
“Darl…”
“Zee?”
“Iya, ini Aku.”
“Ada apa Zee?”
“Ada yang ingin kubicarakan. Temui Aku di restoran X sekarang
juga…”
“Apalagi yang ingin di bicarakan Zee? Bukankah pembicaraan
Kita terakhir kali sudah jelas?”
“Aku ingin meng-clearkan
hubungan Kita. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi setelah semuanya clear.” Zevana menunggu jawaban Zico.
Setelah beberapa saat, Zico pun menjawab.
“Baiklah, Aku akan segera kesana.” Dan telepon pun di tutup.
Zee menatap ponselnya dengan senyum penuh kemenangan. Pandangannya mengarah
pada pasangan yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.
Beberapa waktu yang lalu Mama menghubunginya. Mama
menyuruhnya untuk ke restoran X karena di sana ada pertemuan yang tidak di
duganya. Tidak di sangka, untuk wanita sekelas office girl,selera wanita ini terhadap laki-laki benar-benar luar
biasa.
Awalnya dia kaget mengetahui laki-laki sekelas Zico bisa
jatuh dalam pelukan wanita yang tidak setara dengannya. Memang wanita itu
cantik, tapi masih banyak wanita cantik yang berasal dari kalangan yang sama
dengan Zico, contohnya adalah dirinya. Tapi mengapa seorang Zico malah jatuh
pada wanita yang seperti ini? Dan kejutan kembali di rasakannya. Bukan hanya
Zico saja yang jatuh dalam jeratan wanita itu, tapi ada pria super tampan
lainnya yang juga ikut terjatuh. Sebenarnya apa yang di lakukan wanita ini yang
membuat kedua laki-laki itu jatuh hati padanya?
Zevana menatap Nisha dengan tatapan iri, dengki, cemburu dan
amarah. Berani-beraninya wanita rendahan itu bersaing dengannya. Menginginkan
apa yang menjadi miliknya. Sampai kapan pun dia tidak akan membiarkan Zico
jatuh ke pelukan wanita mana pun di muka bumi ini, tak terkecuali wanita itu!
Tunggu dan lihat saja, apa Zico masih menginginkan wanita itu
berada di sisinya ketika melihatnya pergi dengan pria lain seperti ini. Zevana
tersenyum dengan penuh kemenangan.
***
“Bagaimana Girl, apa perasaanmu sudah membaik?”
“Hu’um…”
“Kamu harus sering-sering keluar seperti ini Girl. Lupakan
apa yang memang harus di lupakan. Fokus pada kesehatan dan bayimu.”
“Iya…”
“Ayo makan yang banyak. Kamu butuh asupan gizi yang banyak
agar bayimu sehat.”
“Hem…” Nisha memutar-mutar sendok di piringnya. Meskipun di
depannya tersuguh makanan seafood kesukaannya, tapi nafsu makannya tidak
tergugah. Daniel tidak sabar melihatnya, akhirnya dia mengambil daging lobster
dalam sendokan besar dan memaksa untuk menyuapi Nisha.
“Buka mulutmu. Ayo makan yang banyak.”
“Aku bisa mengambilnya sendiri…”
“Buka mulutmu.” Daniel berkata dengan tegas, tatapan matanya
tampak bersungguh-sungguh. Akhirnya mau tidak mau Nisha membuka mulutnya dan
memakan makanan itu.
“Anak pintar, puk…puk…” Daniel tersenyum puas, tangannya
menepuk-nepuk kepala Nisha dengan sayang. Memberi pujian padanya karena sudah
mau makan.
“SINGKIRKAN TANGANMU DARINYA!!”
Nisha maupun Daniel terkejut dengan suara itu. Mereka berdua
menoleh, untuk melihat asal suara itu. Betapa terkejutnya Nisha melihat Zico
ada di depannya. Wajahnya memerah, terlihat sangat menahan amarah. Zico
mengambil tangan Nisha dan menariknya.
“Ayo pulang.” Zico berkata dengan dingin. Nisha merinding
ketakutan melihat kemarahan laki-laki itu. Tanpa banyak bicara Nisha berdiri
dan mulai mengikuti langkah Zico. Daniel yang masih terkejut tampak terdiam.
Setelah berhasil mengatasi keterkejutannya, Daniel mulai mengejar Nisha.
“Hey Bro, ada apa ini? Lepaskan dia. Kau menyakitinya.”
Daniel memegang tangan Zico yang tengah memegang tangan Nisha dengan erat. Nisha
tampak kesakitan. Zico menoleh, menatap Daniel dengan tatapan yang sangat
dingin. Mulutnya terkatup rapat, berusaha menahan amarah.
“Ini bukan urusan Anda! Ayo pulang.” Zico kembali menarik
tangan Nisha, berusaha untuk membuatnya kembali berjalan. Daniel masih tidak
mau kalah, dia mengikuti mereka berdua. Kemudian tubuhnya menghadang tubuh
Zico, membuat Zico tidak bisa melangkah maju.
padanya.” Perkataan Daniel semakin membuat amarah Zico membesar. Dia menatap
Nisha dengan tatapan dingin.
“Sedalam apa hubunganmu dengannya sampai dia mengetahui
kehamilanmu?!” mendapat pertanyaan seperti itu membuat Nisha semakin mengerut
ketakutan.
“Ini ada apa Bro? Kenapa Kamu bertingkah seperti ini? Ini
tidak seperti dirimu yang biasanya.”
“Katakan padanya. Katakan padanya hubungan Kita.” Zico
berkata pada Nisha, tidak menghiraukan Daniel yang berada di depannya. Daniel
menatap Nisha penuh dengan tanda tanya. Dengan takut-takut Nisha mendongakkan
kepalanya, menatap Daniel dengan ragu-ragu sebelum menjawab.
“Di-di-dia su-suamiku. A-aku akan pulang bersamanya…” Nisha
berkata dengan lemah. Daniel tampak sangat terkejut. Tatapan matanya langsung
kosong. Seolah-olah otaknya tidak berfungsi lagi. Zico menggunakan kesempatan
itu untuk membawa Nisha pergi. Dia tidak menghiraukan suara Zevana yang tengah
memanggil-manggilnya. Tubuh dan pikirannya di kuasai dengan kemarahan.
Zico mendorong Nisha masuk ke dalam mobil dan menguncinya.
Mencegah kemungkinan wanita itu untuk kabur. Tubuh Nisha bergetar ketakutan.
Dia tahu bila Zico marah akan seperti apa. Sudah lama sekali dia tidak melihat
pria itu marah.
Suasana di mobil tampak hening. Zico menyetir dengan
kemarahan. Buku-buku jarinya yang berada di kemudi tampak memutih, berusaha
menahan amarahnya dengan mencengkram kemudi erat-erat. Nisha memberanikan diri
untuk mengintip suaminya. Ekspresi Zico sangat tidak terbaca. Tubuhnya menjadi kaku
karena ketakutan. Dia takut emosinya akan mempengaruhi kondisi bayinya. Dengan
gerakan reflek Nisha memegang perutnya penuh perlindungan. Zico melihat gerakan
kecil itu.
“Aku tidak akan membunuhmu. Ada bayiku di tubuhmu. Atau itu
BUKAN milikku?!” memikirkan kemungkinan itu membuat Zico marah, tanpa aba-aba
dia langsung membanting setir ke kiri dan menghentikan mobilnya.
“Katakan kalau itu bayiku!! Katakan!!” Zico memegang kedua
bahu Nisha dan mengguncang-guncangnya dengan keras. “Katakan bayi itu MILIKKU!!
KATAKAN!!” Kemarahan sepertinya mulai tidak bisa di kontrolnya.
Nisha semakin gemetar ketakutan. Insting melindungi bayinya
begitu besar. Karena takut kemarahan Zico akan menjadi lebih besar dan
berdampak bagi keselamatan mereka berdua, Nisha segera menjawab pertanyaan itu.
“iy-ya. Bayi ini milikmu. Ini anakmu…”
“Kamu YAKIN?!!”
“Ak-aku sangat yakin. Aku tidak pernah melakukannya dengan
orang lain…”
“Kamu yakin tubuh ini masih suci?! Biarkan Aku memeriksanya.”
Zico menarik baju Nisha. Membuat kancing baju Nisha berserakan. Kemudian dengan
brutal dia mulai menciumi bibir Nisha. Sementara tangannya meremas dada Nisha
dengan kasar. Zico menarik paksa bra Nisha sehingga tersembullah kedua dada
Nisha yang tampak sangat bulat dan penuh. Mata Zico menatap dada Nisha dengan
lapar, tanpa peringatan apa-apa dia langsung menerkam kedua buah dada itu.
Meremas, menjilat, menggigitnya dengan ganas.
“Apa pria itu mengigit dadamu seperti ini? atau seperti ini?
Hah?!” Zico semakin menjadi-jadi.
“Le-lepaskan Aku. Aku mohon…” Nisha menangis, menerima setiap
kebrutalan suaminya dengan pasrah. Zico tidak mengindahkan perkataan Nisha.
Mulutnya masih sibuk melahap kedua dada Nisha. Masih belum puas, Zico menarik
celana dalam Nisha dan memasukkan jari-jemarinya ke dalam sana.
“Apa pria itu juga memegang bagianmu yang ini? Katakan
padaku, bagian tubuhmu yang mana saja yang sudah di sentuhnya? Apa dia juga
memasukkan jarinya ke dalam sini?” Zico dengan kasar memasukkan jari-jarinya ke
dalam bagian vital Nisha.
“Akhh!! Sakit…sakit…itu sangat sakit. Tolong, tolong lepaskan
Aku…” Nisha menangis sesegukan. Sepertinya Zico akan kembali memperkosanya.
Nisha menutup matanya, memasrahkan semuanya. Yang bisa di lakukannya hanyalah
menangis dan menangis.
Ketika mulut dan tangannya sibuk menyiksa tubuh Nisha,
tiba-tiba mata Zico tertuju pada perut Nisha yang terbuka. Perut itu sudah
mulai membulat dan membuncit, meskipun belum terlalu besar. Seketika tubuh Zico
menjadi tegang, dia menghentikan segala aktivitasnya. Pelan-pelan dia memegang
perut Nisha dengan lembut. Dengan mata merah, berusaha menahan airmata yang
akan keluar, dia menatap wajah Nisha lekat-lekat dan berkata dengan sendu.
“Katakan padaku kalau dia milikku…”
***