
"Bagaimana? Sudah kalian ikuti dia?"
"Sudah Nyonya."
"Mana laporannya?"
"Silakan Nyonya." Dua orang suruhan Mama menyerahkan berkas berisi foto-foto dan laporan kegiatan Zico selama tiga hari terakhir. Mama membukanya dengan antusias. Pelan-pelan dia melihat satu-persatu foto yang ada. Mama terkejut melihat Zico bersama dengan anak kecil. Siapa sebenarnya anak ini?
Mama melanjutkan melihat foto-foto itu. Wajahnya semakin lama semakin terkejut. Dia melihat wajah yang di kenalnya. Wanita itu adalah NISHA!! Seorang wanita yang pernah di buangnya dulu!!
Tubuh Mama gemetar. Dia tidak menyangka akan melihat pemandangan ini. Wanita yang ingin di carinya malah sekarang sedang bersama dengan anaknya. Mereka tampak sangat bahagia. Apakah anak kecil itu adalah cucunya?!!
Mata Mama berkaca-kaca. Tangannya mengelus foto Zico yang sedang tersenyum dan tertawa. Sudah sangat lama sekali dia tidak melihat wajah itu. Hatinya di penuhi dengan kehangatan. Mama menatap anak kecil berwajah tampan. Wajah tampannya semakin mengingatkan Mama pada wajah Zico ketika masih kecil.
Air mata mengalir di pipi Mama. Dia menangis tersedu-sedu. Dada Mama sesak karena di penuhi dengan penyesalan. Andaikan dulu dia tidak egois dan memisahkan mereka, mungkin hidup anaknya tidak akan seperti ini. Dulu dia di penuhi dengan ego. Menganggap bahwa bibit, bebet, bobot seorang menantu sangat penting. Mama tidak tahu bahwa kebahagiaan anak adalah yang paling utama. Mau menikah dengan siapa saja anaknya, asalkan bisa bahagia tidak masalah. Meskipun dengan orang yang bibit, bebet dan bobotnya tidak sama dengan mereka.
Mama terduduk lemas. Masih menangis tersedu-sedu. Tangisan penyesalan dan juga kebahagiaan menjadi satu. Lama Mama menangis dalam posisi itu.
"Aku harus menemui mereka! Aku harus menemui wanita itu segera."
***
Malam itu Nisha sedang menina-bobo kan Zoey. Anak itu meminta Nisha untuk membacakan dongeng. Tiba-tiba Zico masuk ke kamar mereka. Nisha sedikit terkejut. Dia langsung terduduk dari posisi berbaringnya.
"Ke-kenapa kesini?"
"Aku datang bukan untukmu."
"Zoey yang nyuluh Daddy kesini Mih. Zoey pengen tidul dengan Mommih Daddy." Zoey dengan santai menjelaskan. Nisha terbeliak matanya mendengar Zoey memanggil Zico dengan panggilan Daddy. Apakah Zico sudah tahu kalau Zoey adalah putranya?!!
Nisha menatap mata Zico lekat-lekat. Berusaha untuk membaca ekpresi di wajah pria itu. Zico tampak biasa saja. Dengan santai dia berbaring di sebelah Nisha.
"Ayo bacakan dongengnya. Aku juga ingin mendengarnya." Katanya santai sembari menaruh kedua lengannya di bawah kepala. Menjadikan tangannya sebagai bantalan.
"Zoey, kenapa manggil Uncle dengan panggilan Daddy?" Nisha bertanya sembari berbisik. Karena kekurangan kasih sayang seorang ayah, Zoey begitu mudah memanggil pria yang dekat dengannya dengan panggilan "Daddy", contohnya Daniel dan beberapa orang yang dulu pernah mencoba untuk dekat dengannya.
"Daddy yang mintah Mih. Katanya suluh Zoey panggil itu. Cepet baca lagi Mih." Zoey mulai merengek.
"Iya, baca lagi. Aku juga pengen denger." Zico melingkarkan tangannya di pinggang Nisha, sementara satu kakinya menindih tubuh Nisha. Membuat Nisha sangat tidak nyaman. Sedang ada Zoey di depan mereka, rasanya tidak pantas melakukan hal seperti ini.
"Jangan seperti ini. Zoey sedang melihat." Nisha berbisik sembari menghempaskan tangan Zico dari tubuhnya. Tapi Zico tetap menaruh tangannya di pinggang Nisha. Zoey sepertinya cemburu. Dia tidak mau kalah. Dia masuk ke pelukan Nisha dan bergelung di dadanya. Membuat Nisha kesulitan bergerak.
"Kenapa kalian semua jadi menempel seperti ini?!" Nisha berada dalam kepitan ayah dan anak.
"Iya, iya. Mommy bacain sekarang." Dan Nisha pun membacakan dongeng buat mereka berdua. Setengah jam kemudian, Nisha dan Zoey sudah tertidur. Hanya tersisa Zico sendirian. Zico menatap keduanya dengan sayang. Keberadaan Zoey dan Nisha membuatnya sangat bahagia. Dia berharap kebahagiaan ini akan berlangsung selamanya.
" I love you sayang..." Zico mengecup kening Nisha dan Zoey bergantian. Kemudian dia tertidur dalam posisi memeluk tubuh mereka secara bersamaan.
***
Siang itu Nisha dan Zoey sedang bersantai di ruang keluarga. Nisha menemani Zoey yang sedang mewarnai. Pikiran Nisha masih melayang-layang. Tadi malam mereka tidur bertiga. Entah itu hanya khayalannya saja atau memang nyata\, tapi dia mendengar Zico menyatakan cinta. *I love you sayang*\, kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya. Benarkah laki-laki itu mengatakan kata-kata itu? Bukankah laki-laki itu sangat membencinya? Bahkan tega menculik\, memperkosa dan juga mengancam keluarganya. Sangat tidak mungkin bukan kalau kata-kata itu keluar dari mulutnya?
Tapi mengapa kata-katanya terasa begitu nyata? Berkhayalkah dirinya? Apakah di alam bawah sadarnya dia benar-benar mengharapkan Zico mengatakan kata-kata itu?
Kalau boleh jujur, seperti apapun sikap laki-laki itu terhadapnya dia tidak pernah bisa membencinya seratus persen. Rasa cinta yang dulu tertanam kuat ternyata memang masih ada. Sikap Zico akhir-akhir ini juga sedikit demi sedikit mengubah pandangannya. Laki-laki itu tidak pernah memperlakukan mereka dengan kasar. Meskipun terkadang perkataannya sinis dan sangat menyebalkan, namun tidak begitu dengan sikapnya.
Di ranjang Zico memperlakukannya dengan lembut. Sikapnya terhadap Zoey juga sangat baik. Padahal Zico tidak tahu bahwa Zoey itu adalah putranya. Zico mengira bahwa Zoey adalah anaknya dengan orang lain. Bukankah seharusnya Zico membenci Zoey? Tapi laki-laki itu malah memperlakukan Zoey seolah-olah anaknya sendiri. Menyuruh Zoey untuk memanggilnya *Daddy*. Apakah perasaan laki-laki itu terhadapnya benar-benar nyata? Bukan hanya khayalannya saja?
Nisha tersenyum-senyum sendiri membayangkan kemungkinan itu. Bila Zico benar-benar mencintai dan mengungkapkan perasaannya, maka dia juga akan melakukan hal yang sama. Dia juga akan memberitahu Zico bahwa Zoey adalah putra mereka. Laki-laki itu pasti akan senang. Dia juga akan mengungkapkan perasaannya pada Zico. Bila mereka memang saling mencintai, Zico tidak akan merebut Zoey darinya. Mereka akan hidup bersama, membesarkan Zoey bersama-sama. Benar seperti itu bukan?
Ketika sedang enak-enaknya melamun, Nisha mendengar suara ribut-ribut di pintu depan. Nisha pergi ke ruang depan, berusaha untuk mencari tahu.
"Nyo-nyonya besar? Sedang apa Anda kemari?"
"Bukan urusanmu. Buka pintunya!"
"Ta-tapi Tuan Muda melarang siapapun untuk masuk."
"Cepat buka pintunya!!"
Terdengar suara kepala pelayan berdebat dengan seseorang. Nisha membuka pintu dari dalam, berusaha untuk menengahi perdebatan. Dan Nisha begitu terkejut dengan apa yang di lihatnya. Dia melihat mertua dan kedua kakak ipar sedang berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan berbagai campuran ekspresi.
Mereka saling berpandangan dalam diam. Kedua wanita itu saling memandang dengan perbedaan ekspresi di wajah. Nisha memandang ibu mertuanya dengan raut wajah terkejut, bingung, dan ketakutan. Sementara Mama memandangnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ekpresi wajahnya tampak sangat sedih dan penuh penyesalan.
"Ni-Nisha..."
"Mommih, sapa yang datang? Apakah itu Daddy?" Zoey muncul dari belakang tubuh Nisha. Melongokkan kepalanya yang kecil untuk melihat siapa yang datang.
"Cu-cucuku..."
***
Happy Reading 🥰🥰
Jangan lupa untuk vote ya, terima kasih 😘🥰😙