Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 66 - Dejavu!!



Zico menatap wajah wanita itu lekat-lekat.


Ekspresi wajahnya tampak berubah-ubah. Ada kemarahan, kebencian, kekecewaan dan


juga kerinduan. Ya!! Dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sangat merindukan


wanita ini! Hari-harinya selalu di penuhi kegilaan karena frustasi tidak bisa


menemukan wanita itu. Sekarang wanita itu ada di depan matanya. Dia bebas untuk


melakukan apa saja. Logika dan pikirannya kalah. Naluri kebinatangan memenuhi


tubuhnya. Tiba-tiba saja Zico merasakan terjangan birahi menghantamnya. Menghidupkan


tubuhnya yang telah mati suri. Dia kembali menjadi laki-laki seutuhnya.


Zico menghimpit tubuh Nisha dengan ketat.


Gejolak birahi memenuhinya. Dia menekankan kejantanannya pada tubuh lembut


Nisha. Zico membuka bekapan tangannya di mulut Nisha dan menggantinya dengan


mulutnya sendiri.


"Akhhpp!!" Nisha terkesiap. Dia


tidak siap dengan serangan dadakan seperti ini. Mulut Zico menciumnya dengan


rakus. Menjelajahi setiap rongga di mulutnya. Menyesap dan mereguk manisnya.


Memainkan dan menggoda lidahnya. Sedikit demi sedikit Nisha menjadi goyah.


Seketika pandangannya mulai berkabut. Dia mulai hanyut dan mengikuti permainan


Zico. Tubuhnya mulai mengikuti arus. Perasaan ingin memberontak hilang dari


pikirannya.


Nisha mulai membalas ciuman Zico. Dia


berusaha mereguk segala kenikmatan yang di suguhkan. Dia tidak peduli lagi


dengan hal lainnya. Merasa mendapatkan tanggapan, Zico mulai melepaskan cekalan


tangannya pada tangan Nisha. Nisha meraih leher Zico dan menciumnya lebih


dalam. Mereka berpagutan dalam gairah yang menggelora.


Zico meraih tubuh Nisha. Menempelkan tubuh


mereka sepenuhnya. Tangannya mulai bergerilya. Dia mulai meraba bagian


punggung\, pinggang dan b*k*ng Nisha. Jari-jemarinya mulai sibuk mencari pengait


BH Nisha, setelah berhasil menemukannya dia melepasnya. Tangan Zico mulai


meraba pay*dara Nisha, meremasnya dengan kasar.


Nisha terkesiap. Akal sehatnya mulai


kembali. Dia melepaskan pagutan bibirnya dan mulai menjauhi tubuh Zico. Tapi


laki-laki itu tidak membiarkannya. Dia tetap menahan tubuh Nisha dengan erat.


Gerakan tangannya menjadi semakin kasar. Nisha mulai memberontak. Dia merasakan


dejavu.


Zico tidak membiarkan Nisha lepas darinya.


Dia tetap melanjutkan aktivitasnya. Dia mencium leher Nisha dengan penuh


birahi. Memenuhi leher itu dengan cupangan. Tangannya menarik paksa blazer yang


di kenakan Nisha. Membuat kancing blazer bertebaran di lantai. Tidak berhenti


sampai disitu, Zico menarik BH Nisha, membuat kedua pay*dara wanita itu tampak


menyembul. Zico menatap pemandangan indah itu dengan nanar. Matanya di penuhi


dengan hawa nafsu. Dalam sekali gerakan, dia langsung melahap keduanya.


"Akhhh!! Lepaskan Aku brngsek!!


Bajngan!! Lepaskan Aku!!" Nisha mulai berteriak. Dia berharap teriakannya


akan di dengar oleh orang yang berlalu lalang di luar ruangan. Zico menyumpal


mulut Nisha dengan tangannya. Dia tetap melanjutkan aktivitasnya.


"Baj*ngan Kamu!! Dasar sampah!!


Lepaskan Aku!!" Nisha masih berteriak. Zico tidak menggubrisnya. Dia mulai


menaikkan rok yang di kenakan Nisha dan menurunkan celana dalamnya. Kemudian


kedua kakinya masuk ke sela-sela kaki Nisha sehingga mau tidak mau kedua kaki


Nisha terbuka lebar.


Nisha menjadi semakin ketakutan.


Sepertinya kejadian pemerkosaan akan kembali di alaminya. Apakah nasibnya


memang seperti ini? Menjadi korban pemerkosaan lagi dan dengan orang yang sama?


Zico membuka resleting celananya, kemudian


dengan sekali hentakan kejantanannya mulai menghujam tubuh Nisha dengan dalam.


"AAAKKHHHH!!" Nisha berteriak


kesakitan. Zico langsung menutup mulut Nisha dengan mulutnya. Dia melumat bibir


wanita itu dengan brutal. Nisha menolaknya. Berulang kali dia menggigit lidah


dan bibir Zico, tapi laki-laki itu masih tidak menghentikan aksinya.


Zico mulai menggerakkan tubuhnya.


Gerakannya kasar dan penuh dengan penyiksaan. Tidak ada kelembutan di dalamnya.


Zico mengerang-ngerang, menikmati percintaan itu. Tubuhnya bergerak dengan


berirama. Bibirnya mulai menciumi kening, pipi dan bibir Nisha dengan lembut.


Sesekali dia menggigit-gigit leher Nisha sembari mengendusnya. Napasnya menjadi


Nisha pasrah, membiarkan Zico bersikap


semaunya. Hilang sudah kerinduannya terhadap laki-laki itu. Yang tersisa hanya


sepenggal kebencian.


Setelah beberapa waktu berpacu, Zico mulai


merasakan ambang batasnya. Dia mulai menggerakkan tubuhnya dengan cepat.


Melumat bibir Nisha kuat-kuat sebelum akhirnya dia mencapai klimaksnya.


"Akkhhhh!!" Zico mengerang


tajam. Dia menghunjamkan tubuhnya kuat-kuat. Membuat tubuh Nisha menerima


setiap tetes cairan dalam tubuhnya. Tubuh Zico bergetar dengan hebat. Tangannya


masih memeluk tubuh Nisha dengan erat. Nisha masih berdiri mematung, tidak


merespon setiap gerakan yang dilakukan oleh Zico.


Lama Zico berada di posisi itu sebelum


akhirnya dia melepaskan tubuh Nisha dari cengkraman tangannya. Dia mulai


meresletingkan celananya kembali. Setelah itu dia mulai membenahi baju Nisha.


Dengan telaten Zico memakaikan baju dalam dan blazer Nisha. Membersihkan


cairannya dari tubuh Nisha.


"Persiapkan tubuhmu. Kamu harus


mengganti nyawa yang telah Kamu hilangkan." Zico berbisik pelan dengan


nada yang mengancam. Kemudian dia mulai meninggalkan Nisha seorang diri. Zico


keluar dari ruangan itu sembari mengambil ponselnya.


"Persiapkan operasi untukku. Aku


sudah siap membukanya kembali."


***


Nisha jatuh terduduk. Tubuh dan pikirannya


masih terkejut dengan apa yang baru saja di alaminya. Dia tidak percaya bisa mendapatkan


perlakuan yang sama dari laki-laki yang sama. Lima tahun tidak merubahnya. Dia


tetap menjadi wanita lemah di hadapan laki-laki itu.


Nisha terdiam. Matanya kering. Kali ini


dia tidak menangis. Dia hanya menyesali ketidakmampuannya dalam menghadapi


kekuatan laki-laki itu. Yang dipikirkannya sekarang, apa yang akan terjadi pada


mereka kedepannya? Apa yang akan terjadi padanya? Apakah laki-laki itu akan


kembali mencari dan memperkosanya? Memikirkan kemungkinan itu, membuat Nisha


kembali sadar.


Dia harus kembali berlari dari Zico. Dia


tidak boleh membiarkan Zico mengetahui keberadaan Zoey. Bila Zico tahu,


laki-laki itu akan merampas Zoey darinya. Dia harus segera bersembunyi dan


melindungi Zoey.


Nisha berdiri. Merapikan bajunya sebelum


keluar dari ruangan. Kemudian dengan tergesa-gesa dia segera meninggalkan


gedung itu. Dia berusaha menghentikkan taksi yang berjalan ke arahnya, namun


sebelum taksi itu berhenti ada mobil lain yang melaju ke arahnya. Dari dalam


mobil itu keluar dua orang laki-laki. Secepat kilat kedua orang itu menarik


tubuhnya hingga masuk ke dalam mobil.


"Lepaskan!! Apa-apaan ini!!"


Nisha berteriak dengan kencang. Tubuhnya di apit oleh kedua laki-laki yang


bertubuh kekar.


"Maafkan Nyonya. Mohon


kerjasamanya."


"Kalian siapa?! Berani-beraninya


kalian menculik seorang aparat hukum!! Akan kupastikan kalian semua mendekam di


penjara!!" Nisha menggertak.


"Mohon kerjasamanya Nyonya. Kami


tidak akan menyakiti Anda. Bos Kami hanya ingin bertemu dengan Anda."


"Siapa bos kalian?!! Bukan seperti


ini sikapnya jika ingin bertemu! Lepaskan Aku!!" Nisha masih berteriak.


Kedua laki-laki itu saling berpandangan. Salah satunya memberi kode dengan


mata. Karena menganggap Nisha berisik, akhirnya mereka berdua menggunakan sapu


tangan yang sudah di tetesi oleh obat bius untuk membungkam kesadaran Nisha.


"Aaakhhhhpppppp!!" Nisha


meronta-ronta. Awalnya rontaannya kuat, namun lambat laun menjadi semakin lemah.


Kemudian dunia di sekitarnya menjadi gelap, dia menjadi tak sadarkan diri.


***