Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 79 - Keluarga Yang Sangat Serasi



"Momiihhh... Mihhh... Mommihhh..." Zoey memanggil Nisha dengan manis. Nisha sangat hafal dengan kebiasaan anaknya. Bila Zoey berkata manis seperti itu, pasti ada sesuatu yang di inginkannya.


"Iya sayang?"


"Mih... Zoey pengen bulgel..." Zoey memberikan tatapan puppy eyes. Membuat Nisha tak bisa menolak permintaannya. Nisha segera menggendong Zoey.


"Sayang, gak ada burger di sini. Zoey makan yang ada aja ya?"


"Gak!! Gak mau!! Kemalin Zoey udah makan. Sekalang gak mau!!" Zoey berkata dengan keras kepala. Tampaknya dia sudah tidak bisa di bujuk lagi. Sikap keras kepala Zoey terkadang mengingatkan Nisha pada sifat Zico. Dasar ayah dan anak sama saja, pikir Nisha dengan gemas.


"Dia mau makan apa?" Tiba-tiba Zico muncul. Hari ini adalah hari libur. Jadi laki-laki itu seharian akan berada di rumah, bersama mereka.


"Dia hanya merajuk." Nisha menjawab acuh.


"Zoey pengen bulgel!! Bulgel!!" Zoey mulai berteriak marah. Dia merasa kesal karena ibunya tidak bisa memenuhi permintaannya.


"Zoey mau burger?"


"He'eh."


"Harus sekarang?"


"He'eh." Zoey mengangguk dengan antusias. Zico tersenyum kecil. Sikap keras kepala anak ini mengingatkan pada dirinya.


"Ayo bersiap-siap." Zico berkata pada Nisha.


"Hah?"


"Ganti bajumu dan dia. Ayo Kita pergi beli yang dia mau."


"Hah? Pergi dari sini? Dari pulau ini?"


"Iya, Kamu keberatan?"


"Bukannya keberatan sih. Kamu yakin akan membiarkan Kita pergi dari pulau? Kamu gak takut Kita akan kabur?" Nisha bertanya dengan terkejut.


"Kalau Kamu kabur, Aku akan mengejarmu lagi. Ingat Sayang, mungkin saja sekarang di tubuhmu ada anakku. Jadi Kamu tidak akan bisa pergi kemana-kemana." Zico berbisik. Senyum licik tersungging di bibirnya, membuat Nisha geram ingin mencakar bibir itu.


Nisha membawa Zoey pergi ke kamar. Dia mengganti baju Zoey dan juga bajunya. Ini pertama kalinya dia keluar dari villa setelah hampir dua minggu dia berada di sana. Memikirkan akan menghirup udara kebebasan (meskipun hanya sejenak) membuatnya bersemangat.


Nisha dan Zoey selesai beberes. Di luar Zico sudah menunggunya. Sejenak Nisha menjadi tertegun melihatnya.


Zico memakai kaos berwarna hitam di padu dengan celana jeans dan sepatu sporty. Bentuk tubuhnya yang sempurna tampak tercetak sangat pas di baju yang di pakainya. Kacamata hitam tampak bertengger di atas hidungnya. Nisha menelan ludah. Visual Zico benar-benar luar biasa. Laki-laki itu benar-benar sangat tampan.


Nisha memandang dirinya sendiri, yang tampak sangat sederhana. Dia hanya memakai kaos longgar dan celana jeans. Rambutnya yang panjang di ikatnya dengan asal-asalan. Bila tahu Zico akan setampan itu, dia pasti akan berdandan ekstra untuk membuatnya tampak tidak memalukan bila berdiri di samping pria itu.


"Sudah siap?"


"Heemm." Nisha hanya mampu bergumam. Mulutnya terlalu sibuk menelan ludah sehingga suara susah keluar dari mulutnya.


"Ayo Kita berangkat." Tanpa di duga Zico meraih tubuh Zoey dan menggendong di pundaknya.


"Yeaayy!! Kita naek pesawat lagi Uncle?!"


"Zoey suka naek pesawat, yeayy!! Yeaayy!!" Zoey berteriak-teriak kegirangan. Dia tampak senang di gendong di pundak Zico seperti itu.


"Zoey suka tinggal sama Uncle?"


"Suka!! Zoey suka tinggal di sini!!" Zoey berseru kegirangan, membuat Zico tersenyum lega. Setidaknya Zoey tidak membencinya.


Nisha melihat adegan itu sembari menahan tangis. Hatinya begitu tersentuh dan sakit. Akhirnya moment yang di tunggu-tunggunya datang juga. Melihat ayah dan anak bersama, bercanda tawa.


Bagaimana reaksi Zoey bila tahu Zico adalah ayahnya? Bagaimana reaksi Zico bila tahu putranya masih hidup? Akankah mereka bahagia? Zico mungkin saja bahagia. Karena terlalu bahagia, laki-laki itu bisa saja ingin menguasai dan memiliki Zoey seorang diri? Aahh, dia takut memikirkan kemungkinan itu.


Sedangkan Zoey, apakah dia akan bahagia mengetahui Zico ayahnya? Sudah terlalu sering dia mengatakan pada Zoey, bahwa ayahnya sudah pergi ke surga. Tidak bisa bersama mereka lagi. Akankah Zoey mampu menerima kenyataan bahwa ternyata ayahnya masih ada? Apakah tubuh kecilnya mampu menerima Zico?


Pikiran-pikiran seperti itu membuat Nisha takut. Apakah bijak bila dia memberitahu Zico kenyataan yang sebenarnya? Aahh, tentu saja tidak bijak. Dia baru dua minggu tinggal bersama pria itu lagi. Dia belum mampu menilai pria itu. Selama dua minggu, memang pria itu bersikap baik terhadapnya, meskipun terkadang kata-katanya sedikit sinis. Tapi menilai sifat orang hanya dalam waktu dua minggu bukanlah sifat yang bijak. Bukan tidak mungkin nantinya sikap buas Zico akan kembali muncul. Dia akan mengambil Zoey secara paksa, sama seperti yang di lakukan Zico padanya sekarang.


Mungkin lebih baik dia harus melihat dan menunggu. Dia harus memastikan bahwa perasaan Zico tulus pada mereka. Setelah itu, dia akan mengatakan yang sebenarnya. Ya, dia harus menunggu dulu.


***


Hari itu mereka pergi menggunakan pesawat jet untuk melintasi pulau. Zico membawa Zoey ke Mc Don*ld. Zoey terlihat sangat senang. Dia makan dengan lahapnya. Sesudah makan burger, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan. Zoey begitu lengket dengan Zico. Melupakan Mommihnya yang berjalan di belakang mereka.


Zico menoleh ke belakang, mencari-cari keberadaan Nisha. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Dia segera meraih tangan Nisha dan menggenggamnya.


"Jangan jauh-jauh. Nanti Kamu hilang." Zico berkata lucu.


"Sudah tua, gak mungkin hilang." Nisha menjawab sewot. Tapi dia tidak menolak genggaman tangan Zico. Dia membiarkan tangannya di genggam oleh Zico. Dadanya kembali berdebar-debar. Tangannya menjadi panas. Dia menjadi begitu gugup.


Sungguh perasaan yang bodoh. Laki-laki itu sudah mengekplore seluruh tubuhnya, bahkan bagian yang tidak di ketahuinya. Tapi mengapa dia jadi berdebar-debar hanya karena di tangannya di genggam? Perasaan apa ini? Perasaan yang benar-benar bodoh.


Zoey meminta untuk melihat dinosaurus. Dan Zico mengabulkannya. Dia membawa bocah itu ke taman petualangan dinosaurus.


"Mommih!! Mommih!! Lihat itu Tyyek Mommih!! Zoey mau foto sama Tyyek!!" Zoey menunjuk-nunjuk kegirangan. Mengenali para idolanya membuatnya sangat antusias.


"Ya, Zoey berdiri disana ya. Mommy akan ambil fotonya." Akhirnya Nisha ikut-ikutan menyebut dirinya dengan panggilan Mommy. Sepertinya usaha untuk membuat Zoey memanggilnya Ibu sangat sia-sia.


"Gak mau. Zoey foto sama Uncle Mih. Zoey di sini aja. Zoey gak mau tulun." Setelah berdebat sedikit, akhirnya Nisha mengalah. Dia mengambil foto Zoey bersama dengan Zico. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Dia melihat dua pria itu dengan tatapan sendu. Kedua wajah yang tampak mirip itu tampak bersanding di depannya. Membuatnya ingin memeluk keduanya.


"Wah, keluarga yang sangat serasi. Papanya ganteng, mamanya cantik, anaknya juga ganteng." Nisha mendengar suara orang di belakangnya. Nisha melihat banyak orang yang memperhatikan mereka dengan tatapan kagum.


"Bunda, sini biar Saya saja yang fotokan. Bunda gabung sama Ayah dan si kecil saja. Sayang sekali kan kalau moment seperti ini tidak bisa foto bareng." Salah seorang pengunjung menawarkan bantuannya. Nisha tampak ragu-ragu.


"Ayo sini." Zico menarik tangan Nisha, mengajaknya untuk bergabung dengan mereka.


"Iya Mih. Ayo foto baleng Zoey." Zoey tampak bersemangat. Setelah mendapatkan paksaan sana-sini, akhirnya Nisha mengalah dan foto bareng mereka.


Tangan Zico merengkuh pinggang Nisha, sementara tangan satunya menahan tubuh Zoey agar tidak terjatuh. Mereka benar-benar tampak seperti keluarga yang sangat serasi.


***


Happy Reading ^^