Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 58 - Kecil, Ibu Akan Melakukan Apapun Untukmu



Mama maupun Zee seketika menghentikan aktivitasnya ketika mendengar perkataan Nisha.


“Apa Kamu bilang? Coba ulangi!”


“Ak-aku akan pergi… Aku akan pergi dari hidup kalian. Ak-ku akan melakukan apapun yang kalian inginkan. Ta-tapi tolong jangan sakiti bayi ini. Hanya dia harta yang Aku miliki…Tolong jangan sakiti Kami…” Nisha berurai airmata. Wajahnya di penuhi dengan rasa putus asa.


Zee dan Mama saling berpandangan. Mama memberi kode untuk melepaskan Nisha. Zee melepaskan pegangannya.


“Kamu yakin, Kamu akan melakukan apa saja?” Zee kembali bertanya.


“Iy-iya…Say-saya akan melakukan apa saja…Tapi tolong jangan sakiti dia…” Nisha memeluk perutnya dengan erat. Airmata tidak berhenti mengalir dari matanya. Zee dan Mama menatap dengan penuh arti. Tujuan mereka tercapai. Sebenarnya mereka tidak benar-benar akan melakukan hal itu pada Nisha. Mereka hanya berniat menakut-nakuti wanita itu agar mau memenuhi permintaan mereka dengan sukarela. Ide Mama untuk menggunakan janin Nisha sebagai kelemahan terbesar wanita itu ternyata berhasil.


“Baiklah, Kami akan melepaskanmu. Yang Kami inginkan tidak banyak. Kami hanya ingin Kamu pergi dari hidup Kami, terutama Zico.”


“Ya-ya, Saya bisa melakukannya.” Nisha menjawab dengan cepat.


“Aku belum selesai bicara. Dengarkan perkataanku selanjutnya.”


“Ba-baik…”


“Aku ingin Kamu membuat Zico sangat membencimu, hingga dia tidak ingin melihat wajahmu lagi.” Zee berkata dengan sangat licik.


“Ap-apa yang harus Aku lakukan?”


***


Sepeninggalnya kedua wanita itu, Nisha terduduk lemas di ruang tamu. Semua kejadian itu membuatnya sangat syok. Bila mengingat wanita-wanita itu memaksanya untuk menggugurkan bayinya terasa sangat menakutkan.


“Kecil, Ibu akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap hidup. Jangan pernah salahkan apapun keputusan yang Ibu buat ya. Semua yang Ibu lakukan hanya untuk melindungimu. Hanya Kamu satu-satunya harta yang Ibu miliki…” Nisha kembali menangis sesegukan. Dia kembali mengingat perkataan wanita itu.


“Buat Zico sangat membencimu. Hal itu bisa Kamu lakukan dengan cara memanfaatkan bayimu dan pria itu.”


“Mak-maksudnya?”


“Kami akan mengaturnya untukmu. Yang Kami butuhkan hanya kehadiranmu. Pastikan pria itu juga datang bersamamu.”


“P-pria? P-pria yang mana?”


“Entah Kamu berpura-pura bodoh atau memang benar-benar bodoh. Pastikan pria yang makan bersamamu waktu itu datang juga. Aku akan menentukan waktunya.” Wanita itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Pastikan agar Zico tidak mengetahui hal ini. Bila sampai hal seperti ini terdengar olehnya, Kamu akan tahu akibatnya.” Wanita itu melihat perut Nisha dengan penuh kebencian. Nisha memeluk perutnya dengan protektif.


Wanita itu maupun Nyonya Besar memberinya waktu berpikir selama dua hari. Dia harus membuat Tuan Daniel datang bersamanya. Mengapa harus melibatkan Tuan  Daniel? Laki-laki itu sama sekali tidak ada urusan dengan mereka. Laki-laki itu tidak bersalah. Dia malah merasa sangat bersalah terhadap Tuan Daniel karena sudah membuat laki-laki itu di pukul oleh Zico. Bagaimana kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik saja?


Nisha kembali memikirkan perkataan Zevana. Benarkah Zico membawanya ke rumah sakit waktu itu untuk melakukan test DNA. Benarkah test itu di lakukan karena Zico tidak mempercayai bayi yang di dalam kandungannya? Dan wanita itu juga mengatakan, test itu bisa menyebabkan keguguran. Apakah semua itu benar?


Nisha mengambil ponselnya dan mencari tahu segala sesuatu mengenai test DNA. Sekali lagi lututnya menjadi lemas. Apa yang dikatakan Zevana benar adanya. Ternyata Zico benar-benar tidak mempercayainya. Laki-laki itu juga tidak mempedulikan anak mereka. Dia tidak peduli dengan keselamatan bayinya. Dia juga tidak percaya padanya. Lalu, kalau sudah seperti itu apalagi yang tersisa? Haruskah dia berada di samping laki-laki yang tidak memiliki kepercayaan padanya? Laki-laki yang meragukan darah dagingnya sendiri? Laki-laki yang tidak peduli dengan keselamatan bayinya? Tentu saja jawabannya TIDAK!!


Nisha menghubungi Daniel. Dia merasa bersalah karena sekali lagi akan merepotkan laki-laki itu. Tapi syarat yang di ajukan wanita itu harus membawa Tuan Daniel, maka dia harus melakukannya. Pada deringan pertama, telepon itu langsung di angkat.


“Girl? Kau kah itu?” terdengar jawaban antusias di ujung sana.


“Girl, tentu saja Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu Girl? Apakah baby sehat?” Nisha merasa ingin meneteskan airmata. Laki-laki itu sudah di rugikannya, tapi dia tetap menanyakan kabarnya dan janinnya.


“Iya, ten-tentu saja Saya baik-baik saja…”


“Girl, ada apa? Ada yang ingin Kamu sampaikan? Suaramu tidak terdengar baik.”


“Se-sebenarnya, Saya ingin merepotkan Tuan lagi…”


“Kenapa sangat formal sekali Girl? Ingat, Kita berjanji akan berteman. Sesama teman saling membantu bukan? Ceritakan semuanya padaku Girl.”


Dan Nisha pun menceritakan semuanya. Dari kehadiran kedua wanita itu, ketidakpercayaan Zico terhadapnya, dan keinginannya untuk meninggalkan Zico.


“Kamu yakin ingin meninggalkannya? Apa Kamu tidak akan menyesal nantinya?”


“Aku sangat yakin! Demi anak ini Aku akan melakukan apapun.”


“Girl, Kamu sedang berada di bawah ancaman. Kamu bisa melaporkan mereka berdua. Atau apa perlu Aku membereskan mereka agar tidak mengganggumu lagi?”


“Ti-tidak. Tidak perlu Tuan Daniel. Aku sudah membulatkan tekadku untuk meninggalkan dia.”


“Kamu yakin Girl? Kamu menincintai dia. Kamu yakin akan meninggalkannya?”


“Aku yakin!! Buat apa berada di sisi orang yang tidak mencintaiku? Tidak mempercayaiku? Meragukan darah dagingnya sendiri, bahkan membahayakannya? Aku tidak perlu pria seperti itu untuk di cintai. Sekarang yang paling berharga bagiku adalah melindungi anak ini…”


“Girl, bila Kamu takut dengan ancaman mereka, Kamu hanya perlu menyampaikan semua keburukan mereka pada laki-laki itu. Dia pasti akan mendengarkanmu…”


“Tidak-tidak Tuan Daniel. Aku tidak ingin berhubungan dengan dia lagi. Ancaman kedua orang itu memang membuatku takut. Bila Aku memberitahu dia tentang semua ini, dia pasti akan merasa kecewa. Kedua wanita itu adalah ibu dan tunangannya. Itu pasti akan menjadi pukulan yang menyakitkan baginya. Lagipula, bila Aku tetap berada di sisinya Aku akan selalu berada dalam bayang-bayang mereka berdua. Mereka pasti akan mengulangi kejadian seperti itu lagi. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Hatiku mantap ingin meninggalkan dia.” Nisha berkata dengan tegas.


“Girl, bila hatimu sudah mantap seperti itu maka hal yang bisa kulakukan hanyalah membantumu. Aku akan melakukan apa saja untukmu.”


“Terima kasih Tuan Daniel. Entah mengapa Anda begitu baik. Suatu saat nanti, Aku pasti akan membalas semua kebaikanmu Tuan…”


“Girl, Kamu tidak perlu melakukan apapun. Cukup berada di sisiku saja sudah cukup untukku…”


“Hah? Maksudnya?”


“Hahaha, becanda Girl. Lalu, apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”


***


Zevana menyuruhnya untuk datang ke klinik A dan menemui dokter yang sudah di tunjuk. Dia hanya perlu mengikuti dokter itu dan membuat dokter itu menjalankan tugasnya.


Nisha maupun Daniel mengikuti dokter tersebut. Mereka memasuki sebuah ruangan dimana di dalamnya sudah di siapkan beberapa hal yang cukup membuat perut mual. Di dalam ruangan tersebut terdapat seorang asisten dokter yang tengah memegang segumpal darah (?) yang di letakkan di tempat berwarna perak. Nisha memperhatikan gumpalan darah itu lekat-lekat, seketika perutnya menjadi mual begitu mengetahui bahwa gumpalan itu adalah sebuah JANIN!!


***


Happy Reading 🥰