
“Belum tidur?”
“Belum…”
“Maaf Aku menelepon malam-malam. Ada kerjaan yang masih harus Ku selesaikan.”
“Iya gak apa-apa…”
“Kamu pasti ngantuk nungguin teleponku?”
“Gak…gak ngantuk. Aku malah gak bisa tidur…”
“Kenapa gak bisa tidur?”
“Ak…Aku gak tau. Mungkin dia belum mau tidur…”
Nisha mengarahkan kamera ponsel pada perutnya. Membiarkan Zico untuk melihat perutnya. Nisha tahu, bahwa yang di rindukan laki-laki itu bayinya, bukan dirinya.
“Apakah boy rewel hari ini?”
“Gak…gak begitu…”
“Gak begitu? Berarti sempet rewel?”
“Gak…Uhm, kenapa Kamu selalu memanggil dia boy? Apa Kamu ingin anak laki-laki?” Nisha menatap wajah Zico yang memenuhi layar ponselnya. Melihat wajah itu selalu membuatnya ingin menangis. Kenapa dia sangat merindukan laki-laki itu? Apa bayinya sangat merindukan ayahnya sehingga emosi itu mempengaruhi emosinya juga?
“Gak juga. Aku akan tetap mencintai dia apapun jenis kelamin dia. Aku hanya senang memanggil dia dengan panggilan itu. Kalau Kamu ingin dia berjenis kelamin apa?”
“Uhm…Aku gak tahu…”
“Kalau dia cewek, pasti akan seimut Kamu…” Zico menatap wajah Nisha dengan intens. Jarang-jarang Nisha mendengar Zico memujinya. Wajahnya menjadi panas seperti terbakar.
“Ja…jangan melihatku seperti itu!” Nisha menutup wajahnya. Menjauhkan ponsel dari dirinya.
“Jangan ge-er dulu Nona. Kalau dia cowok, dia pasti akan setampan dan segagah Aku, hehe…” Nisha mengambil ponselnya lagi. Jarang-jarang dia melihat Zico tertawa seperti itu. Ini benar-benar momen langka. Nisha menatap wajah tertawa Zico dengan sangat lekat. Ingin mengabadikan momen itu di dalam otaknya yang paling dalam.
“Iya… dia pasti akan setampan ayahnya…” Tapi Aku tidak akan pernah bisa melihat wajah tampannya itu. Dia akan tumbuh besar bersamamu, tanpa mengetahui keberadaanku. Nisha membatin dengan sedih. Matanya kembali berkaca-kaca. Dengan lembut dia mengelus-ngelus perutnya.
“Ehm…Nisha, sebenarnya ada yang ingin Ku katakan padamu. Sepertinya Aku belum bisa pulang besok…”
“Lalu untuk jadwal kontrolnya gimana?”
“Maaf… sepertinya Aku tidak bisa menepati janjiku lagi…” Zico menundukkan wajahnya dengan menyesal. Pekerjaan yang di rencanakannya bisa di selesaikan dalam waktu dua hari ternyata membutuhkan waktu lebih lama.
“Tapi kata dokter, besok Kita bisa tahu jenis kelamin dia…” Nisha tidak bisa menahan airmatanya. Dia sangat benci menjadi wanita lemah dan cengeng seperti ini. Sebenarnya alasan aimatanya keluar bukan karena Zico tidak bisa menemaninya kontrol. Tapi lebih kepada dia kecewa karena laki-laki itu menunda kepulangannya. Harapannya untuk bertemu dengan laki-laki itu dalam waktu dekat menjadi sirna.
“Sayang…jangan menangis seperti itu. Aku usahakan besok agar bisa pulang ya. Tolong jangan menangis lagi. Kalau Kamu sedih, bayinya juga akan sedih…”
Mendengar kata-kata Zico membuat Nisha semakin sedih. Selalu saja bayi yang jadi alasannya. Selalu bayi yang menjadi prioritasnya. Apakah dirinya benar-benar tidak ada di hati laki-laki itu? Apakah dia hanya alat untuk melahirkan bayinya saja?
Nisha memutuskan untuk mengakhiri panggilan video itu. Zico berusaha menghubunginya kembali, namun Nisha mengabaikannya. Dia menangis di bawah selimut. Menangisi hati dan perasaannya yang lemah. Kenapa dia menjadi wanita yang seperti ini? wanita lemah yang mengharapkan cinta laki-laki?
Cinta??!! Apa dia mulai mencintai laki-laki itu? Akhh ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin dia jatuh cinta pada laki-laki yang sudah memperkosanya? Bagaimana mungkin dia jatuh cinta pada laki-laki yang tidak mencintainya? Bagaimana mungkin dia jatuh cinta pada laki-laki yang tidak akan pernah bisa di milikinya? Bagaimana itu mungkin?!
Dia ingin hidup bersama Zico. Membesarkan bayi ini bersama-sama. Menjadi tua bersama. Sungguh keinginan yang tidak tahu malu. Dia harus sadar diri. Statusnya dan laki-laki itu sangatlah jauh berbeda, bagaikan langit dan bumi. Mereka sangat berbeda kasta. Zico tidak akan mungkin menyukai wanita yang berasal dari kalangan bawah sepertinya. Perasaannya ini bagaikan pungguk merindukan bulan. Suatu hal yang sia-sia dan tidak akan pernah terwujud.
Nisha masih saja terus menangis. Bu Retno yang kebingungan tidak bisa menghentikan tangisnya. Karena tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya yang dilakukan bu Retno hanyalah menemani Nisha sampai tertidur kelelahan.
***
Zico menatap ponselnya dengan hampa. Masih terbayang dalam ingatannya mata bulat yang menangis itu. Membuat pikirannya tidak tenang. Bukan keinginannya untuk menunda kepulangan. Dari lubuk hatinya yang terdalam dia sangat ingin pulang. Bayangan akan bertemu dengan Nisha selalu membuatnya bahagia. Dan itu berlaku sebaliknya.
Sekarang wanita itu sedih karena dirinya. Apakah wanita itu kecewa karena dia tidak bisa menepati janji? Dia tidak ingin melihat wanita itu sedih. Sudah terlalu banyak kesedihan yang diberikannya pada wanita itu. Dulu dia berjanji akan membuat wanita itu bahagia hidup dengannya, meskipun hanya untuk beberapa bulan. Tapi mengapa sekarang dia tidak bisa menepati janji itu?
Zico mengambil ponselnya, kemudian dia menelepon asistennya.
“Pesankan Aku penerbangan paling pagi untuk besok.”
“Tapi besok Kita masih ada meeting Pak…”
“Aku serahkan padamu. Yakinkan klien agar mau memakai software Kita.”
“Tapi klien pasti akan lebih yakin bila bertemu dengan Bapak langsung…
“Aku percaya pada kemampuanmu.”
“Apa Bapak pulang karena Nona Tanisha?”
“Itu bukan urusanmu!”
Zico mematikan ponselnya. Ini pertama kalinya dia bersikap tidak profesional. Biasanya dia akan mementingkan klien di atas segalanya. Keprofesionalan adalah salah satu dari kunci kesuksesannya. Tapi karena mata bulat yang meneteskan airmata membuatnya kehilangan itu semua. Ahh, ada apa dengan dirinya? Mengapa wajah Nisha tidak bisa hilang dari benaknya?
Sebenarnya siapa yang benar-benar di pedulikannya? Anaknya kah? Atau Nisha? Mengapa wanita itu membuat perasaannya benar-benar bingung? Zico tidak sabar menunggu pagi tiba. Dia ingin segera terbang dan mendekap wanita itu dalam pelukannya. Membuang segala bentuk kesedihan yang di alaminya.
***
Nisha merasa tubuhnya benar-benar hangat dan nyaman. Perasaan yang familiar. Biasanya dia akan merasa seperti itu ketika berada di pelukan suaminya. Mengingat Zico membuat Nisha kembali sedih. Untuk menghilangkan kesedihannya, Nisha kembali memeluk benda hangat itu.
Sedikit demi sedikit Nisha mulai merasa ada yang aneh. Dia sangat ingat dengan aroma tubuh Zico. Kehangatan lengan dan kekokohan dadanya. Dan perasaan itu sedang di rasakannya sekarang. Nisha membuka matanya perlahan-lahan dan…
DEG…
Jantungnya berdebar sangat kencang. Apakah ini mimpi? Mungkin karena terlalu merindukan laki-laki itu sampai dia membayangkan laki-laki itu sedang tidur di sampingnya? Benar-benar mimpi yang indah. Dia tidak ingin bangun dari mimpi ini.
Nisha memperhatikan mahakarya di depan matanya dengan penuh takjub. Benar-benar mimpi yang sangat nyata. Hati-hati Nisha mulai menyentuh wajah itu dengan lembut. Dia kaget begitu mengetahui tangannya menyentuh sesuatu yang sangat nyata. Kemudian mahakarya itu mulai membuka matanya. Menatapnya dengan mata tajamnya. Senyum malas tersungging di bibirnya.
“Sudah bangun, sayang?” Zico bergerak dengan malas. Menarik tubuh Nisha kembali dalam dekapannya dan mencium keningnya dengan lembut.
***
Happy Reading 🤭🥰