
"Zi, Zi... Bangun Zi, sudah
siang. Sudah waktunya berangkat kerja."
"Cium dulu..."
"Ogah. Kamu nya bau, belum
mandi. Kalau tidak mau bangun, Aku tinggal loh." Nisha membalikkan
tubuhnya, dengan sigap Zico menarik tangan Nisha hingga tubuh Nisha terhempas
di atas tubuhnya. Kemudian dia memeluk dan mengunci tubuh Nisha agar wanita itu
tidak bisa melarikan diri. Zico mulai menciumi Nisha dengan membabi buta.
"Zi!! Apa-apaan sih,
lepasin!! Uhmm..." Bibir Nisha kembali di tutup oleh bibir Zico. Zico
dengan buas melumat mulut Nisha sampai wanita itu kehabisan napas.
"Itu hukumannya karena
sudah memanggil suami dengan namanya." Zico tersenyum puas.
"Kalau gak dipanggil dengan
namanya, memangnya harus di panggil dengan nama orang lain?! Kan gak!"
"Panggilan untuk suami itu
harus penuh dengan cinta. Panggil *sayang, honey, darling" kek, kok bisa
manggil suami dengan namanya. Coba panggil Aku lagi."
"Zico!" Nisha tidak
mau mengalah. Zico menjadi gemas dibuatnya. Akhirnya dia kembali melumat bibir
Nisha sampai mereka kehabisan napas.
"Panggil namaku lagi, akan
Ku ***** lagi bibirmu." Zico masih mengunci tubuh Nisha. Nisha sudah
kewalahan.
"Zi...Daddy Zoey?"
"Daddy Zoey?"
"Ya, Ku panggil Daddy Zoey
saja, gimana?" Nisha memasang wajah puppy face, benar-benar mirip Zoey
ketika sedang meminta sesuatu. Sebenarnya Zico tidak puas dengan panggilan itu.
Dia ingin di panggil *sayang\, honey atau darling*. Tapi wajah Nisha yang imut
tidak bisa di tolaknya. Zico mengambil dagu Nisha dan menciumnya kuat-kuat.
"Oke, setuju Mommy."
"Ayo sekarang bangun. Pak
Asisten sudah menunggu di depan."
"Aku merasa tidak enak
badan..."
"Jangan banyak alasan. Ayo
bangun."
"Aku benar-benar,
huummpp..." Zico segera beranjak dari ranjang dan berlari ke toilet.
"Hueekk...Hueeekk..."
Zico memuntahkan isi perutnya. Nisha segera menyusulnya. Kemudian dia
memijit-mijit punggung suaminya dengan lembut.
"Salah makan apa sih?
Kenapa sering sekali muntah-muntah? Kita panggil dokter saja ya?"
"Gak...gak
usah...hueekk."
"Tiap pagi Kamu kayak gini
Zi. Aku khawatir. Aku akan panggil dokter." Nisha beranjak namun segera di
tahan oleh Zico.
"Gak usah sayang. Aku sudah
periksa. Tidak ada masalah apa-apa...hueekkk."
"Kalau tidak ada masalah
apa-apa, kenapa hampir setiap pagi Kamu muntah-muntah seperti ini? Apa karena
alergi makanan? Alergi cuaca? Atau yang lainnya? Aku khawatir Zi."
"Aku gak apa-apa sayang.
Bantu Aku berdiri." Nisha membantu Zico berdiri dan memapahnya ke tempat
tidur.
"Jangan kemana-mana, temani
Aku." Zico meletakkan kepalanya di pangkuan Nisha dan memejamkan matanya
dengan nyaman.
"Yakin gak apa-apa?"
"Iya. Cium Aku."
"Sakit aja masih banyak
gaya ya, nih rasakan." Nisha mencubit pipi Zico kuat-kuat.
"Auw...auw..." Zico
berusaha melepaskan tangan Nisha dari pipinya.
"Jangan jahat-jahat sama
orang sakit. Aku sakit beneran lho."
"Kalau sakit beneran, Aku
panggilin dokter. Kenapa di panggilin dokter gak mau?"
sayang. Gak ada masalah dengan kesehatanku. Aku sehat seratus persen. Mau lomba
lari, adu panco, atau bercinta tujuh hari tujuh malam juga kuat..."
"Oh ya? Lalu mengapa Mr.
Kuat jadi lemah begini sekarang?" Nisha mencibir.
"Cium Aku. Aku akan cepet
sembuh." Zico melingkarkan tangannya di pinggang Nisha, sementara
kepalanya dia gesek-gesekin ke perut Nisha.
Nisha tidak tahu sejak kapan hal
ini bermula. Tapi laki-laki itu semakin hari semakin manja terhadapnya.
Bukannya harusnya seorang istri yang manja terhadap suaminya?
Nisha mengecupi kening, pipi dan
bibir Zico dengan sayang.
"Sudah sembuh?"
"Lumayan. Peluk Aku."
Nisha menuruti kata-kata Zico yang banyak maunya itu.
"Kenapa pria tangguhku
menjadi bayi besar seperti ini? Sikapmu dan Zoey tidak ada bedanya." Nisha
menyindir usil.
"Aku tidsk peduli. Peluk
Aku."
"Ya-ya, Tuan tukang perintah dan manja." Lama mereka berada dalam
posisi itu sebelum akhirnya kemesraan mereka di buyarkan oleh seorang krucil
yang merasa di abaikan.
"Mommih, Zoey juga mau di
cium!" Tiba-tiba Zoey datang dan langsung naik ke atas kasur. Dia mengikuti pose ayahnya, tidur di pangkuan
Nisha. Dengan gemas Nisha menciumi ayah dan anak itu secara bergantian.
Setelah hampir sepuluh menit
melakukan aktivitas tak berguna itu, Nisha memaksa Zico dan Zoey untuk mandi.
Mau gak mau keduanya mengikuti perkataan Mommy cerewet.
Zico berangkat ke kantor dengan
ogah-ogahan. Perlu waktu ekstra untuk membuatnya masuk ke dalam mobil.
"Aku sakit. Aku tidak mau
ke kantor..."
"Jangan banyak alasan.
Cepat masuk ke mobil. Kasihan Pak asisten sudah nungguin."
"Cium Aku."
"Gak. Tadi kan sudah."
"Peluk Aku." Zico
merentangkan tangannya. Nisha menepis tangannya. "Aku benar-benar tidak
ingin ke kantor. Aku ingin Kamu ikut."
"Nanti siang Aku akan
mampir ke perusahaan."
"Serius?"
"Hem."
"Baiklah. Aku akan mengirim
supir untuk kalian. Cium Aku sekali lagi."
"Sudah cukup. Silakan
berangkat kerja, cari uang yang banyak." Nisha mendorong tubuh Zico ke
dalam mobil dan menutup pintunya. Mobil pun melaju dengan kecepatan standar.
Sepulangnya dari kota Surabaya,
Zico memutuskan untuk memboyong mereka ke tempat tinggal baru. Mereka tidak
lagi tinggal di pulau, tapi di kawasan elite yang hanya di huni oleh para
bos-bos kaya pemilik perusahaan. Bila Nisha tidak salah ingat, kawasan ini
adalah kawasan yang sama dimana Rumah Besar berada. Prediksinya benar-benar
tepat. Tidak lama sejak kepindahan mereka, mama mertua dan kedua kakak iparnya
datang berkunjung tanpa sepengetahuan Zico. Karena rumah di lengkapi dengan
CCTV full, akhirnya mereka selalu melakukan pertemuan di taman secara
diam-diam.
Mama berulangkali meminta maaf
padanya. Dari lubuk hati yang terdalam, Nisha sudah memaafkannya. Mama begitu
menyayangi Zoey. Sepertinya kasih sayang yang Mama berikan melebihi dari apa
yang di berikannya pada cucunya yang lain. Nisha sangat terharu melihatnya.
"Apakah Zi masih belum
memaafkan Mama?"
"Dia pasti akan memaafkan
Mama."
"Ya, Mama harap hari itu
akan segera tiba." Mama berkata sembari berkaca-kaca.
***
Happy Reading ^^