
Siang itu Zico melakukan meeting. Meskipun tubuhnya di ruang meeting, tapi pikiran dan hatinya berada di rumah. Baru beberapa jam dia berpisah dengan mereka, tapi hati dan tubuhnya sudah merindukannya.
Zico membuka ponsel, mengaktifkan fitur live CCTV dan menghubungkan pada CCTV di villa. Dari puluhan CCTV yang berada di villa, Zico mencari keberadaan ibu dan anak itu pada satu per satu kamera. Bibirnya tersenyum ketika melihat mereka berada di ruang keluarga. Zico memperbesar tampilan layar, agar dia bisa lebih leluasa menatap wajah orang-orang tersayangnya.
Zoey sedang mewarnai, sedangkan Mommy-nya sedang melamun sembari tersenyum-senyum. Apa yang di pikirkan wanita itu hingga tersenyum seperti itu? Beberapa saat kemudian, Nisha beranjak dari duduknya. Pergi ke pintu depan. Sepertinya ada orang lain yang mengunjungi mereka.
Zico mengarahkan kamera CCTV ke pintu depan, wajahnya tampak terkejut begitu melihat tamu yang datang berkunjung.
"Vanno, siapkan heli. Kita pergi!"
"Sekarang Pak?"
"Ya."
"Ta-tapi Kita sedang meeting Pak."
"Meeting bubar. Lanjutkan besok." Zico keluar dari ruang meeting dengan terburu-buru. Vanno mengikuti di belakangnya dengan tergopoh-gopoh. Tangannya tampak sibuk menelepon sana-sini.
Zico berjalan ke lantai gedung paling atas. Disana terdapat landasan helikopter pribadinya. Kali ini dia tidak menggunakan pesawat jet, karena menggunakan helikopter di nilai lebih praktis.
"Kemana Kita Pak?"
"Villa."
"Baik Pak."
Di dalam heli, Zico masih memantau gerak-gerik Mama dan kedua iparnya. Tubuhnya bergetar karena amarah. Apa yang di lakukan oleh para wanita itu? Mengapa mereka menemui Nisha?! Sejak kapan mereka mengetahui keberadaan Nisha? Apa mereka akan mengusir Nisha?!
Zico bolak-balik menelepon nomor Mamanya, tapi nomor selalu di luar jangkaun. Dia juga menelepon kedua iparnya, tapi sama saja.
Tubuh Zico semakin bergetar hebat ketika melihat Nisha dan anaknya menangis. Sebenarnya apa yang mereka katakan? Mengapa Nisha sampai menangis seperti itu?!
"SIAL*N!!" Zico meninju rangka besi di sampingnya. "Percepat!!"
"Baik Pak."
Lima belas menit kemudian, Zico sudah menginjakkan kakinya di depan Villa. Dengan langkah panjang dia segera masuk ke dalam villa. Tujuannya adalah ruang keluarga. Sama seperti yang di lihatnya di CCTV, Nisha masih tampak menangis dengan Zoey di pangkuannya. Luapan kemarahan memenuhi dada Zico. Tanpa bisa di kontrol, dia langsung membentak ketiganya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!"
Semua yang ada di ruangan itu tampak terkejut. Semua mata memandang kepadanya. Zico berjalan ke arah Nisha dan Zoey, menarik tangan wanita itu.
"Zi..." Nisha segera memeluk Zico dengan erat. Tubuhnya bergetar karena tangis. Zico salah mengartikan tangisannya. Dia menyangka Nisha menangis karena kata-kata keluarganya.
"Apa yang kalian lakukan padanya?!!"
"Zi..." Mama tampak ketakutan. Dia takut dengan kemarahan yang di tunjukkan anaknya. Tubuh Mama gemetar. Mama sangat sadar dengan kesalahannya. Tapi Mama takut untuk mengakuinya. Mama sangat tahu dengan sifat anaknya. Bila sudah marah besar, biasanya anaknya itu akan menjadi tak terkontrol. Siapa pun yang membuatnya marah seperti itu, maka akan di hancurkannya.
"Zi, maafin Mama Zi!! Mama sangat menyesal." Mama berlari ke arah Zico dan bersimpuh di bawah kaki anaknya. Mama menangis tersedu-tersedu. Zico tampak terkejut melihat mamanya bersikap seperti itu. Biasanya wanita yang sudah melahirkannya ini akan bersikap anggun, arogan, kerasa kepala, memandang orang lain lebih rendah darinya. Lalu mengapa wanita tinggi hati itu sekarang tengah bersujud di depannya? Yang notabene anaknya? Kesalahan apa yang di lakukannya hingga dia rela merendahkan dirinya seperti itu?
Retha dan Qintan berdiri. Berusaha untuk memapah Mama agar berdiri.
"Tidak!! Mama tidak akan berdiri!! Mama akan seperti ini sampai mereka memaafkan Mama!" Mama bersikeras. Tangannya meraih kaki Zico dengan erat. Nisha masih saja menangis dengan Zoey di pelukannya. Dia menatap wajah Zico dengan raut wajah penuh penyesalan. Dia sangat merasa bersalah terhadap laki-laki itu.
"Apa yang Mama lakukan? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!" Zico menatap Mama dan Nisha dengan bingung.
"Zi..." Nisha meraih tangan Zico. Dari tatapan matanya dia tampak ingin menjelaskan sesuatu.
"Biar Mama yang menjelaskannya. Ini semua salah Mama. Biar Mama yang menanggung semua dosa Mama." Mama mencegah Nisha untuk menjelaskan. Nisha menganggukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi?! Nisha, jelaskan padaku apa yang terjadi?"
"Zi, Mama ingin berbicara denganmu. Ijinkan Mama untuk memberi penjelasan." Nisha meraih tangan Zico dengan hangat. Zico merasa tatapan mata Nisha benar-benar berubah. Seperti ada rasa penyesalan yang mendalam dan juga cinta.
"Berdirilah. Aku harap kali ini Mama bisa memberikanku penjelasan yang bagus." Zico berkata dengan dingin.
Zico berjalan ke arah ruang kerja, di ikuti Mama di belakangnya. Sementara Nisha dan kedua iparnya tetap menunggu di ruang keluarga.
"Apa yang terjadi? Mengapa Mama datang kesini? Mengapa Mama membuat mereka menangis lagi? Apa yang Mama lakukan terhadapnya?!" Zico tidak sabar, dia segera membombardir Mama dengan berbagai pertanyaan. Mama semakin gemetar di buatnya. Semakin melihat Zico marah, kepercayaan diri Mama untuk berkata jujur semakin rendah. Tapi dia harus melakukannya, karena ini demi kebahagiaan anaknya juga.
"Zi, Mama minta maaf. Mama sudah berdosa terhadap kalian. Mama yang menyebabkan kalian berpisah..."
"Apa maksud Mama berkata seperti itu?"
"Zi, apa Kamu ingat kenapa Nisha pergi?" Mata Mama terus-menerus berurai airmata.
"Aku sudah melupakannya. Aku sudah memaafkan semua kesalahannya di masa lalu. Aku akan memulai lagi dari awal. Aku tidak ingin seorang pun menghalangi niatanku, termasuk keluargaku!" Zico memberikan nada ancaman di setiap perkataannya.
"Zi, se-sebenarnya Nisha tidak bersalah Zi. Semua salah Mama dan Zevana. Mama terlalu di butakan oleh kedudukan hingga Mama berbuat seperti itu. Mama sangat menyesal Zi..."
"Apa maksudnya Nisha tidak bersalah?! Katakan dengan jelas!"
"Mama yang membuat dia pergi Zi!! Mama dan Zee yang mengatur semuanya!! Mama yang menyuruh Nisha untuk mengugurkan kandungannya agar Kamu bisa membenci dan meninggalkannya!! Semua itu salah Mama Zi!! Mama sangat berdosa..."
Tubuh Zico gemetar karena amarah. Dia mengambil asbak di meja dan melemparkannya ke dinding.
PRAAANGG!!
Serpihan asbak mengenai dirinya sendiri. Matanya di penuhi dengan angkara murka. Dia menatap Mama dengan tatapan membunuh. Zico mendekati Mama, meraih tubuh Mama agar berdiri dan menatapnya dengan jelas.
"Katakan sekali lagi!! Katakan sekali lagi kalau Mama yang menyuruhnya untuk mengugurkan kandungannya!! Katakan sekali lagi!!" Zico mengguncang-guncang tubuh ibunya. Raut wajahnya seperti orang gila. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa yang mengatur semua skenario ini adalah keluarganya.
"Tega Kamu Ma!! Tega!! Tidakkah Mama kasihan pada bayi kecil itu!! Dia cucumu Ma!! Kalau Kamu tidak menyukainya, abaikan saja!! Jangan membunuhnya!! ARRRGHHH!! ARRGHHHH!!" Zico berteriak kesetanan. Perasaan terluka kembali memenuhi dadanya. Ekpresi marah, sakit hati, kesedihan bergejolak di wajahnya.
"Dia anakku Ma!! Kamu tahu Aku sangat menyayanginya!! Kamu tahu Aku gila karenanya! Dia masih kecil, tapi Kamu sudah membunuhnya!! Booyyy!! Boyyyy!!" Zico berteriak-teriak sendiri. Teriakan kesedihan yang menyayat hati.
***
Happy Reading 🥰