
Semakin lama Nisha merasa semakin merana. Yang di lakukannya hanyalah menangis sembari menciumi foto Zoey. Dia ingin Zico segera datang dan membuat permohonan terhadap laki-laki itu. Dia ingin bertemu dengan Zoey. Akankah laki-laki itu mengijinkannya?
Tapi Zico menganggap Zoey sebagai anaknya dengan laki-laki lain. Laki-laki itu pasti tidak akan mengijinkannya. Zico tidak menyakiti Zoey saja dia sudah merasa sangat bersyukur. Haruskah dia menahan diri selama sembilan bulan untuk tidak bertemu dengan kesayangannya itu? Memikirkannya saja sudah membuatnya sangat sedih.
Sayup-sayup Nisha mendengar suara pesawat jet mendekat. Apakah Zico sudah datang? Ataukah ada pengunjung lainnya? Nisha berusaha untuk melihat dari jendela kamarnya, namun dia tidak bisa melihat apa-apa. Landasan yang biasanya di gunakan untuk mendaratkan pesawat terletak di sisi lainnya, sehingga dia tidak bisa melihat dari kamarnya.
Nisha menghapus airmatanya. Dia mengganti pakaian dan mencoba untuk bersolek sedikit. Mungkin bila dia meminta baik-baik dan sedikit merayu, hati Zico akan sedikit luluh?
Selesai berdandan, Nisha segera pergi ke ruang tengah. Dia ingin menyambut kedatangan Zico. Meskipun perasaannya sedih, namun dia harus tetap ceria di depan Zico. Dia tidak boleh memperlihatkan dirinya yang lemah di depan laki-laki itu.
Nisha berusaha memasang senyum manisnya seceria mungkin. Dia menghela napas dalam-dalam. Tiba-tiba pintu villa terbuka dan…
“Mommih!! Mommih!! Uncle, dimana Mommih?” terdengar suara yang sangat familiar di telinganya. Nisha segera berlari ke ruang depan. Tiba-tiba saja dia merasa berhalusinasi. Dia melihat cahaya dalam hidupnya tak jauh darinya.
“Zo-Zoey?” suara Nisha tampak tercekat. Mendengar namanya di panggil, Zoey segera menoleh. Raut wajah mungilnya tiba-tiba menjadi ceria. Senyum lebar merekah di bibir mungilnya.
“Mommih!! Zoey coming!!” Zoey berteriak sembari berlari dan memeluk ibunya. Nisha merentangkan tangannya lebar-lebar, membuat bocah kecil itu masuk ke dalam pelukannya. Nisha memeluk Zoey dengan erat. Airmata tampak mengalir di wajah cantiknya.
“Zoey…Zoeey…Zoey…” Tak henti-hentinya Nisha memanggil-manggil nama itu. Tubuhnya gemetar karena tangis.
“Mommih… kenapa Mommih nangis? Mommih gak seneng liat Zoey?” Zoey bertanya dengan sedih.
“Ibu menangis karena bahagia Nak. Ibu seneng banget ketemu sama Zoey. Ibu kangen banget sama Zoey. Sini peluk Ibu lagi…”
“Huuhuu… Zoey juga kangen Mommih. Mommih bilang suluh Zoey tidul dua hali. Zoey sudah tidul tujuh hali, tapi Mommih gak pulang-pulang. Kata temen-temen, Mommih udah ninggalin Zoey. Sama kayak Daddih yang juga ninggalin Zoey, Huuuhuuu…” Zoey menangis terisak-isak, membuat Nisha semakin menangis. Hah, kasian sekali nasib putranya. Selalu saja di bully teman-temannya karena tidak memiliki ayah.
Sembari memeluk Zoey, Nisha menatap Zico yang berdiri tak jauh dari tempat mereka. Ekpresi laki-laki itu tampak tak terbaca. Nisha tersenyum dengan manisnya.
“Terima kasih…” Katanya dengan bahagia. Zico sepertinya tersentak melihat senyum bahagianya. Ini pertama kalinya Nisha tersenyum padanya dengan sangat bahagia. Zico merasa keputusannya untuk membawa Zoey bertemu dengan Nisha adalah keputusan yang benar.
Nisha membawa Zoey, menggendongnya ke ruang makan.
“Mommih, Zoey hungrihhh…”
“Iya sayang… Anak ibu ingin makan apa?”
“Bulgel Mommih…”
“Tidak ada burger di sini Nak. Besok-besok Ibu buatin burger ya. Sekarang Zoey makan makanan yang ada saja ya. Kasihan aunty yang sudah masakin kalau gak di makan, oke?”
“Huh…” Zoey tampak bersungut-sungut. Nisha mencium pipi gembulnya dengan gemas. Terlalu sibuk dengan anaknya membuat Nisha melupakan keberadaan Zico. Nisha meninggalkan Zoey di ruang makan dan pergi mencari Zico, dia ingin berterima kasih terhadap laki-laki itu.
Nisha mencari ke beberapa ruangan, namun Zico tidak ada. Akhirnya Nisha mencari ke kamar. Tanpa mengetuk dia segera membuka pintu kamar itu. Di dalam kamar, Zico sedang melepaskan pakaiannya. Laki-laki itu sedang bertelanjang dada dan bersiap-siap membuka celananya.
“Ahhh, ma-maaf.” Nisha membalikkan tubuhnya. Dia merasa malu melihat tubuh setengah telanjang Zico. Nisha mendengar laki-laki itu berjalan mendekat padanya. Tanpa di sadarinya, tubuh laki-laki itu sudah berada di belakangnya. Menghimpit tubuhnya dengan lekat, menggesek-gesekkan bagian tubuhnya yang menonjol di bok*ng Nisha.
“Kenapa begitu malu? Bukankah Kita sudah melihat tubuh satu sama lain berkali-kali? Hemm…” Zico memeluk tubuh Nisha dari belakang. Bibirnya mulai menciumi telinga Nisha.
“Aku melepaskanmu kali ini. Tapi tidak lain kali.” Zico melepaskan pelukannya dan mulai mengganti celananya. Tampak tonjolan yang sudah mengeras tercetak di area selangkangannya. Sepertinya laki-laki itu berusaha untuk menahan birahinya. Nisha masih berdiri terpaku.
“Aku sudah melepaskanmu. Ada yang ingin Kamu sampaikan?”
“Ak-Aku ingin berterima kasih. Terima kasih sudah membawa Zoey. Terima kasih sudah mengijinkanku untuk melihat Zoey. Terima kasih!!” dengan muka merah padam, Nisha berbalik. Ini adalah pertama kalinya dia berbicara kepada Zico seperti orang normal. Dan pembicaraan pertama itu, berupa ungkapan terima kasih. Dia begitu malu.
Zico tidak membiarkan Nisha pergi begitu saja. Dia segera menangkap tangan Nisha dan menarik tubuh wanita itu ke pelukannya. Kemudian dengan buas laki-laki itu mulai mencium bibir Nisha. Ciumannya di penuhi dengan birahi dan hawa nafsu. Lama keduanya saling mengulum, mengecap, mengeksplore bibir satu sama lain. Hingga akhirnya Zico melepaskan ciumannya karena merasa birahinya sudah sangat memuncak. Napas keduanya tampak terengah-engah.
“Tunjukkan rasa terima kasihmu nanti malam. Siapkan tubuhmu segera.” Geram Zico di telinga Nisha sebelum melepaskan wanita itu dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia segera mengguyur tubuh panasnya dengan air dingin.
Nisha berlari meninggalkan kamar. Wajahnya tampak merah padam. Bisa-bisanya siang hari mereka di penuhi dengan gairah seperti itu? Apalagi ada Zoey di ruang depan. Sungguh mereka tidak bermoral.
Nisha kembali menemani Zoey. Menyuapi anak itu dengan telaten. Sesekali bibirnya mengecup dan mencium pipi dan keningnya dengan gemas.
“Mommih!! Stopp!!” Zoey menjauhkan wajah ibunya.
“Katanya kangen Ibu? Kenapa tidak mau di cium?”
“Sekalang udah gak kangen. Please stop it. I’m not kid anymole.”
“Ya, ya… anak Ibu memang sudah besar.” Nisha menepuk-nepuk kepala Zoey dengan lucu.
“Oh iya, Ibu lupa tanya. Tadi Zoey sekolah?”
“He’em.”
“Tadi Uncle jemput Zoey dimana?”
“Di sekolah.”
“Apa Uti tahu kalau Zoey pergi sama Uncle?”
“He’eh. Kata Uncle, Glandma udah tahu. Glandma nyuluh Zoey pelgi sama Uncle.”
“Serius?”
“He’eh.”
Tapi Nisha tidak mau mempercayainya. Zico saja sudah menculiknya secara illegal. Tidak mungkin laki-laki itu membawa Zoey dengan ijin ibunya. Dia harus segera menanyakan hal itu pada Zico.
Hampir setengah jam Nisha menunggu Zico bergabung dengannya di meja makan. Setelah laki-laki itu bergabung, dia segera menanyakan hal itu. Dan seperti dugaannya, Zico memang sudah menculik Zoey!! Nisha menjadi panik. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibunya mengetahui cucu satu-satunya sudah di culik. Akhirnya Zico mengijinkan Nisha untuk melakukan panggilan video.
***
Happy Reading 🥰🥰