Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 87 - Nasib Seorang Zevana



Masih banyak hal yang harus Zico lakukan. Salah satunya adalah membuat perhitungan dengan wanita licik itu.


“Cari dia, dan seret dia ke basecamp!”


“Baik Pak.”


Bila mengingat pengakuan Mamanya, hati Zico masih di lingkupi dengan perasaan amarah. Dia sudah berusaha mengorek-ngorek lebih dalam apa saja yang di lakukan oleh kedua wanita itu, tapi Nisha tidak kunjung membuka mulut. Nisha menganggap kejadian itu hanya masa lalu saja dan menyuruhnya untuk membiarkannya. Tapi dia tidak bisa membiarkannya.


Karena Zico tidak bisa mengorek informasi dari Nisha, dia memutuskan untuk mengecek CCTV di apartemennya yang lama. Memang membutuhkan waktu untuk mencari hardisk dari rekaman CCTV lima tahun yang lalu, tapi dia berhasil menemukannya. Amarahnya semakin memuncak ketika melihat kelakuan Mama dan Zee. Dia melihat kedua wanita itu membuat Nisha menangis sembari bersimpuh. Kemudian keduanya memaksa Nisha menelan sesuatu yang terlihat seperti obat. Dugaannya itu mungkin obat penggugur kandungan. Mama dan Zee melepaskan Nisha setelah Nisha sepertinya menyetujui sesuatu. Mungkin Nisha setuju mengikuti rencana mereka.


Zico mengingat-ngingat kejadian itu. Ahh, betapa bodohnya dia dulu? Mengapa dia tidak berpikir ke arah itu? Seharusnya dia sudah bisa menduga dan mencari-cari penyebab perubahan sikap Nisha terhadapnya. Tapi karena dirinya terlalu bodoh, dia mengabaikan itu semua. Andaikan dulu dia mencari tahu lebih dalam, dia akan bisa mencegah semua kejadian ini. Dirinya dan Nisha tidak akan berpisah seperti ini.


Mama dan Zevana sudah membuat hidupnya dan Nisha sangat menderita. Dia tidak bisa membiarkan mereka untuk hidup dengan damai. Mereka harus merasakan apa yang di rasakannya! Mereka harus merasakan betapa sakitnya perasaan yang di rasakannya!!


“Sedang telepon siapa?” tiba-tiba Nisha datang tanpa di sadarinya. Zico berharap semoga Nisha tidak mendengarkan isi pembicaraannya.


“Ehm, klien…”


“Hari ini mau berangkat kerja?”


“Ya, ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Begitu selesai, Aku akan segera pulang.”


“Zi?”


“Hem?”


“Kamu tidak sedang merencanakan hal yang aneh-aneh kan?” Nisha bertanya dengan ragu. Dari raut wajahnya saja Nisha bisa tahu kalau suaminya itu bukan tipe yang mudah melepaskan musuhnya begitu saja.


“Merencanakan apa? Jangan berpikir terlalu jauh Sayang.” Zico merengkuh tubuh Nisha dan mengecupnya bertubi-tubi. Perasaan cintanya semakin tumbuh besar dengan di ikuti perasaan bersalah. Betapa banyak rasa sakit yang di alami wanita ini? Dan ketika Nisha merasakan rasa sakit, dia tidak berada di sisinya. Dia membiarkan Nisha sakit seorang diri. Perasaan bersalah menghantui Zico. Dia semakin merengkuh Nisha erat-erat.


“Kamu sudah berjanji akan membiarkan semuanya berlalu. Kamu berjanji akan melupakan apa yang sudah terjadi dan fokus pada masa depan Kita. Kamu tidak boleh mengingkarinya.”


“Ya, Aku janji. Kasih Aku kecupan.” Zico memonyongkan mulutnya di sambut dengan kecupan manis Nisha. Tak berhenti sampai di situ, Zico semakin memperdalam ciumannya. Dia semakin merengkuh tubuh Nisha dengan lebih erat, tangannya mulai menjalar di sekujur tubuh Nisha. Nisha merasa ada sesuatu yang mengganjal di area perutnya. Hah, rupanya suaminya telah birahi.


“Zi…St-stop…Stooop…” Nisha menjauhkan tubuhnya dari rengkuhan tangan Zico.


“Aku masih belum puas Sayang. Berikan Aku bibirmu…”


“Stooopp. Ada Zoey di depan.” Mendengar nama Zoey seketika membuat Zico menghentikkan aksinya. Matanya tampak berbinar-binar.


“Dimana kesayanganku…” Zico pergi meninggalkan Nisha dan berjalan ke ruang makan. Dia pergi mencari Zoey. Mendekap Zoey semalaman rupanya masih belum membuatnya puas. Nisha tersenyum maklum melihat kelakuan suaminya.


***


“Siram dia!”


“Baik Pak.”


BYUUURRR


Zevana menatap sekitar. Ada sekitar hampir delapan orang mengelilinginya. Dia tidak bisa menatap wajah-wajah itu dengan jelas karena pantulan tubuh mereka membelakangi cahaya. Tapi dari gestur yang di tunjukkan, sepertinya orang-orang itu akan membahayakan dirinya. Zevana berteriak, tapi suara tidak kunjung keluar dari mulutnya.


“Buka lakbannya.”


“Baik Pak.”


Zevana memfokuskan matanya pada suara yang sangat di kenalnya. Sepertinya suara itu adalah suara dari pimpinan gerombolan manusia-manusia barbar yang ada di depan matanya. Zevana begitu terkejut ketika melihat wajah yang di kenalnya, dia adalah Zico!! Suaminya!!


“Zi!! Kenapa Kamu mengikatku seperti ini? Lepaskan Aku Zi!! Siapa orang-orang ini?!”


“Berbicaralah ketika Aku menyuruhmu berbicara.” Zico berkata dengan dingin.


“Zi… Lepaskan ikatanku. Jangan membuatku takut…” Zevana semakin gemetar mendengar nada dingin Zico. Mengapa laki-laki itu melakukan hal seperti ini terhadapnya? Apa salahnya? Apa Zico marah karena mengetahui perselingkuhannya? Apa Zico marah karena dirinya belum menandatangani surat gugatan cerai itu? Bila permasalahannya itu, dia akan menandatangani surat itu sekarang juga, asalkan Zico mau melepaskannya.


Di ikat dan di bawa ke tempat sepi seperti ini dengan di kelilingi pria-pria aneh membuat Zevana gemetar ketakutan. Dia akan melakukan apa saja yang di perintahkan Zico terhadapnya, asalkan laki-laki itu mau membebaskannya. Di suruh pergi jauh dari kehidupannya pun dia akan mau, meskipun konsekuensinya dia akan jatuh dalam kemiskinan. Itu akan lebih baik, di banding harus berada di tempat menakutkan seperti ini.


“Lepaskan ikatannya. Berikan kertas itu padanya.” Zico memberi perintah dengan dingin. Salah seorang pria membuka ikatan di tangan Zevana, sedangkan pria yang lain memberikan kertas dan pena kepadanya.


“Tanda tangani surat itu.”


“Aku akan menandatangani apapun Zi. Apakah dengan menandatangani berkas ini Kamu akan membebaskanku?” tanpa membaca terlebih dahulu, Zevana menandatangani berkas-berkas itu. Raut wajah penuh pengharapan terlihat jelas di matanya. “ Seharusnya Kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini hanya untuk membuatku menandatangani kertas-kertas itu Zi. Aku sudah menandatangani, bisakah Aku keluar sekarang?” Zevana menatap Zico lekat-lekat. Tatapan dingin dan membunuh laki-laki itu menciutkan nyalinya.


“Apa Kamu tidak ingin mengakui dosa-dosamu?”


“Do-dosa apa Zi? Per-perselingkuhanku? Ak-aku yakin Kamu sudah mengetahuinya. Si-sikapku yang me-merendahkanmu? Ak-aku minta maaf untuk hal itu Zi. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Ak-aku hanya mabuk…”


“Sepertinya Aku perlu menyegarkan ingatanmu. Tunjukkan padanya.”


“Baik Pak.”


Salah seorang pria menghampiri Zevana sembari membawa tablet di tangannya. Kemudian dia menunjukkan adegan demi adegan. Semakin melihatnya, membuat Zevana semakin ketakutan. Zico sudah mengetahui semuanya! Tamat! Tamatlah riwayatnya!


“Zi…Zi… ini tidak seperti yang Kamu lihat. Ak-aku hanya bermain-main dengannya. Kam-Kami tidak benar-benar serius melakukannya. Ka-kami hanya bermaksud untuk menakut-nakutinya. In-ini tidak seperti yang Kamu pikirkan Zi…” Zevana menjelaskan dengan terbata-bata. Airmata tampak beruraian di wajahnya yang penuh dengan ketakutan.


Zico mengangkat tangannya. Suatu tanda untuk menyuruh Zevana menutup mulutnya. Zico berdiri dari duduknya. Kemudian dia berbalik ke arah pintu keluar. Sebelum mencapai pintu, dia menghentikkan langkahnya sejenak dan berkata.


“Hancurkan harga dirinya dan buang dia ke rumah sakit jiwa.”


“Baik Pak!” Jawab ke delapan orang serempak. Tatapan mata penuh nafsu tampak di mata mereka. Zevana menatap mereka dengan penuh ketakutan. Salah seorang datang mendekat padanya dan merobek bajunya dengan paksa.


“Ap-apa yang kalian lakukan?!! Menyingkir kalian dariku!! Ak-aku adalah Nyonya dari Tuan kalian! Ja-jangan mendekat! Jangan mendekat!! Akkhhhh!!”


***


Happy Reading 🥰🤗