
Zico bernapas lega. Sekarang dia sudah mengantongi restu dari Ibu mertua, tinggal satu masalah yang mengganjal di hatinya. Daniel.
Zico merasa bersalah sekaligus berterima kasih terhadap Daniel. Pria itu telah menjaga Nisha dan keluarganya selama lima tahun. Zico tahu Daniel sangat mencintai Nisha. Tapi dia juga sangat mencintai Nisha. Dia tidak bisa memberikan Nisha pada orang lain, termasuk Daniel. Ya, dirinya memang egois bila menyangkut Nisha dan Zoey. Dia ingin memiliki mereka seorang diri, tanpa mau berbagi.
Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, perasaan bersalah itu masih ada. Dia harus segera bertemu dengan Daniel. Berterima kasih sekaligus meminta maaf pada pria itu.
Zico menghubungi nomor Daniel. Tapi nomor itu selalu di luar jangkauan. Entah Daniel yang merubah nomor, atau nomornya yang di blokir? Akhirnya Zico memutuskan untuk menemui Daniel secara langsung.
Dia pergi ke perusahaan Daniel. Namun berkali-kali dia di tolak. Daniel tidak mau menemuinya. Sepertinya Daniel masih marah kepadanya. Zico memakluminya. Mungkin saat ini Daniel masih belum mampu untuk menerima semuanya. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan sakit hatinya.
Zico pulang ke rumah dengan perasaan sedih. Sesampainya di rumah, dia terkejut melihat keluarga besarnya datang. Mereka berbincang-bincang akrab dengan Nisha dan Ibu mertua.
"Sayang..." Melihat suaminya datang, Nisha langsung menghambur ke pelukannya. Zico balas memeluk istrinya dengan hangat.
"Untuk apa mereka datang? Bukankah Aku sudah melarangmu untuk menerima mereka?" Zico berbisik geram.
"Sudahlah sayang. Sudah saatnya berdamai dengan masa lalu. Lupakan masa lalu, fokus pada masa depan. Bagaimana pun mereka sudah menyesal. Baik buruknya mereka adalah keluargamu. Terima lah permintaan maaf mereka..."
"Aku tidak mau! Hatiku masih sakit setiap kali mengingat perlakuan mereka terhadapmu."
"Aku sudah memaafkan mereka. Tolong maafkan mereka juga. Demi Aku, Zoey dan calon anak Kita..." Nisha mengambil tangan Zico dan meletakkan di perutnya. Zico menjadi luluh.
Sebenarnya Zico masih belum mau memaafkan keluarganya. Setiap ingat perlakuan mereka pada Nisha, kemarahannya selalu memuncak. Tapi permohonan Nisha membuatnya luluh. Dia tidak bisa mengatakan "tidak" terhadap istrinya. Andaikan Nisha menyuruhnya untuk terjun ke jurang pun dia pasti akan melakukannya. Rasa cintanya pada Nisha dan Zoey begitu besar, melebihi penghargaannya terhadap diri sendiri. Tidak terbayangkan rasanya bila dia harus kehilangan mereka lagi. Zico bergidik ngeri.
Zico memeluk Nisha dengan lembut. Mencium puncak kepala Nisha. "Aku melakukannya untukmu." Bisiknya.
Kemudian Zico mendekati keluarganya. Mama tampak ketakutan. Tapi begitu melihat wajah Zico yang tidak menunjukkan kemarahan, Mama mencoba mendekat dan memeluk Zico. Mama menangis bahagia di pelukan Zico sembari bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf. Zico balas memeluknya. Kakak-kakak Zico juga memeluknya dengan hangat.
Pertemuan itu pada akhirnya membahas masalah pernikahan mereka. Keluarga Zico bersikukuh untuk mengadakan resepsi. Sementara Nisha tidak mau melakukannya. Nisha berpikir, akan sangat memalukan melakukan resepsi sementara mereka sudah memiliki anak dan kondisi Nisha yang sedang hamil sekarang. Zico mengikuti kemauan istrinya.
Pada akhirnya keluarga besar Zico mengalah. Mereka tidak memaksa Nisha dan Zico untuk melakukan resepsi dengan satu syarat. Keluarga besar akan mengumumkan pernikahan mereka ke media. Hal ini di lakukan agar semua rekan bisnis dan para karyawan mengetahui pernikahan direktur mereka. Zico dan Nisha hanya bisa mengiyakan.
***
Nisha dan Zico sedang menikmati waktu berdua. Bu Retno sedang membawa Zoey jalan-jalan. Sementara Bu Rusmi sudah pulang ke Surabaya beberapa hari yang lalu. Hanya tinggal mereka berdua di kamar itu. (Abaikan belasan pelayan yang ada di rumah mereka, hehe)
"Sayang?"
"Hem?"
"Kamu cinta gak sama Aku?" Zico bertanya.
"Sedikit."
"Kok sedikit?"
"Iya."
"Mungkin sepuluh persen"
"Hanya sepuluh persen?!" Zico menekuk mukanya. Tidak puas dengan jawaban Nisha.
"Iya."
"Aku mencintaimu dengan seluruh tubuh dan pikiranku. Aku mencintaimu seribu persen, kenapa cintamu hanya sepuluh persen?!"
"Kalau tidak puas, Aku bisa menarik sepuluh persen itu dan menjadikannya nol persen lho." Nisha tersenyum jail. Zico sangat manja. Laki-laki itu meringkuk dengan nyaman di pelukan Nisha.
"Gak apa-apa Kamu mencintaiku hanya sepuluh persen. Jangankan sepuluh persen, satu persen pun tidak apa-apa..."
"Yang benar?"
"Iya, asalkan Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku lagi. Tidak apa-apa Kamu tidak mencintaiku. Biarkan Aku yang mencintaimu dan Zoey. Kalian cukup diam dan menerima cintaku saja..." Zico berkata dengan sendu. Nisha terkikik mendengar kata-kata lebay suaminya. Mungkin karena efek kehamilan simpatik, suaminya jadi sensitif. Perasaannya menjadi halus. Ingin selalu di cintai dan di manja.
"Uluh-uluh, kasian banget suamiku. Sini Aku cium dulu." Nisha mengecupi pipi suaminya dengan gemas. Sifat garang, galak, sombong, dan tukang perintah menghilang dari dirinya. Zico yang sekarang bagaikan singa tanpa taring. Bahkan bisa di bilang seperti anak kucing yang suka di manja-manja. Bila mengingat masa lalu, rasanya dia masih tidak percaya bisa menikah dengan Zico dan berkumpul dengan Zoey. Dulu dia begitu putus asa. Menunggu-nunggu cintanya di balas. Mengharap belas kasih Zico agar mengijinkannya tinggal bersama Zoey. Rasanya dia masih seperti bermimpi, semua yang di harapkannya telah menjadi kenyataan. Zico sangat mencintainya. Laki-laki itu membalas cintanya, dan mereka berkumpul sebagai keluarga yang bahagia.
"Aku juga mencintaimu sayang. Kalau tidak cinta, untuk apa Aku memilihmu? Selama Aku masih hidup, Aku tidak akan pernah meninggalkan kalian. Kalian adalah hartaku yang paling berharga. Aku mencintai kalian semua." Nisha mengecup Zico yang juga balas mengecupnya. Kecupan-kecupan kecil itu lambat laun berubah menjadi semakin dalam. Mereka saling mel*mat bibir masing-masing. Tangan Zico mulai bergerilya. Menelusup ke dalam baju Nisha dan menangkup dada hangatnya. Ketika tengah asyik bercumbu, tiba-tiba ponsel Nisha berdering.
Nisha mendorong tubuh Zico dan meraih ponselnya. Ternyata Ibu yang menelepon. Nisha segera menerima panggilan itu.
"Nisha Bu. Ada apa Bu? APA?!! Apa Nisha gak salah dengar Bu? Coba ulangi lagi Bu. APA?!! DANIEL & ALMA AKAN MENIKAH?!!"
***
Yeayyy, akhirnya kisah Nisha & Zico benar-benar berakhir ya readers. Mereka benar-benar bahagia dengan pernikahan mereka. Semoga para readers puas dengan side story mereka. Meskipun kisah mereka sudah usai ( di novel ini), tapi Author akan berusaha untuk menampilkan mereka di novel yang lain ðŸ¤
Berhubung kisah mereka sudah usai, mari Kita berpindah ke kisah yang lain. Kali ini author akan menceritakan kisah DANIEL & ALMA.
Banyak yang minta ke author untuk memberikan jodoh untuk babang Daniel. Sebenarnya tanpa permintaan readers pun author sudah menyiapkan jodoh buat dia. Author kasihan sama nasibnya. Berpikir, kok rasanya kasihan banget pria baik seperti Daniel tidak mendapatkan cinta?
Di novel berikutnya, babang Daniel tidak lagi mengejar cinta, tapi di kejar-kejar oleh cinta. Ya, cerita kali ini berkisar tentang perjuangan seorang wanita mengejar cinta babang Daniel.
So, jangan ketinggalan untuk membaca kisah mereka ya. Jangan unfavorite novel ini, karena pengumuman untuk update novel yang berjudul "DANIEL & ALMA" akan di umumkan di novel ini juga.
Cukup sekian pengumuman dari author. Sehat-sehat semua ya readers sayang, aku mencintai kalian semua... Kechup & peluk untuk kalian 😙😚🤗🤗
^ErKa^