
Nisha menatap wajah Zico yang tengah tertidur lelap. Perasaan sedih menggelayuti hatinya. Dengan lembut dia membelai wajah Zico.
“Benarkah Kamu sudah memiliki tunangan? Mengapa Kamu membuatku seperti ini? Jika saja malam itu Kamu tidak menyentuhku, Kita tidak akan pernah saling berhubungan. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagai wanita biasa. Kamu bisa melanjutkan hubunganmu dengan tunanganmu. Apa hubunganmu hancur karena kehadiranku dan bayi ini? Jika Kami pergi, bisakah Kamu melepaskan Kami? Lupakanlah si kecil, ya? Biarkan Aku yang merawatnya. Toh di masa depan Kamu akan mendapatkan anak lain dari istrimu yang sesungguhnya. Aku tahu Aku tidak bisa memilikimu. Tapi biarkan Aku untuk memiliki si kecil. Hidupku akan hancur bila kehilangan dia. Ya, ya? Kamu mau kan melepaskan Kami?”
Nisha kembali menangis. Mengutuki kebodohannya sendiri. Hatinya kembali bingung. Antara harus meninggalkan Zico dan membawa bayinya bersamanya atau tetap berada di samping laki-laki itu sampai laki-laki itu menyuruhnya untuk pergi?
***
Zevana menatap sekeliling bandara. Belum terlalu banyak yang berubah dari terakhir kali dia meninggalkan negaranya. Hampir satu tahun dia meninggalkan tanah kelahirannya untuk mengejar mimpi. Saat ini dia kembali pulang. Untuk menerima kenyataan dan mengakui kekalahannya.
Tidak ada yang menjemputnya. Tidak ada yang datang untuk menyambutnya dengan tangan terbuka. Ya, semua orang pasti kecewa padanya. Keluarganya kecewa karena dia tidak berhasil meraih mimpinya. Laki-laki itu juga pasti kecewa karena dia sudah memutuskan pertunangan mereka. Haruskah dia menebalkan muka dan kembali bersama dengannya? Ahh, sungguh dia akan menjadi wanita yang tidak tahu diri.
Bagaimanapun tidak ada pihak keluarga yang tahu bahwa pertunangan mereka sudah putus (karena di putuskan secara sepihak olehnya). Dia sudah tidak di inginkan oleh keluarganya. Mungkin hal yang bisa di lakukannya saat ini adalah kembali pada laki-laki itu. Zico sangat mencintainya. Laki-laki itu pasti akan memaafkannya dengan mudah dan menerimanya dengan senang hati.
“Antarkan Saya ke apartemen X Pak.”
“Baik Mbak.”
Zevana memesan taksi dan langsung pergi ke apartemen Zico. Dulu dia sering ke apartemen laki-laki itu. Bahkan dia sering menginap di sana. Melakukan banyak hal seperti layaknya pasangan suami istri. Ya, hubungan mereka memang sudah sejauh itu. Dia akan memberi kejutan pada laki-laki itu. Dia akan menunggu laki-laki itu di apartemennya. Zico pasti akan senang melihat kedatangannya.
Setengah jam kemudian, dia sudah tiba di depan gedung apartemen Zico. Dengan semangat Zevana menaiki lift. Karena mimpinya sudah kandas, yang bisa di lakukannya sekarang adalah menjadi istrinya Zico. Mungkin keluarganya akan kembali memberikan dukungan bila tahu dia kembali pada Zico. Dan setahu dia, mama Zico juga sangat menyukainya. Jadi tidak akan ada halangan baginya.
Sesampainya di depan pintu apartemen, Zevana segera menekan kode pintu. Setahu dia, Zico menggunakan tanggal lahirnya sebagai kode pintu itu.
Tit…Tit…Tit… Tit…Tit…Tit… Ceklek (pintu pun terbuka)
Zevana tersenyum puas. Dia semakin yakin kalau Zico masih mencintainya. Laki-laki itu belum mengganti kode sandi pintunya. Zevana melangkah masuk sembari menggeret koper besarnya. Seketika dia berhadapan dengan wanita bermata besar.
“Si…siapa?!” tanyanya kaget.
***
Sudah dua hari berlalu dari semenjak dirinya pingsan. Zico sudah kembali bekerja seperti biasanya. Sementara bu Retno sedang pergi keluar untuk berbelanja. Apartemen besar itu menjadi sepi.
Sudah dua hari dia tidak tidur sekamar dengan Zico. Meskipun mereka sudah tidak tidur sekamar, namun Zico masih tetap perhatian padanya. Membantunya meminum vitamin, menawarkan untuk memijatnya, mengiming-ngiminginya dengan makanan dan tempat hiburan dan banyak hal lainnya. Tapi tidak ada satu pun dari usaha yang di lakukan Zico itu yang di terimanya. Dia tidak boleh terbuai dengan sikap baik Zico. Laki-laki itu melakukan hal itu semua hanya demi bayinya. Laki-laki itu baik padanya karena anak yang di kandungnya, bukan karena dirinya sendiri. Dia harus selalu ingat tentang hal itu.
Selama beberapa hari ini dia sengaja mematikan ponselnya untuk menghindari gangguan dari si pria gila. Dia sudah pasrah bila seandainya pria itu mencari dan menemukannya. Mungkin akan bagus bila pria itu menemukannya dan Zico mengetahui tentang hal itu. Zico mungkin akan melepaskannya karena sudah bersikap tidak sesuai dengan perjanjian. Mungkin saja…
Sendiri di apartemen membuat Nisha sedikit kesepian. Nisha memutuskan untuk sedikit bersih-bersih rumah. Terlalu berdiam diri membuat tubuhnya sakit semua. Nisha mulai membersihkan area dapur. Selesai melakukannya dia berpindah ke ruang keluarga dan ruang tamu. Ketika sedang asyik membersihkan lantai ruang tamu, terdengar suara pintu akan di buka. Mungkin kah bu Retno sudah pulang?
Nisha berjalan ke arah pintu, bermaksud untuk membuka pintu. Namun sebelum dia mencapai pintu sudah terbuka terlebih dulu.
Ceklek…
Nisha melihat sesosok tubuh tinggi dan ramping berdiri di depannya. Keseluruhan tubuhnya sangat sempurna. Rambut panjangnya yang berwarna coklat dibiarkan terurai begitu saja. Lipstick berwarna merah tampak memenuhi bibirnya. Matanya tertutup oleh kacamata. Nisha merasa pernah melihat wanita itu entah dimana.
“Si…siapa?!” Wanita itu berteriak kaget dan membuka kacamatanya.
Nisha mengenal wajah itu! Wajah itu selalu berada di pikirannya selama beberapa hari ini. Wanita ini adalah tunangannya Zico! Mengapa wanita ini kesini? Apakah mereka sudah berbaikan?Lalu… Lalu apa yang harus di lakukannya?
“Kamu siapa?!” Pertanyaan Zevana membuyarkan lamunan Nisha.
“A…Aku…”
“Iya, Kamu siapa? Ini benar apartemen Zico kan?”
“Eh, eum…iy…iya…”
“Kamu siapa?”
“A…Aku…” Aku adalah istri Zico. Aku adalah ibu dari anaknya. Ingin rasanya Nisha menjawab seperti itu. Tapi dia tidak ingin merusak hubungan mereka. Apakah Zico sudah bercerita tentangnya kepada wanita itu? Tapi kalau sudah cerita, wanita itu pasti tidak akan menanyakan identitasnya. Itu artinya wanita itu masih belum mengetahui tentang semua cerita mereka.
“Perkenalkan, Aku Nisha. Aku ART nya Pak Zico.” Nisha mengenalkan dirinya.
“Oh, ART toh? Aku pikir siapa. Aku Zevana, Aku tunangannya Zico.”
“Iy…iya…”
“Aku baru pulang dari luar negeri. Aku berencana untuk memberikan dia kejutan. Aku akan sangat terganggu dengan kehadiran orang lain. Bisakah Kamu keluar dulu untuk sementara waktu?”
“Iya, Saya akan keluar…”
“Oh ya, sebelum keluar tolong buatkan Aku minuman segar dan makanan kecil. Aku belum makan apa-apa sejak mendarat.”
“Ba-baik…”
Nisha pergi ke dapur. Airmata sudah mengalir di pipi putihnya. Nisha menggigit bibirnya untuk menahan suara segukan tangisnya. Sekarang sang pemilik Tuan Muda Zico asli sudah datang. Mungkin sudah saatnya si “imitasi” ini menghilang dari kehidupan luar biasa Tuan Muda Zico.
Selesai menyiapkan minuman dan makanan kecil, Nisha segera bergegas ke kamar. Dia mulai mengemasi pakaiannya sedikit. Zevana menyuruhnya untuk keluar. Dia akan keluar untuk tidak mengganggu mereka. Untuk sementara waktu dia bisa tinggal bersama bu Retno. Ketika waktunya sudah tepat, dia akan meninggalkan laki-laki itu selamanya. Waktu itu bukan sekarang. Terlalu tidak ada persiapan bila dia melakukannya sekarang.
“Nona, Saya akan keluar…”
“Ya, ya… terima kasih makanannya. Oh ya, Aku harap Kamu tidak usah datang untuk sementara waktu. Aku ingin menikmati waktuku dengannya. Ketika butuh tenaga bersih-bersih, Kita akan menghubungimu.”
“Baik Nona…” Dan Nisha pun berjalan keluar dari apartemen itu.
***
NB : Sebenarnya Saya ingin upload penampakan Zevana, tapi karena takut proses reviewnya memakan waktu lebih lama, jadi untuk upload penampakan Zevana menunggu episode ini sudah selesai di review sama pihak mangatoon. ya. Mianne 🙏
ErKa 🥰