Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 64 - Salah Pilih Menantu??



Pagi itu Nisha bersiap-siap untuk


berangkat ke Jakarta. Zoey mulai berdrama korea. Dia menangis jejeritan sembari


bergelayut di kaki ibunya.


"Gak mau!! Gak boleh pelgi!!


Huaaaaa...! Mommih jangan pelgii!!"


"Ibu cuman pergi sebentar Nak, jangan


nangis ya. Anak Ibu pinter banget, sini Ibu cium." Nisha meraih tubuh


Zoey, menciumi pipi gembul yang penuh dengan air mata itu. Zoey menelusupkan


wajahnya di dagu ibunya, sementara tangannya merengkuh leher ibunya dengan


protektif.


"Ssshhh.. Jangan nangis lagi ya. Ibu


cuma pergi sehari, paling banyak dua hari. Setelah itu Ibu akan ada di samping


Zoey lagi..."


"Gak!! Gak mau, huaaa...Jangan


pelgi!! Kalo Mommih pelgi, Zoey ikuuttt!"


"Eh, anak Ibu lupa ya. Uncle Daniel


akan dateng hari ini loh. Uncle akan nemenin Zoey ke sekolah, Zoey seneng kan?


Zoey bisa ngenalin Uncle ke temen-temen. Bisa main sama Uncle sepuasnya juga.


Seneng kan?" Nisha masih mencoba merayu.


Tiba-tiba tangis Zoey berhenti. Dia


mendongakkan kepalanya, menatap wajah ibunya dengan pandangan bertanya-tanya.


"Daddy datang hali inih?"


"Iya, Uncle datang hari ini. Jadi


Zoey bisa maen sepuasnya dengan Uncle. Zoey seneng kan?" Nisha membesarkan


hati anaknya, berharap anaknya itu bersedia merelakannya pergi. "Ibu boleh


pergi ya. Ibu akan cepat datang tanpa Zoey sadari loh, oke?"


Zoey tampak terdiam sesaat. Kepala


kecilnya tampak berpikir. Setelah banyak melakukan pertimbangan, akhirnya dia


menganggukkan kepalanya.


"Bener ya, Zoey ngijinin Ibu pergi??


Ibu pergi sekarang ya. Sini cium Ibu dulu." Nisha memonyongkan bibirnya,


yang di balas Zoey dengan kecupan juga.


“Beliin Zoey mainan Mommih…”


“Iya Nak. Nanti Ibu belikan mainan


kesukaan Zoey ya. Ibu beliin yang banyak. Oke?”


“He’eh…” Zoey mengangguk-anggukan kepala


kecilnya.


Entah kenapa Zoey sedikit rewel hari ini.


Meskipun ini kali pertama mereka berpisah jauh setelah Zoey lahir, tapi Zoey


tidak pernah serewel ini ketika dia tinggal kerja. Biasanya anak itu akan acuh


tak acuh dan menolak untuk di ciumnya. Tapi kali ini malah sebaliknya.


Feelingnya menjadi tidak enak. Apakah Zoey merasakan sesuatu akan terjadi


padanya? Ahh, pasti ini hanya perasaannya saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada


mereka. Dia dan Zoey akan baik-baik saja. Dia hanya akan pergi selama dua


sampai tiga hari saja, jadi pasti tidak aka nada apa-apa.


"Bu, Nisha pamit dulu ya. Titip Zoey


ya Bu..." Nisha mencium tangan ibunya. Memeluk dan mencium pipinya.


"Embul, Ibu pergi dulu ya. Baik-baik sama Uti ya Nak. Jangan nakal ya. Kalo


nakal nanti Uncle gak jadi maen sama Zoey. Mengerti?"


"Iyaah. Hati-hati Mommih.


Dadah..." Zoey mencium ibunya lagi dan melambai-lambaikan tangannya.


Dengan berat hati Nisha pergi dari rumah itu.


***


Zico bangun dengan kondisi kepala yang


pusing berat. Perutnya sangat mual. Zico segera berlari dan memuntahkan semua


isi perutnya. Itu rutinitas yang di alaminya setiap pagi.


"Ya ampun Zi, apa yang terjadi


padamu?!" Tiba-tiba Mama datang tanpa sepengetahuannya. Mama berdiri di


belakangnya dan memijat-mijat tengkuk Zico.


"Mana istrimu?! Mengapa dia


membiarkanmu seperti ini?!" Mama mengomel. Tangannya masih terus memijat


Zico.


Setelah puas mengomel, Mama mengambil air


hangat dan menyuguhkannya pada Zico.


"Kemana dia?! Mengapa jam segini


tidak ada di rumah?! Atau memang dia tidak pulang ke rumah?!"


Zico tidak menjawab (atau lebih tepatnya


masih saja mengomel. Zico mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kepalanya


menjadi sedikit lebih jernih. Bukan kali pertama dia seperti ini. Bukan kali


pertama juga Zevana tidak ada di rumah. Dia tidak peduli dengan wanita itu. Mau


wanita itu hidup atau mati tidak ada pengaruhnya dalam hidupnya.


Kalau di tanya tujuan hidupnya apa? Jujur


saja dia bingung menjawabnya. Dia seperti tidak memiliki arah dan tujuan.


Kesedihan masih belum hilang dari jiwanya. Lima tahun tidak menghapus rasa


sakit hatinya. Pikirannya selalu bertanya-tanya, mengapa wanita itu tega


membunuh anaknya? Bila wanita itu memang tidak mencintainya dan lebih memilih


laki-laki itu, setidaknya biarkan bayi mereka lahir. Sebegitu bencikah dia pada


dirinya? Seburuk itukah sikapnya?


"Arrgghhh!!" Zico memukul tembok


kamar mandi dengan tangannya. Kembali darah segar mengalir di jemarinya.


Dia harus menemukan wanita itu!! Dia harus


membalaskan rasa sakit ini. Dia harus membuat wanita itu merasakan sakit


seperti yang di rasakannya!! Nisha!! Dimana Kamu??!!


***


Zevana membuka pintu apartemen dengan


sembarangan. Tubuhnya tampak sempoyongan. Sepertinya dia baru saja pulang


setelah mabuk-mabukan. Tapi dari matanya, dia tidak tampak sepenuhnya berada di


bawah pengaruh alkohol.


"Zee, darimana Kamu?!!" Mama


mendamprat menantu ketiganya itu.


"Oh Mama rupanya. Ngapain kesini lagi


Ma? Ini rumahku lhooo. Sudah terlalu sering Aku melihat Mama di sini. Bosen


tau." Zee berjalan melewati Mama, mengacuhkannya.


"Berani-beraninya Kamu kurang ajar


seperti ini?!! Apa Kamu lupa siapa yang membuatmu seperti ini?!! Tampak


bantuanku, Kamu tidak akan bisa menikahi anakku!!"


"Ya-ya-ya. Dan sekarang Aku menyesal


menikahi laki-laki tak berguna itu…" Zevana bergumam, namun Mama mendengar


gumamannya itu.


"Apa Kamu bilang?!! Katakan sekali


lagi!" Mama mendekati Zevana dan menjambak rambutnya.


"Auuuwww!! Apa-apain sih Ma!!


Lepasin!! Lepasin Aku bilang!!" Zevana mendorong tubuh Mama dengan kuat.


Mama jatuh tersungkur menghantam meja yang ada di dekat situ.


"Kurang ajar Kamu!! Akan Aku katakan


pada Zico semua kelakuanmu!! Dasar wanita lknat!! Menyesal Aku menikahkan


anakku dengan wanita sundl sepertimu!!" Mama menggeram marah sembari


memegangi punggungnya yang terantuk meja.


"Katakan saja semuanya Ma... Ingat


Ma, siapa yang berperan besar dalam menyingkirkan wanita itu. Coba Mama


bayangkan, seandainya Zico tahu kelakuan Mama? Akan semarah apa dia?! Mama yang


di sayanginya tega memisahkannya dari anak dan istri tercintanya. Membayangkan


kemarahannya saja sudah membuatku puas Ma, hahahaha!!"


Mama menggeram marah. Dia tidak menyangka


wanita yang di belanya setengah mati akan berubah sikap seperti ini


terhadapnya.


"Berani-berani Kamu melakukan ini


Zee!! Mama melakukan semua itu hanya untukmu! Mama sudah banyak berkorban


untukmu!! Apa balasanmu? Hah? Tidak sedikit pun Kamu menunjukkan rasa


hormatmu!"


"Rasa hormat seperti apa yang Mama


mau?! Segala cara sudah Aku lakukan untuk mendapatkan hati anakmu Ma! Tapi anakmu


sama sekali tak bergeming. Mama menyalahkanku karena sikapku yang seperti ini?


Hahahaha!! Salahkan semua itu pada anakmu Ma!! Anakmu sama sekali tak berguna!


Dia laki-laki cacat mental dan juga impoten!! Kalau bukan karena uangnya, Aku


tidak akan menikahinya..."


PLAAAK (Mama menampar Zevana)


"Tutup mulutmu wanita kepar*t!!


Berani-beraninya Kamu menghina anakku!! Lihat saja, Aku akan memaksa Zico untuk


menceraikanmu!! Dasar wanita busuk!!"


"Hahaha. Silakan saja Ma! Aku juga


bisa membuat laki-laki itu membenci Mama seumur hidupnya, hahaha!"


***