
Pagi itu Nisha bersiap-siap untuk
berangkat ke Jakarta. Zoey mulai berdrama korea. Dia menangis jejeritan sembari
bergelayut di kaki ibunya.
"Gak mau!! Gak boleh pelgi!!
Huaaaaa...! Mommih jangan pelgii!!"
"Ibu cuman pergi sebentar Nak, jangan
nangis ya. Anak Ibu pinter banget, sini Ibu cium." Nisha meraih tubuh
Zoey, menciumi pipi gembul yang penuh dengan air mata itu. Zoey menelusupkan
wajahnya di dagu ibunya, sementara tangannya merengkuh leher ibunya dengan
protektif.
"Ssshhh.. Jangan nangis lagi ya. Ibu
cuma pergi sehari, paling banyak dua hari. Setelah itu Ibu akan ada di samping
Zoey lagi..."
"Gak!! Gak mau, huaaa...Jangan
pelgi!! Kalo Mommih pelgi, Zoey ikuuttt!"
"Eh, anak Ibu lupa ya. Uncle Daniel
akan dateng hari ini loh. Uncle akan nemenin Zoey ke sekolah, Zoey seneng kan?
Zoey bisa ngenalin Uncle ke temen-temen. Bisa main sama Uncle sepuasnya juga.
Seneng kan?" Nisha masih mencoba merayu.
Tiba-tiba tangis Zoey berhenti. Dia
mendongakkan kepalanya, menatap wajah ibunya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Daddy datang hali inih?"
"Iya, Uncle datang hari ini. Jadi
Zoey bisa maen sepuasnya dengan Uncle. Zoey seneng kan?" Nisha membesarkan
hati anaknya, berharap anaknya itu bersedia merelakannya pergi. "Ibu boleh
pergi ya. Ibu akan cepat datang tanpa Zoey sadari loh, oke?"
Zoey tampak terdiam sesaat. Kepala
kecilnya tampak berpikir. Setelah banyak melakukan pertimbangan, akhirnya dia
menganggukkan kepalanya.
"Bener ya, Zoey ngijinin Ibu pergi??
Ibu pergi sekarang ya. Sini cium Ibu dulu." Nisha memonyongkan bibirnya,
yang di balas Zoey dengan kecupan juga.
“Beliin Zoey mainan Mommih…”
“Iya Nak. Nanti Ibu belikan mainan
kesukaan Zoey ya. Ibu beliin yang banyak. Oke?”
“He’eh…” Zoey mengangguk-anggukan kepala
kecilnya.
Entah kenapa Zoey sedikit rewel hari ini.
Meskipun ini kali pertama mereka berpisah jauh setelah Zoey lahir, tapi Zoey
tidak pernah serewel ini ketika dia tinggal kerja. Biasanya anak itu akan acuh
tak acuh dan menolak untuk di ciumnya. Tapi kali ini malah sebaliknya.
Feelingnya menjadi tidak enak. Apakah Zoey merasakan sesuatu akan terjadi
padanya? Ahh, pasti ini hanya perasaannya saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada
mereka. Dia dan Zoey akan baik-baik saja. Dia hanya akan pergi selama dua
sampai tiga hari saja, jadi pasti tidak aka nada apa-apa.
"Bu, Nisha pamit dulu ya. Titip Zoey
ya Bu..." Nisha mencium tangan ibunya. Memeluk dan mencium pipinya.
"Embul, Ibu pergi dulu ya. Baik-baik sama Uti ya Nak. Jangan nakal ya. Kalo
nakal nanti Uncle gak jadi maen sama Zoey. Mengerti?"
"Iyaah. Hati-hati Mommih.
Dadah..." Zoey mencium ibunya lagi dan melambai-lambaikan tangannya.
Dengan berat hati Nisha pergi dari rumah itu.
***
Zico bangun dengan kondisi kepala yang
pusing berat. Perutnya sangat mual. Zico segera berlari dan memuntahkan semua
isi perutnya. Itu rutinitas yang di alaminya setiap pagi.
"Ya ampun Zi, apa yang terjadi
padamu?!" Tiba-tiba Mama datang tanpa sepengetahuannya. Mama berdiri di
belakangnya dan memijat-mijat tengkuk Zico.
"Mana istrimu?! Mengapa dia
membiarkanmu seperti ini?!" Mama mengomel. Tangannya masih terus memijat
Zico.
Setelah puas mengomel, Mama mengambil air
hangat dan menyuguhkannya pada Zico.
"Kemana dia?! Mengapa jam segini
tidak ada di rumah?! Atau memang dia tidak pulang ke rumah?!"
Zico tidak menjawab (atau lebih tepatnya
masih saja mengomel. Zico mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kepalanya
menjadi sedikit lebih jernih. Bukan kali pertama dia seperti ini. Bukan kali
pertama juga Zevana tidak ada di rumah. Dia tidak peduli dengan wanita itu. Mau
wanita itu hidup atau mati tidak ada pengaruhnya dalam hidupnya.
Kalau di tanya tujuan hidupnya apa? Jujur
saja dia bingung menjawabnya. Dia seperti tidak memiliki arah dan tujuan.
Kesedihan masih belum hilang dari jiwanya. Lima tahun tidak menghapus rasa
sakit hatinya. Pikirannya selalu bertanya-tanya, mengapa wanita itu tega
membunuh anaknya? Bila wanita itu memang tidak mencintainya dan lebih memilih
laki-laki itu, setidaknya biarkan bayi mereka lahir. Sebegitu bencikah dia pada
dirinya? Seburuk itukah sikapnya?
"Arrgghhh!!" Zico memukul tembok
kamar mandi dengan tangannya. Kembali darah segar mengalir di jemarinya.
Dia harus menemukan wanita itu!! Dia harus
membalaskan rasa sakit ini. Dia harus membuat wanita itu merasakan sakit
seperti yang di rasakannya!! Nisha!! Dimana Kamu??!!
***
Zevana membuka pintu apartemen dengan
sembarangan. Tubuhnya tampak sempoyongan. Sepertinya dia baru saja pulang
setelah mabuk-mabukan. Tapi dari matanya, dia tidak tampak sepenuhnya berada di
bawah pengaruh alkohol.
"Zee, darimana Kamu?!!" Mama
mendamprat menantu ketiganya itu.
"Oh Mama rupanya. Ngapain kesini lagi
Ma? Ini rumahku lhooo. Sudah terlalu sering Aku melihat Mama di sini. Bosen
tau." Zee berjalan melewati Mama, mengacuhkannya.
"Berani-beraninya Kamu kurang ajar
seperti ini?!! Apa Kamu lupa siapa yang membuatmu seperti ini?!! Tampak
bantuanku, Kamu tidak akan bisa menikahi anakku!!"
"Ya-ya-ya. Dan sekarang Aku menyesal
menikahi laki-laki tak berguna itu…" Zevana bergumam, namun Mama mendengar
gumamannya itu.
"Apa Kamu bilang?!! Katakan sekali
lagi!" Mama mendekati Zevana dan menjambak rambutnya.
"Auuuwww!! Apa-apain sih Ma!!
Lepasin!! Lepasin Aku bilang!!" Zevana mendorong tubuh Mama dengan kuat.
Mama jatuh tersungkur menghantam meja yang ada di dekat situ.
"Kurang ajar Kamu!! Akan Aku katakan
pada Zico semua kelakuanmu!! Dasar wanita lknat!! Menyesal Aku menikahkan
anakku dengan wanita sundl sepertimu!!" Mama menggeram marah sembari
memegangi punggungnya yang terantuk meja.
"Katakan saja semuanya Ma... Ingat
Ma, siapa yang berperan besar dalam menyingkirkan wanita itu. Coba Mama
bayangkan, seandainya Zico tahu kelakuan Mama? Akan semarah apa dia?! Mama yang
di sayanginya tega memisahkannya dari anak dan istri tercintanya. Membayangkan
kemarahannya saja sudah membuatku puas Ma, hahahaha!!"
Mama menggeram marah. Dia tidak menyangka
wanita yang di belanya setengah mati akan berubah sikap seperti ini
terhadapnya.
"Berani-berani Kamu melakukan ini
Zee!! Mama melakukan semua itu hanya untukmu! Mama sudah banyak berkorban
untukmu!! Apa balasanmu? Hah? Tidak sedikit pun Kamu menunjukkan rasa
hormatmu!"
"Rasa hormat seperti apa yang Mama
mau?! Segala cara sudah Aku lakukan untuk mendapatkan hati anakmu Ma! Tapi anakmu
sama sekali tak bergeming. Mama menyalahkanku karena sikapku yang seperti ini?
Hahahaha!! Salahkan semua itu pada anakmu Ma!! Anakmu sama sekali tak berguna!
Dia laki-laki cacat mental dan juga impoten!! Kalau bukan karena uangnya, Aku
tidak akan menikahinya..."
PLAAAK (Mama menampar Zevana)
"Tutup mulutmu wanita kepar*t!!
Berani-beraninya Kamu menghina anakku!! Lihat saja, Aku akan memaksa Zico untuk
menceraikanmu!! Dasar wanita busuk!!"
"Hahaha. Silakan saja Ma! Aku juga
bisa membuat laki-laki itu membenci Mama seumur hidupnya, hahaha!"
***