beberapa hari lalu bersama Yogi, dia akan disana menemani Bima dan merawatnya sampai sembuh, juga sebagai penyemangat hidup Bima yang sebenarnya sudah bangun tapi masih lemah.


"Terima kasih mau datang, aku sungguh tidak berdaya saat kau menderita. Maafkan aku." Ucap Bima ketika melihat Morina datang.


"Dengan senang hati aku akan merawatmu, hanya kamu yang kami punya sebagai keluarga. Setidaknya kau masih paman dari anakku." Jawab Morina.


"Aku akan cepat sembuh, aku akan berikan kebahagiaan yang tidak pernah diberikan Indra padamu." Ucap Bima dan Morina hanya mengangguk. Dia tidak terlalu berharap dan hanya menjalani kehidupan tenangnya disini.



"Ella.. sudah selesai?" Tanya Jarred yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Ella yang masih berkutat pada tugasnya menoleh dan menatap tidak senang pada kakaknya itu.


"Adik cantiknya kakak kenapa cemberut?" Tanya Jarred pura-pura tidak tau, padahal Ella sudah 3 jam di tinggalkan di ruangan itu sendiri untuk memeriksa tugas mahasiswa kelasnya satu per satu.


Ella masih diam, dia sangat kesal namum dia terus melakukan tugasnya dengan baik, wajahnya makin di tekuk kala Jarred malah makan siang dengan santai tanpa membelikan untuknya.


Setengah jam berlalu dan Ella sudah selesai. Dia masih marah dan mendiamkan Jarred.


"Baiklah kakak nyerah, mau ini gak?" Tanya Jarred sambil mengibaskan sehelai kertas berwarna kuning cerah. Ella yang hanya melirik langsung terkesiap ingin menarik kertas itu dari tangan Jarred.


"Eits.. senyum dulu, jangan marah." Kata Jarred yang menghindar dari Ella.


Ella tersenyum manis untuk Jarred dan mendaratkan kecupan di pipi kakaknya sambil tangannya merebut kertas kuning itu.


"Thanks kakak ganteng.. daahhh..." Ella melambaikan tangannya begitu dia sudah mencapai pintu.


"Akhirnya kau keluar juga..." Ucap Aster yang sudah menunggu dari tadi.


"Apa itu?" Tanya Aster melihat Ella senyum-seyum dengan selembar kertas di tangannya.


"Tiket konser Oktav." Jawab Ella masih dengan wajah sumringahnya. Aster hanya berdecak, dia menyerah jika Ella sudah menyebut nama Oktav, seorang penyanyi yang sangat terkenal dan berbakat, juga tampan tentunya.


"Tapi kan itu di luar kota, om tante izinkan?" Tanya Aster.


"Pasti karena kakak yang berikan, kau kira mudah dapat tiket ini. Aku sudah war sana sini tapi gak dapat. Lihat ini VIP loh.." Ucap Ella sedikit pamer.


"Ya ya ya.. terserah." Sahut Aster yang sama sekali tidak tertarik.


TBC~