Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 47 - Jangan Menolakku, Itu Membuatku Sakit



“Kalau Kamu gimana Bro? Ada wanita yang Kamu cintai?” Daniel balik bertanya. Zico menatap Daniel dengan tatapan tidak fokus.


“Maaf?”


“Ada wanita yang Kamu cintai? Aku selalu bercerita tentang diriku sendiri. Aku tidak pernah mendengarkan ceritamu Bro. Aku merasa malu…”


“Aku… tidak ada yang bisa Ku ceritakan…”


“Ayolah. Pasti ada banyak cerita. Kamu begitu sempurna Bro. Tinggi, badan atletis, tampan, kaya dan seorang direktur muda yang sukses. Pasti banyak wanita di sekitarmu Bro.” Daniel memukul ringan dada Zico, desakan untuk membuat Zico mengaku. “ Ayolah Bro, ceritakan padaku…”


“Ya, dulu memang pernah ada…” Akhirnya Zico membuka suaranya meskipun dia sendiri enggan untuk bercerita.


“Dulu? kalau sekarang?”


“Aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri.” Zico menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ayolah Bro, ceritakan semuanya padaku.” Zico menatap Daniel. Tatapannya sedikit hampa. Kemudian dengan ragu-ragu Zico mulai bercerita tentang Zevana.


“Dia yang mengakhiri hubungan Kami…”


“Alasannya?”


“Katanya ingin fokus pada ajang fashion yang di ikutinya.”


“Dan Kamu membiarkan dia pergi?”


“Dia ingin terbang. Aku tidak bisa selalu menahannya dalam sangkar.”


“Dimana dia sekarang?”


“Dia di LN.”


“Akh, Aku pikir dia di sini. Aku bisa membantu kalian bersama jika dia di sini…”


“Terima kasih. Tapi Aku tidak membutuhkan orang ketiga untuk membuat Kami bersama. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri.”


“Ayolah Bro. Jangan bersikap skeptis seperti itu. Apa Kamu masih berharap dia akan kembali ke dalam sangkarmu lagi?”


“Dulu Aku sangat yakin dia akan kembali padaku. Tapi akhir-akhir ini entah mengapa Aku tidak mengharapkannya lagi…”


“Apa karena sudah ada cinta yang lain?” Daniel bertanya dengan menyelidik. Zico terdiam mendengar pertanyaan itu. Dia begitu bingung harus menjawab apa. Seketika pikirannya melayang pada Nisha. Sikap Nisha yang begitu dingin padanya membuatnya sangat sakit hati dan kecewa.


“Tidak. Tidak ada cinta yang lain.” Zico memalingkan wajahnya ketika menjawab pertanyaan Daniel. Berusaha menghindari kontak mata dengan laki-laki itu. Entah kenapa kondisi mereka berdua sangat lucu. Dua orang laki-laki dewasa berada di café dan sedang curhat tentang masalah asmara masing-masing. Seperti dua orang remaja yang sedang beranjak puber.


“Bro, sepertinya Kamu sedang bingung dengan perasaanmu. Pastikan perasaanmu dengan jelas terhadap wanita masa lampau itu, baru Kamu bisa melangkah pada cinta yang baru, hehe.” Daniel berkata dengan sok bijak, yang di balas dengan senyum kecut Zico.


“Oh ya Bro, sedang apa Kamu di sini?”


“Aku akan menemui asistenku…”


“Maksudku, kenapa harus di sini?”


“Karena tempat ini yang paling dekat dengan tempat tinggalku…”


“Ha?”


“Aku tinggal di gedung itu.” Zico menunjuk gedung di depan café. Wajah Daniel tampak bersinar-sinar.


“Kebetulan sekali Bro!! Aku juga tinggal di gedung itu. Aku tinggal di lantai paling atas.” Entah itu kebetulan buruk atau bagus, Zico hanya menatap Daniel dengan rasa bingung. “Tinggal di lantai berapa Bro? sepertinya Kita bisa sering-sering bertemu.”


“Kalau begitu, Aku saja yang mengundangmu ke apartemenku Bro, hehe.” Daniel masih saja cengengesan.


“Ya atur saja seperti itu. Kalau tidak ada yang di bicarakan lagi, Aku ijin pamit dulu. Asistenku sedang menunggu.”


“Oke Bro. Aku tunggu kabarnya.”


***


Zico kembali ke apartemennya. Sikap Nisha padanya masih tidak berubah. Dia sudah mencoba berbagai cara, namun tidak ada yang berhasil.


“Aku ingin tidur di kamar lain.”


“Ha?”


“Kamu dengar apa yang Aku katakan.”


“Kenapa? Bukankah Kita menikah karena boy ingin tidur dengan ayahnya?”


“Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi.” Nisha menjawab dengan ketus.


“Sayang, ada apa denganmu? Kenapa semenjak pingsan sikapmu berubah? Katakan padaku, ada sesuatu yang terjadi?”


“Ti…tidak! Tidak ada yang terjadi!”


“Lalu kenapa ingin tidur di kamar lain?”


“Hanya ingin. Bayinya sudah tidak ingin tidur denganmu.”


“Jangan jadikan boy sebagai alasan. Katakan alasanmu yang sebenarnya.”


“Aku tidak ingin tidur denganmu! Aku tidak suka melihat wajahmu. Aku tidak tahan dengan gaya berjalanmu! Aku tidak tahan dengan bau tubuhmu! Apa Kamu puas dengan jawabanku?!” Nisha meraung. Zico terkesiap mendengar jawaban Nisha. Wajahnya tiba-tiba menjadi sedih.


“Sebegitu muakkah Kamu melihatku?”


“Iya, Aku sangat muak. Aku tidak ingin melihatmu!”


“Sayang, Aku tahu Kamu bukan dirimu saat ini. Kamu tidurlah di kamar ini. Aku akan tidur di ruang kerja. Suatu saat nanti ketika emosimu kembali stabil, jangan ragu-ragu untuk memanggilku…”


“Aku tidak akan pernah memanggilmu. Terima kasih atas perhatiannya. Aku akan menggunakan kamar ini dengan nyaman.”Nisha mengigit bagian dalam bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Tuhan tahu isi hatinya. Saat ini yang ingin di lakukannya adalah memeluk pria ini, bukan mengusirnya seperti ini.


Zico melangkah keluar dari kamar. Hatinya begitu sedih dan terpukul. Nisha tidak pernah menolaknya. Wanita itu selalu senang dengan kehadirannya. Dari matanya dia bisa melihat wanita itu sudah mulai menerimanya. Raut ketakutan sudah tidak ada lagi di dalam dirinya. Traumanya sepertinya juga sudah hilang.


Hubungan mereka sudah mulai membaik. Mereka saling tergantung satu sama lain. Mereka sudah menjadi tim yang kompak untuk kepentingan si kecil. Namun mengapa tiba-tiba sikap Nisha berubah menjadi seperti itu? Benarkah itu karena pengaruh hormon? Apakah semua wanita hamil memang seperti itu?


Malam itu Zico memutuskan untuk tidur di sofa yang terletak di ruang kerja. Sebelum tidur dia mengintip ke kamar Nisha. Setelah memastikan wanita itu tertidur, dia kembali ke ruang kerja. Selang infus Nisha sudah di lepas. Tidak ada perawat maupun bu Retno di apartemen itu. Hanya tinggal mereka berdua. Meninggalkan wanita itu tidur di kamar besar sendirian membuat Zico khawatir.


Zico berbaring, menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Dia menatap langit-langit di ruangan itu. Perkataan Daniel mengusik pikirannya. “Sepertinya Kamu sedang bingung dengan perasaanmu. Pastikan perasaanmu dengan jelas terhadap wanita masa lampau itu, baru Kamu bisa melangkah pada cinta yang baru.”


Bagaimana perasaannya terhadap Zee sekarang? Selama beberapa bulan ini Zee sudah tidak ada di pikirannya. Memang perasaan sakit ketika Zee memutuskan pertunangan mereka sangat membuatnya sakit hati dan stress. Namun bila ingat perasaan itu, seolah-olah itu kejadian yang telah lama terjadi. Dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Zee sudah bukan menjadi prioritasnya sekarang. Wanita itu ada atau pun tidak sudah bukan menjadi urusannya lagi. Dia sudah tidak peduli.


Lalu bagaimana dengan Nisha? Bagaimana perasaannya terhadap wanita itu? Mengapa sikap Nisha yang menolaknya sangat membuatnya sakit hati? Kenapa sakitnya sama seperti ketika Zee menolaknya? Apakah perasaannya terhadap wanita itu benar-benar sudah berubah? Apakah perasaan kasihan itu sudah berubah menjadi sayang? Apakah perasaan sayang itu sudah berubah menjadi cinta? Ahh, dia benar-benar tidak bisa mengetahui perasaannya sendiri.


***


Happy Reading 🥰