
"Bu, itu anaknya ya?"
"Bukan."
"Pasti menantunya ya?"
"Hem."
"Menantunya ganteng banget lho Bu. Mana baik banget, nganterin mertuanya belanja di pasar. Andai saja punya anak perempuan, pasti Saya jodohkan Bu..."
"Hem."
Bu Rusmini (Ibu Nisha) merasa sangat kesal. Setiap kali berpindah dari pedagang satu ke pedagang yang lain, pertanyaannya selalu sama. Menanyakan kehadiran laki-laki muda yang selalu membuntutinya selama seminggu terakhir ini.
Bu Rusmi menatap Zico dengan kesal. Sampai kapan anak ini akan membuntutinya? Apa dengan melakukan hal seperti ini di pikirnya perasaannya akan luluh? Kemana saja dia selama lima tahun ini? Mengapa baru datang sekarang? Apa dia tahu bagaimana perjuangan Nisha selama ini? Untung saja masih ada laki-laki baik seperti Daniel. Yang selalu membantu dan menemani keluarga mereka sampai seperti ini.
Bu Rusmi sangat kecewa Nisha memilih laki-laki tidak jelas seperti ini. Meskipun laki-laki itu adalah ayahnya Zoey, tapi itu bukan segalanya. Selama ini yang menjadi sosok ayah bagi Zoey adalah Daniel. Namun sekarang laki-laki baik itu harus menerima kenyataan pahit, melihat Nisha dan ayah Zoey kembali bersama.
"Bu, belanjaannya biar Saya bawakan."
"Tidak perlu!" Bu Rusmi berjalan dengan langkah cepat sembari membawa belanjaan yang menggunung. Zico mengikuti di belakangnya. Dengan cepat dia mengambil belanjaan Ibu dan membawakannya.
"Kembalikan!"
"Biar Saya yang bawakan Bu."
"Tidak perlu!"
"Gak apa-apa Bu..."
"Jika Kamu pikir dengan melakukan hal seperti ini akan membuat hati Ibu luluh, jawabannya tidak!" Ibu merebut belanjaannya kembali dan meninggalkan Zico.
Zico tidak patah arang. Dia kembali mengikuti Bu Rusmi dan kembali mengambil barang belanjaan. Setelah berdebat agak lama, akhirnya Ibu mengalah dan membiarkan Zico membawa belanjaannya.
Ibu melirik Zico yang berjalan di sampingnya. Memperhatikan keseluruhan penampilan Zico dengan seksama. Entah Ibu harus bersyukur atau menyesal. Anak perempuannya di cintai oleh dua laki-laki yang sangat tampan dan sepertinya juga kaya? Yah, meskipun kekayaan bukan segalany. Bu Rusmi memperhatikan Zico yang menggunakan masker. Bu Rusmi tersenyum kecut. Baru ke pasar saja sudah menggunakan masker, apa pasar sebau itu? Apa semua anak kaya seperti ini? Oh tidak, tidak... Daniel tidak seperti dia.
Hati Bu Rusmi menjadi kesal. Timbul niat sedikit jahat di dalam hatinya. Ibu melangkah ke kumpulan penjual daging dan ikan. Bau amis dan menyengat langsung tercium. Ibu sengaja berlama-lama di tempat itu, ingin melihat reaksi Zico. Dan seperti dugaannya, tak berselang lama laki-laki muda itu mulai muntah-muntah hebat. Ibu tertawa dalam hati, penuh kemenangan.
Tapi tawa itu tak berlangsung lama. Hati Bu Rusmi yang lembut dan penuh dengan jiwa keibuan langsung bergejolak melihat laki-laki muda itu tidak berhenti muntah. Bu Rusmi mendekati dan mulai menepuk-nepuk punggungnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Zico menjawab dengan gelengan kepala. Perutnya tidak berhenti bergejolak. Bu Rusmi menjadi kasihan padanya.
"Ayo pulang, Ibu kerokin badannya." Zico menganggukkan kepala. Entah muncul darimana, seorang laki-laki muda tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan memapah Zico masuk ke dalam mobil. Laki-laki itu membukakan pintu untuk Bu Rusmi juga.
"Siapa Kamu?"
"Saya asisten beliau Bu, nama Saya Vanno."
"Bawa dia bersamamu."
"Tapi beliau sedang sakit Bu. Beliau jauh dari Bu Nisha. Tidak ada yang merawat."
"Kalian pasti sengaja melakukan ini."
"Tidak Bu. Bos Saya ini memang sedang tidak enak badan. Tapi beliau memaksa untuk bertemu dengan Ibu..."
Bu Rusmi terdiam, tampak berpikir. Setelah menimbang-nimbang, pada akhirnya jiwa kemanusiaannya menang.
"Ya sudah lah. Antarkan Ibu ke rumah. Kalian pasti tahu rumah Ibu."
"Siap Bu." Vanno menutup pintu mobil sembari tersenyum penuh kemenangan.
***
-Sayang, maaf untuk hari ini Aku tidak bisa pulang.
*Iya gak apa-apa sayang. Pekerjaanmu pasti banyak?
-Iya, lumayan. Besok Aku usahakan untuk pulang ya. Jaga diri baik-baik. Titip Zoey dan adik-adiknya.
*Iya. Kamu juga jaga diri baik-baik sayang, jaga kesehatan ya.
-Siap sayang, i love you...
*We love you, daddy...muach
Zico menatap layar ponselnya. Dia sedang mengirim pesan teks pada Nisha. Dia merasa bersalah sudah berbohong seperti ini. Bila dia berkata jujur, Nisha akan melarangnya. Menyuruhnya untuk pergi bersama-sama saja. Zico ingin mendapatkan restu Ibu secara langsung. Dia ingin mendapatkan hati Ibu dengan caranya sendiri. Dia ingin Ibu menerima apa adanya dirinya, bukan karena bujuk rayu Nisha.
Zico tersenyum simpul. Setidaknya dia sekarang sudah separuh jalan. Ibu mengijinkannya untuk masuk ke rumah beliau. Hari ini merupakan kemajuan yang besar baginya. Biasanya Ibu akan menutup pintu bila melihatnya datang. Sekarang tidak lagi. Ibu bahkan mengijinkannya untuk tidur di kamar Nisha. Benar-benar kemajuan yang luar biasa! Ternyata sindrom kehamilan simpatik yang di deritanyabisa berguna juga di saat-saat seperti ini, hehe.
Zico berpura-pura memejamkan mata begitu melihat seseorang sedang memutar kenop pintu.
"Bangun. Ibu buatin jahe hangat. Ini sedikit akan mengurangi mualmu." Ibu meletakkan jahe hangat di meja dan mengguncang tubuh Zico dengan pelan. Zico pura-pura terbangun dari tidurnya. Dia duduk dan meminum jahe hangat buatan ibu mertua.
"Terima kasih Bu, minumannya enak."
"Apa perutmu baik-baik saja? Ibu dengar dari asistenmu, kalau Kamu sering muntah seperti ini?"
"Iya Bu..."
"Sejak kapan?"
"Beberapa minggu yang lalu..."
"Coba menghadap kesana. Ibu kerokin punggungmu."
"Ti-tidak usah Bu..."
"Jangan membantah. Lepas bajumu." Mendengar nada memerintah seperti itu, membuat Zico menjadi penurut. Dia melepas baju dan menghadap tembok. Membelakangi Ibu. Pelan-pelan aroma minyak angin yang khas dan dinginnya uang logam menyentuh punggungnya. Bu Rusmi mulai mengeroki punggungnya.
"I-iya Bu."
"Ketemu dimana?"
"Di kantor..."
"Apa yang Kamu sukai dari anak Ibu? Anak Ibu miskin, tidak punya apa-apa. Pendidikannya juga rendah waktu itu."
"Ya...ya karena Saya sayang Bu..." Zico begitu gugup mendapat pertanyaan seperti itu. Tidak mungkin dia menjawab bahwa dia sudah memperkosa putrinya dan menyia-nyiakan kehidupannya bukan?
"Kenapa Nisha meninggalkanmu? Apa salahmu? Kenapa kalian menikah tanpa sepengetahuan Ibu? Kenapa pernikahan yang sekarang pun kalian tidak memberitahu Ibu. Apa kalian benar-benar sudah tidak menganggap Ibu sebagai orang tua? Sehingga keberadaan Ibu tidak ada artinya apa-apa?"
Zico tertegun mendengar pertanyaan itu. Perasaan bersalah menghantamnya. Zico tiba-tiba membalikkan tubuhnya, dia bersujud di kaki Bu Rusmi.
"Maaf-maafkan Saya Bu. Saya yang bersalah. Saya sangat bersalah. Nisha sama sekali tidak bersalah..." Dan Zico pun menceritakan semua kebenarannya. Dari awal mula dia memperkosa Nisha, menikahinya secara siri, keluarganya yang mengganggu Nisha, kepergian Nisha dari hidupnya, depresi yang di alaminya, penculikan Nisha dan Zoey, hingga pemaksaan yang di lakukannya untuk membuat Nisha agar mau menikah dengannya lagi.
"Semua salah Saya Bu, maafkan Saya. Saya sangat mencintainya. Saya begitu terpukul saat mengetahui anak Kami sudah di gugurkan. Tapi pada kenyataannya anak Kami masih hidup. Saya sangat bahagia begitu mengetahui Zoey masih hidup. Saya sangat mencintai mereka berdua. Ijinkan Saya untuk bersama mereka Bu..." Zico memegang tangan Bu Rusmi dengan raut wajah penuh penyesalan dan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar berharap Bu Rusmi mau menerima dirinya yang penuh dengan kekurangan ini.
Bu Rusmi menitikkan air mata mendengar semua penjelasan Zico. Dia tidak menyangka putri sulungnya akan mengalami penderitaan yang begitu berat. Demi menghidupi keluarga, Nisha menyimpan semua masalahnya sendiri. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hah, kasian sekali nasib putrinya. Bu Rusmi menangis.
Lama bu Rusmi menangis. Sementara Zico masih duduk bersimpuh sembari memegang tangan bu Rusmi, meminta pengampunannya. Puas menangis, bu Rusmi memperhatikan Zico dengan bimbang. Dia tahu bahwa laki-laki muda itu sudah menyesal dengan segala perbuatannya. Itu bisa di lihat dari raut wajahnya. Tapi tetap saja, gara-gara laki-laki ini anaknya mengalami penderitaan yang panjang. Apa yang harus di lakukannya? Haruskah dia merestui hubungan mereka?
"Apa Kamu mencintai Nisha?"
"Saya sangat mencintainya Bu..."
"Apa Nisha mencintaimu?"
"Saya rasa dia mencintai Saya."
"Apa kalian bahagia?"
"Kami sangat-sangat bahagia. Hingga rasanya kebahagiaan ini terasa tidak nyata."
"Apa Kamu berjanji akan mencintai mereka selamanya?"
"Iya, Saya berjanji Bu."
"Tidak akan meninggalkan mereka?"
"Tidak akan."
"Tidak akan berbuat kasar lagi?"
"Tidak akan Bu."
"Menjaga mereka?"
"Saya akan menjaga mereka dengan nyawa Saya Bu." Zico menjawab dengan sungguh-sungguh. Bu Rusmi berkaca-kaca melihatnya. Meskipun menurut kacamata orang tua Daniel merupakan laki-laki yang lebih baik dari Zico, namun mau tidak mau Bu Rusmi harus menerima Zico. Mungkin Tuhan memang sudah menakdirkan putrinya dengan laki-laki seperti Zico. Semoga Daniel bisa mendapatkan wanita yang lebih baik lagi.
Bu Rusmi merentangkan tangannya dan memeluk Zico.
"Bila kalian saling mencintai, saling bahagia saat bersama, maka yang bisa Ibu lakukan hanyalah merestui pernikahan kalian."
"Ibu merestui Kami?!"
"Ya. Buat anak dan cucu Ibu bahagia. Jangan sakiti mereka lagi."
"Iya Bu, Saya berjanji. Terima kasih Bu." Zico secara spontan memeluk Bu Rusmi yang juga balas memeluknya.
"Sudah-sudah. Pakai lagi bajumu. Atau mau Ibu kerokin lagi?"
"Ti-tidak Bu."
"Sudah periksa ke dokter?"
"Sudah Bu."
"Apa kata dokter?"
"Nisha hamil Bu."
"Hah?"
"Nisha hamil lagi Bu. Itulah kenapa Saya yang mengalami gejalanya..."
"Oalah Le... Seng sabar yo Le, hahaha." (Oalah Nak, yang sabar ya Nak, hahaha) bu Rusmi memeluk Zico.
"Selamat ya Nak, Ibu ikut senang mendengarnya. Kapan Kamu pulang? Ibu mau ikut kalian."
***