
Tubuh Zico gemetar dengan hebat. Dia meremas-remas semua
kertas di tangannya. Pikiran dan hatinya menolak untuk menerima semua kenyataan
yang ada di depan mata.
“ARRGGHHHHH!!” Zico melempar semua barang yang ada di meja.
Membuat semua barang-barang itu jatuh berserakan di lantai.
“TANISHA!! ARRGGHHHH!!” Zico menutup wajah dengan kedua
tangannya. Pancaran kesedihan dan sakit hati kembali menyelimutinya. Zico tidak
bisa menerima kenyataan bahwa Tanisha sudah memiliki anak dengan orang lain.
“Kamu kejam Nisha!! Ini terlalu menyakitkan!!” Zico berseru
seorang diri. Gumpalan rasa kecewa memenuhi dadanya. Dia kecewa Nisha telah
memiliki anak dengan orang lain, tapi wanita itu malah menggugurkan anak
mereka. Mengapa wanita itu bersikap demikian? Apa wanita itu memang sangat
membencinya? Sehingga tega melakukan hal seperti itu terhadap anak mereka?!
Menurut informasi yang di dapatkannya, Nisha tinggal bersama
keluarganya. Dia sudah menyelesaikan magang profesinya dan akan mendirikan
firma hukum sendiri dalam beberapa bulan mendatang. Nisha memiliki seorang anak
laki-laki bernama Zoe. Anak itu berumur 3 tahun delapan bulan. Bila dia tidak
salah menghitung, Nisha memutuskan untuk langsung hamil setelah menggugurkan
anak mereka?! Betapa teganya!! Bahkan dia belum menalak (menceraikan) wanita
itu. Mengapa wanita itu tega mengkhianatinya seperti ini?? ARRGGGGHHHH!!! Zico
menjadi semakin frustasi.
Apakah laki-laki brngsek itu adalah ayah si Zoe?? Mengapa
dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun mengenai ayah Zoe? Dimana si
bedbah itu sekarang? Mengapa dia meninggalkan Nisha untuk membesarkan anak itu
sendiri? Data dari rumah sakit tidak menunjukkan keterangan mengenai ayah si
Zoe!!
Zico membuka ponsel Nisha. Melihat gallery foto di dalamnya.
Hampir semua gallery di penuhi dengan foto-foto Zoe yang sangat tampan dan
menggemaskan. Zico meraba wajah tampan anak laki-laki itu. Menelusurinya dengan
perasaan hampa. Pikirannya melayang pada “boy”. Jika saja Nisha tidak
menggugurkan bayi mereka, mungkin anak mereka akan setampan dan selucu Zoe?
Zico mengeluarkan foto USG dari dalam dompetnya. Dia menatap
gumpalan kecil itu dengan hati yang sakit. Perlahan-lahan dia mencium foto USG
itu dengan penuh sayang. Tubuhnya kembali bergetar karena tangis. Entah sudah
berapa ribu kali dia melakukan adegan seperti ini. Tapi rasa sakit di hatinya
seakan-akan tidak bisa hilang. Di saat bayinya sudah terbujur kaku, Nisha malah
melahirkan bayi sehat laki-laki lain. Perasaannya menjadi hancur!!
Lama Zico berkubang dalam kesedihan dan kekecewaan. Kemudian,
timbul niat yang mendalam dari dalam hatinya. Dia harus membuat Nisha kembali
menjadi miliknya!! Dia akan melakukan segala macam cara untuk membuat Nisha
tetap berada di sampingnya! Ya, dia harus melakukan hal itu. Nisha harus
mengganti nyawa bayi yang telah di bunuhnya dengan bayi yang lain. HARUS!!
***
Nisha menatap laki-laki di depannya dengan penuh amarah.
Ternyata ******** yang telah menculik dan memperkosanya adalah si bed*bah
Zico!! Dasar laki-laki kurang ajar!!
“Jangan menatapku seperti itu sayang. Tidakkah kau ingat
ekpresimu tadi malam?”
“Dasar B*JINGAN!! BR*NGSEK!! SAMPAH!! Enyah kau!!”
“Sayang, sejak kapan kosakatamu di penuhi dengan kata-kata
kotor? Dimana seorang gadis polos dan lugu yang Aku kenal?”
“Diam Kau!! Keluarkan Aku dari sini! Aku akan menuntut semua
perbuatanmu!!”
“Sayang, tenanglah. Jangan emosi. Tidakkah Kamu merasa Aku
memiliki tujuan tertentu dengan membawamu kesini?”
“Ya!! Aku tahu tujuanmu! Kamu tetap laki-laki sampah! Lima
tahun tidak mengubahmu! Kamu tetap laki-laki baj*ngan yang suka melakukan
pemerkosaan!! Aku benci Kamu!! Pergilah ke neraka segera!!” Nisha berkata
dengan berapi-api. Dia tidak bisa menahan segala amarah yang membuncah di dalam
dadanya.
“Aku hanya melakukan pemaksaan dua kali sayang, dan itu semua
padaku dan menikmati percintaan Kita…”
BRAAAAKKK
“Tutup mulutmu!!” Nisha berdiri dan menggebrak meja. Wajahnya
menjadi merah padam. Campuran rasa malu dan amarah menjadi satu.
“Sayang, tahan emosimu. Mungkin saja sekarang di tubuhmu
sedang tumbuh anak Kita. Jangan menakutinya dengan kemarahanmu yang sia-sia…”
“AP-AAPAAA?!!!” Nisha menjadi semakin murka. Dia melempar apa
saja yang ada di meja. Zico hanya menghindar dengan tenang. Bibirnya di penuhi
dengan senyum sinis.
“Gila Kamu ya!! Benar-benar sinting!! Gak waras!! Manusia
macam apa Kamu? Dasar ******** egois tak tahu diri!!” Nisha membanting
semuanya. Zico membiarkan Nisha berbuat semaunya. Nisha berjalan mendekati
Zico. Raut wajahnya di penuhi dengan kemarahan.
PLAAAKK (Nisha menampar Zico)
Zico hanya meringis menerima tamparan itu. Memaksa Nisha
untuk kembali memukulnya lagi. Nisha memukuli dada Zico dengan penuh kemarahan.
Zico membiarkan Nisha melakukan apapun terhadapnya.
“Lepaskan Aku brengsek!! Lepaskan Aku!! Kenapa Kamu tidak
membiarkanku hidup sendiri? Kenapa masih menggangguku…Apa salahku?? Kenapa Kamu
tega padaku.. hiks…” Nisha terisak. Tenaga yang digunakannya untuk memukul Zico
sepertinya sudah mulai melemah. Zico meraih tubuh Nisha dan memeluknya.
“Kamu tahu alasannya sayang. Kamu berhutang padaku. Sudah
saatnya Kamu membayar hutangmu.” Zico berbisik tepat di telinga Nisha, membuat
wanita itu kembali tersadar dan mendongakkan kepalanya.
“Hutang? Apa yang Kamu maksud dengan hutang?!! Kamu yang
berhutang padaku! Kamu telah merenggut masa depanku, membuatku hidup dengan
kesedihan…”
“Sayang, tidakkah Kamu ingat? Kamu sudah merenggut nyawa
putra Kita. Tidakkah Kamu pikir sudah saatnya Kamu menebus segala dosa-dosamu?”
Zico berkata dengan geram. Giginya bergemeretak, berusaha menahan setiap amarah
yang akan keluar.
“Ak-Aku…” Nisha tidak mampu menyelesaikan kata-katanya. Dia
ingin berteriak, mengatakan pada Zico bahwa putra mereka masih hidup. Tapi dia
menahan diri. Dia takut bila melakukan hal itu, Zico akan mengambil Zoey dari
hidupnya. Membuatnya merana seorang diri. Zoey adalah cahaya dan bintang dalam
hidupnya. Dia tidak akan menyerahkan Zoey pada siapapun, termasuk pada ayahnya
sendiri!!
“Kenapa Kamu tidak melanjutkan kata-katamu sayang? Apa Kamu
mulai menyadari kesalahanmu dan akan melakukan intropeksi diri? Hem?”
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Nisha terdiam. Dia
bingung harus menjawab apa. Wajar bila Zico sangat membencinya. Laki-laki itu
menyangka dia sudah membunuh putra mereka. Padahal pada kenyataannya putra
mereka hidup, dalam kondisi sehat, lucu dan menggemaskan.
“Sayang… Jawab pertanyaanku? Mengapa mulutmu terdiam? Apa
Kamu mengakuinya? Bahwa Kamu salah?” Nisha masih tidak menjawab pertanyaan
Zico. Pikirannya berputar kesana-kemari.
“La-lalu apa maumu? Apa yang Kamu inginkan?! Kejadian itu
sudah lama berlalu! Apa yang Kamu inginkan dariku?!” Nisha balas berteriak.
“LAHIRKAN ANAK UNTUKKU. Maka Aku akan melepaskanmu.” Zico
berbisik dengan nada dingin yang mengancam. Membuat bulu kuduk Nisha merinding
ketakutan. Nisha menatap Zico dengan terkejut. Mulutnya ternganga. Tak percaya
dengan apa yang di dengarnya.
“Ap-apaa?!”
Zico mendekati Nisha. Kembali meraih tubuh wanita itu dengan
kedua tangannya. Kemudian dia mendekatkan kepalanya dan kembali berbisik.
“LAHIRKAN ANAK UNTUKKU. Maka Aku akan melepaskanmu. Itu
artinya, selama Kamu belum berhasil memberikanku anak, maka Kamu akan selamanya
berada dalam genggamanku.” Zico menyeringai jahat.
***