Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 57 - Jangan Memaksaku lagi, Aku Akan Pergi



“Bagaimana ini Ma? Dokter itu menolak membantu Kita. Apa yang akan Kita lakukan sekarang?” Zevana bertanya dengan sedikit mendesak. Dia tidak menyangka dokter keluarga Zico malah menolak permintaan mereka. Apa pengaruh Zico lebih besar di bandingkan mamanya? Benarkah Mama bisa membantunya untuk mendapatkan Zico?


“Biarkan Mama berpikir Zee.” Mama terdiam. Memikirkan segala cara yang bisa di gunakannya untuk membuat Zico menjauh dari wanita itu. Zidan sudah tidak bisa di harapkannya lagi. Kurang ajar sekali anak itu! Dia hanya seorang dokter di keluarga besarnya, mengapa berani sekali menolak permintaannya? Awas saja, dia akan menghancurkan karier dokter itu. Tapi hal itu bukan menjadi prioritasnya. Yang harus di lakukannya sekarang adalah menyingkirkan wanita rendahan itu dari kehidupan anak kesayangannya.


“Ma, apa wanita itu tidak memiliki kelemahan? Bukankah Mama sudah membayar orang untuk menyelidikinya?”


“Akh, Mama punya ide Zee!!”


***


Empat hari sudah berlalu dari insiden itu. Selama empat hari pula Zico tidak pulang ke apartemen mereka. Terakhir kali Nisha melihat Zico adalah sepulangnya mereka dari rumah sakit. Zico membawanya kembali ke apartemen dan kemudian menghilang.


Sebenarnya laki-laki itu sedang pergi kemana? Kenapa tidak pulang? Apakah Zico benar-benar kecewa terhadapnya? Menganggapnya benar-benar memiliki hubungan khusus dengan Tuan Daniel?


“Nona, Saya akan pergi ke pasar. Tuan Zico berpesan untuk membawa Anda kemana pun Saya pergi…”


“Apa dia menghubungi Ibu?”


“Iya Nona…”


“Mengapa Aku tidak bisa menghubunginya? Apa dia sudah berganti nomor? Boleh Saya lihat nomornya Bu?”


“Iya Nona.” Bu Retno menyerahkan ponselnya dan menunjukkan pada Nisha. Nisha mencocokkan nomor itu. Nomor yang sama, tapi mengapa dia tidak bisa menghubunginya? Apa laki-laki itu sudah memblokir nomornya? Nisha menghembuskan napas kecewa.


“Ayo Non, ikut Saya ke pasar.”


“Tidak Bu. Saya sedang ingin istirahat. Tubuh Saya capek sekali…”


“Apa perlu Saya mengantar Anda ke dokter?”


“Ti-tidak Bu, tidak perlu. Saya hanya ingin istirahat.”


“Tapi bila Tuan Muda tahu Saya meninggalkan Nona, beliau pasti akan marah…”


“Katakan padanya bahwa Ibu sudah membawa Saya. Saya benar-benar tidak akan kemana-mana. Saya hanya ingin istirahat. Ibu bisa percaya pada Saya.” Nisha berusaha meyakinkan. Akhirnya setelah melalui beberapa kali perdebatan, bu Retno mengalah dan meninggalkan Nisha ke pasar.


Sepeninggalnya bu Retno, Nisha memutuskan untuk tidur-tiduran di kamar. Pikirannya melantur kemana-mana. Hal paling besar yang di pikirkannya adalah Zico. Bagaimana kabarnya? Apa yang sedang di lakukannya? Apa dia sudah makan? Apa dia sehat? Apa dia masih tidak mempercayainya? Berbagai pikiran memenuhi kepalanya.


Ketika sedang asyik dengan pikirannya sendiri, Nisha mendengar seseorang membuka pintu apartemen. Siapa yang datang? Apakah bu Retno? Mengapa cepat sekali, bukankah beliau baru saja pergi? Apakah itu Zico? Memikirkan kemungkinan itu membuat Nisha sumringah. Dia segera keluar dari kamarnya dan berlari keluar untuk melihat siapa yang datang.


DEG!!


Nisha syok melihat siapa yang datang. Dua orang wanita yang berbeda generasi sedang berdiri di depannya dengan sikap mendominasi. Seketika hati Nisha menjadi ciut, wajahnya berubah menjadi pucat. Tubuhnya mulai gemetar.


Zevana menatap Nisha dengan kebencian yang nyata. Terlebih ketika dia melihat perut Nisha. Ingin rasanya dia meninju perut itu. Bila sesuatu di dalam perut itu tidak ada, maka Zico akan menjadi miliknya!!


“Duduk di sini! Ada yang mau kukatakan!” Mama memerintah sembari menunjuk kursi yang di maksud. Setelah sadar dari rasa terkejutnya, Nisha menuruti perintah Mama. Dia duduk di kursi yang di tunjuk, sedangkan Mama dan wanita muda itu duduk di seberang mereka. Nisha merasa pernah mengalami adegan ini sebelumnya. Bedanya kali ini yang datang bersama Mama bukan kedua kakak iparnya, melainkan wanita yang seharusnya menjadi istri suaminya. Perasaan bersalah menerjangnya.


“Kamu tahu dia siapa?” Mama menunjuk Zevana, yang masih melihatnya dengan tatapan ganas.


“Iy-iya…Sa-saya tahu…”


“Sa-sa-saya…”


“Kamu harus mengembalikan posisi itu padanya.”


“Sa-saya tidak bermaksud mengambil posisinya Nyonya. Sa-saya akan pergi se-setelah bayi ini lahir…” Nisha mulai berkaca-kaca. Dia benci dirinya yang lemah seperti ini.


“Kamu tidak perlu menunggu bayi itu lahir. Kamu bisa pergi sekarang. Kehadiranmu dan bayi itu benar-benar tidak berarti bagi Zico.”


“Mak-maksud Nyonya?”


“Apa Kamu tahu tujuan Zico membawamu ke rumah sakit beberapa hari yang lalu?!”


“It-itu…Sa-saya tidak tahu Nyonya…” Nisha memang benar tidak mengetahuinya. Sampai saat ini pun dia masih mempertanyakan hal itu.


“Dia membawamu untuk melakukan test DNA. Kamu tahu test DNA? Ahh, kupikir perempuan tidak berpendidikan sepertimu tidak akan mengetahuinya. Test itu di gunakan untuk mengetahui siapa ayah dari bayi yang Kamu kandung, paham?! Itu artinya Zico tidak mempercayaimu! Kamu dan bayimu tidak berharga di matanya!!” Nisha terhenyak mendengar penjelasan itu.


“It-itu pasti bohong. Di-dia sangat sayang anak ini. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu…”


“Hahaha, Kamu benar-benar wanita yang sangat naïf. Apa Kamu tahu melakukan test DNA di usia kehamilanmu ini bisa beresiko keguguran? Kalau Zico benar-benar percaya dan peduli dengan kalian, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu!” Zevana menimpali dengan geram. Rasanya, dia jijik banget melihat wanita sok polos di depannya itu.


“Zico tidak percaya bahwa anak yang Kamu kandung adalah anaknya! Dia juga tidak peduli resiko yang bisa saja terjadi. Itu artinya, dia benar-benar muak dan tidak peduli dengan kalian! Apakah Kamu sebagai wanita tidak memiliki harga diri?! Apa Kamu masih tetap akan berada di samping laki-laki yang sudah muak denganmu?!” Zevana berkata dengan berkobar-kobar.


“Kamu perempuan paling tidak tahu malu yang pernah Aku temui. Kamu sudah mengambil priaku! Dan Kamu dengan tidak tahu malunya masih ingin menempel padanya! Pergi Kamu dari hidup Kami! Kamu sudah merusak kebahagiaan Kami. Seharusnya Kami menikah, tapi Kamu menghancurkan semuanya! Dasar perempuan tidak tahu diri!” segala sifat elegan yang di tunjukkannya dengan penuh kepura-puraan luntur seketika. Zevana menunjukkan sifat aslinya. Mama hanya terdiam melihat amarah yang di tunjukkan Zevana. Dia bisa memakluminya.


“Gugurkan anak itu.” Mama berbicara dengan tegas. Nisha tersentak mendengarnya.


“Ak-aku tidak bisa. Ja-jangan memaksaku untuk melakukannya…” Nisha memeluk perutnya dengan erat. Berusaha melindungi janinnya.


“Bila bayi itu tidak ada, maka hubunganmu dengannya juga akan berakhir. Gugurkan segera!!


“Aku tidak bisa. Tolong jangan memaksaku untuk melakukannya…” Nisha mulai berurai airmata, tatapan matanya penuh dengan permohonan.


“Bila Kamu tidak bersedia melakukannya, maka Kami yang akan melakukannya. Zee, pegang tangannya.”


“Baik Ma.” Zee berjalan ke arah Nisha dan langsung memegang tangannya. Memiting tangan Nisha kebelakang. Sehingga membuat Nisha kesulitan untuk memberontak.


“Ap-apa yang kalian lakukan?” Nisha menangis. Tubuhnya meronta-ronta tak berdaya. Tenaga Zee lebih kuat di bandingkan dirinya, sehingga dia tidak bisa berbuat banyak.


“Kamu tidak mau menggugurkan kandunganmu. Maka Kami yang akan memaksamu. Buka mulutmu!!” Mama mendekat dan memaksa untuk membuka mulut Nisha. Di tangannya terdapat obat penggugur kandungan dengan dosis kuat.


“Ti-tidak…Uhmppp!!” Nisha menutup mulutnya rapat-rapat. Airmata tampak mengalir deras di matanya. Hati dan tubuhnya begitu sakit. Mengapa dia di perlakukan tidak adil seperti ini? Mengapa dia begitu lemah dan tidak bisa melawan? Adakah seseorang yang akan menolongnya? Adakah seseorang yang akan peduli pada mereka? Jawabannya adalah tidak!! Yang bisa menyelematkannya, hanyalah dirinya sendiri bukan orang lain.


“Ti-tidak!! AKU AKAN PERGI!! AKU AKAN PERGI!!” Nisha berteriak dengan putus asa.


***