Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Side Story 2 - Kehamilan Simpatik??



"Parfum apa yang Kamu pakai?!"


"Par-parfum Saya pak?"


"Aku tidak mau tahu. Ganti pakaianmu dan segera ganti parfummu dengan aroma jeruk. Ganti juga parfum di mobil ini. Baunya sangat memuakkan!" Zico bersungut-sungut seraya menutup hidungnya. Aroma parfum kopi di dalam mobil kembali membuat kepalanya pusing dan perutnya mual karena menahan muntah. "Tepikan mobilnya!"


Vanno dengan terburu-buru menepikan mobil. Zico dengan tergesa-gesa keluar dari mobil dan kembali memuntahkan isi perutnya. Untung saja mereka melewati jalan yang agak sepi, sehingga tingkah laku Zico itu tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.


Vanno berusaha menepuk-nepuk punggung bosnya dengan kikuk. Setelah di rasa mendingan, Zico kembali masuk ke dalam mobil. Tubuhnya sedikit kelelahan karena kebanyakan muntah. Namun tidak dengan sikap galaknya.


"Segera ke mini market terdekat! Beli apapun yang beraroma jeruk!"


"Sekarang Pak?"


"Ya!!"


Vanno dengan cepat menyetir ke mini market. Sebelum mencapai parkiran mini market, Zico sudah membuka pintu mobil dan menghambur ke dalam mini market. Seperti orang gila yang haus akan jeruk (atau aromanya), dia membeli segala hal yang berhubungan dengan jeruk. Dari buah jeruk, pewangi ruangan, pewangi mobil, sabun, pembasmi hama, snack, permen, parfum yang semuanya beraroma jeruk.


Zico meninggalkan kartu unlimitednya pada Vanno, menyuruh Vanno untuk membawa semua belanjaan sedangkan dia sendiri sudah berada di dalam mobil. Mencopot parfum kopi dan menggantinya dengan parfum beraroma jeruk.


"Keluarkan pengumuman, setiap karyawan di larang memakai parfum apapun selain parfum beraroma jeruk!! Bila ada yang melanggar, potong gaji mereka dan uang makannya! Mengerti?!"


"Me-mengerti Pak."


"Ganti parfum ruangan dan pembasmi yang biasa. Ganti dengan yang beraroma jeruk. Buang semua tanaman yang mengeluarkan aroma selain jeruk. Berlakukan ketentuan ini hari ini juga, mengerti!!"


"Iy-ya Pak, Saya mengerti."


Setelah memberi perintah ini-itu, Zico tampak kelelahan. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil. Sementara Vanno sibuk memberi instruksi kesana-kemari.


Zico memegang buah jeruk di tangannya dan menciumi buah itu seolah-olah itu adalah oksigennya. Seandainya Nisha ada di dekatnya, dia tidak akan seperti ini. Aroma tubuh wanita itu selalu bisa menenangkannya. Menciumi tubuh istrinya selalu mampu membuatnya tenang. Tubuh istrinya bagai candu. Dia ingin selalu bersama dengan Nisha. Tapi tidak lucu rasanya bila dia menyuruh Nisha datang ke kantor dan menemaninya seharian.


"Apa jadwal hari ini?"


"Jam 9 ada meeting dengan pimpinan perusahaan A terkait tender permintaan penggantian sistem yang baru. Jam 11, bla..bla..bla.." Vanno menjelaskan setiap jadwal. Zico mengangkat tangannya, menyuruh Vanno menghentikan kata-katanya.


"Untuk meeting, wakilkan pada setiap manager bagian."


"Baik Pak."


Zico memasuki perusahaan dengan menggunakan masker. Di sepanjang perjalanan menuju ruangannya, Vanno selalu menyemprotkan parfum beraroma jeruk. Setiap karyawan yang melihat kedatangan bosnya berusaha untuk menghindar. Mereka tidak ingin menjadi bulan-bulanan bos mengingat bosnya itu moodnya sedang buruk.


"Atur ruangan. Jangan ada aroma lain selain jeruk."


"Baik Pak."


Zico memasuki ruangannya dan langsung merebahkan diri di sofa. Dia menghirup aroma jeruk dalam-dalam.


"Siapkan jeruk hangat."


"Baik Pak."


Vanno mengikuti perintah Zico yang terkesan sangat aneh. Biasanya sang Big Bos akan menyukai aroma yang maskulin dan gelap, sesuai dengan karakternya. Tapi seminggu terakhir, selera bosnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sebenarnya ada apa dengan bosnya? Apa ada yang salah dengannya? Vanno pun bertanya-tanya.


Zico memijat-mijat kepalanya yang pusing. Perutnya masih saja bergejolak. Tidak muntah saja dia sudah merasa beruntung. Dia sudah memanggil Zidan, memintanya untuk memeriksa tubuhnya. Dia juga sudah melakukan MCU (Medical Check Up) secara menyeluruh, dan hasilnya baik-baik saja. Lalu ada apa dengan tubuhnya?


"Kamu yakin tidak ada yang salah dengan hasil MCU-nya?"


"Saya sangat yakin Pak. Kesehatan Bapak sangat baik. Tekanan darah, suhu tubuh, detak jantung, tingkat pernapasan, kadar gula darah, kadar kolesterol, asam urat,  semua normal. Tidak ada masalah pada penglihatan, pendengaran, pencernaan, anggota gerak dan saraf. Bisa di katakan Bapak adalah seorang laki-laki yang sangat sehat."


"Kalau Aku sehat, kenapa Aku merasa seperti ini?!"


"Kalau boleh tahu, Bapak mual dan muntahnya kapan Pak?"


"Setiap hari, setiap saat, setiap waktu Aku mual."


"Apa ada sebabnya Pak? Misal karena bau-bauan?"


"Ya, semua bau-bauan. Sekarang pun Aku mau muntah mencium baumu!" Zico ngomel. Zidan mencium tubuhnya sendiri, merasa sangat aneh dengan bosnya karena dia merasa dia tidak bau.


"Ehm, apa ada keluhan yang lain Pak?"


"Mencium aroma jeruk membuatku perasaanku lebih baik."


"Apa ada makanan yang bisa Bapak makan tanpa mual dan muntah?"


"Jeruk."


"Hanya jeruk Pak?"


"Sama mangga."


Zidan menulis keluhan Zico sembari tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya dia sekarang tahu bosnya itu sedang sakit apa.


"Ehem.. Sepertinya yang butuh pemeriksaan bukan Bapak, tapi Ibu Tanisha."


"Apa maksudmu istriku butuh pemeriksaan?! Sakit apa dia?!" Zico berdiri dari posisi duduknya, langsung mengambil kerah baju dokter Zidan.


"Eh...eh, kalau prediksiku tidak salah ini akan menjadi kabar baik Pak. Prediksiku, Bapak sekarang sedang mengalami kehamilan simpatik. Kehamilan ini di rasakan oleh seorang suami ketika istrinya sedang hamil. Biasanya kehamilan simpatik di sebabkan oleh ikatan batin yang kuat antara suami dan istri. Suami begitu stres dengan kehamilan sang istri, sehingga memicu suami untuk merasakan apa yang di derita oleh si istri. Maka dari itu Bapak bisa merasakan mual, muntah, ngidam, sakit punggung dan gejala lainnya yang hanya di rasakan oleh ibu hamil..."


"Kamu bicara apa? Aku tidak paham dengan ucapanmu. Siapa yang hamil? Aku hamil maksudmu?!"


"Pak, mak-maksud Saya kemungkinan besar Ibu Nisha hamil. Karena ikatan batin antara Bapak dan beliau kuat, sehingga Bapak ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Ibu Nisha..."


"Mak-maksudmu istriku hamil?!!"


"Prediksi Saya seperti itu Pak. Tapi untuk lebih jelasnya bisa langsung di lakukan pemeriksaan di dokter OBGYN..."


Zico sudah tidak menghiraukan perkataan dokter Zidan. Pikirannya melayang-layang bahagia. Memikirkan Nisha mengandung anaknya lagi membuat perasaannya melambung tinggi karena kebahagiaan. Tanpa berpamitan pada dokter Zidan, Zico segera pergi dari ruang kerjanya dengan di ikuti Vanno di belakangnya. Dokter Zidan hanya menatap kepergiaan mereka dengan tatapan melongo.


"Mau kemana Pak?"


"Pulang."


***


Happy Reading 🥰🤗