Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 59 - Aborsi??!!



Nisha menutup mulutnya. Perutnya sangat bergejolak. Daniel menarik Nisha dan memeluknya. Menutup mata Nisha dari pemandangan mengerikan itu.


“Jangan di lihat Girl, tutup matamu.” Tubuh Nisha bergetar, dia begitu syok dengan apa yang di lihatnya. Sebenarnya apa yang di rencanakan Zevana? Mengapa dia menyuruhnya ke tempat seperti ini? Mengapa ada banyak darah dan juga janin? Janin siapakah itu? Tempat apakah ini? Apakah Zevana berencana untuk benar-benar mengambil bayinya?


“Sepertinya Aku sudah bisa menebak permainan mereka.” Daniel bergumam. Nisha menengadah, menatap Daniel dengan pandangan bertanya-tanya.


“Tenang Girl, dokter itu tidak benar-benar akan mengambil bayimu. Dia akan membuat seolah-olah janin itu keluar dari tubuhmu. Sehingga bila orang lain melihatnya akan percaya bahwa Kamu telah menggugurkan bayimu. Dan itu yang di rencanakan kedua orang itu. Mereka ingin membuat laki-laki itu percaya bahwa Kamu sudah menggugurkan bayi kalian dan membuatnya melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dengan begitu kebenciannya terhadapmu akan semakin besar. Apa Kamu yakin akan melakukan hal seperti itu?”


“Benarkah rencananya seperti itu?”


“Aku rasa. Apa Kamu yakin akan melakukannya Girl?”


“Selama dokter itu tidak benar-benar mengambil bayiku, Aku sangat yakin dengan keputusanku.”


“Ketika Kamu melakukannya, Kamu sudah tidak bisa mundur lagi. Dia akan sangat membencimu. Kecil kemungkinan kalian bisa bersama lagi…”


“Semakin benci, akan semakin bagus. Dengan begitu dia tidak akan menggangguku dan membiarkanku pergi dengan tenang bersama bayi ini…”


“Kamu benar-benar yakin?”


“Aku sangat yakin. Kenapa menanyakan hal yang sama berulang-ulang?”


“Aku hanya tidak ingin melihatmu menyesal Girl. Aku tahu bahwa Kamu masih memiliki perasaan terhadapnya…”


“Mungkin dulu perasaan itu memang ada. Tapi sekarang perasaan itu hilang. Aku tidak akan memberikan hatiku untuk laki-laki sepertinya. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya Tuan Daniel.”


“Baiklah kalau itu keinginanmu Girl.”


“Ta-tapi itu, apakah benar-benar janin sungguhan?”


“Aku rasa seperti itu.”


“Ja-janin siapa? Siapa yang tega membuang bayinya?”


“Mana Aku tahu Girl? Sepertinya klinik ini sering di jadikan tempat untuk menggugurkan bayi…”


“Apa Anda sudah siap Nona? Silakan berbaring tempat tidur.” suara asisten dokter membuyarkan percakapan mereka. Nisha menatap Daniel dengan takut. Dia takut bayinya akan benar-benar di ambil dari tubuhnya.


“Jangan khawatir Girl, Aku akan selalu berada disini. Aku akan memastikan mereka tidak akan melakukan apapun pada tubuhmu.” Daniel menggenggam tangan Nisha, berusaha meyakinkannya.


Nisha mengikuti arahan asisten dokter, dia berbaring di ranjang yang biasanya di gunakan oleh pasien. Asisten itu menyuruhnya untuk membuka kakinya lebar-lebar. Kemudian asisten itu mulai mengoleskan cairan merah mirip darah di area kaki dan pahanya. Nisha hanya bisa pasrah menerima semua itu. Tidak di sangka rencana Zevana akan selicik itu, hilang sudah respect-nya terhadap wanita itu.


***


“Untuk apa Kamu kesini? Bukankah Kita sudah tidak ada urusan lagi?”


“Darl, urusan Kita belum selesai. Ingat terakhir kali Kita bertemu? Kamu meninggalkanku demi pembantu itu…”


“Dia bukan pembantu!! Jaga kata-katamu!” Zico berkata dengan gusar. Sedikit terkejut Zevana dibuatnya. Selama berpacaran bahkan sampai bertunangan, dia tidak pernah diperlakukan kasar seperti ini oleh Zico. Hanya karena wanita rendahan, pria itu bahkan membentaknya.


“Itu bukan urusanmu.”


“Itu menjadi urusanku. Karena Aku tunanganmu!”


“Sejak kapan? Kita sudah tidak memiliki hubungan seperti itu.”


“Zi, jawab Aku. Siapa wanita itu?”


“Itu bukan urusanmu. Aku tidak berhutang penjelasan apapun.” Zico menegaskan dengan dingin. Setiap teringat Nisha membuat hatinya bergelora. Rasa marah, kecewa, sakit hati, dan rindu menjadi satu. Dia tidak percaya wanita itu bisa mempengaruhinya seperti ini.


Untuk menghindari konfrontasi dengannya, dia memutuskan untuk tidak pulang ke apartemen dan lebih memilih menginap di kantor. Dia berencana melakukan hal seperti itu sampai hasil test DNA keluar. Kalau terbukti bahwa bayi yang dikandung Nisha adalah anaknya, dia akan kembali ke sisi wanita itu. Tapi bila hasilnya menunjukkan sebaliknya, mungkin dia akan membunuhnya??!!


Tiba-tiba ponsel Zico berdering. Zico mengambil ponselnya, melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Mama. Sudah lama sekali dia tidak berkomunikasi dengan Mama. Kalau dia tidak salah ingat, terakhir kali mereka bertemu ketika dia menjemput Nisha di rumah besar. Kemarahan menggelora di dadanya setiap kali mengingat hal itu. Bagaimana bisa mama yang begitu penyayang terhadapnya, namun tega berbuat jahat terhadap wanita yang tengah mengandung anaknya?


“Ya?” Zico menjawab dengan dingin. Sebenarnya dia malas mengangkat telepon dari mamanya, namun dia tidak ingin terlalu lama bersikap kekanak-kanakan seperti ini.


“Zi… Apakah Kamu masih marah sama Mama Nak? Maafkan Mama Nak. Mama bersalah. Ada suatu hal yang harus Mama sampaikan Nak…”


“Apa?”


“Zi… setelah Kamu membawa dia pergi, timbul perasaan bersalah di hati Mama. Perasaan itu menuntun Mama untuk bisa mengenalnya lebih dekat lagi. Oleh karena itu, Mama meminta bantuan seseorang untuk mengawasinya. Agar keselamatannya selalu terjaga.Ta-tapi ada hal yang perlu Kamu ketahui hari ini Zi… Se-sebenarnya Mama tidak ingin Kamu mengetahui hal ini melalui telepon. Tapi ini sangat urgent. Menurut orang suruhan Mama, wanita itu sekarang sedang pergi ke sebuah klinik bersama seorang pria. Klinik itu biasanya di gunakan untuk aborsi. Wanita itu tidak akan melakukannya kan Zi? Mama sangat khawatir. Bagaimana pun dia sedang mengandung cucuku. Bagaimana ini Zi??” Suara Mama terdengar panik. Mendengar kabar itu membuat Zico terkesiap, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


“Jangan khawatir Ma. Wanita itu pasti bukan dia. Dia tidak akan melakukan hal-hal seperti itu. Dia sekarang pasti berada di rumah…”


“Zi, Mama juga awalnya tidak percaya. Tapi begitu melihat foto dan videonya, Mama jadi percaya kalau itu dia…”


“Foto apa?!! Video apa?!!” Emosi Zico mulai naik.


“Mama akan segera mengirimkan padamu Zi. Coba Kamu lihat, apakah memang benar-benar bukan dia? Mama akan tutup teleponnya.” Mama menutup telepon dan mengirim file foto dan video ke ponsel Zico.


Zico masih berusaha untuk tenang. Dia yakin bahwa yang mamanya lihat itu bukan Nisha. Wanita itu pasti sedang berada di apartemen. Meringkuk di kamarnya sembari menangis? Atau mungkin wanita itu sedang mengikuti bu Retno belanja di pasar. Pokoknya dia yakin bahwa wanita itu bukan Nisha!


Zico pelan-pelan membuka file video itu. Semakin lama melihatnya, tubuhnya semakin gemetar. Dengan jelas dia bisa melihat bahwa itu benar-benar NISHA!! Nisha miliknya!! Dan laki-laki di sebelahnya adalah si BR*NGSEK DANIEL!! Sedang apa mereka? Apa yang mereka lakukan? Berani-beraninya mereka bertemu lagi di belakangnya? Mau cari mati, hah?!!


Zico berdiri dengan tubuh gemetar menahan amarah. Dia menelepon mamanya lagi, menyuruhnya untuk mengirim alamat klinik itu. Kemudian dengan kemarahan besar dia pergi meninggalkan kantornya.


“Zi, mau kemana?! Zi?” Zevana memanggil-manggil Zico, tapi tidak di hiraukannya. Zico menghubungi asistennya untuk menyiapkan mobil. Zevana tidak menyia-nyiakan hal itu. Begitu mobil datang, dia langsung ikut masuk ke dalamnya.


“Keluar!”


“Zi, Aku khawatir padamu. Ijinkan Aku untuk ikut.”


“Keluar!! Ini bukan urusanmu!!” Zico mendelik marah, dia mendorong tubuh Zee hingga terlontar keluar mobil. Lagi-lagi sikap kasar Zico membuat Zevana terkejut. Tapi dia tidak ingin berlarut-larut dalam keterkejutan. Begitu mobil Zico melaju, dia langsung mengambil mobilnya sendiri, menyusul Zico. Dia tidak ingin menyia-nyiakan tontonan menarik yang akan terjadi sebentar lagi.


***


Happy Reading 😘🥰