
Zico menatap wajah wanita itu lekat-lekat.
Ekspresi wajahnya tampak berubah-ubah. Ada kemarahan, kebencian, kekecewaan dan
juga kerinduan. Ya!! Dalam lubuk hatinya yang terdalam dia sangat merindukan
wanita ini! Hari-harinya selalu di penuhi kegilaan karena frustasi tidak bisa
menemukan wanita itu. Sekarang wanita itu ada di depan matanya. Dia bebas untuk
melakukan apa saja. Logika dan pikirannya kalah. Naluri kebinatangan memenuhi
tubuhnya. Tiba-tiba saja Zico merasakan terjangan birahi menghantamnya. Menghidupkan
tubuhnya yang telah mati suri. Dia kembali menjadi laki-laki seutuhnya.
Zico menghimpit tubuh Nisha dengan ketat.
Gejolak birahi memenuhinya. Dia menekankan kejantanannya pada tubuh lembut
Nisha. Zico membuka bekapan tangannya di mulut Nisha dan menggantinya dengan
mulutnya sendiri.
"Akhhpp!!" Nisha terkesiap. Dia
tidak siap dengan serangan dadakan seperti ini. Mulut Zico menciumnya dengan
rakus. Menjelajahi setiap rongga di mulutnya. Menyesap dan mereguk manisnya.
Memainkan dan menggoda lidahnya. Sedikit demi sedikit Nisha menjadi goyah.
Seketika pandangannya mulai berkabut. Dia mulai hanyut dan mengikuti permainan
Zico. Tubuhnya mulai mengikuti arus. Perasaan ingin memberontak hilang dari
pikirannya.
Nisha mulai membalas ciuman Zico. Dia
berusaha mereguk segala kenikmatan yang di suguhkan. Dia tidak peduli lagi
dengan hal lainnya. Merasa mendapatkan tanggapan, Zico mulai melepaskan cekalan
tangannya pada tangan Nisha. Nisha meraih leher Zico dan menciumnya lebih
dalam. Mereka berpagutan dalam gairah yang menggelora.
Zico meraih tubuh Nisha. Menempelkan tubuh
mereka sepenuhnya. Tangannya mulai bergerilya. Dia mulai meraba bagian
punggung\, pinggang dan b*k*ng Nisha. Jari-jemarinya mulai sibuk mencari pengait
BH Nisha, setelah berhasil menemukannya dia melepasnya. Tangan Zico mulai
meraba pay*dara Nisha, meremasnya dengan kasar.
Nisha terkesiap. Akal sehatnya mulai
kembali. Dia melepaskan pagutan bibirnya dan mulai menjauhi tubuh Zico. Tapi
laki-laki itu tidak membiarkannya. Dia tetap menahan tubuh Nisha dengan erat.
Gerakan tangannya menjadi semakin kasar. Nisha mulai memberontak. Dia merasakan
dejavu.
Zico tidak membiarkan Nisha lepas darinya.
Dia tetap melanjutkan aktivitasnya. Dia mencium leher Nisha dengan penuh
birahi. Memenuhi leher itu dengan cupangan. Tangannya menarik paksa blazer yang
di kenakan Nisha. Membuat kancing blazer bertebaran di lantai. Tidak berhenti
sampai disitu, Zico menarik BH Nisha, membuat kedua pay*dara wanita itu tampak
menyembul. Zico menatap pemandangan indah itu dengan nanar. Matanya di penuhi
dengan hawa nafsu. Dalam sekali gerakan, dia langsung melahap keduanya.
"Akhhh!! Lepaskan Aku brngsek!!
Bajngan!! Lepaskan Aku!!" Nisha mulai berteriak. Dia berharap teriakannya
akan di dengar oleh orang yang berlalu lalang di luar ruangan. Zico menyumpal
mulut Nisha dengan tangannya. Dia tetap melanjutkan aktivitasnya.
"Baj*ngan Kamu!! Dasar sampah!!
Lepaskan Aku!!" Nisha masih berteriak. Zico tidak menggubrisnya. Dia mulai
menaikkan rok yang di kenakan Nisha dan menurunkan celana dalamnya. Kemudian
kedua kakinya masuk ke sela-sela kaki Nisha sehingga mau tidak mau kedua kaki
Nisha terbuka lebar.
Nisha menjadi semakin ketakutan.
Sepertinya kejadian pemerkosaan akan kembali di alaminya. Apakah nasibnya
memang seperti ini? Menjadi korban pemerkosaan lagi dan dengan orang yang sama?
Zico membuka resleting celananya, kemudian
dengan sekali hentakan kejantanannya mulai menghujam tubuh Nisha dengan dalam.
"AAAKKHHHH!!" Nisha berteriak
kesakitan. Zico langsung menutup mulut Nisha dengan mulutnya. Dia melumat bibir
wanita itu dengan brutal. Nisha menolaknya. Berulang kali dia menggigit lidah
dan bibir Zico, tapi laki-laki itu masih tidak menghentikan aksinya.
Zico mulai menggerakkan tubuhnya.
Gerakannya kasar dan penuh dengan penyiksaan. Tidak ada kelembutan di dalamnya.
Zico mengerang-ngerang, menikmati percintaan itu. Tubuhnya bergerak dengan
berirama. Bibirnya mulai menciumi kening, pipi dan bibir Nisha dengan lembut.
Sesekali dia menggigit-gigit leher Nisha sembari mengendusnya. Napasnya menjadi
Nisha pasrah, membiarkan Zico bersikap
semaunya. Hilang sudah kerinduannya terhadap laki-laki itu. Yang tersisa hanya
sepenggal kebencian.
Setelah beberapa waktu berpacu, Zico mulai
merasakan ambang batasnya. Dia mulai menggerakkan tubuhnya dengan cepat.
Melumat bibir Nisha kuat-kuat sebelum akhirnya dia mencapai klimaksnya.
"Akkhhhh!!" Zico mengerang
tajam. Dia menghunjamkan tubuhnya kuat-kuat. Membuat tubuh Nisha menerima
setiap tetes cairan dalam tubuhnya. Tubuh Zico bergetar dengan hebat. Tangannya
masih memeluk tubuh Nisha dengan erat. Nisha masih berdiri mematung, tidak
merespon setiap gerakan yang dilakukan oleh Zico.
Lama Zico berada di posisi itu sebelum
akhirnya dia melepaskan tubuh Nisha dari cengkraman tangannya. Dia mulai
meresletingkan celananya kembali. Setelah itu dia mulai membenahi baju Nisha.
Dengan telaten Zico memakaikan baju dalam dan blazer Nisha. Membersihkan
cairannya dari tubuh Nisha.
"Persiapkan tubuhmu. Kamu harus
mengganti nyawa yang telah Kamu hilangkan." Zico berbisik pelan dengan
nada yang mengancam. Kemudian dia mulai meninggalkan Nisha seorang diri. Zico
keluar dari ruangan itu sembari mengambil ponselnya.
"Persiapkan operasi untukku. Aku
sudah siap membukanya kembali."
***
Nisha jatuh terduduk. Tubuh dan pikirannya
masih terkejut dengan apa yang baru saja di alaminya. Dia tidak percaya bisa mendapatkan
perlakuan yang sama dari laki-laki yang sama. Lima tahun tidak merubahnya. Dia
tetap menjadi wanita lemah di hadapan laki-laki itu.
Nisha terdiam. Matanya kering. Kali ini
dia tidak menangis. Dia hanya menyesali ketidakmampuannya dalam menghadapi
kekuatan laki-laki itu. Yang dipikirkannya sekarang, apa yang akan terjadi pada
mereka kedepannya? Apa yang akan terjadi padanya? Apakah laki-laki itu akan
kembali mencari dan memperkosanya? Memikirkan kemungkinan itu, membuat Nisha
kembali sadar.
Dia harus kembali berlari dari Zico. Dia
tidak boleh membiarkan Zico mengetahui keberadaan Zoey. Bila Zico tahu,
laki-laki itu akan merampas Zoey darinya. Dia harus segera bersembunyi dan
melindungi Zoey.
Nisha berdiri. Merapikan bajunya sebelum
keluar dari ruangan. Kemudian dengan tergesa-gesa dia segera meninggalkan
gedung itu. Dia berusaha menghentikkan taksi yang berjalan ke arahnya, namun
sebelum taksi itu berhenti ada mobil lain yang melaju ke arahnya. Dari dalam
mobil itu keluar dua orang laki-laki. Secepat kilat kedua orang itu menarik
tubuhnya hingga masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan!! Apa-apaan ini!!"
Nisha berteriak dengan kencang. Tubuhnya di apit oleh kedua laki-laki yang
bertubuh kekar.
"Maafkan Nyonya. Mohon
kerjasamanya."
"Kalian siapa?! Berani-beraninya
kalian menculik seorang aparat hukum!! Akan kupastikan kalian semua mendekam di
penjara!!" Nisha menggertak.
"Mohon kerjasamanya Nyonya. Kami
tidak akan menyakiti Anda. Bos Kami hanya ingin bertemu dengan Anda."
"Siapa bos kalian?!! Bukan seperti
ini sikapnya jika ingin bertemu! Lepaskan Aku!!" Nisha masih berteriak.
Kedua laki-laki itu saling berpandangan. Salah satunya memberi kode dengan
mata. Karena menganggap Nisha berisik, akhirnya mereka berdua menggunakan sapu
tangan yang sudah di tetesi oleh obat bius untuk membungkam kesadaran Nisha.
"Aaakhhhhpppppp!!" Nisha
meronta-ronta. Awalnya rontaannya kuat, namun lambat laun menjadi semakin lemah.
Kemudian dunia di sekitarnya menjadi gelap, dia menjadi tak sadarkan diri.
***