Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Side Story 1 - Bayi Besar Yang Manja



"Zi, Zi... Bangun Zi, sudah


siang. Sudah waktunya berangkat kerja."


"Cium dulu..."


"Ogah. Kamu nya bau, belum


mandi. Kalau tidak mau bangun, Aku tinggal loh." Nisha membalikkan


tubuhnya, dengan sigap Zico menarik tangan Nisha hingga tubuh Nisha terhempas


di atas tubuhnya. Kemudian dia memeluk dan mengunci tubuh Nisha agar wanita itu


tidak bisa melarikan diri. Zico mulai menciumi Nisha dengan membabi buta.


"Zi!! Apa-apaan sih,


lepasin!! Uhmm..." Bibir Nisha kembali di tutup oleh bibir Zico. Zico


dengan buas melumat mulut Nisha sampai wanita itu kehabisan napas.


"Itu hukumannya karena


sudah memanggil suami dengan namanya." Zico tersenyum puas.


"Kalau gak dipanggil dengan


namanya, memangnya harus di panggil dengan nama orang lain?! Kan gak!"


"Panggilan untuk suami itu


harus penuh dengan cinta. Panggil *sayang, honey, darling" kek, kok bisa


manggil suami dengan namanya. Coba panggil Aku lagi."


"Zico!" Nisha tidak


mau mengalah. Zico menjadi gemas dibuatnya. Akhirnya dia kembali melumat bibir


Nisha sampai mereka kehabisan napas.


"Panggil namaku lagi, akan


Ku ***** lagi bibirmu." Zico masih mengunci tubuh Nisha. Nisha sudah


kewalahan.


"Zi...Daddy Zoey?"


"Daddy Zoey?"


"Ya, Ku panggil Daddy Zoey


saja, gimana?" Nisha memasang wajah puppy face, benar-benar mirip Zoey


ketika sedang meminta sesuatu. Sebenarnya Zico tidak puas dengan panggilan itu.


Dia ingin di panggil *sayang\, honey atau darling*. Tapi wajah Nisha yang imut


tidak bisa di tolaknya. Zico mengambil dagu Nisha dan menciumnya kuat-kuat.


"Oke, setuju Mommy."


"Ayo sekarang bangun. Pak


Asisten sudah menunggu di depan."


"Aku merasa tidak enak


badan..."


"Jangan banyak alasan. Ayo


bangun."


"Aku benar-benar,


huummpp..." Zico segera beranjak dari ranjang dan berlari ke toilet.


"Hueekk...Hueeekk..."


Zico memuntahkan isi perutnya. Nisha segera menyusulnya. Kemudian dia


memijit-mijit punggung suaminya dengan lembut.


"Salah makan apa sih?


Kenapa sering sekali muntah-muntah? Kita panggil dokter saja ya?"


"Gak...gak


usah...hueekk."


"Tiap pagi Kamu kayak gini


Zi. Aku khawatir. Aku akan panggil dokter." Nisha beranjak namun segera di


tahan oleh Zico.


"Gak usah sayang. Aku sudah


periksa. Tidak ada masalah apa-apa...hueekkk."


"Kalau tidak ada masalah


apa-apa, kenapa hampir setiap pagi Kamu muntah-muntah seperti ini? Apa karena


alergi makanan? Alergi cuaca? Atau yang lainnya? Aku khawatir Zi."


"Aku gak apa-apa sayang.


Bantu Aku berdiri." Nisha membantu Zico berdiri dan memapahnya ke tempat


tidur.


"Jangan kemana-mana, temani


Aku." Zico meletakkan kepalanya di pangkuan Nisha dan memejamkan matanya


dengan nyaman.


"Yakin gak apa-apa?"


"Iya. Cium Aku."


"Sakit aja masih banyak


gaya ya, nih rasakan." Nisha mencubit pipi Zico kuat-kuat.


"Auw...auw..." Zico


berusaha melepaskan tangan Nisha dari pipinya.


"Jangan jahat-jahat sama


orang sakit. Aku sakit beneran lho."


"Kalau sakit beneran, Aku


panggilin dokter. Kenapa di panggilin dokter gak mau?"


sayang. Gak ada masalah dengan kesehatanku. Aku sehat seratus persen. Mau lomba


lari, adu panco, atau bercinta tujuh hari tujuh malam juga kuat..."


"Oh ya? Lalu mengapa Mr.


Kuat jadi lemah begini sekarang?" Nisha mencibir.


"Cium Aku. Aku akan cepet


sembuh." Zico melingkarkan tangannya di pinggang Nisha, sementara


kepalanya dia gesek-gesekin ke perut Nisha.


Nisha tidak tahu sejak kapan hal


ini bermula. Tapi laki-laki itu semakin hari semakin manja terhadapnya.


Bukannya harusnya seorang istri yang manja terhadap suaminya?


Nisha mengecupi kening, pipi dan


bibir Zico dengan sayang.


"Sudah sembuh?"


"Lumayan. Peluk Aku."


Nisha menuruti kata-kata Zico yang banyak maunya itu.


"Kenapa pria tangguhku


menjadi bayi besar seperti ini? Sikapmu dan Zoey tidak ada bedanya." Nisha


menyindir usil.


"Aku tidsk peduli. Peluk


Aku."


"Ya-ya, Tuan tukang perintah  dan manja." Lama mereka berada dalam


posisi itu sebelum akhirnya kemesraan mereka di buyarkan oleh seorang krucil


yang merasa di abaikan.


"Mommih, Zoey juga mau di


cium!" Tiba-tiba Zoey datang dan langsung naik ke atas kasur.  Dia mengikuti pose ayahnya, tidur di pangkuan


Nisha. Dengan gemas Nisha menciumi ayah dan anak itu secara bergantian.


Setelah hampir sepuluh menit


melakukan aktivitas tak berguna itu, Nisha memaksa Zico dan Zoey untuk mandi.


Mau gak mau keduanya mengikuti perkataan Mommy cerewet.


Zico berangkat ke kantor dengan


ogah-ogahan. Perlu waktu ekstra untuk membuatnya masuk ke dalam mobil.


"Aku sakit. Aku tidak mau


ke kantor..."


"Jangan banyak alasan.


Cepat masuk ke mobil. Kasihan Pak asisten sudah nungguin."


"Cium Aku."


"Gak. Tadi kan sudah."


"Peluk Aku." Zico


merentangkan tangannya. Nisha menepis tangannya. "Aku benar-benar tidak


ingin ke kantor. Aku ingin Kamu ikut."


"Nanti siang Aku akan


mampir ke perusahaan."


"Serius?"


"Hem."


"Baiklah. Aku akan mengirim


supir untuk kalian. Cium Aku sekali lagi."


"Sudah cukup. Silakan


berangkat kerja, cari uang yang banyak." Nisha mendorong tubuh Zico ke


dalam mobil dan menutup pintunya. Mobil pun melaju dengan kecepatan standar.


Sepulangnya dari kota Surabaya,


Zico memutuskan untuk memboyong mereka ke tempat tinggal baru. Mereka tidak


lagi tinggal di pulau, tapi di kawasan elite yang hanya di huni oleh para


bos-bos kaya pemilik perusahaan. Bila Nisha tidak salah ingat, kawasan ini


adalah kawasan yang sama dimana Rumah Besar berada. Prediksinya benar-benar


tepat. Tidak lama sejak kepindahan mereka, mama mertua dan kedua kakak iparnya


datang berkunjung tanpa sepengetahuan Zico. Karena rumah di lengkapi dengan


CCTV full, akhirnya mereka selalu melakukan pertemuan di taman secara


diam-diam.


Mama berulangkali meminta maaf


padanya. Dari lubuk hati yang terdalam, Nisha sudah memaafkannya. Mama begitu


menyayangi Zoey. Sepertinya kasih sayang yang Mama berikan melebihi dari apa


yang di berikannya pada cucunya yang lain. Nisha sangat terharu melihatnya.


"Apakah Zi masih belum


memaafkan Mama?"


"Dia pasti akan memaafkan


Mama."


"Ya, Mama harap hari itu


akan segera tiba." Mama berkata sembari berkaca-kaca.


***


Happy Reading ^^