Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Side Story 3 - Istriku Hamil, LAGI!!



"Sayaaaaannnggg...!!"


BRUUUK


Zico menabrak Nisha. Meraih tubuh wanita itu dan menjunjungnya tinggi di udara. Nisha hanya bisa berteriak-teriak histeris.


"Apa-apaan?! Turunkan Aku!! Zi, turunkan Aku!!" Nisha menjambaki rambut Zico yang ada di bawahnya. Zico masih memutar-mutar tubuhnya. Sementara tawa kebahagiaan terdengar di seluruh penjuru ruangan. Puas memutar-mutar, Zico menurunkan tubuh Nisha dan memeluknya dengan erat.


"Sayaaanng... I love you..."


"Apa-apaan Kamu?! Kepalaku jadi pusing tauk."


"Sini, bersandar di dadaku." Zico meraih kepala Nisha dan merebahkan di dadanya. Dengan penuh sayang dia mengayun-ngayun tubuh Nisha dengan lembut.


"Ada apa Zi?? Sakitmu kumat? Obatmu habis? Sikapmu benar-benar barbar!"


"Sayang, Aku melakukannya bukan tanpa alasan..."


"Iya, trus apa alasannya?"


"Sayang, kapan terakhir kali datang bulan?"


"Kenapa menanyakan hal itu? Seharusnya Kamu tahu, tiap malam Kita melakukannya. Tentu sudah lama sekali Aku tidak datang bu-laaan..." Tiba-tiba Nisha menatap Zico dengan tajam. Apa yang terlintas di pikirannya, sama dengan apa yang di pikirkan Zico.


"Zi..."


"Ya sayang?"


"Apa Kamu memikirkan hal yang sama dengan apa yang Ku pikirkan?"


"He'em. Tidakkah sayangku ingin pergi ke dokter OBGYN?"Zico mengecupi puncak kepala Nisha.


"Ba-bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapan Kita?"


"Tidak apa-apa. Kita bisa mencobanya lagi setiap malam. Aku sangat bersedia melakukannya..." Zico menggesek-gesekkan bagian tubuhnya yang mengeras pada perut Nisha.


"Dasar laki-laki mesum!" Nisha mencubit perutnya dengan keras. "Haruskah Kita pergi sekarang?"


"Semakin cepat, semakin baik sayang."


"Bagaimana dengan Zoey? Aku khawatir membawanya ke rumah sakit."


"Biarkan bu Retno yang menjaganya. Beliau pasti akan menjaga boy dengan baik."


"Ide bagus. Aku akan bersiap-siap dulu. Tunggu Aku Mr. Handsome, cup." Nisha mengecup bibir suaminya sebelum menghilang ke kamar.


Selesai berganti pakaian, Nisha menemui bu Retno yang tengah menemani Zoey bermain di taman belakang rumah. Bu Retno baru saja kembali tinggal bersama mereka. Nisha sengaja mencari keberadaan bu Retno karena mengingat jasa-jasa wanita paruh baya itu terhadapnya sebelumnya. Bu Retno tetap menempati rumah yang lama. Tetap bekerja sebagai ART. Sistem kerjanya hampir sama dengan yang dulu. Beliau datang jam tujuh pagi, bertugas membersihkan rumah dan memasak untuk bosnya. Menjelang sore pulang ke rumah. Karena bu Retno tinggal sendiri, Nisha mengajaknya untuk tinggal bersama dengannya. Kali ini bu Retno bukan menjadi ART mereka, tapi lebih tepatnya sebagai nenek sambung untuk Zoey. Bu Retno menerima tawarannya dengan sukacita. Beliau menangis mengetahui Nisha dan Zico kembali bersama. Tangis kebahagiaan tentunya.


Nisha berpamitan pada bu Retno ketika Zoey sedang lengah. Mereka pergi meninggalkan Zoey secara diam-diam. Mereka masih berkonsultasi dengan dokter Sofia sebagai dokter kandungan. Dokter Sofia mengolesi perut Nisha dengan gel, kemudian mulai melihat penampakan rahim Nisha di monitor.


Di monitor tampak terlihat dua kantung rahim  yang di dalamnya terdapat bulatan kecil yang sedang tumbuh. Dokter Sofia tersenyum-senyum sendiri.


"Pak Zico tokcer juga ya. Lama tidak konsultasi, datang-datang membawa dua hadiah kecil..."


"Maksudnya Dok?" Zico menatap dokter Sofia dengan bingung. Nisha berusaha menyembunyikan senyumnya. Dari monitor saja dia sudah tahu bahwa di perutnya sudah tumbuh dua kehidupan baru. Rupanya gen kembar di dalam keluarganya lebih dominan kali ini.


"Selamat Pak Zico. Kali ini Anda akan mendapat dua jagoan kecil." Dokter Sofia menjabat tangan Zico yang masih tampak terkejut dengan perkataan dokter Sofia.


"Maksudnya dua jagoan Dok?"


"Bu Tanisha hamil Pak. Ada dua jagoan kecil di tubuh beliau. Selamat Anda akan mendapatkan bayi kembar."


"Ha?! Serius Dok?" Mulut Zico ternganga.


"Wah sayang!! Kita akan mendapatkan bayi kembar!!" Zico memegang tangan Nisha dan mencurahinya dengan banyak kecupan. Zico mengecupi kening, pipi, hidung dan bibir Nisha. Dia mengabaikan dokter Sofia yang duduk tak jauh dari mereka.


"Uhuk, uhuk." Dokter Sofia berusaha mengalihkan perhatian mereka. Nisha mendorong wajah suaminya dengan malu.


Setelah memberikan nasihat panjang lebar, akhirnya mereka keluar dari ruangan dokter Sofia. Tangan Zico gatal ingin menggendong istrinya. Tapi Nisha selalu mengancamnya. Akhirnya Zico hanya bisa bergandengan tangan.


Di dalam mobil, Zico mencurahi Nisha dengan kecupan dan pelukan penuh sayang. Perasaannya penuh dengan kebahagiaan. Tak henti-hentinya dia membelai dan menciumi perut Nisha yang masih rata.


"Sayang, kali ini Daddy akan menemani kalian selamanya. Daddy akan menunggu kalian datang. Sehat-sehat ya sayang..." Mata Zico kembali berkaca-kaca. Nisha mencium kepala Zico dengan sayang.


"Mereka tahu daddy-nya akan selalu ada buat mereka. Jangan sedih lagi."


"Kali ini Aku akan menemani kalian semua. Aku akan menempel sampai kalian muak. Aku akan selalu ada di sisi kalian. Maafkan Aku karena tidak bisa menemanimu membesarkan Zoey..."


"Ssshhh... Semua sudah berlalu Zi. Sekarang Kita hanya perlu fokus pada kebahagiaan Kita. Jangan pikirkan yang lain."


"Iya sayang." Zico kembali merengkuh Nisha dalam pelukannya. Di sepanjang jalan mereka bermesraan. Mereka mengabaikan Vanno yang tengah menyupiri mereka. Seolah-olah dunia ini hanya milik mereka saja.


***


"Sayang, Aku akan pergi keluar kota."


"Berapa lama?"


"Aku usahakan tiap hari pulang."


"Ada pembukaan cabang baru kah?"


"Iya." Zico berbohong.


"Berapa lama?"


"Belum tahu. Menunggu sampai semuanya selesai."


"Beneran tiap hari pulang?"


"Di usahakan untuk pulang sayang."


"Kalau kecapekan, gak apa-apa kalau gak pulang tiap hari."


"Iya, tapi tetap di usahakan untuk pulang. Aku gak bisa jauh-jauh dari kalian." Zico mengecupi punggung istrinya yang terbuka. Mereka sedang berada di kamar utama, baru selesai bercinta.


Nisha membalikkan tubuhnya dan bergelung di dada suaminya yang bidang.


"Beneran gak ada masalah apa-apa?"


"Iya."


"Kapan berangkat?"


"Besok sayang. Ayo tidur." Zico menyelimuti tubuh mereka berdua. Mengecup kening Nisha dan mencoba untuk memejamkan mata. Zico berpura-pura tidur. Setelah dia melihat Nisha tidur dengan lelap, dia membuka matanya kembali. Pikirannya melayang kemana-mana.


Istrinya sudah hamil lagi. Dan dia belum mendapatkan restu dari ibu mertua. Meskipun pernikahan mereka sah secara hukum dan agama, tapi rasanya belum lega bila belum mendapat restu dari orang tua. Terlebih itu orang tua istrinya.


Meskipun berat baginya untuk berpisah dengan Nisha dan Zoey, tapi itu harus di lakukannya. Dia harus menemui ibu mertua sesegera mungkin. Membujuk dan merayu beliau agar mau menerima dirinya sebagai menantu. Dia harus pergi ke Surabaya!!


***


Happy Reading 😊🥰