
“Bagaimana? Apa Kamu sudah mendapatkan informasi tentang
wanita itu?”
“Kami sudah mendapatkannya. Semua informasi akan Kami
kirimkan melalui email. Pastikan Anda menyelesaikan urusan transaksi Kita
terlebih dahulu.”
“Jangan khawatir. Informasi itu lebih mahal dari harga yang
harus kubayar. Akan kukirimkan bukti tranfernya. Segera kirim informasinya. Aku
tunggu.”
Zevana menutup panggilan teleponnya. Dia segera mengirim
sejumlah uang dan mengirim buktinya pada si penelepon. Ya, dia menggunakan
sebuah jasa untuk menyelidiki ART itu. Dia memiliki feeling kuat bahwa hubungan
Zico dan ART itu lebih dari sekedar hubungan majikan dan bawahan.
Zee melihat ada notif masuk di emailnya. Dengan cepat dia
segera membuka email itu. Setiap kata-kata yang di bacanya membuat pupil
matanya semakin membesar, mulutnya ternganga, tangan dan tubuhnya bergetar
menahan amarah.
“BR*NGSEK!! WHAT THE F*CK!!” Zee berteriak dan melempar
ponselnya ke tembok. “B*JINGAN!! B*JINGAN BR*NGSEK!! Berani-beraninya!! Berani-
beraninya Kamu melakukan itu padaku!!ARGGGGHHH!!!”
Teriakan Zee rupanya di dengar oleh Mama. Dengan
tergopoh-gopoh Mama menghampiri kamar Zee dan menerobos masuk.
“Ada apa sayang? Kamu kenapa?” Mama mendekati Zee dan
berusaha untuk memeluknya. Zee menepis pelukan Mama, menatap Mama dengan marah.
“Kenapa Mama berbohong padaku?! Kenapa Ma?! Tega sekali
kalian! Tega!!”
“Ada apa Zee? Kamu kenapa Nak? Mama berbohong apa?” Mama
menatap dengan bingung.
“Mama jangan berpura-pura lagi! Zee sudah tahu semuanya Ma!!
Akkhhhh!!” Zee kembali berteriak. Mama mendekatinya dan memeluknya.
“Ada apa Nak? Kamu kenapa?”
Zee tidak menjawab pertanyaan Mama. Campuran rasa amarah dan
kecewa menguasainya. Dia menangis bukan karena patah hati, tapi lebih kepada
perasaan murka yang menguasai hatinya. Berani-beraninya Zico melakukan hal
seperti ini terhadapnya?! Baru beberapa bulan yang lalu laki-laki itu
memohon-mohon agar dia tidak memutuskan pertunangan mereka, lalu mengapa
sekarang laki-laki itu malah seperti ini? Menghamili seorang wanita dan tinggal
bersamanya? Bahkan wanita itu tidak sebanding dengan dirinya. Hanya seorang
office girl!! Wanita rendahan yang
derajjatnya sangat jauh di bawahnya!! Berani-beraninya!!
“Kenapa Mama tidak mengatakannya padaku?! Mama tahu semuanya,
tapi mengapa menyembunyikan semuanya?! Kenapa Ma?! Apa salah Zee Ma?? Huaaaa…”
Zevana kembali menangis.
Mama terpaku mendengar semua perkataan Zee. Perasaan
bersalah, bingung dan malu terlihat jelas pada raut wajahnya. Dia benar-benar
tidak menyangka Zevana akan mengetahui masalah ini. Dia sudah berencana untuk
menyingkirkan wanita rendahan itu dulu sebelum Zee mengetahuinya. Sekarang
rencananya menjadi berantakan. Apa yang harus di lakukannya?
“Ma-maafkan Mama Nak… Mama tidak bermaksud untuk
menyembunyikannya Nak. Mama minta maaf. Mama yang salah Nak. Mama tidak bisa
mendidik Zico dengan baik. Tolong maafkan Zico Nak. Kamu boleh membenci Mama,
tapi maafkan lah Zico Nak. Dia tidak melakukan ini dengan sengaja…” Mama masih
memeluk Zee dengan erat. Zee masih menangis. Perasaannya sangat terluka. Bukan
karena cintanya yang besar untuk Zico, tapi lebih kepada harga dirinya yang
terluka.
“Kalau Kamu bersedia memaafkan Zico, Mama berjanji padamu
Nak… Mama akan melakukan apapun untuk menyatukan kalian berdua. Kamu tahu Mama
sangat menyayangimu Nak. Hanya Kamu yang pantas bersanding dengan anak Mama.
Tidak ada wanita lain yang sepadan dengannya selain dirimu Nak. Maafkan Zico
Nak. Kembalilah padanya. Mama mohon padamu Nak…” Mama memohon dengan suara
sedih. Dia takut impiannya untuk memiliki menantu seperti Zevana kandas.
Perkataan Mama seperti menjadi angin segar bagi Zevana. Tanpa
dia memohon pun, Mama sudah lebih dulu memohon padanya. Hal ini dapat di
manfaatkannya untuk membuat Zico kembali berada di sisinya.
“Mama beneran akan melakukan apapun?” Zevana menatap Mama,
“Apapun. Apapun akan Mama lakukan asalkan Kamu memaafkan Zico
dan kembali bersamanya Nak…”
Zevana duduk tegak. Mengusap airmata di pipinya. Dia menatap
Mama dalam-dalam. “Zee ingin memaafkan dia Ma. Tapi meskipun Zee memaafkan,
Zizi tidak akan kembali ke sisiku Ma. Dia sudah menolakku dan memilih wanita
itu. Tidak ada yang bisa Zee lakukan Ma…” Zee menunduk, memasang wajah sedih.
Ingin menarik simpati Mama dengan berpura-pura menjadi wanita yang menyedihkan.
“Asalkan Kamu mau kembali pada Zico, Mama akan melakukan
apapun untuk menyatukan kalian Nak. Kamu jangan khawatir Nak. Mama akan membuat
wanita rendahan itu menghilang dari kehidupan kalian berdua. Wanita itu tidak
akan mengganggu hubungan kalian lagi. Kamu bisa mempercayai Mama.” Mama kembali
memeluk Zee. Perasaannya begitu lega mengetahui Zevana bersedia kembali ke sisi
Zico. Timbul tekad dalam dirinya, apapun harus di lakukannya untuk membuat
wanita rendahan itu menghilang dari kehidupan mereka.
“Kamu tidak perlu khawatir Nak. Mama akan segera membuat Zi
menjadi milikmu lagi. Karena dari awal,
hanya Kamu lah pemilik dia yang sebenarnya.” Mama mengelus rambur Zevana.
Tatapan matanya begitu terkekad. Timbul berbagai rencana yang harus di
lakukannya untuk memisahkan wanita rendahan itu dari anaknya.
***
“Cari semua info mengenai wanita itu. Awasi semua
gerak-geriknya. Cari kesalahan dan kelemahannya. Laporkan semuanya padaku.
Mengerti?!”
“Mengerti Nyonya. Akan Kami lakukan sesuai dengan perintah
Nyonya.”
“Aku tunggu kabarnya. Segera!”
“Baik Nyonya…”
Mama menutup panggilan telepon itu. Rencananya semakin jelas
sekarang. Dia harus mencari tahu segala sesuatu tentang wanita itu. Dia harus
tahu semua kesalahan wanita itu, baik di masa lalu maupun saat ini. Hal-hal itu
bisa di gunakannya untuk membuat mereka berdua berpisah. Dia harus bisa membuat
Zico sangat membenci wanita itu hingga Zico sendiri lah yang akan membuang
wanita itu.
Kemudian, ketika wanita itu sudah pergi dari hidup Zico maka
Zevana akan kembali memasuki kehidupan pria itu. Dia akan menjadikan Zevana
sebagai menantunya! Dia akan mengembalikan semuanya pada tempatnya
masing-masing.
***
“Girl, sudah bangun?”
“Iya.”
“Ayo pergi keluar.”
“Aku sedang tidak ingin
kemana-mana.”
“Ayolah, Kamu harus
keluar Girl. Kamu butuh suasana baru. Jangan terlalu stress, itu tidak baik
untuk kandunganmu.”
“Tapi Aku benar-benar
tidak ingin keluar.”
“Aku tidak mau
mendengar penjelasanmu. Sepuluh menit lagi Aku sampai. Bersiap-siaplah.”
Nisha menatap isi percakapannya dengan Daniel. Sepanjang
malam yang di lakukannya hanyalah menangis dan menangis. Meratapi masa depannya
yang tidak jelas. Memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Zico yang
tidak memiliki masa depan. Meratapi nasibnya yang harus jauh dengan anaknya
ketika waktunya nanti telah tiba.
Nisha memegang perutnya dengan lembut. Berharap perasaan
sedihnya tidak di rasakan oleh bayinya. Haruskah dia keluar dan mengikuti saran
Daniel? Mungkin suasana baru bisa sedikit mengubah suasana hatinya. Dia tidak
ingin bayinya merasakan apa yang di rasakannya. Bayi ini harus tumbuh sehat dan
bahagia tanpa tekanan dari lingkungan eksternal.
“Baiklah, Aku akan
keluar denganmu.” Nisha membalas pesan itu.
***