
“Aku tidak sudi!! Aku tidak akan melahirkan anak untukmu! Cari saja wanita lain. Pasti banyak wanita yang bersedia untuk memberikanmu anak!!”
“Aku hanya ingin anak yang terlahir dari rahimmu sayang…”
“Kenapa Kamu saat terobsesi padaku?? Please, lepaskan Aku. Biarkan Aku hidup dengan bebas…”
“Sayang, Kamu sangat tahu alasannya. Jangan berdebat denganku. Persiapkan tubuhmu segera atau…”
“Atau apa? Hah? Kamu mau mengancamku?!”
“Atau senyum bahagia di wajah-wajah ini akan hilang.” Zico berkata dengan dingin sembari melempar beberapa foto di depan Nisha. Nisha melihat foto itu dengan terkejut. Tubuhnya menjadi kaku. Di foto-foto tersebut terlihat wajah-wajah yang sangat di sayanginya. Ibunya, kedua adiknya dan Zoey!! Apakah Zico sudah tahu tentang Zoey?! Sejauh apa laki-laki itu mengetahui tentang Zoey? Akankah Zico tahu hubungan Zoey dengannya?
Tapi bila melihat ekpresi dan sikap laki-laki itu, sepertinya Zico belum tahu bahwa Zoey adalah putranya. Untung saja dulu dia menuruti saran Daniel. Dengan membayar sejumlah uang, Daniel merekayasa hari lahir Zoey. Daniel beralasan, bahwa hal itu untuk mengantisipasi kejadian yang akan terjadi ke depannya. Seharusnya Zoey sudah berusia 4 tahun setengah, namun karena rekayasa itu umur Zoey menjadi 3 tahun delapan bulan. Zico pasti tidak akan mengira bahwa Zoey adalah putranya yang masih hidup. Daniel benar-benar pintar dalam memperkirakan segala sesuatunya. Laki-laki itu pasti sudah menduga bahwa suatu saat nanti Zico akan menemukan mereka dan mencari tahu tentang kelahiran Zoey. Prediksi Daniel benar-benar menjadi kenyataan.
Bagaimana perasaan Zico ketika mengetahui dirinya sudah punya anak? Apakah laki-laki itu marah? Pasti laki-laki itu merasa sangat sakit hati. Bukan tidak mungkin ke depannya Zico akan menyakiti Zoey karena kebenciannya kan? Lalu apakah ancaman laki-laki itu untuk membuat senyum di wajah-wajah keluarganya hilang benar adanya? Akankah laki-laki itu melakukannya? Sekejam itu kah Zico yang sekarang? Nisha menjadi mengigil ketakutan.
“Pikirkan baik-baik. Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku. Aku tunggu jawabanmu besok pagi. Jawabanmu akan menentukan masa depan orang-orang itu.” Selesai berkata seperti itu, Zico melangkah pergi. Meninggalkan Nisha yang duduk bersimpuh di lantai.
Tanpa sadar airmatanya jatuh. Nisha menangis sesegukan. Selemah itukah dirinya? Mengapa waktu lima tahun tidak membuatnya menjadi wanita yang lebih tangguh? Mengapa dia masih saja terjebak dengan permainan laki-laki brengsek itu? sampai kapan laki-laki itu akan mempermainkan hidupnya? Membuat hidupnya bebas? Apakah dari awal dia memang tidak memiliki kebebasan itu?
Nisha meraih foto-foto yang berserakan di lantai. Menatap wajah keluarga yang di sayanginya dengan tatapan pilu. Nisha menciumi foto-foto itu satu persatu. Hanya Tuhan yang tahu betapa sayangnya dia pada keluarganya. Dia rela melakukan apapun demi membuat keluarganya bahagia. Sekarang keluarganya sudah bahagia. Ibunya sudah bisa menikmati masa tuanya dengan nyaman. Kedua adiknya sedang mengenyam pendidikan yang layak yang tidak pernah di bayangkan sebelumnya. Zoey tumbuh dengan sehatnya, tanpa kekurangan sesuatu apapun. Apakah semua kebahagiaan itu akan hilang dari wajah mereka bila dia menolak permintaan Zico?
Apakah kehilangan anak sungguh membuat Zico menjadi laki-laki gila yang tega berbuat criminal hanya untuk mendapatkan keinginannya? Mengapa waktu lima tahun sangat mengubah karakter laki-laki itu? Dimana kelembutan dan perhatian yang dulu pernah di tunjukkan laki-laki itu padanya? Mengapa Zico berubah menjadi laki-laki dingin dan tidak memiliki perasaan seperti ini?
Lama Nisha terduduk di lantai. Para pelayan berusaha membuatnya untuk kembali ke kamar utama, namun Nisha mengabaikannya. Akhirnya para pelayan meninggalkannya. Nisha berkutat dengan pikirannya. Memikirkan kemungkinan baik dan buruk untuk keluarganya. Menjelang subuh, dia mendapatkan jawabannya.
Nisha segera mencari pelayan, meminta bantuan mereka untuk mencarikannya pena dan kertas. Nisha menuliskan semua syarat-syarat yang di butuhkannya. Meskipun di depan Zico dia hanyalah seorang wanita lemah, namun setidaknya dia tidak sebodoh dulu. Bila hidupnya harus berurusan dengan laki-laki itu lagi, maka dia akan menceburkan dirinya sepenuhnya. Kali ini dia harus mengajukan syarat-syarat yang menguntungkan untuknya!!
***
Zico membaca syarat-syarat itu dengan serius. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Dia merasa separuh dari tujuannya sudah tercapai.
(Isi perjanjian yang di tulis oleh Nisha)
- Pihak I berjanji untuk tidak menyakiti Pihak II dan keluarganya
- Pihak I berjanji untuk tidak memiliki hubungan dengan wanita lain selama perjanjian dengan Pihak II belum berakhir
- Pihak I berjanji untuk tidak mencampuri kehidupan pribadi Pihak II
- Pihak I berjanji untuk tidak menghalangi karier Pihak II
- Pihak I berjanji untuk mengakui Pihak II sebagai ibu sah di mata hukum dari anak yang lahir nantinya
- Pihak I berjanji untuk memberikan Pihak II hak asuh yang sama terhadap anak yang akan lahir
“Sayang\, ada point yang lupa Kamu tulis. Di point *pihak I akan mengakui pihak II sebagai ibu yang sah*? Anak itu akan memiliki orang tua yang sah di mata hukum bila kedua orang tuanya menikah. Tidak masalah\, Aku akan menikahimu secara sah. Toh Kita juga tidak pernah bercerai.” Zico tersenyum puas.
Nisha terkejut mendengarnya. Dia tidak pernah berpikir sampai ke arah sana. Yang dia fokuskan hanya bagaimana menjaga keluarganya tetap selamat dan dia tidak akan di pisahkan lagi dari bayinya. Mengaca dari kelahiran Zoey, banyak point yang merugikan dirinya dulu. Sekarang dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Dia tidak ingin di pisahkan dari bayinya lagi, apapun alasannya!
“Aku akan menyiapkan pernikahan Kita sayang. Yang Aku ingin Kamu lakukan sekarang adalah menghubungi orang-orang ini. Katakan Kamu baik-baik saja.” Zico akan menyerahkan ponsel ke Nisha. Tapi sebelum Nisha menerima ponsel itu, Zico menariknya kembali. “Ingat untuk tidak mengatakan sesuatu yang tidak berguna. Atau Kamu ingin wajah lucu ini menjadi sedih?” Zico menunjukkan foto Zoey yang sedang di gendong oleh salah satu orang suruhan Zico. Nisha menggigit bibirnya dengan geram. Kemudian dia mengambil ponsel di tangan Zico.
“Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu!!”
“Bagus, gadis pintar.” Zico menepuk-nepuk kepala Nisha dengan lembut. Nisha menghempaskan tangan Zico dengan jijik. Kemudian dia mulai menelepon satu persatu orang-orang yang mengkhawatirkannya.
Pertama, dia menelepon ibunya. Mengatakan pada ibunya bahwa dia di haruskan untuk menetap di Jakarta untuk beberapa bulan ke depan. Hal itu dia lakukan untuk menyelesaikan kasus kliennya. Ibunya sangat keberatan. Dia tidak rela berpisah dari anaknya untuk jangka waktu yang lama. Zoey juga menjadi pertimbangannya. Tapi Nisha mencoba untuk tetap membujuk ibunya. Dia berjanji untuk mengunjungi ibunya sesering mungkin (meskipun hal itu sepertinya tidak mungkin). Setelah di beri berbagai macam pertimbangan, akhirnya ibunya mau mengerti dan mendoakan kesuksesannya.
Kemudian Nisha menelepon bu Atika. Nisha kembali berbohong pada orang yang telah banyak membimbingnya tersebut. Dia mengajukan pengunduran diri dari menjadi rekanan bu Atika dan memutuskan untuk membuka firma hukumnnya sendiri di Jakarta. Bu Atika sangat terkejut dengan keputusannya. Dia sangat sedih dan kecewa terhadap keputusan yang dibuat oleh Nisha secara terburu-buru. Setelah melakukan permintaan maaf berkali-kali, akhirnya bu Atika mau mengerti dan kembali mendoakan kesuksesan kariernya.
Orang terakhir yang di teleponnya adalah Daniel. Dia bingung harus membuat alasan apa terhadap laki-laki itu??
***