
Nisha menatap Zico yang terlihat begitu rapuh. Laki-laki itu
terlihat sangat tidak percaya diri. Matanya di penuhi pengharapan sekaligus
keraguan. Dia begitu ingin Nisha mengatakan bahwa bayi itu memang miliknya,
tapi di sisi lain dia juga meragukannya.
“Bayi ini memang milikmu. Aku tidak pernah sekalipun mengkhianatimu.”
Zico terdiam mendengar penjelasan Nisha. Pelan-pelan dia mulai membenahi baju
Nisha. Memasang kembali branya dan mengancingkan kembali bajunya. Tanpa berkata
sepatah katapun Zico kembali berada di kemudi dan mengemudikan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Nisha tidak
berani mengucapkan sepatah katapun. Dia takut salah berucap dan menimbulkan
kemarahan laki-laki itu lagi. Zico mengarahkan mobil ke apartemen mereka. Di lobby
gedung apartemen, tampak bu Retno sudah menunggu mereka.
“Jaga dia. Jangan biarkan dia keluar. Jangan biarkan siapa
pun juga masuk ke dalam apartemen. Mengerti?!”
“Mengerti Tuan.”
Selesai mengantarkan Nisha, Zico segera pergi. Ada hal lain
yang harus di lakukannya. Dia harus bertemu dengan laki-laki br*ngsek itu.
Berani-beraninya laki-laki itu menggoda istrinya? Sejak kapan mereka saling
bertemu? Apakah hubungan mereka sudah berlangsung lama tanpa sepengetahuannya?
Apakah sikap Nisha yang sangat dingin terhadapnya disebabkan
oleh kehadiran laki-laki itu?! Sudah sedalam apa hubungan mereka? Apakah anak
yang di kandung Nisha benar-benar anaknya?!!
“ARRGGHHH!!” Zico memukul-mukul kemudi dengan sangat keras. Dia
benar-benar tidak menyangka hal seperti ini akan di alaminya. Nisha adalah
wanita yang polos, dia sudah menelusuri semua hal tentang wanita itu. Mengapa
istri polosnya bisa mengenal laki-laki seperti Daniel? Yang notabene seorang
playboy dan berasal dari kalangan atas? Sejak kapan mereka saling mengenal?
Mengapa mereka berdua tampak sangat akrab dan mesra?!
Zico masih merasa mendidih ubun-ubunnya bila mengingat apa
yang di lihatnya di dalam restoran itu. Lancang sekali laki-laki itu menyentuh
tubuh wanitanya! Dia harus membuat perhitungan dengannya!
“Temui Aku di tempat X.” Tanpa menunggu jawaban, Zico
mematikan panggilan itu dan memacu mobilnya.
Setibanya di tempat itu, Zico melihat Daniel sudah
menunggunya. Zico melihat sekelilingnya yang sangat sepi. Sepertinya Daniel
sudah menyewa keseluruhan dari tempat itu.
Keduanya saling bertatapan dengan dingin. Tidak tampak aura
persahabatan yang pernah terjalin sebelumnya. Keduanya sama-sama muak dan
saling membenci. Zico membenci kenyataan bahwa yang menggoda istrinya adalah
Daniel. Sementara Daniel membenci Zico karena sudah banyak membuat menangis
wanita pujaan hatinya.
Zico duduk tanpa di suruh. Dia kembali menatap Daniel dengan
tatapan elang yang ingin memangsa buruannya. Daniel tidak gentar, dia juga
menatap Zico dengan tatapan marah. Keduanya terdiam, saling menatap. Berusaha
mengukur kemampuan masing-masing. Menduga-duga apa yang akan di lakukan
selanjutnya.
“Jauhi istriku.”
“Sejak kapan Kamu menganggap dia sebagai istrimu?”
“Jauhi istriku. Hanya itu yang ingin Aku katakan.” Zico
berdiri, berusaha mengakhiri pembicaraan.
“Dia hanya istri sementaramu. Begitu anak itu lahir, Aku akan
membawanya bersamaku.” Daniel berkata dengan tenang. Mendengar perkataan Daniel
membuat amarah Zico memuncak. Dengan gelap mata dan tanpa pikir panjang, dia
langsung meraih kemeja Daniel dan memberinya pukulan kuat.
BUUUUKKKK (Zico memukul Daniel)
BRAAKKKKK (Daniel jatuh tersungkur, menghantam lantai yang
keras)
Daniel mengelap darah yang keluar dari hidungnya. Senyum
sinisnya merekah.
“Kenapa sangat marah? Bukankah kenyataannya seperti itu? Dia
akan meninggalkanmu ketika anak itu lahir. Kalian berdua akan berpisah,
hahaha.” Daniel tertawa mengejek. Zico semakin kalap. Dengan bertubi-tubi dia
mengahantamkan pukulan pada tubuh Daniel yang hanya membalasnya dengan tawa penuh
dengan ejekan.
Daniel tergeletak bersimbah darah. Namun senyum sinis masih
memenuhi wajahnya. Zico menatapnya dengan geram. Dia menghentikan pukulannya
dan mulai melangkah pergi.
“Jaga dia baik-baik. Lengah sedikit, Aku akan mengambilnya
darimu, hahaha.” Daniel kembali tertawa. Mentertawakan hidupnya yang begitu
masih berharap, wanita itu mau menerimanya suatu saat nanti. “Hahaha…dasar
laki-laki bodoh.” Maki Daniel pada diri sendiri, air mata tampak menetes di
sudut matanya yang berdarah.
***
“Siapkan segala prosedur yang di butuhkan untuk melakukan
test DNA.”
“Mak-maksudnya Pak?”
“Lakukan sesuai dengan perintahku.”
“Si-siapa yang akan melakukan test DNA Pak?” dokter Zidan
bertanya dengan tergagap.
“Aku, dan calon anakku.” Zico menjawab dengan singkat.
“Ba-baik Pak.”
Zico menutup pembicaraan dan melangkah masuk ke dalam
apartemen. Matanya mulai bergerilya mencari Nisha.
“Tu-tuan…Anda sudah pulang…”
“Ya, dimana dia?”
“Nona sedang berada di kamar…” Belum selesai bu Retno
berkata-kata, Zico langsung menghambur ke kamar. Di dalam kamar dia menemukan
Nisha tengah meringuk sembari menangis.
“Ganti bajumu. Segera ikut Aku.” Zico mengambil beberapa baju
Nisha dan melemparkannya ke tengah ranjang. Menyadari kehadiran Zico yang
begitu tiba-tiba membuat Nisha sangat terkejut. Spontan dia langsung terduduk.
“Aku beri waktu lima menit.” Selesai berkata seperti itu,
Zico segera keluar dari kamar. Karena tidak ingin membuat laki-laki itu kembali
marah, Nisha dengan cepat mengganti bajunya dan berjalan keluar mengikuti Zico.
“Ayo!” Zico menarik tangan Nisha. Bu Retno mengikuti tuannya,
pandangan matanya tampak sangat khawatir.
“Mau kemana Tuan? Bolehkah Saya ikut?”
“Kamu di sini saja. Aku akan membawanya keluar sebentar.”
“Ta-tapi kondisi tubuh Nona sedang tidak baik Tuan. Alangkah
lebih baik bila Saya ikut mendampingi Nona…” Bu Retno memiliki feeling kuat
bahwa akan terjadi sesuatu pada Nona mudanya. Dia harus sebisa mungkin berada
di dekat Nona muda untuk mencegah hal-hal yang buruk terjadi.
“Aku tidak akan membunuhnya. Kau tidak perlu khawatir. Aku
hanya akan membawanya ke dokter.” Zico menjelaskan asal-asalan dan kembali
menarik tangan Nisha. Bu Retno menatap kepergian Nisha dengan tatapan sedih dan
khawatir.
“Jangan khawatir Bu, Saya hanya akan ke rumah sakit saja.”
Nisha berusaha membesarkan hati bu Retno sebelum menghilang di balik pintu.
Di dalam lift, Zico melepaskan genggaman tangannya. Mereka
saling terdiam. Nisha menatap tangannya sendiri, sedikit heran ketika melihat
ada darah di situ. Dia memeriksa tangannya dengan teliti. Seingatnya tangannya
tidak terluka. Kemudian Nisha mulai melihat tangan Zico, dan benar saja
dugaannya. Darah itu berhasil dari tangan pria itu.
“Ke-kenapa tanganmu berdarah? Apa Kamu baik-baik saja? Bagian
mana lagi yang luka?” Nisha memegang tangan Zico. memeriksa buku-buku jari pria
itu dengan sedikit panik. Kemudian dia mulai memeriksa bagian tubuh Zico yang
lain.
Zico menangkap tangan Nisha yang bergerilya di seluruh
tubuhnya.
“Kamu seharusnya tidak mengkhawatirkan Aku. Darah ini bukan
darahku. Kamu bisa menebaknya kan ini darah siapa?” Zico berkata dengan jahat.
Membuat Nisha merinding ketakutan. Nisha begitu terkejut. Dia menutup mulutnya
dan berlari ke pojokan lift. Apakah itu darah Daniel? Apakah Daniel terluka
parah? Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia baik-baik saja?
“Melihat wajah khawatirmu membuatku muak. Tenang saja, priamu
masih hidup. Aku masih belum membunuhnya. Belum.”
***
Hai-hai readerrrrsku sayaangg...😘🥰😍😘
Maaf ya sudah membuat kalian menunggu lama.🙏🙏🙏
Selama tiga minggu ini Saya benar-benar berlibur.
Menikmati banyak hal.
Maaf ya kalau Saya terkesan tidak bertanggung jawab🙏🙏🙏
Meskipun update novel ini tidak teratur, tapi Saya akan usahakan untuk menyelesaikannya (Untuk update Saya tidak bisa berjanji akan melakukan update yang teratur, karena takut hal seperti ini terjadi lagi)
Mohon kesabaran readers menunggu novel ini sampai tamat ya. 🙏🙏
Sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya sudah membuat para readers menunggu lama. Mianneeee...🙏🙏🙇♀️🙇♀️🙇♀️🙇♀️
*Peluk&Cium* untuk kalian semua😘🥰😍🤗🤗😚😙
^ErKa^❤️