
Nisha mengusap airmata yang mengalir di pipinya. Entah mengapa airmata itu tidak bisa berhenti mengalir. Di dalam lift Nisha terduduk dan menangis dengan sangat keras. Dia menyembunyikan wajahnya di balik jaketnya.
“Hey, are you okey?” Nisha merasa bahunya di tepuk seseorang. Nisha enggan untuk mengangkat wajahnya.
“Girl, Kamu kah itu?” Tangan itu mulai memegang kedua bahunya. Nisha mengintip di balik jaketnya. Seperti yang di duganya, si pria gila sedang berada di depannya.
“Ak…Aku belum pu-punya uang untuk bayar hutang…huaaa…” Nisha kembali menangis. Daniel langsung memeluknya dengan erat.
“Ssshhh… don’t cry baby…Sshhh…” Daniel memeluk Nisha dengan sikap posesif. Hatinya sedih melihat kucing kecilnya bersedih seperti itu.
Tanpa peduli dengan orang-orang sekitar, Nisha masih terus saja menangis di pelukan Daniel. Sesampainya di lantai dasar, Daniel membimbing Nisha untuk pergi ke café di depan gedung apartemen. Daniel membuat Nisha duduk dan dengan sabar menunggu Nisha menghentikan tangisnya. Sesekali Daniel memberikan tissue padanya.
Setelah hampir lima belas menit menangis, akhirnya tangis Nisha berhenti juga.
“Sangat memalukan…”
“Apanya yang memalukan?”
“Kamu selalu melihatku ketika kondisi sedang buruk. Itu sangat memalukan…”
“Girl…Tidak ada yang memalukan dari dirimu. Apa yang membuatmu menangis Girl?”
“Ak-aku tidak apa-apa…”
“Jangan berbohong padaku Girl. Katakan padaku yang sejujurnya, atau Aku cari sendiri penyebabnya.”
“Aku beneran gak apa-apa…”
“Girl…”
“Iy-ya… Aku akan cerita…” Nisha mengusap ingusnya. Entah apa bijak bercerita tentang kehidupan pribadinya terhadap pria itu. Tapi selama ini dia memang tidak memiliki teman curhat. Semua yang di rasakannya selalu di pendamnya sendiri.
“Ingat tentang cerita mengenai ayah dari anak ini?” Nisha menunjuk perutnya, Daniel menjawab dengan anggukan. “Sebenarnya Aku tinggal bersamanya…”
“AP-APA?!!!” Daniel menggebrak meja dan berdiri. Raut wajah terkejut sangat terlihat di wajahnya.
“Ke-kenapa Kamu jadi berlebihan seperti itu? Ini sangat memalukan, cepat duduk…” Nisha berbisik. Orang-orang sekitar mulai memperhatikan mereka.
“Katamu dia pergi dan tidak bertanggung jawab?!”
“Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu…”
“Dia tidak mau menikahimu…”
“Sebenarnya Kami sudah menikah, meskipun hanya menikah siri…”
“APAAA??!!” Daniel merasa mendapatkan serangan jantung. *Tidak, ini tidak mungkin!! Kucing kecilnya sudah menikah dan tinggal bersama **** itu?! itu TIDAK MUNGKIN!!* Daniel merasa tubuhnya menjadi lemas. Seolah-olah perasaan ingin menjadikan kucing kecil sebagai miliknya menguap seketika.
“Ini tidak mungkin! Kamu pasti berbohong, iya kan?!”
“Ak-aku gak berbohong. Untuk apa Aku berbohong? Kenapa reaksimu sangat berlebihan sekali? Bukankah Kamu harusnya senang karena laki-laki itu mau bertanggung jawab? Tapi mengapa Kamu jadi marah seperti ini?”
“Aku tidak marah! Ijinkan Aku ke kamar mandi sebentar.” Tanpa mendapat jawaban dari Nisha, Daniel beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi. Hampir dua puluh menit Nisha menunggu Daniel. Ketika datang mata laki-laki itu terlihat merah dan…
“Kenapa tanganmu berdarah?” Nisha memperhatikan buku-buku jari Daniel yang berdarah.
“Ini bukan apa-apa.”
“Bukan apa-apa apanya. Sebentar Aku carikan plester dulu…” Nisha pergi ke waiter yang berjaga dan datang dengan membawa peralatan kotak P3K. Dengan lembut dia mulai membalut luka di tangan Daniel.
“Kenapa Kamu bisa mendapatkan luka ini?”
“Ak-aku tadi tidak berhati-hati…” Dekat dengan Nisha membuat jantung Daniel menjadi lemah. Aroma tubuh Nisha memabukkan panca indranya. Ahh, kenapa wanita bersuami ini memiliki feromon yang sangat kuat? Kenapa pesonanya sangat memabukkan? Daniel mulai linglung.
“Ya, sudah selesai.” Nisha membereskan kotak P3K dan mengembalikannya pada waiter.
“Lanjutkan ceritamu. Aku siap mendengarnya.”
Nisha mulai menceritakan semuanya. Dia bercerita bahwa dia hamil karena suatu kejadian yang tak terduga (Nisha tidak bercerita bahwa kejadian itu karena pemerkosaan karena dia takut Daniel akan menghajar Zico. Melihat dari karakternya, bukan tidak mungkin laki-laki itu akan melakukannya).
“Ketika tahu Aku hamil, dia bilang akan bertanggung jawab terhadap anakku. Awalnya Aku tidak ingin melahirkan anak ini, tapi karena desakannya akhirnya Aku mempertahankannya. Aku tinggal bersamanya dan menikah secara siri…”
“Kenapa tidak menikah secara legal?”
“Karena dia sudah memiliki tunangan. Dan Aku sadar dengan posisiku. Kami berdua memiliki dunia yang sangat berbeda. Sangat tidak mungkin Aku dan dia bisa bersama…”
“Memang seberbeda apa dunianya? Bila Aku yang menjadi laki-laki itu, Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia Girl…”
“Hahahaha…apa-apaan kata-katamu itu. Jangan bercanda ahh…”
“Aku serius Girl…”
“Ya, ya…Tapi Aku tidak percaya, hehe…”
“Apa-apaan…” Nisha menatap Daniel lekat-lekat. Kehadiran laki-laki itu membuatnya sangat berterima kasih. Setidaknya kesedihan yang di rasakannya tadi sedikit berkurang karena laki-laki itu.
“Kalau dia memiliki tunangan, lalu bagaimana dengan nasibmu Girl? Bagaimana dengan bayi itu?”
“Sebelum tinggal bersamanya Aku menandatangani perjanjian. Aku akan memberikan anak ini kepadanya ketika dia sudah lahir…”
“Perjanjian macam apa itu?! Seorang anak tidak boleh di pisahkan dari ibunya! Mana perjanjiannya? Aku ingin melihatnya.”
“Tuan Daniel… Aku berterima kasih karena Kamu mau mendengarkan curhatan dari wanita seperti diriku ini. Tapi Aku mohon padamu agar tidak mencampuri urusan Kami. Aku tidak ingin masalahnya menjadi semakin rumit…”
“Aku hanya ingin melihat perjanjian itu Girl. Kalau perjanjian itu memberatkanmu, Kita bisa melakukan tuntutan. Apa Kamu tidak menginginkan anakmu?”
“Ak-aku sangat menginginkannya… Tapi Aku sudah berjanji untuk menyerahkannya pada ayahnya. Aku tidak mungkin melanggar janjiku…”
“Girl, dia sudah memiliki tunangan. Dia tidak akan merasa kehilangan anak itu. Dia akan segera mendapatkan gantinya. Kamu paham gak sih?”
Nisha terdiam mendengar kata-kata Daniel.
“Apa yang membuatmu menangis Girl? Apa karena laki-laki itu memilih tunangannya? Atau ada hal lain?”
“Tu-tunangannya datang ke apartemen. Sepertinya dia tidak mengetahui tentang Aku dan anak ini. Aku merasa buruk karena sudah merusak hubungan mereka.”
“Bukan Kamu yang merusaknya Girl. Tapi laki-laki itu! Sudah memiliki tunangan tapi masih menghamili wanita lain! Dia juga sangat tidak bertanggung jawab! Seharusnya dia bertanggung jawab terhadap kalian berdua, kenapa dia hanya mau dengan bayinya tapi tidak denganmu?! Benar-benar laki-laki b*jingan!”
“Tolong jangan menyalahkannya… Dia tidak seburuk itu… Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Tidak ada orang selain ibuku yang memperlakukanku sebaik itu.” Mata Nisha mulai berkaca-kaca lagi. Sepertinya Daniel sudah bisa menebak. Kucing kecilnya sudah jatuh cinta pada ayah si bayi!! Sepertinya benar-benar tidak ada kesempatan baginya untuk mendekati kucing kecil.
“Lalu apa yang akan Kamu lakukan sekarang Girl? Apa isi tas itu?” Daniel segera mengambil tas Nisha yang di letakkan di kursi sebelahnya. Tanpa ijin Daniel mengecek isi tas itu.
“Kamu berniat untuk kabur?”
“G-gak…”
“Lalu apa maksudnya dengan baju-baju ini?”
“Ak-aku berniat untuk menginap di rumah orang yang sudah Ku anggap sebagai ibuku sendiri…”
“Kenapa?”
“Ya… tunangannya baru saja datang. Aku tidak ingin mengganggu waktu mereka berdua…” Nisha memalingkan wajahnya.
“Girl, apa Kamu mencintainya?”
Nisha terdiam mendengar pertanyaan Daniel. Dia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Kalau dia mencintai Zico, lalu apa? Tidak ada yang bisa di perbuatnya. Yang bisa di lakukannya hanyalah menahan diri.
“Kenapa Kamu tidak tinggal di apartemenku saja? Kalau Kamu merasa risih, Aku bisa tidur di luar…”
“Gak…gak… Aku tidak ingin menambah masalah.”
“Dimana rumahnya? Aku akan mengantarmu.”
“Aku bisa pergi sendiri…”
“Aku bersikeras untuk mengantarmu Girl.”
“Ba-baiklah… Aku tidak tahu mengapa Kamu sangat baik padaku. Apa mungkin gara-gara hutangku? Tapi tak masalah. Yang jelas Aku sangat berterima kasih. Dan untuk hutangnya Aku minta maaf. Aku masih belum mampu untuk membayar…”
“Lupakan Girl. Dari awal tidak pernah ada hutang.”
“Hah? Apa maksudnya?”
“Tagihan rumah sakitnya tidak sebesar itu Girl. Aku membohongimu…”
“Ke-kenapa?”
“Karena Aku ingin dekat denganmu.”
“Ke-kenapa?”
“Aku juga tidak tahu. Cukup pembahasannya. Ayo Kita pergi.”
“Bagaimana dengan hutangku?”
“Aku akan menganggapnya lunas asalkan Kamu mau berteman denganku.”
***
Happy Reading 🥰
ErKa 🥰