
Zico sudah membuatkan aturan baru. Dia memperbolehkan Nisha keluar dari apartemen asalkan di temani oleh bu Retno. Zico tidak ingin terlalu mengekang Nisha. Dia takut semakin di kekang, wanita itu akan semakin jauh darinya.
“Hari ini mau kemana?”
“Mau ikut bu Retno ke pasar. Bolehkah?”
“Iya boleh. Tapi jangan terlalu capek.”
“Iya…”
“Aku akan menyuruh supir untuk mengantar kalian.”
“Gak…gak usah… Aku ingin naik angkutan umum…”
“Tapi itu sangat tidak nyaman.”
“Tapi Aku ingin… Dia yang pingin…” Nisha menunjuk perutnya.
Zico mengelus-ngelus kepala Nisha dengan lembut. Kemudian dia beralih memegang perut Nisha.
“Yakin dia yang ingin?”
“Hu’um…”
“Ya sudah. Kalau dia yang mau, Aku tidak bisa berkata apa-apa. Boy, jangan nakal. Aku usahakan untuk pulang lebih awal malam ini, oke?” Nisha membiarkan Zico mengelus-ngelus perutnya. Melihat Zico sangat menyayangi bayinya sedikit membuatnya iri.
“Jaga diri dan tubuhmu baik-baik. Aku usahakan untuk pulang lebih awal hari ini. Jaga boy untukku.”
“Iy…iya…”
“Ya sudah, Aku berangkat dulu.”
“Hu’um…”
Zico berangkat ke kantor. Meninggalkan Nisha berdua dengan bu Retno. Mendapatkan izin keluar dari apartemen menjadi kegembiraan baginya. Sekarang dia tidak perlu sembunyi-sembunyi hanya untuk keluar apartemen.
“Hari ini Kita mau kemana saja Bu?”
“Kita hanya akan ke pasar saja Nona.”
“Aku ingin pergi ke taman…”
“Tapi Tuan hanya mengijinkan Nona pergi ke pasar saja.”
“Tidak seperti itu. Dia mengijinkan Saya pergi kemana pun asalkan di temani Ibu…”
“Benarkah seperti itu?”
“Iya...”
“Saya perlu menanyakan pada Tuan lebih dulu.”
“Ti…tidak perlu… Aku yang akan meminta ijin langsung pada dia…”
“Nona yakin?”
“Iy…iya…” Nisha berkata tanpa berani memandang mata bu Retno. Sebenarnya dia enggan meminta izin pada Zico karena takut laki-laki itu tidak akan mengizinkannya.
“Ya sudah, Saya percaya pada Nona.” Akhirnya bu Retno mengalah. Membuat Nisha menghembuskan napas lega.
Hari itu bu Retno membiarkan Nisha ikut ke pasar. Selesai berbelanja ini-itu, bu Retno mengikuti kemauan Nisha. Dia mengantarkan Nisha pergi ke taman yang masih terletak di lingkungan apartemen mereka.
“Nona, tunggu di sini sebentar. Saya akan naik ke atas untuk meletakkan belanjaan ini. Setelah selesai Saya akan segera kembali. Tolong jangan kemana-mana ya Nona.” Bu Retno tampak sedikit ragu. Antara ingin menemani Nisha atau meletakkan belanjaannya terlebih dulu.
“Iya Bu. Saya tidak akan kemana-mana. Ibu jangan khawatir…”
“Beneran ya Non, jangan kemana-mana…”
“Iya Bu…” Nisha berusaha meyakinkan bu Retno. Akhirnya bu Retno meninggalkan Nisha dengan berat hati.
Sepeninggalnya bu Retno, Nisha menikmati keindahan taman dengan sepenuhnya. Tak jauh dari tempatnya duduk terlihat anak kecil dan ibunya sedang bermain-main. Nisha mendekati mereka dan ikut bermain bersamanya. Nisha sangat menikmati waktunya. Dia terlihat sangat bahagia. Di tengah kebahagiaannya, tiba-tiba Nisha merasa tubuhnya di peluk dari belakang oleh seseorang. Zico kah?
“Girl, Aku menemukanmu!”
***
“Akkhhhh!! Memalukan!!” Daniel menutup wajahnya. Meskipun tinggal di luar negeri membuatnya lebih bebas dalam mengekpresikan perasaan, tapi dia tidak pernah mencurahkan perasaannya pada orang yang baru di kenalnya. Apalagi bila itu masalah wanita.
Bagaimana dia akan menghadapi direktur muda itu? Dia merasa tidak memiliki muka. Direktur itu jadi mengetahui sisi lemahnya. Meskipun dia memang ingin berteman dengan direktur itu, tapi dia tidak ingin menunjukkan perasaannya seperti itu. Hah…
Ting…Tong…Ting…Tong…
Daniel mendengar bel pintu apartemennya berbunyi. Daniel sudah bisa menebak siapa yang ada di balik pintu. Asisten cerewetnya pasti sudah menunggunya. Seperti biasa, Daniel tidak ingin membuka pintunya. Dia memilih menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Tak berapa lama kemudian, pintunya terbuka. Daniel sudah bisa menduganya. Asisten itu mengetahui kata sandi apartemennya. Setiap pagi, asisten akan ke apartemennya. Menariknya dari ranjang yang nyaman dan memaksanya untuk ke perusahaan. Daniel benci semua itu.
“Wakil, sudah saatnya Kita ke kantor…”
Daniel tidak menjawab, berpura-pura tidur. Namun asistennya tidak kehilangan akal, dia menarik selimut yang menutupi tubuh Daniel dengan paksa.
“Wakil, direktur sudah menunggu Anda. Anda harus menghadiri meeting hari ini.”
“Biarkan Aku tidur.”
“Direktur akan menghukum Saya bila tidak berhasil membawa Anda ke perusahaan hari ini.”
“Aku tidak mau.”
“Wakil, tolong kasihanilah Saya…” asisten mengeluarkan jurusnya yang paling jitu. Berpura-pura sedih dan minta dikasihani. “Pekerjaan Saya menjadi taruhannya. Saya tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Anak Saya masih kecil…”
“Iya, iya. Aku bangun.” Daniel turun dari ranjang dengan ngomel. Asisten Tito sangat mengetahui kelemahannya. Daniel memiliki hati yang lembut. Dia tidak akan membiarkan orang lain mendapatkan masalah karena dirinya.
Daniel mandi dan mulai bersiap-siap. Asisten Tito menunggunya dengan sabar. Setelah melihat atasannya itu sudah siap, asisten mulai mengeluarkan tabletnya.
“Kenapa papa ingin bertemu denganku?”
“Direktur ingin mengetahui hasil pertemuan dengan direktur PT. ERPWare…”
“Bukankah itu sudah jelas? Hasil pertemuannya bagus. Kita akan bekerjasama dengan perusahaan itu.”
“Direktur ingin mengetahui pendapat Anda…”
“Apa pendapatku penting? Papa sudah memilih perusahaan itu. Aku hanya bertindak sebagai pion saja. Menjalankan perintah baginda raja…”
“Sebenarnya bukan itu tujuan direktur. Beliau ingin Anda segera belajar tentang perusahaan…”
“Aku tidak tertarik.”
“Direktur sangat mengetahui kemampuan Anda. Beliau tidak mungkin mempercayakan proyek senilai ratusan milyar bila Anda tidak memiliki kemampuan…”
“Ahh, terserahlah. Ayo Kita berangkat.” Daniel berjalan pergi. Meninggalkan asisten Tito yang masih mengambil jas yang ditinggalkannya.
Di dalam mobil, asisten Tito membacakan agenda hari itu. Daniel tidak mendengarkan kata-katanya sepatah katapun. Dia memilih untuk diam dan melihat pemandangan sekitar. Ketika sedang asyik melihat-lihat sekitar, mata Daniel menangkap sesosok yang terlihat sangat familiar. Sosok yang di cari-carinya selama ini. Sosok yang menghantui mimpi dan hari-harinya.
Daniel melihat sosok itu sedang tertawa dengan bahagia. Bercengkrama ria dengan anak-anak kecil di sekitarnya. Lebih terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi di bandingkan kucing kecil liar yang di carinya.
“Stop!! Stop!! Hentikan mobilnya!!”
CKIIITTTT (Supir menghentikan mobil secara dadakan)
Asisten Tito menatap Daniel dengan tatapan bingung. Sebelum dia sempat bertanya alasan mobil harus di hentikan, Daniel sudah turun dari mobil. Berlari-lari ke seberang jalan dan pergi ke arah taman. Asisten Tito melihat dengan tatapan melongo.
Perasaan Daniel berdebar-debar. Jantungnya berdetak tak karuan. Campuran rasa bahagia sekaligus emosional memenuhi dadanya. Ingin rasanya dia terbang dan memeluk tubuh kecil itu.
Daniel hanya berjarak dua meter dari Nisha. Tanpa dapat di cegah dia segera memeluk Nisha dari belakang. Merangkulnya dengan sangat erat.
“Girl, Aku menemukanmu!”
***
Happy Reading 🥰😘