Magic Hands (Aster and Fiorella)

Magic Hands (Aster and Fiorella)
PART 47 - The Case (Deadly Bullying 9)



Marcello mendapatkan semuanya, semua isi dari ponsel itu dan dia menyeringai puas.


"Mereka masih SMA tapi sudah sangat liar." Gumam Marcello saat melihat isi file dari ponsel Sora.


Marcello


[Sudah dapat dan sungguh luar biasa.]


Aster


[Atur aja Cello, yang di email juga jangan lupa.]


Marcello


[Sipp aman.]


Fiorella


[Aku tak sabar ingin menghajarnya.]


Aster


[Sabar Ella sayang.. besok lakukan sesukamu asal jangan membuatnya mati.]


Fiorella


[ok]


^^^^^^^


Marcello mengedit semua video yang dia dapatkan, hanya yang penting dan perlu saja untuk mempermalukan Vani dkk. Bahkan ada video dimana Sora meremas dada Vani sambil bercanda dan mereka cekikikan geli.


Belum semua video Marcello tonton karena ada ratusan disana. Mungkin dia akan membagikannya nanti agar cepat selesai.


Pagi ini di Harmony International School adalah pagi dimana seluruh siswa siswi mendengarkan wejangan dari kepala sekolah. Kepsek HIS akan mengumumkan siswa berprestasi di berbagai bidang pada bulan ini dan minggu depan akan diadakan ujian lagi untuk penentuan siswa berprestasi yang baru.


Setelah 30 menit memberikan wejangan, akhirnya kepala sekolah mengumumkan satu persatu siswa unggulannya.


"Seni dan budaya, yang terbaik adalah Meilina Ratu Bahari."


"Olahraga ada Baskara Priatmojo dan Serly Sutomo."


"Sains, unggulan kita adalah Cindy Soraya."


"Pentas Seni, Raka Bintang dan Gina Maharani."


.


.


.


"Yang terakhir, juara umum kita ada Vani Megantara."


Seluruh nama sudah di sebutkan dan nama terakhir merupakan yang terbaik di sekolah itu. Sejak tidak adanya Vina, gelar itu kembali menjadi milik Vani.


Vani naik ke podium dengan senyum mengembang dengan bangga dia mengambil sertifikat yang sudah entah berapa banyak dia terima selama ini.


Kini waktunya seluruh siswa HIS menyaksikan video singkat proses belajar mengajar di HIS dan beberapa contoh kegiatan di sekolah ini. Namun pada menit ke 5 video berubah menjadi video Vani dan Sora yang sedang bermain dengan Vina.


Permainan yang sangat tidak menguntungnya bagi Vina yang terus-terusan kalah karena kecurangan dan mendapat hukuman yang sangat tidak manusiawi. Hanya beberapa detik, untuk penonton dapat paham tentang makna video itu. lalu beralih ke video mesum Vina dan Sora yang saling menyentuh bagian tubuh paling privasi mereka.


Dilanjut foto dan video Vani bersama beberapa guru laki-laki yang berbeda tampak mesra sampai ciuman.


Vani sangat terkejut dan marah, dia menatap tajam pada kepala sekolah dan beberapa guru disana yang juga panik karena mereka paham kalau Vani pasti murka dan sekolah lah yang mendapatkan imbasnya.


Bisik-bisik pun terjadi, Aster dan Ella juga tau kalau mempermalukan Vani seperti ini tidak berpengaruh apapun. Tapi tak apa, ini hanyalah pemanasan karena Ella sangat ingin mencari masalah dengannya.


"Hahahah memalukan!." Seru Ella dengan tertawa keras. Dia memgang perutnya dan memukul lengan Javier untuk pelampiasan.


"Emang kenapa? Itu sangat lucu dan sangat memalukan, hahahahahah." Ella makin tertawa keras. Yang lain juga ikut karena melihat keberanian Ella. Aula itu mulai ricuh dan sebagian sudah kembali ke kelas masing-masing atas perintah kepala sekolah.


Sedangkan Aster menyeringai di sisi lain aula duduk bersama Judy yang hanya bisa menghela pelan.


"Kau tak bela mereka?" Tanya Aster berusaha memancing Judy untuk berbicara banyak karena Aster sangat penasaran dengannya.


"Gak.. bukan urusanku." Judy menjawab dengan santai.


"Ha? Bukannya kau teman baik mereka? Jika temanku di posisi itu akan kubela mati-matian." Aster lanjut dengan pancingannya.


"Jika kau mau, kau bisa mengambil tempatku jadi kacungnya." Jawab Judy yang kini membalas tatapan Aster.


"Apa yang terjadi Judy?" Tanya Aster serius ingin tau.


"Mereka.. ah no, Vani cuma boneka. Aku lebih takut dengan Sora." Ungkap Judy membuat Aster lumayan terkejut karena Vani terlihat mendominasi dilingkaran pertemanan mereka.


"Apa maksudmu?" Aster bertanya lagi.


"Kau takut?"


"Entalah belum tau karna aku gak ngerti."


"Kalau takut menjauhlah, kau gak cocok dengan mereka."


Judy lalu berdiri dan melangkah pergi mengikuti Vani dan Sora yang juga keluar dari aula utama sekolah itu. Aster hanya bisa menatapnya dengan heran.


"Aku harus kasih tau Ella!" Ucap Aster sambil berlari keluar, bodo amat dengan acara ini sudah kacau.


Aster mencari Ella yang entah kemana, "Javi!" Teriaknya pada Javi yang keluar sendirian tanpa Ella.


"Ella mana?" Tanya Aster dan Javier menggelengkan kepalanya.


"Gak tau, tadi katanya mau kasih pelajaran pada Vani." Jawab Javier, Aster memutar tubuhnya dan mengarahkan pandangannya kesekeliling tapi Ella tak tampak sama sekali di kerumunan orang.


"Jav, kita cari Ella, cepat! Mungkin dia dalam bahaya." Aster panik dan Javier yang melihatnya panik segera berlari dan mereka berpencar mencari Ella.


Ella yang sedang dicari-cari malah santai menaiki tangga ke lantai 5 atap gedung sekolah.


"Lelah juga, tapi lift gak boleh dipakai. Huh.." Keluhnya saat sampai di pintu atap gedung. Ella mengintip sejenak melihat apakah Vani dan Sora sudah ada disana atau tidak dan ternyata hanya ada Vani.


"Hai.. menungguku ya?" Tanya Ella dengan senyum mengejeknya. Vani hanya meliriknya, lirikan tajam mematikan.


Vani tak mau banyak bicara, dia langsung mendekati Ella dan menamparnya namun dengan gesit Ella bisa menangkisnya dan memutar pergelangan tangan Vani.


"Ahhkk lepas sialan!" Teriak Vani kesakitan.


Ella tidak melepaskan sama sekali cekalan tangannya pada Vani dan malah mendorongnya membentur dinding. Satu tangan Ella memegang lengan dan satu lagi mulai menampar Vani beberapa kali.


"Ini yang kau lakukan ke Vina ha?" Ella menepuk lagi pipi Vani berulang kali,bagi Ella itu hanya tepukan biasa tapi Vani merasakan pipinya perih.


"Lepas! Apa hubunganmu dengan si sialan itu? Kau juga sialan!" Vani masih berontak ingin melepaskan cekalan Ella.


Dari belakang Ella tau ada seseorang yang mendekatinya, Ella berbalik dan ternyata ada Judy disana.


"Kau mau membantunya?" Tanya Ella pada Judy tapi Judy menggeleng saja.


"Judy.. panggil Sora." Perintah Vani dan Judy langsung turun kembali. Vani masih berusaha kini dia menendang Ella tapi tidak berhasil. Ella memegang sabuk hitam taekwondo dan karate tidak mudah lepas dari Ella.


Tapi..


BUGH


Sebuah hantaman kuat mendarat di tubuh Ella...


Ella terjatuh tak sadarkan diri dan seseorang tertawa puas di belakang Ella.


TBC~