
“Ya?”
“Darl… Ini Aku. Tebak Aku dimana sekarang?”
“Zee? Zevana?”
“Iya Darl… Ini Aku. Kamu senang kan mendengar suaraku. Tebak Aku dimana sekarang?”
Zico terkejut mengetahui siapa yang menghubunginya. Beberapa bulan yang lalu dia berusaha menghubungi gadis itu, tapi nomornya sudah tidak aktif. Mengapa sekarang Zevana kembali menghubunginya? Ketika dia sudah berusaha untuk move on dan mulai melupakannya?
“Darl, Darl? Kamu masih di sana kan?”
“Iy-ya…”
“Tebak Aku dimana Darl…”
“Di LN?”
“Tetoott… jawaban salah. Aku sedang di apartemenmu Darl. Yeeeaaayyy.”
“APA?!!”
“Aku sedang di apartemen Kita Darl. Aku sudah kembali ke sisimu. Kamu senang kan? Iya kan?”
JEDAAARRRR!!!
Zico merasa ada petir yang menyambar di atas kepalanya. Zevana sedang di apartemennya! Ada Nisha di apartemen itu. Apakah kedua wanita itu sudah bertemu? Apa yang sudah terjadi? Apa Zee tahu bahwa Nisha adalah istrinya dan sedang mengandung anaknya? Apa Nisha tahu kalau Zee mantan tunangannya? Argghh, apa yang harus di lakukannya sekarang?
“Kamu, Kamu tunggu disana. Jangan kemana-mana. Aku akan segera datang.”
“Aku akan selalu menunggumu Darl, muachh…” Zico mematikan panggilan suaranya. Dia segera menghubungi asistennya.
“Siapkan mobilku.”
“Mau kemana Pak? Biar Saya antar…”
“Pulang. Kamu tidak perlu mengantarku.”
“Apa karena ibu Nisha lagi?”
“Itu bukan urusanmu Gerry!”
“Ba-baik Pak.”
Zico memacu kendaraannya. Pikirannya begitu kalut. Dia tidak menyangka Zevana akan datang lagi ke dalam hidupnya. Terlebih wanita itu muncul secara dramatis. Apa yang harus di katakannya pada Zee? Apa yang harus di katakannya pada Nisha? Arrggghh!!
Sembari menyetir, Zico berusaha menghubungi Nisha. Namun nomor wanita itu selalu tidak aktif. Dia berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada wanita itu.
Begitu sampai di depan pintu apartemen, Zico langsung menerobos masuk.
“Darl, Aku sangat merindukanmu!!” Zevana memeluk tubuh Zico dengan erat.
“Zee, jangan seperti ini…”
“Kenapa? Apa Kamu tidak suka melihatku?” Zevana tidak melepaskan pelukannya. Mata Zico berkeliaran kesana-kemari, mencari keberadaan Nisha. Tapi sepertinya di apartemen itu hanya ada mereka berdua.
“Bukan seperti itu. Le…lepaskan Aku dulu…” Zico berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Zevana.
“Kamu kenapa sih Darl? Sepertinya Kamu tidak suka melihatku.”
“Itu tidak seperti yang Kamu pikirkan Zee. Aku hanya terkejut tiba-tiba Kamu datang seperti ini…” Mata Zico tetap berkeliaran kesana-kemari. Zevana melihat hal itu.
“Siapa sih yang Kamu cari Darl?”
“Bu-bukan siapa-siapa…”
“Apa ART bermata bulat itu?”
“ART?”
“Iya. Bukannya Kamu memiliki ART muda bermata bulat? Tadi Aku bertemu dengannya disini.”
“Dimana dia sekarang?!”
“Aku menyuruhnya pergi untuk sementara waktu. Karena Aku ingin menghabiskan waktu berdua…” Zico tidak mendengarkan perkataan Zevana lagi. Dia langsung berlari keluar dari apartemen. Suara Zevana yang memanggil-manggil tidak di hiraukannya.
“Iya Tuan?”
“Apa dia bersamamu?”
“Nona sedang bersama Saya Tuan.”
“Ahh, syukurlah. Jaga dia untukku. Hari ini tidak usah kembali ke apartemen dulu. Ada urusan yang harus Kuselesaikan.”
“Baik Tuan.”
“Jangan biarkan dia pergi kemana pun. Aku akan menjemputnya begitu masalahnya sudah selesai.”
“Baik Tuan.”
“Terima kasih. Aku mengandalkanmu Bu.”
“Iya Tuan.”
Hati Zico lega begitu mengetahui Nisha berada di tangan orang kepercayaannya. Satu-satunya hal yang harus di lakukannya sekarang adalah menyelesaikan masalahnya dengan Zevana.
“Apa yang membuatmu kembali Zee? Apa mimpimu sudah tercapai?”
“Darl, kenapa jadi dingin seperti ini sih. Aku kembali karena Aku merindukanmu…”
“Tapi Kamu yang memutuskan hubungan Kita malam itu.”
“Darl, Aku benar-benar tidak sedang berpikir jernih saat itu. Selepas itu, Aku sangat menyesal dengan keputusanku. Berulang kali Aku menyalahkan diriku sendiri karena sudah bersikap seperti itu. Aku merasa sangat hampa dan tidak bahagia. Baru Aku memahami, bahwa kebahagianku bukan karena mimpi tercapai, tapi berada di sisimu Darl. Aku sangat mencintaimu Darl. Maafkan Aku…”
“Lalu kenapa nomormu tidak bisa di hubungi?”
“it-itu karena Aku baru saja kecopetan. Tasku yang berisi ponsel dan barang lainnya di copet Darl. Kenapa Kamu meragukanku Darl? Apa Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” Zevana mendekat. Wajahnya menunjukkan ekpresi sedih.
“Lalu bagaimana dengan mimpimu? Kamu mengakhiri hubungan Kita karena hal itu…”
“Aku sudah meninggalkan semua mimpiku Darl. Sekarang yang menjadi prioritas utamaku hanya Kamu Darl. Karena Aku sadar bahwa mimpi yang sebenarnya itu ada di depan mataku, yaitu Kamu Darl…” Zevana menyandarkan kepalanya di lengan Zico. “Darl, Kamu mau kan jika Kita bersama lagi? Toh keluarga tidak ada yang tahu bahwa Kita sempat putus…”
Zico melepaskan dirinya dari Zevana dan beranjak dari duduknya. Sulit untuk berpikir jernih ketika Zevana selalu menempel padanya. Melihat Zevana, wanita yang dulu sangat di cintainya sedang berdiri di depannya tidak menunjukkan gejolak apa-apa.
Hatinya terasa sangat hampa. Wanita itu seperti orang asing baginya. Kemana perasaan yang dulu pernah ada? Kemana perasaan cinta sekaligus sakit hati yang di timbulkan oleh wanita ini? Benarkah sekarang dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Zevana?
Daniel menyuruhnya untuk memastikan perasaannya terhadap cinta masa lampaunya. Sekarang dia sudah memastikan perasaan itu. Dia, Zico Giovanno Putra sudah tidak mencintai Zevana Gloria Putri!!
“Zee, sepertinya Kita tidak bisa bersama lagi.”
“Apa maksudmu Zi?! Apa Aku tidak salah dengar?!”
“Aku minta maaf Zee, Kita tidak bisa bersama lagi…”
“Kenapa?! Apa alasannya?! Apa karena ada wanita lain? Apa karena ART bermata bulat itu?!” Zevana mulai meraung. Sikap manis, lemah lembut, dan penuh rayu berubah menjadi angkara murka. Zico sangat memahami sifat Zevana itu.
“Tidak ada hubungannya dengan siapa pun. Ini hanya tentang Kita. Perasaanku sudah berubah…”
“Itu tidak mungkin!! Sudah bertahun-tahun Kita pacaran. Aku tahu Kamu sangat mencintaiku. Selalu menuruti semua kemauanku. Tidak mungkin perasaan itu menguap hanya dalam waktu beberapa bulan saja! Katakan padaku sejujurnya Zi, ada apa ini?!”
“Tidak ada apa-apa Zee. Aku tahu mungkin sikapku ini akan melukai harga dirimu. Aku minta maaf untuk hal itu. Tapi keputusanku masih tetap, Kita tidak bisa bersama lagi.”
“Aku akan meninggalkanmu di sini dan membiarkanmu berpikir. Pikiranmu pasti sedang tidak jernih. Aku benar-benar kecewa dengan sikapmu Zi!” Zevana beranjak pergi sembari membawa kopernya.
Zico menghela napas lega. Setidaknya untuk saat ini dia bisa terbebas dari wanita itu. Meskipun penyelesaian kurang baik, tapi dia yakin suatu saat nanti Zevana bisa menerima keputusannya dengan lapang dada.
Sekarang yang harus di lakukannya adalah menjemput istri dan anaknya.
***
Readers sayang 🥺🥺
Maaf ya hanya bisa upload 5 episod hari ini. Padahal target Saya upload 10 episod. Ternyata Saya tidak bisa memenuhi target Saya sendiri 😩🙏. Untuk episod selanjutnya di usahakan untuk update tiap hari, tapi bila tidak update bukan berarti Saya berhenti menulis novel ini atau hiatus. Itu berarti ada suatu kondisi yang membuat Saya belum bisa menulis.
Terima kasih atas kesetiannya terhadap novel ini. Saya sangat menghargainya. Terima kasih banyak para readersku sayang. Love you All 😘😍🥰❤️💓💋💖
ErKa 🥰