
"Dia sudah tidur?"
"Iya, kayaknya dia benar-benar kecapekan."
"Tapi Aku belum kecapekan. Terutama bagian yang ini." Zico memeluk Nisha dari belakang dan menempelkan kejantanannya yang sudah mengeras. Hampir tiga hari mereka tidak bercinta, tubuh Zico sudah sangat haus dan merindukan tubuh Nisha.
"Ak-Aku capek. Aku mau tidur." Nisha berusaha menghindar. Dia menjauh dari Zico. Tapi Zico tidak membiarkannya. Dia menangkap tubuh Nisha dan menciuminya dari belakang.
"Aahh... Apa yang Kamu lakukan?!"
"Melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri Sayang." Zico menjawab seenaknya. Mulutnya sibuk menggigiti telinga Nisha. Membuat tubuh Nisha merinding dan bangkit oleh gairah.
Malam itu mereka kembali bercinta. Percintaan pertama berlangsung penuh dengan gelora. Zico menuntaskan birahinya yang tak tersalurkan selama tiga hari. Menjelang dini hari, Zico kembali meminta jatah. Kali ini mereka bercinta dengan lembut. Saling mencintai dan menghargai tubuh satu sama lain.
Usai bercinta, Nisha tampak sangat lemas. Dia melirik Zico yang telah tertidur di sampingnya. Sebenarnya dia ingin ikut tidur juga, tapi dia khawatir Zoey akan kembali mencarinya di pagi hari. Akhirnya Nisha memutuskan untuk pindah ke kamar sebelah. Menemani Zoey yang sedang tertidur sendiri. Saking lelah dan remuk tubuhnya, begitu menyentuh kasur Nisha langsung terlelap, menuju dunia mimpi yang sangat gelap.
***
"Uncle, Uncle sedang apa?"
"Masak."
"Masak? Uncle masak apa?" Zoey begitu kepo. Dia berjinjit untuk melihat apa yang Zico masak. Zico meraih tubuh Zoey, menggendongnya dengan satu tangan. Sedangkan tangannya yang lain memegang spatula.
"Masak nasi goreng."
"Hem... Zoey suka!! Zoey suka nasi goyeng!!" Zoey merentangkan tangannya, menunjukkan kegembiraan.
"Tuan, biarkan Saya yang memasak." Kepala pelayan berusaha untuk mengambil spatula di tangan Zico, tapi Zico melarangnya.
"Gak apa-apa. Dia suka nasi goreng buatanku."
"Nyonya Tuan?"
"Hem."
Pelayan tersenyum simpul. Sepertinya dia sudah mulai mengerti keadaannya. Tuan besar sedang memasak makanan untuk Nyonya. Tentu saja Tuannya tidak ingin di bantu oleh siapapun.
"Kalau ada yang bisa Saya bantu, jangan sungkan untuk mengatakannya Tuan."
"Hem."
Kepala pelayan meninggalkan kedua pria berbeda generasi itu. Dia sangat senang melihat perkembangan dari kondisi psikologis Tuannya. Biasanya Tuan selalu mabuk-mabukan dan menangis sepanjang waktu. Terkadang Tuan malah menyakiti tubuhnya sendiri. Kehadiran Nyonya dan putra kecilnya sungguh membuat perubahan pada sikap Tuan.
Tuan jadi lebih sering tersenyum. Wajahnya tidak dingin lagi. Meskipun terkadang masih tampak raut kesedihan, tapi lebih banyak raut kebahagiaan yang di tampakkannya. Dia berharap Tuan dan Nyonya bersama putra kecilnya bisa bahagia bersama.
"Zoey mau nasi golengnya Uncle..."
"Iya, Kita bangunin Mommy dulu ya."
"He'eh." Zoey mengangguk setuju. Air liur tampak hampir menetes dari mulutnya.
Mereka pergi ke kamar tempat Nisha masih tertidur. Tangan kiri Zico menggendong Zoey, sedangkan tangan kanannya membawa seporsi besar nasi goreng. Dengan kakinya dia mendorong pintu kamar.
"Mihh...Mommih...bangun dong Miihh.. Udah siang... Zoey lapaaall..." Zoey menggoyang-goyang tubuh Mommihnya. Uncle melarangnya makan lebih dulu sebelum Mommih bangun. Dia ingin Mommih segera bangun agar bisa merasakan nasgor buatan Uncle.
Nisha membuka matanya perlahan-lahan. Senyum malas tersungging di bibirnya ketika melihat Zoey di depan mata.
"Cium Mommy dulu, baru Mommy akan bangun..."
"Huh!!" Zoey memasang tampang menolak. Tanpa di aba-aba Zico malah datang untuk menggantikan. Dia mengecup bibir Nisha dengan lembut, berlama-lama mengecupnya. Nisha terkesiap kaget.
"Akhhh!!" Nisha segera terduduk. Dia langsung menutup wajahnya dengan malu. Dia tidak sadar bahwa Zico ada di sampingnya. Dia pikir Zoey hanya sendiri.
"Selamat pagi." Zico menyapa dengan lembut.
Nisha tidak menjawab, dia terlalu malu untuk melakukannya.
"Mommih!! Ayo cepat banguunn. Zoey lapal Mommih." Suara Zoey membuyarkan atmosfer di antara mereka.
"Ehm, ya. Mommih cuci muka dulu, habis itu bikin makan buat Zoey ya." Nisha tampak salah tingkah.
"No Mommih. Uncle udah masak. Ayo kita makan Mihh." Zoey menarik-narik tangan Nisha, akhirnya Nisha mengalah dan mengikutinya.
Hanya ada satu masakan di meja, dan itu nasi goreng buatan Zico. Zoey menatap makanan itu dengan air liur yang hampir menetes.
"Kamu yang masak?"
"Hem."
"Serius?!"
"Hem." Sebenarnya Zico malu mengakuinya. Dia memasak nasgor karena dulu Nisha begitu menyukai masakannya. Sekarang dia kembali memasak, berharap dengan melakukan hal itu hati Nisha akan melunak dan bersedia menerimanya kembali.
Zico mengambil nasgor dan menyendokkannya di piring Zoey. Setelah itu dia baru mengisi piring Nisha.
"Mau Mommy suapin Nak?"
"No!! Zoey bisa makan sendili." Zoey menyendok dalam sendokan besar dan memasukkan ke mulut kecilnya. Zoey mengunyah dengan semangat. Mata bulatnya tampak membeliak di setiap kunyahan. "Enaaaakk Unclee, Enaaakkk..." Zoey mengacungkan kedua jempolnya. Zico menghembuskan napas lega. Setidaknya Zoey bisa menerima masakannya. Zico mengalihkan perhatiannya pada Nisha, berharap wanita itu juga memakan masakannya.
Melihat Zoey makan dengan nikmat seperti itu membuat Nisha yakin kalau nasgor buatan Zico itu enak. Nisha meniru Zoey, dia juga menyendok dalam porsi besar dan memasukkan ke dalam mulutnya sekaligus.
"Uhuukk...uhuukk...hueekk..." Nisha memuntahkan makanannya. "Air. Mana air!" Nisha bingung mencari-cari air. Zico dengan cepat menyerahkan segelas air padanya, Nisha meneguknya dengan cepat.
"Kenapa? Ada yang salah dengan makanannya?" Zico bertanya khawatir. Dia segera mencicipi makanannya. Rasanya sama dengan yang dulu. Untuk ukuran orang normal, pasti nasgornya ini sangat tidak enak. Tapi dulu Nisha sangat menyukainya, apakah sekarang sudah tidak?
"Asin banget. Bau bawangnya juga nyengat banget."
"Tapi dulu Kamu suka."
"Aku?"
"Iya. Dulu waktu hamil boy Kamu pernah memintaku untuk memasak nasi goreng. Dan Kamu menyukainya. Rasanya masih sama dengan yang dulu " Zico tampak kecewa. Dia berharap Nisha akan antusias memakan masakannya, tapi harapannya sia-sia.
Nisha menatap Zoey yang makan dengan lahapnya.
"Nambah Miihh!!!” Zoey menyerahkan piringnya.
"Jangan makan banyak-banyak Nak. Nanti sakit perut."
"Gak. Gak sakit peyut. Nambah Mihh!!" Zoey bersikeras.
"Emang enak masakannya Uncle Nak?"
"He'eh, Zoey suka Mih. Zoey suka nasgol buatan Uncle. Suka pesawat Uncle. Suka lumah Uncle. Zoey sukaaa tinggal disinih. Zoey sukaaaa sama Uncle Mih. Kita akan di sini telus sama dedek bayi kan Mih??"
"Hem." Nisha menjawab sembari melengos. Dia sungkan untuk melihat ekspresi Zico.
Zico tampak tertegun mendengar celotehan Zoey. Tapi dia merasa senang. Sepertinya Nisha sudah memberikan pengertian pada Zoey. Itu artinya Nisha bersedia untuk tinggal bersamanya.
"Zoey mau nambah? Uncle ambilkan." Zico mengambil nasgor dan menyerahkannya pada Zoey. Bocah itu tampak bersemangat mengunyah makanannya.
Nisha menatap Zoey dengan geli. Pantas saja Zoey begitu suka dengan masakan Zico. Dulu waktu hamil Zoey, dia juga bersemangat memakan nasgor itu. Sekarang indera perasanya sudah kembali. Nasgor buatan Zico adalah nasgor paling tidak enak yang pernah di makannya!
***
Happy Reading ^^
Senin-Jum'at tetap update 1 episode ya. Jangan lupa vote-nya ya readers2 sayang, terima kasih ^^