Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 54 - Dua Singa Yang Memperebutkan Pasangannya



“Darl…”


“Zee?”


“Iya, ini Aku.”


“Ada apa Zee?”


“Ada yang ingin kubicarakan. Temui Aku di restoran X sekarang


juga…”


“Apalagi yang ingin di bicarakan Zee? Bukankah pembicaraan


Kita terakhir kali sudah jelas?”


“Aku ingin meng-clearkan


hubungan Kita. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi setelah semuanya clear.” Zevana menunggu jawaban Zico.


Setelah beberapa saat, Zico pun menjawab.


“Baiklah, Aku akan segera kesana.” Dan telepon pun di tutup.


Zee menatap ponselnya dengan senyum penuh kemenangan. Pandangannya mengarah


pada pasangan yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.


Beberapa waktu yang lalu Mama menghubunginya. Mama


menyuruhnya untuk ke restoran X karena di sana ada pertemuan yang tidak di


duganya. Tidak di sangka, untuk wanita sekelas office girl,selera wanita ini terhadap laki-laki benar-benar luar


biasa.


Awalnya dia kaget mengetahui laki-laki sekelas Zico bisa


jatuh dalam pelukan wanita yang tidak setara dengannya. Memang wanita itu


cantik, tapi masih banyak wanita cantik yang berasal dari kalangan yang sama


dengan Zico, contohnya adalah dirinya. Tapi mengapa seorang Zico malah jatuh


pada wanita yang seperti ini? Dan kejutan kembali di rasakannya. Bukan hanya


Zico saja yang jatuh dalam jeratan wanita itu, tapi ada pria super tampan


lainnya yang juga ikut terjatuh. Sebenarnya apa yang di lakukan wanita ini yang


membuat kedua laki-laki itu jatuh hati padanya?


Zevana menatap Nisha dengan tatapan iri, dengki, cemburu dan


amarah. Berani-beraninya wanita rendahan itu bersaing dengannya. Menginginkan


apa yang menjadi miliknya. Sampai kapan pun dia tidak akan membiarkan Zico


jatuh ke pelukan wanita mana pun di muka bumi ini, tak terkecuali wanita itu!


Tunggu dan lihat saja, apa Zico masih menginginkan wanita itu


berada di sisinya ketika melihatnya pergi dengan pria lain seperti ini. Zevana


tersenyum dengan penuh kemenangan.


***


“Bagaimana Girl, apa perasaanmu sudah membaik?”


“Hu’um…”


“Kamu harus sering-sering keluar seperti ini Girl. Lupakan


apa yang memang harus di lupakan. Fokus pada kesehatan dan bayimu.”


“Iya…”


“Ayo makan yang banyak. Kamu butuh asupan gizi yang banyak


agar bayimu sehat.”


“Hem…” Nisha memutar-mutar sendok di piringnya. Meskipun di


depannya tersuguh makanan seafood kesukaannya, tapi nafsu makannya tidak


tergugah. Daniel tidak sabar melihatnya, akhirnya dia mengambil daging lobster


dalam sendokan besar dan memaksa untuk menyuapi Nisha.


“Buka mulutmu. Ayo makan yang banyak.”


“Aku bisa mengambilnya sendiri…”


“Buka mulutmu.” Daniel berkata dengan tegas, tatapan matanya


tampak bersungguh-sungguh. Akhirnya mau tidak mau Nisha membuka mulutnya dan


memakan makanan itu.


“Anak pintar, puk…puk…” Daniel tersenyum puas, tangannya


menepuk-nepuk kepala Nisha dengan sayang. Memberi pujian padanya karena sudah


mau makan.


“SINGKIRKAN TANGANMU DARINYA!!”


Nisha maupun Daniel terkejut dengan suara itu. Mereka berdua


menoleh, untuk melihat asal suara itu. Betapa terkejutnya Nisha melihat Zico


ada di depannya. Wajahnya memerah, terlihat sangat menahan amarah. Zico


mengambil tangan Nisha dan menariknya.


“Ayo pulang.” Zico berkata dengan dingin. Nisha merinding


ketakutan melihat kemarahan laki-laki itu. Tanpa banyak bicara Nisha berdiri


dan mulai mengikuti langkah Zico. Daniel yang masih terkejut tampak terdiam.


Setelah berhasil mengatasi keterkejutannya, Daniel mulai mengejar Nisha.


“Hey Bro, ada apa ini? Lepaskan dia. Kau menyakitinya.”


Daniel memegang tangan Zico yang tengah memegang tangan Nisha dengan erat. Nisha


tampak kesakitan. Zico menoleh, menatap Daniel dengan tatapan yang sangat


dingin. Mulutnya terkatup rapat, berusaha menahan amarah.


“Ini bukan urusan Anda! Ayo pulang.” Zico kembali menarik


tangan Nisha, berusaha untuk membuatnya kembali berjalan. Daniel masih tidak


mau kalah, dia mengikuti mereka berdua. Kemudian tubuhnya menghadang tubuh


Zico, membuat Zico tidak bisa melangkah maju.


padanya.” Perkataan Daniel semakin membuat amarah Zico membesar. Dia menatap


Nisha dengan tatapan dingin.


“Sedalam apa hubunganmu dengannya sampai dia mengetahui


kehamilanmu?!” mendapat pertanyaan seperti itu membuat Nisha semakin mengerut


ketakutan.


“Ini ada apa Bro? Kenapa Kamu bertingkah seperti ini? Ini


tidak seperti dirimu yang biasanya.”


“Katakan padanya. Katakan padanya hubungan Kita.” Zico


berkata pada Nisha, tidak menghiraukan Daniel yang berada di depannya. Daniel


menatap Nisha penuh dengan tanda tanya. Dengan takut-takut Nisha mendongakkan


kepalanya, menatap Daniel dengan ragu-ragu sebelum menjawab.


“Di-di-dia su-suamiku. A-aku akan pulang bersamanya…” Nisha


berkata dengan lemah. Daniel tampak sangat terkejut. Tatapan matanya langsung


kosong. Seolah-olah otaknya tidak berfungsi lagi. Zico menggunakan kesempatan


itu untuk membawa Nisha pergi. Dia tidak menghiraukan suara Zevana yang tengah


memanggil-manggilnya. Tubuh dan pikirannya di kuasai dengan kemarahan.


Zico mendorong Nisha masuk ke dalam mobil dan menguncinya.


Mencegah kemungkinan wanita itu untuk kabur. Tubuh Nisha bergetar ketakutan.


Dia tahu bila Zico marah akan seperti apa. Sudah lama sekali dia tidak melihat


pria itu marah.


Suasana di mobil tampak hening. Zico menyetir dengan


kemarahan. Buku-buku jarinya yang berada di kemudi tampak memutih, berusaha


menahan amarahnya dengan mencengkram kemudi erat-erat. Nisha memberanikan diri


untuk mengintip suaminya. Ekspresi Zico sangat tidak terbaca. Tubuhnya menjadi kaku


karena ketakutan. Dia takut emosinya akan mempengaruhi kondisi bayinya. Dengan


gerakan reflek Nisha memegang perutnya penuh perlindungan. Zico melihat gerakan


kecil itu.


“Aku tidak akan membunuhmu. Ada bayiku di tubuhmu. Atau itu


BUKAN milikku?!” memikirkan kemungkinan itu membuat Zico marah, tanpa aba-aba


dia langsung membanting setir ke kiri dan menghentikan mobilnya.


“Katakan kalau itu bayiku!! Katakan!!” Zico memegang kedua


bahu Nisha dan mengguncang-guncangnya dengan keras. “Katakan bayi itu MILIKKU!!


KATAKAN!!” Kemarahan sepertinya mulai tidak bisa di kontrolnya.


Nisha semakin gemetar ketakutan. Insting melindungi bayinya


begitu besar. Karena takut kemarahan Zico akan menjadi lebih besar dan


berdampak bagi keselamatan mereka berdua, Nisha segera menjawab pertanyaan itu.


“iy-ya. Bayi ini milikmu. Ini anakmu…”


“Kamu YAKIN?!!”


“Ak-aku sangat yakin. Aku tidak pernah melakukannya dengan


orang lain…”


“Kamu yakin tubuh ini masih suci?! Biarkan Aku memeriksanya.”


Zico menarik baju Nisha. Membuat kancing baju Nisha berserakan. Kemudian dengan


brutal dia mulai menciumi bibir Nisha. Sementara tangannya meremas dada Nisha


dengan kasar. Zico menarik paksa bra Nisha sehingga tersembullah kedua dada


Nisha yang tampak sangat bulat dan penuh. Mata Zico menatap dada Nisha dengan


lapar, tanpa peringatan apa-apa dia langsung menerkam kedua buah dada itu.


Meremas, menjilat, menggigitnya dengan ganas.


“Apa pria itu mengigit dadamu seperti ini? atau seperti ini?


Hah?!” Zico semakin menjadi-jadi.


“Le-lepaskan Aku. Aku mohon…” Nisha menangis, menerima setiap


kebrutalan suaminya dengan pasrah. Zico tidak mengindahkan perkataan Nisha.


Mulutnya masih sibuk melahap kedua dada Nisha. Masih belum puas, Zico menarik


celana dalam Nisha dan memasukkan jari-jemarinya ke dalam sana.


“Apa pria itu juga memegang bagianmu yang ini? Katakan


padaku, bagian tubuhmu yang mana saja yang sudah di sentuhnya? Apa dia juga


memasukkan jarinya ke dalam sini?” Zico dengan kasar memasukkan jari-jarinya ke


dalam bagian vital Nisha.


“Akhh!! Sakit…sakit…itu sangat sakit. Tolong, tolong lepaskan


Aku…” Nisha menangis sesegukan. Sepertinya Zico akan kembali memperkosanya.


Nisha menutup matanya, memasrahkan semuanya. Yang bisa di lakukannya hanyalah


menangis dan menangis.


Ketika mulut dan tangannya sibuk menyiksa tubuh Nisha,


tiba-tiba mata Zico tertuju pada perut Nisha yang terbuka. Perut itu sudah


mulai membulat dan membuncit, meskipun belum terlalu besar. Seketika tubuh Zico


menjadi tegang, dia menghentikan segala aktivitasnya. Pelan-pelan dia memegang


perut Nisha dengan lembut. Dengan mata merah, berusaha menahan airmata yang


akan keluar, dia menatap wajah Nisha lekat-lekat dan berkata dengan sendu.


“Katakan padaku kalau dia milikku…”


***