Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 76 - Mengapa Wajahmu Terlihat Sangat Sedih?



Nisha meyakinkan ibunya bahwa Zoey sedang bersamanya dan


baik-baik saja. Ibunya begitu lega.


“Sampek kapan putuku nang kono Ndu?” (Sampai kapan cucuku di


sana Nak?)


“Sampai pekerjaanku selesai Bu. Mungkin beberapa bulan,


mungkin juga setahun…”


“Duh, kok cek suwine Ndu? Gak iso tah lek penggaweanmu di


gowo mrene? Ibu gak iso adoh-adohan karo cah kuwi.” (Duh, kok lama banget Nak?


Gak bisa kah pekerjaanmu di bawa kesini? Ibu gak bisa jauh-jauhan dengan anak


itu)


“Maaf Bu, sepertinya tidak bisa. Kami usahakan untuk


mengunjungi Ibu. Untuk sekolah Zoey, tarik saja berkas-berkasnya. Minta bantuan


Akbar dan Alma (read : kedua adik kembar


Nisha) untuk mengurusi administrasinya. Untuk biaya kuliah dan biaya hidup


akan Aku transfer segera. Maaf ya Bu, Nisha banyak merepotkan Ibu…”


“Gak Nak. Kamu gak pernah merepotkan Ibu. Malah Kamu adalah


anak Ibu yang paling mandiri. Ibu sangat bersalah karena sudah membuatmu


bertanggung jawab terhadap keluarga Kita.”


“Itu sudah menjadi tanggung jawab Nisha Bu. Jaga diri Ibu


baik-baik. Nisha akan segera kembali tanpa Ibu sadari…” Nisha berusaha untuk


menahan airmatanya, begitu pula dengan ibunya.


“Mana cucu Ibu? Biarkan Ibu melihatnya…”


“Hay Glandmaaa… Zoey udah sama Mommih…”


“Zoey seneng bisa sama Mommi?”


“He’eh. Zoey akan tinggal sama Mommih…”


“Zoey gak kangen Uti?”


“Kangen… tapi lebih kangen Mommih…”


“Zoey tinggal berdua saja?”


“Gaaakk… Zoey di sini sama Mommih dan…” Nisha segera meraih


ponselnya.


“Kami tinggal bertiga Bu. Ada satu orang ART yang akan


bantu-bantu Nisha jagain Zoey.”


“Oalah, Ibu pikir tinggal sama sapa Nduk.”


“Ya sudah Bu, Nisha sudahi dulu ya. Kapan-kapan Nisha hubungi


lagi.”


“Iyo wis lek ngunu Nduk. Jaga diri baik-baik ya Nduk. Jaga


kesehatan. Jaga cucu Ibu juga.”


“Iya Bu. Ibu sehat-sehat ya. Tunggu Nisha pulang ya Bu,


assalamu’alaikum…”


“Wa’alaikumsalam…”


Dan panggilan video itu pun berakhir. Nisha segera


menyerahkan ponselnya kepada Zico yang berdiri tak jauh darinya. Zico mengambil


ponsel itu dan segera menon-aktifkannya.


“Mommih, Mommih…”


“Ya?”


“Kita akan tinggal di sini?”


“Iya. Zoey suka gak?”


“He’eh. Suka. Rumahnya baguuuss ya Mihhh…”


“Zoey suka rumah bagus?”


“Sukaaaa… Tapi lebih suka sama Mommih.”


“Ihhh anak Ibu gemesin banget sih.” Nisha segera meraih tubuh


anaknya dan menciumnya dengan gemas.


Canda tawa ibu dan anak itu membuat Zico cemburu. Lagi-lagi


hatinya kembali sakit. Dia kembali ingat pada putranya yang telah tiada.


Mungkin kalau anaknya masih hidup, mereka akan hidup dengan bahagia. Bisa


bercanda tawa bertiga seperti itu. Melihat Nisha bercanda dengan anaknya


seperti itu seolah-olah membuat Zico seperti orang luar yang mencoba mengusik


kebahagian mereka.


Zico pergi ke ruang kerja, meninggalkan ibu dan anak di ruang


keluarga. Zico berusaha menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Dia kembali


mendalami kasus tuntutan yang di layangkan padanya. Berkutat dengan banyaknya


file membuat Zico lelah. Lama-kelamaan dia menjadi mengantuk. Pada akhirnya


Zico tertidur di ruang kerja.


***


“Mommih?”


“Ya?”


“Sapa Uncle itu Mih? Kenapa Kita tinggal sama dia?”


Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Nisha gelagapan. Dia


bingung harus menjawab apa.


“Zoey gak suka sama Uncle?”


“Hem… sukaa sih… Uncle itu udah bantuin Zoey ketemu sama


Mommih loh, tapi...”


“Tapi?”


“Zoey takut sama Uncle. Uncle jalang bicala. Uncle seling liatin


Zoey. Telus wajah Uncle jadi sediiih. Sepelti waktu Zoey gak ketemu Mommih.


Zoey kan sedihh tuh. Sama kayak gitu Mih…” Zoey bercerita sembari bersandar di


Mereka sedang berada di kamar kedua. Letak kamar itu


bersebelahan dengan kamar utama. Zico mengatakan bahwa Zoey akan tidur di kamar


itu untuk seterusnya. Nisha berusaha untuk me-ninabobokan Zoey.


“Zoey benci gak sama Uncle?”


“Gak tuh.” Zoey menggeleng-gelengkan kepalanya. “Uncle udah


bikin Zoey ketemu Mommih. Uncle juga ajak Zoey naik pesawat. Pesawatnya bagus


deh Mih. Kapan-kapan Mommih naik pesawat juga yah…”


“He’em. Zoey belum ngantuk Nak?”


“Belum tuh.” (Nisha melirik jam di dinding. Dia khawatir Zico


sudah menunggunya dengan kemarahan)


“Zoey pasti capek. Ayo tidur Nak.”


“Gak tuh. Zoey gak capek. Zoey juga gak ngantuk tuh.” Zoey


menelusupkan kepalanya, memeluk tubuh ibunya semakin erat.


“Oh iya, gimana kabar Uncle Niel? Zoey seneng bisa ketemu?”


“Daddy? Ya, Zoey seneng. Zoey udah kenalin Daddy ke


temen-temen. Tapi meleka gak pecaya Mih. Meleka bilang Zoey bohong. Zoey gak


bohong kok…”


“Iya-ya, Zoey gak bohong. Dimana Uncle Niel?”


“Katanya sih Uncle pulang ke lumahnya dulu. Nanti Uncle akan


pulang bawa Mommih.” Nisha mencerna informasi yang diberikan Zoey.


Kemungkinannya ada dua. Daniel kembali ke luar negeri, atau sekarang dia sedang


berada di Jakarta. Hah, semoga masalah mereka tidak menjadi semakin pelik.


Nisha menepuk-nepuk punggung Zoey dengan lembut. Lambat laun napasnya


mulai terdengar halus. Nisha mengintip. Zoey sudah tertidur pulas rupanya. Nisha


menyelimuti Zoey dan mencium keningnya dengan lembut. Kemudian dia meninggalkan


anak itu sendirian. Sekarang tugasnya adalah menyampaikan terima kasihnya pada


laki-laki itu. Dengan cara menyenangkannya tentunya.


***


Nisha pergi ke kamar utama. Hatinya menjadi berdebar-debar.


Dia merasa seperti seorang istri yang akan melayani suaminya (padahal mereka


memang suami istri). Tapi di sisi lain, dia merasa seperti seorang wanita


murahan yang akan memuaskan pelanggannya, hah.


Meskipun Zico sudah menculik dan menyekapnya, tapi bagaimana


pun laki-laki itu masih berbaik hati dengan mempertemukannya pada Zoey. Dia


harus menunjukkan rasa terima kasihnya terhadap laki-laki itu.


Nisha membuka pintu kamar, melongokkan kepalanya. Tidak ada siapa-siapa


di ranjang besar itu. Kemana perginya laki-laki itu?


Nisha mulai mencari Zico di ruangan yang lain. Setelah


bertanya pada pelayan, akhirnya dia tahu bahwa Zico sedang berada di ruang


kerja. Dengan ragu-ragu Nisha pergi ke ruang kerja. Melakukan hal seperti ini


mengingatkannya pada kenangan lama. Dulu dia juga pernah ke ruang kerja Zico di


apartemennya yang lama.


Dia mencari laki-laki itu karena perutnya sangat lapar. Dia


ingin Zico memasakkan nasi goreng untuknya. Kenangan itu sudah terjadi lima


tahun yang lalu, tapi masih terasa baru saja terjadi kemarin. Andai saja dulu


mereka tidak berpisah, akankah mereka saat ini bisa hidup bahagia? Dengan Zoey


di tengah-tengah mereka? Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak ingin


mengingat-ngingat kenangan lama itu. Kenangan itu terlalu menyakitkan untuk di


ingat. Dulu dia hanyalah gadis desa lemah yang gampang di tindas. Sekarang,


demi Zoey dia akan menjadi wanita kuat. Meskipun Zico masih menindasnya, tapi


dia tidak akan mengijinkan orang lain untuk ikut menindasnya.


Setelah mengetuk beberapa kali dan tidak ada jawaban,


akhirnya Nisha memutuskan untuk membuka pintu ruangan itu. Dia melihat sekitar.


Dia melihat Zico sedang tertidur bersandar di kursinya. Pelan-pelan Nisha


mendekatinya. Nisha memperhatikan wajah itu dalam diam. Hatinya ragu, antara


harus membangunkan laki-laki itu atau membiarkannya.


“Boooyyy…Boooyyy… jangan tinggalin Papa… Booyyy…”Zico


mengigau. Airmata mulai mengalir di sudut matanya. Nisha menjadi tertegun.


Tubuhnya seolah-olah menjadi kaku. Baru kali ini dia melihat Zico penuh emosi


seperti itu. “Booooyyyy…” tangan Zico menggapai-gapai, berusaha untuk meraih


tangan seseorang. Tanpa sadar tangannya meraih tangan Nisha, dan dia pun


langsung terjaga.


Zico begitu bingung melihat Nisha. Dia juga bingung ketika


tangannya memegang erat tangan Nisha. Berangsur-angsur dia mulai sadar. Dengan


malu Zico menghapus bekas airmata di sudut matanya.


“Ahh, sepertinya banyak debu di sini. Eum, apa dia sudah


tertidur?”


“Ya, Zoey sudah tidur…”


“Kalau begitu, Kita juga harus segera tidur.” Zico menarik


tangan Nisha. Membawa wanita itu kembali ke kamar utama.


Malam itu mereka tidak bercinta. Zico hanya memeluknya dan


tertidur seperti bayi. Pikiran Nisha masih berkelana. Mengapa wajah Zico


terlihat sangat sedih seperti itu?


***


 Happy Reading 🥰🤗