Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 37 - Curhatan Laki-laki Patah Hati



Nisha menatap layar ponselnya. Pesan dari Zico sungguh mengganggunya.


“Aku pulang malam. Ada urusan yang harus di selesaikan. Jangan menungguku. Tidurlah lebih dulu. Katakan pada Boy untuk tidak rewel. Aku akan pulang sebelum Kamu menyadarinya.”


Nisha menatap waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Zico menyuruhnya untuk tidak menunggunya, namun dia tidak bisa melakukannya. Dia sudah berusaha untuk tidur, namun matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Akhirnya dia memutuskan untuk bangun dan menunggu Zico di ruang keluarga.


Ingin rasanya dia menelepon Zico dan menanyakan keberadaannya. Namun pikiran menghentikkannya. Dia hanya istri sementara. Tidak sepatutnya dia bertingkah seperti istri yang sesungguhnya. Dia harus bisa menahan diri untuk tidak mencampuri kehidupan Zico.


KRRUUUKKK…KRRUUKKK…


Perut Nisha berbunyi. Dia memang belum makan malam. Dia menunggu Zico pulang agar bisa makan malam bersama. Entah ini keinginan si bayi atau keinginannya sendiri, dia sudah tidak bisa membedakannya. Untuk mengatasi rasa laparnya, Nisha memutuskan untuk memutar tv. Tanpa di sadarinya matanya mulai terkantuk-kantuk. Lambat laun dia mulai tertidur di atas sofa.


***


“Friends, you know… my heart broken.  My chest very pain. There is one girls, she make me feel crazy!! She is gone. I can’t find her…bla…bla…bla…(Daniel ngoceh pake bahasa Inggris. Berhubung author gak bisa bahasa Inggris, jadi ngocehnya pake bahasa Indonesia aja ya, anggep aja bahasa Inggris yang di terjemahin ke bahasa Indonesia, hahaha…mianne…)


“Teman, Kamu tahu… hatiku sangat sakit. Ada seorang wanita yang tidak bisa hilang dari pikiranku. Setiap hari Aku selalu memikirkannya. Dia membuatku sangat gila. Dia pergi!! Aku tidak bisa menemukannya. Dimana Aku harus mencarinya?” dalam kondisi mabuk, Daniel masih terus saja berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris. Membuat Zico yang mendengarnya hanya bisa menepuk-nepuk bahu Daniel, memberikan penghiburan terhadapnya.


Sepertinya Zico mulai mengetahui alasan Daniel mengajaknya ke bar dan minum-minum. Pria itu butuh teman curhat dan dia menjadi korban curhatannya.


“Sob, Kamu akan menemukan wanita lain. Masih banyak wanita di dunia ini. Jangan karena hanya satu wanita membuatmu terlihat semenyedihkan ini. Bangun Sob, lupakan dia.” (bahasa IInggris) Zico berusaha memberikan penghiburan terbaiknya.


Dia adalah tipe serius yang tidak banyak memiliki teman akrab. Mendapat curhatan masalah wanita seperti ini menjadi yang pertama kali dalam hidupnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sedikit menyenangkan baginya. Awalnya memang seperti itu. Tapi setelah berjam-jam di curhati hal yang sama membuat Zico mulai muak.


Zico bolak-balik menatap jam tangannya. Pikirannya melayang pada Nisha. Sudah tidurkah dia? Sudah makan malam kah? Mengapa pesannya tidak di balas? Apakah bagi Nisha kehadirannya di rumah sungguh tidak penting? Dia ada atau tidak di rumah sungguh tidak ada bedanya? Ahh… dia mulai merindukan wanita itu. Ingin rasanya dia terbang. Memeluk wanita itu dalam dekapannya. Menghirup wangi tubuhnya. Mencurahinya dengan kasih sayang.


Kasih sayang? Ya, dia mungkin mulai sayang pada Nisha. Karena ada bayinya di tubuh wanita itu. Wajar kalau dia menyayangi ibu dari anaknya bukan? Hanya sekedar sayang, tidak boleh lebih. Untuk cinta dan hatinya semua orang tahu itu milik siapa. Dan posisi itu tidak akan pernah tergantikan oleh wanita manapun di muka bumi ini.


Zico mulai bosan mendengarkan curhatan Daniel. Akhirnya dia menghubungi asisten Daniel yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Mereka sedang berada di bar ekslusif yang satu lantainya di sewa penuh oleh Daniel. Pria itu menginginkan privasi dan dia mendapatkannya. Hanya ada mereka bertiga di bar itu dan dua orang bartender yang melayani mereka.


“Sepertinya dia sudah mabuk. Sebaiknya di antar pulang saja.”


“Baik Direktur. Saya mewakili direktur grup H memohon maaf bila sikap wakil direktur tidak mencerminkan posisinya.”


“Ya, Saya bisa memakluminya. Dia hanya butuh teman. Saya sama sekali tidak menyalahkannya.”


“Terima kasih atas pengertiannya Direktur. Kalau begitu, Kami pamit pulang dulu.” Setelah kedua orang itu pergi, Zico juga cepat-cepat pergi. Wajah Nisha mulai terbayang-bayang di pikirannya. Untung saja dia hanya minum sedikit, jadi perasaan mabuk belum menyerangnya.


Sesampainya di apartemen Zico segera menyalakan lampu. Betapa terkejutnya dia melihat tv masih dalam kondisi menyala  dan Nisha berada disana. Tertidur dengan posisi seperti bayi yang tengah meringkuk. Zico merasa jantungnya terjatuh. Dengan cepat dia bergerak ke sisi Nisha dan menatap wajah Nisha lekat-lekat.


“Sayang, kenapa tidur di sini? Nanti masuk angin.” Dengan lembut Zico membelai pipi Nisha. Perasaan sayang mulai menguasainya. Tanpa di sadarinya dia mulai mencium kening Nisha. Sepertinya kebiasaan mencium ketika Nisha dalam kondisi tidur akan menjadi kebiasaan barunya.


Merasa ada yang membelai pipinya, Nisha mulai menggeliat. Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka. Raut wajah kantuknya berubah menjadi ceria ketika melihat siapa yang datang. Pria yang di tunggu-tunggunya sudah datang!! Nisha tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Tanpa sadar tangannya menggelayut di leher Zico, memeluk Zico dengan manja. Zico membalas pelukannya tak kalah hangat. Sadar dengan sikapnya, akhirnya Nisha melepaskan pelukannya.


“Kenapa tidur di sini?”


“Ak…Aku sedang menonton tv…”


“Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tahu Kamu sedang menungguku pulang. Aku sudah menyuruhmu untuk tidak menungguku dan tidur duluan. Kenapa tidak mendengarkan perkataanku?”


“Ak…Aku sudah berusaha…tapi tidak bisa… Aku tidak bisa tidur…”


“Apakah boy rewel?”


“Aku tidak tahu…” Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya.


KRUUUKKK….KRUUUKKK…


Perut Nisha kembali berbunyi. Nisha menutup perutnya. Berusaha membuat Zico agar tidak mendengarnya.


“Kamu belum makan?” Nisha kembali menggelengkan kepalanya.


“Kenapa belum makan? Ini sudah tengah malam. Bagaimana kalau Kamu sakit? Kamu sengaja ingin sakit agar bayinya juga ikut sakit?” Zico tampak marah dan kecewa. Nisha menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Tatap Aku. Kenapa Kamu belum makan?” Zico merangkum wajah Nisha dengan kedua tangannya. Berusaha membuat mata wanita itu agar menatap matanya.


“Ak…Aku ingin…ingin makan bersamamu…” buliran air mata jatuh di pipi Nisha. Membuat Zico semakin tertampar. Perasaan bersalah memenuhi dadanya.


“Ak…Aku tidak ingin… bayinya sakit… Ak…Aku…hanya ingin…ma…makan bersamamu…hiks…” Nisha terisak. Zico memaki-maki ketololannya sendiri. Dia sudah tahu bahwa wanita hami itu sangat sensitif perasaannya. Hal sekecil apapun akan membuatnya menangis. Tapi dia selalu saja melupakan kenyataan itu dan membuat kesalahan yang sama. Lagi-lagi dia menyakiti hati ibu dari bayinya.


“Iya sayang… Aku tahu. Maafkan Aku ya.” Zico meminta maaf sembari menepuk-nepuk bahu Nisha.


“Sayang, ingin makan apa? Aku belikan ya?” Zico berusaha membujuk, namun Nisha menggelengkan kepalanya.


“Aku ingin makan itu…” Nisha menunjuk makanan yang ada di meja makan.


“Baiklah, Kita akan makan itu.” Zico berdiri, menggendong tubuh Nisha dan mendudukannya di kursi di samping meja makan. Nisha menunduk malu-malu. Masih tidak terbiasa dengan sikap Zico yang lembut.


“Mau makan yang mana?”


Nisha menunjuk makanan yang ingin di makannya. Kebetulan bu Retno memasak banyak jenis makanan malam itu. Dengan sabar Zico mengambil setiap makanan yang di inginkan Nisha.


“Buka mulutmu.”


“Hah?”


“Buka mulutmu. Aku akan menyuapimu.”


Makan sembari di suapi oleh Zico adalah salah satu keinginannya yang terpendam. Entah itu keinginan pribadinya atau si kecil. Sekarang keinginan itu menjadi kenyataan. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu.


Masih dengan sikap malu-malu, Nisha membuka mulutnya. Zico dengan sabar menyuapinya. Sembari menyuapi Nisha, Zico bertanya aktivitas Nisha di hari itu. Nisha bersemangat menceritakan segala aktivitasnya. Tanpa disadarinya dia sudah menghabiskan tiga piring.


Malam itu mereka tertidur dalam kondisi berpelukan. Zico memeluk Nisha dengan sayang. Tidak ada nafsu dalam dirinya. Yang ada hanya sikap sayang dan ingin melindungi.


“Selamat tidur Ibu dari anakku. Mimpi yang indah.” Zico mengecup kening Nisha dengan tulus. Kemudian dia juga memejamkan matanya. Tidur dengan mimpi yang juga indah.


***


Happy Reading 🥰


Dear readers sayaang...😘


Mau sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan readers..




Thor, kok updatenya sedikit? Kok eps ini lebih sedikit?


- Gini sayang, setiap chapter/episode itu berisi 1000-1200 kata. Bila lebih dari itu, biasanya saya masukkan ke episode selanjutnya 😘




Thor, please crazy update, aku tunggu ya thor.


- Bukannya gak ingin crazy update sayang. Saya kerja dari hari Senin-Jum'at. Berangkat jam 07.15 wib dan pulang jam 19.00 wib. Bila nyampe rumah kondisi badan tidak capek, saya usahain untuk nulis. Tapi bila capek, saya skip dan di gunakan utk istirahat.


- Oh ya, saya juga ada usaha sampingan kecil2an. Jadi porsi waktu untuk membagi antara pekerjaan, wirausaha dan menulis terkadang tidak sama.




Mohon kiranya para readers mengerti dengan kondisi Saya. Bila ada tabungan chapter lebih, pasti Saya usahakan utk crazy up. Tapi bila tidak ada, saya usahakan untuk tiap hari update. Meskipun hanya 1 eps/hari nya.


Demikian info dari author, semoga para readers tersayang memahaminya. Peluk dan sayang utk kalian semua 🥰😘😍


^ErKa^ 😘😘