Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 78 - Mommy Milik Zoey!!



Zico masih asik menyaksikan kegiatan Nisha dan Zoey melalui layar ponselnya. Dia tidak menghiraukan karyawan yang sedang melakukan presentasi di depannya. Matanya di penuhi dengan pancaran kehangatan. Sesekali bibir seksinya tersenyum. Membuat hati karyawan yang berada di ruang meeting ikut merasakan bahagia.


Tidak biasa-biasanya suasana hati bos mereka sumringah seperti itu. Vanno memaklumi kelakuan bosnya. Dia berasumsi, pancaran kebahagiaan yang di rasakannya bosnya pasti pengaruh dari istri barunya. Vanno menjadi lebih bersyukur karena itu. Dia berharap bosnya bisa segera melupakan kesedihannya dan mendapatkan kebahagiaannya lagi.


"Demikian presentasi dari Saya, mungkin ada tanggapan?" Seorang manager dengan gugup menyudahi presentasinya. Dengan takut dia melirik Zico yang tampak acuh tak acuh terhadapnya. Manager itu melirik Vanno, meminta saran.


"Ehem, Pak... Presentasinya sudah selesai." Vanno berdehem.


"Lakukan saja yang menurutmu bagus." Zico menjawab asal. Matanya masih tidak teralihkan dari menatap ponsel. Karena tahu bosnya tidak ingin di ganggu, akhirnya Vanno mengambil alih untuk memimpin rapat hari itu.


Zico tetap menatap kegiatan yang di lakukan oleh Nisha dan Zoey. Nisha sedang membacakan cerita, sementara Zoey tidur-tiduran di pangkuan Nisha. Menjadikan kaki Nisha sebagai bantalnya. Sementara tangan Nisha membelai-belai dengan lembut rambut anak itu. Zico cemburu melihatnya. Dia juga ingin tidur seperti itu!! Dia juga ingin Nisha membelai rambutnya. Hah, sungguh kekanak-kanakan sekali sifatnya. Cemburu pada anak kecil yang memang memiliki hak seperti itu terhadap ibunya.


Zico ingat, Zoey ingin makan burger. Haruskah dia membelikannya? Zoey juga suka dinosaurus, perlukah dia membelikannya?


"Apa jadwalku selanjutnya?"


"Setelah rapat, Bapak perlu menemui perusahaan A untuk membahas sistem yang akan di luncurkan. Setelah itu..." (Bla...bla...bla...intinya jadwal Zico masih banyak)


"Skip jadwal yang tidak perlu."


"Maaf Pak. Hari ini tidak ada jadwal yang bisa di cancel. Kita sudah membatalkan pertemuan ini beberapa kali." Vanno memberanikan diri untuk menyanggah.


Zico menghela napas. Bila dia harus mengikuti semua jadwal, maka dia akan pulang larut malam. Padahal dia ingin segera pulang ke rumah. Ada Nisha dan bocah kecil itu yang menunggunya (mungkin saja).


Akhirnya Zico memutuskan untuk menyelesaikan semua jadwal. Dia akan terlihat sangat tidak profesional bila harus men-cancel berkali-kali jadwal yang sudah di tentukan.


***


Zico sampai di villa tengah malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.36. Zico melihat sekelilingnya. Keadaan villa tampak gelap. Sepertinya semua penghuni sudah tertidur. Zico pergi ke kamar utama, berharap bisa menemukan keberadaan Nisha.


Ternyata Nisha tidak ada di kamar utama. Zico  agak panik. Dia takut Nisha kabur darinya lagi. Zico mulai mencari ke kamar lainnya. Nisha belum juga di temukan. Akhirnya Zico mencari kamar yang letaknya paling dekat dengan kamarnya.


Dia berharap bisa menemukan Nisha di kamar itu. Pelan-pelan Zico membuka pintu kamar. Tiba-tiba hatinya menjadi lega. Dia melihat Nisha sedang tidur bersama Zoey. Pelan-pelan Zico mendekati mereka berdua. Dia duduk di pinggir ranjang sembari memperhatikan wajah-wajah yang tertidur pulas itu. Hatinya menjadi hangat.


Zico memperhatikan Zoey dengan serius. Bila Nisha sangat mencintai anak ini, maka dia juga akan berusaha untuk mencintainya juga. Anak itu adalah bagian dari Nisha, bila dia mencintai Nisha maka dia harus menerima semua kelebihan dan kekurangannya. Dia akan menganggap Zoey sebagai anaknya sendiri. Dia akan berusaha untuk mencintai Zoey. Semoga saja ketika nantinya dia memiliki  anak yang lain, perasaannya pada Zoey juga tidak akan berubah.


Zico berusaha untuk berdamai dengan takdir. Bila takdirnya harus menikahi Nisha yang sudah memiliki anak, maka dia akan menerima takdir itu. Dia akan menjalani takdirnya dengan bahagia.


Zico mengusap kepala Zoey dengan lembut. Zico merasa kasihan pada anak itu. Di umurnya yang sekecil itu, dia tidak di dampingi sosok seorang ayah di sampingnya. Dia akan berusaha menjadi sosok itu. Dia akan berusaha untuk menjadi ayah yang baik bagi Zoey. Semoga hubungannya dengan Nisha akan semakin baik.


"Mom...Mommih..." Suara Zoey membuat Zico terkejut. Dia segera menghentikan aksinya. Dia menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Nisha. Berharap Zoey tidak melihat keberadaannya.


Zico terdiam. Menunggu-nunggu drama selanjutnya. Setelah hampir sepuluh menit menunggu, tidak ada tanda-tanda suara Zoey lagi. Zico memberanikan diri untuk mengintip bocah kecil itu. Zico melihat bocah itu sedang tertidur dengan nyenyaknya. Zico menghembuskan napas lega. Ternyata Zoey sedang mengigau. Zico merasa mengkhawatirkan yang tidak perlu.


Suara Zoey meredupkan nafsu birahinya. Akhirnya Zico memutuskan untuk tidur saja. Dengan erat dia kembali memeluk Nisha dan tertidur dengan lelapnya.


***


"Lepasin!! Lepasin!! Jangan pegang Mommih!! Ini Mommihnya Zoey!! Lepasin!!" Pagi datang di sambut dengan teriakan Zoey.


Nisha dan Zico sama-sama terbangun. Mereka menatap bocah kecil itu dengan bingung.


"Uncle, lepasin Mommih!! Jangan pegang-pegang!!" Tangan kecil Zoey berusaha menarik-narik tangan Zico yang masih melilit pinggang Nisha dengan erat.


Nisha mengusap matanya. Menatap Zoey dengan bingung. Kemudian dia menatap Zico yang masih berbaring di sebelahnya.


"Akhh!" Nisha berteriak kaget. Dia segera menjauhkan tubuhnya dari Zico, tapi Zico tidak membiarkannya. Dia masih saja memeluk pinggang Nisha. Malah dia semakin menarik tubuh Nisha agar semakin mendekat dengannya.


"Le-lepasin. Zoey lihat..." Nisha berbisik. Namun Zico tidak menggubrisnya. Dia masih saja memeluk Nisha. Sementara senyum jahil tampak di wajahnya.


"Uncle!! Lepasin Mommih!! Jangan pegang Mommih!! Mommih punya Zoey!!"


"Mommy-mu juga milik Uncle." Zico menjawab dengan santai. Dia sangat suka menggoda Zoey. Dia suka melihat tatapan marah dan cemburu di mata anak laki-laki itu. Mata itu mengingatkan pada dirinya sendiri. Mata yang menunjukkan kemarahan ketika sesuatu yang menjadi miliknya di sentuh orang lain.


"Gak!! Mommih milik Zoey!!" Zoey berteriak marah, dia mendekati Zico dan menggigit tangannya.


"Auuww...Auuuww... Ampun-ampun. Iya-iya, Mommy punya Zoey. Lepasin dulu." Zico mengaduh-ngaduh. Bukan tanpa alasan dia melakukannya. Zoey benar-benar mengigitnya dengan sekuat tenaga. Lengannya sampai berdarah.


"Zoey, lepasin Nak. Tangan Uncle jadi luka tuh." Nisha memeluk tubuh Zoey. Berusaha menjauhkan anak itu dari Zico. Akhirnya Zoey melepaskan gigitannya. Dia memeluk ibunya dengan erat, menyatakan kepemilikannya. Tatapan matanya menunjukkan kemarahan pada Zico.


"Mommih punya Zoey!!" Katanya dengan tegas.


Zico tersenyum lucu. Ya, siang hari Mommy milikmu, tapi malam hari dia akan menjadi milikku, pikir Zico penuh arti.


***


Happy Reading ^^