Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 46 - Aku Harus Menjauhimu



Zico memutuskan untuk tidak pergi ke perusahaan hari itu. Dia lebih memilih untuk menemani Nisha di rumah. Dari pagi Gerry sudah banyak melakukan panggilan telepon terkait masalah perusahaan. Tapi Zico tetap tidak bergeming. Dia tetap pada pendiriannya. Dia memilih menyelesaikan masalah perusahaan di rumah.


Sembari menunggu Nisha terbangun, Zico memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Ketika dia selesai mandi, terdengar perdebatan di kamar tidur.


“Aku mau ini di lepas Sus…”


“Tapi Ibu, tekanan darah Ibu masih belum stabil…”


“Aku sudah gak apa-apa. Tolong lepasin infus ini.” Nisha tetap ngeyel.


“Tunggu tekanan darah dan kadar gula darah Ibu stabil dulu, nanti Saya lepas Bu…”


“Aku mau di lepas sekarang…”


“Ada apa ini?” Zico datang menengahi perdebatan mereka.


“Eh, Uhm… begini Pak… Bu Nisha minta selang infusnya untuk di lepas. Padahal baru Saya cek tekanan darah sama kadar gula darahnya belum stabil…”


“Baik Sus. Kamu bisa tinggalkan Kami. Biar Saya yang membujuknya.”


“Baik Pak…”


Sepeninggalnya perawat, Nisha terdiam seribu bahasa. Dia sudah memutuskan untuk menjauhi Zico, jadi dia harus bisa bersikap sedingin mungkin terhadap laki-laki tersebut.


“Sayang, infusnya belum bisa di lepas. Kita tunggu sampai kondisimu membaik baru bisa di lepas ya.”


“Tapi Aku gak bisa beraktivitas. Aku sudah tidak apa-apa. Tolong di lepas saja…”


“Mau beraktivitas apa? Mau ke kamar mandi? Mau makan? Biar Aku yang bantuin semua ya…”


“Aku tidak mau!”


“Kenapa?”


“Gak apa-apa. Aku hanya gak mau.”


Nisha kembali terdiam. Wajahnya cemberut. Sesaat kemudian Nisha merasa ingin ke kamar mandi. Ritual pagi yang biasa di lakukannya adalah buang air kecil di lanjut mandi. Sekarang dia merasa sangat ingin buang air kecil. Pelan-pelan Nisha beranjak dan mengambil infus. Bersiap-siap untuk berdiri dan pergi ke kamar mandi.


“Mau kemana sayang? Aku bantuin ya…” Zico dengan sigap sudah berada di samping Nisha dan memeluk pinggang Nisha serta mengambil infus di tangannya.


“Le…lepaskan Aku!!” Nisha menepis tangan Zico dan berusaha mengambil kembali cairan infusnya.


“Kenapa? Aku bantuin. Mau ke kamar mandi?”


“Aku gak mau!!”


“Kenapa?”


“Aku gak mau Kamu bantu! Bu…Bu Retno…Bu…” Nisha berteriak-teriak memanggil Bu Retno yang kemudian datang dengan tergopoh-gopoh.


“Iya Nona? Ada yang bisa Ibu bantu?”


“Bu… tolong bantu Saya ke kamar mandi…” Nisha berkata dengan lemah. Tubuhnya masih berusaha menepis tangan Zico. Dengan berat hati Zico mengalah dan membiarkan Nisha untuk pergi bersama bu Retno.


Seharian Zico berusaha untuk membantu Nisha dalam melakukan aktivitasnya. Tapi Nisha menolak semua bantuannya.


“Mau makan apa sayang? Aku suapin ya…”


“Aku gak mau!”


“Kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi galak begini?”


“Kenapa Kamu masih di sini?! Kenapa Kamu gak kerja aja? Aku gak pengen lihat Kamu!”


“Sayang, Kamu kenapa sih?”


“Jangan panggil-panggil Aku ‘sayang-sayang’! Aku bukan sayangmu!”


“Hei sayang, Kamu kenapa sih? Kemarin Kamu gak kayak gini…”


“Pergi! Aku gak pengen lihat Kamu!”


Nisha menutup wajahnya dengan selimut. Pertanda ingin mengakhiri pembicaraan. Zico melihatnya dengan tatapan sedih dan bingung. Dia menatap bu Retno, seolah-olah mencari jawaban. Zico memberi kode melalui mata, pertanda dia ingin berbicara dengan bu Retno.


“Sebenarnya apa yang terjadi pada dia Bu?”


“Sa…saya juga kurang yakin Tuan.”


“Kemarin dia masih baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?”


“Mungkin bawaan bayinya Tuan…”


“Bawaan bayi?”


“Iya Tuan. Terkadang ketika hamil emosi wanita sering berubah-ubah. Bisa tiba-tiba bahagia, sedih, ceria, pendiam dan lain-lain. Emosi mereka tidak bisa di tebak…”


“Tapi kenapa dia melakukan itu hanya padaku? Kenapa emosinya padamu tidak berubah?”


“Mungkin karena Anda suaminya dan ayah dari bayinya. Makanya emosinya hanya untukmu Tuan. Tapi jangan khawatir Tuan, emosi itu tidak akan bertahan lama. Mungkin saat ini beliau bersikap seperti itu terhadap Anda, tapi di waktu lain dia bisa bersikap sangat sayang dan manja terhadap Anda…”


“Benarkah dia akan bersikap seperti itu?”


“Iya Tuan, Saya yakin.”


“Baiklah. Aku percaya padamu. Tolong jaga dia untukku. Aku akan turun ke bawah sebentar.”


“Baik Tuan.”


Zico turun ke lobby menuju café di depan gedung apartemen. Dia menyuruh Gerry untuk menemuinya di café itu. Dia tidak ingin kehadiran Gerry beserta pekerjaan yang di bawanya mengganggu kondisi Nisha. Dari luar café, Zico sudah bisa melihat kehadiran Gerry. Ketika dia tengah berjalan untuk menghampiri Gerry, terasa sebuah tepukan di bahunya.


“Hei Bro, lama tidak bertemu.” Zico menoleh dan melihat wajah yang di kenalnya, Mr. Daniel.


“Hai Mr. Daniel. Senang bertemu dengan Anda…”


“Bro, Kita sudah sepakat untuk melupakan formalitas.” Daniel menepuk-nepuk bahu Zico. “Sedang apa di sini Bro? Eh, Aku minta maaf dengan sikapku kemarin. Itu sangat memalukan…”


“Sikap memalukan?”


“Ya Kamu tahu sendiri lah Bro. Mabuk dan curhat tentang wanita. Argh, sungguh Aku tidak biasanya bersikap seperti itu. Kuharap Kamu bisa memakluminya…” Daniel berkata dengan malu-malu.


“Itu hal yang wajar. Jika Saya di posisi Anda pun, Saya akan bersikap seperti itu…”


“Kenapa jadi formal lagi Bro. Ayo bergabung denganku Bro.” Daniel mendorong tubuh Zico agar duduk di kursinya. Mau tidak mau Zico menuruti kemauan Daniel. Gerry melihat kehadiran bosnya. Dia ingin menghampiri Zico, tapi Zico memberi kode agar mereka tidak di ganggu.


“Bagaimana dengan wanita yang kemarin. Apa Kamu sudah menemukannya?” Zico berusaha berbasa-basi. Sepertinya dia memilih topik yang salah. Mata Daniel terlihat bersinar-sinar mendengar pertanyaan itu.


“Bro, Aku sudah menemukannya! Aku senang sekali bertemu denganmu dan bisa bercerita tentang dia!”


Dan tanpa di suruh pun, Daniel bercerita panjang lebar. Menceritakan setiap detail pertemuannya dan muslihat yang di gunakannya agar bisa terus berhubungan dengan wanita itu.


“Dan sudah beberapa hari ini Aku tidak bisa menghubunginya Bro. Aku ingin mencarinya di setiap gedung itu. Tapi Aku menghormatinya. Dia tidak ingin Aku datang mencarinya. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Seorang pria sejati akan selalu memegang kata-katanya.”


“Sepertinya Kamu sangat menyukai wanita ini…”


“Ini sudah bukan perasaan suka lagi Bro. Aku rasa ini perasaan cinta…” Daniel menatap ke luar café dengan tatapan menerawang. Sebenarnya Zico dalam kondisi tidak ingin mendengar curhatan orang lain, mengingat dia sendiri juga sedang mengalami masalah. Tapi mendengar curhatan Daniel sedikit membuatnya iri. Laki-laki itu sangat tegas dengan sikap dan perasaannya, tidak seperti dirinya yang masih dalam kondisi bimbang dengan perasaannya sendiri.


***


Hai readersku sayang…hiks…😭🙏🙇‍♀️


Maafkan baru bisa update lagi…huaaa…😢😢


Sedikit bercerita ya (bukan beralasan).


Kemarin sepulang dari opname, Saya merasa kondisi badan sudah fit. Oleh karena itu Saya usahakan untuk menulis chapter meskipun melalui ponsel. Keesokan harinya Saya juga langsung kerja. Tapi mungkin karena belum sembuh total, sepulang kerja kondisi badan kembali drop. Sehingga Saya bedrest lagi. (Saya sakitnya gak aneh-aneh kok, cuman penyakit tahunan yaitu typus 😅). 2 hari kemudian (tepatnya hari Rabu) Saya masuk kerja lagi, dan kondisi badan sudah mendingan.


Setiap pulang kerja Saya ingin menulis, tapi pihak keluarga melarang karena mereka tahu ketika Saya menulis Saya akan tidur tengah malam. Dan akhirnya malam ini Saya bisa menulis (malam Jum’at). Ingin sekali crazy up, untuk menebus kesalahan selama beberapa hari tidak update.😓😩


Semoga Saya bisa menulis banyak dan meng-update semua tulisan Saya ya… Terima kasih bagi para readers yang dengan setia menunggu novel ini update. Sekali lagi Saya mohon maaf sebesar-besarnya karena tidak bisa menjaga komitmen untuk membuat novel ini update setiap hari.


Maafkaaaannnn ya….🙏🙏🙇‍♀️🙇‍♀️


ErKa 🥰