
Zico tiba di rumah bu Retno ketika matahari mulai terbenam.
Sepanjang perjalanan perasaannya sangat campur aduk. Dia begitu khawatir dengan
apa yang Nisha pikirkan tentang dirinya. Dia hanya berharap Nisha percaya
padanya dan mau menerimanya kembali.
“Dimana dia?”
“Nona ada di kamar, Tuan.”
“Apa dia tahu Aku di sini?”
“Saya akan menyampaikan kedatangan Tuan. Silakan duduk Tuan…”
bu Retno mempersilakan Zico masuk dan menunggu di ruang tamu. Zico menatap
sekelilingnya. Rumah bu Retno sangat sederhana tapi sangat nyaman. Zico
menunggu selama beberapa menit, tak berapa lama kemudian bu Retno kembali
datang menemuinya.
“Tuan, Nona ternyata sudah tidur. Apa perlu Saya
membangunkannya?”
“Tidur?” Zico menatap jam tangannya. “Ini masih Magrib, apa
dia benar-benar sudah tidur?”
“Iya Tuan. Tampaknya Nona sangat kelelahan. Apa perlu Saya
membangunkannya?”
“Tidak, tidak perlu.” Zico diam sebentar. Pikirannya tampak
berputar-putar. Akhirnya dia memutuskan sesuatu. “Tidak perlu membangunkannya.
Aku akan menginap di sini. Kalau tidak keberatan?”
“Ti…tidak Tuan. Tapi tempat Saya sangat tidak layak untuk
Anda. Saya akan sangat merasa bersalah bila membiarkan Anda tidur di tempat
yang sangat tidak layak ini…”
“Tidak apa-apa. Aku akan tidur di sini. Aku akan menunggunya
bangun.”
“Ta…tapi Tuan… ini sangat tidak layak…”
“Tidak apa-apa…”
“Tapi Tuan…”
“Aku bangun. Tidak perlu berdebat lagi.” Nisha tiba-tiba
muncul dari balik kamar. Zico tersenyum kecil melihatnya. Dia sudah menduga
bahwa wanita itu tidak benar-benar sedang tidur. Itu hanya akal-akalan wanita
itu untuk menghindarinya.
Bu Retno menatap pasangan itu dengan tatapan bingung. Bu
Retno menatap Nisha dengan tatapan khawatir. Nisha memberi isyarat dengan
matanya bahwa dia baik-baik saja dan meminta bu Retno untuk meninggalkan mereka
berdua.
“Ka…kalau begitu, Saya ijin keluar dulu untuk membeli gula di
warung.” Bu Retno keluar dari rumah, meninggalkan mereka dalam keheningan.
Zico menatap Nisha dengan sangat intens. Dia beranjak dari
duduknya dan melangkah mendekati Nisha.
“Aku kesini untuk menjemputmu.”
“Aku ingin tidur di sini.”
“Kamu akan merepotkan bu Retno.”
“Tidak, beliau tidak pernah mengatakan seperti itu.”
“Memang beliau tidak mengatakannya. Tapi kehadiranmu di sini
akan merepotkan beliau. Ayo pulang, tidur di rumah.”
“Aku tidak mau pulang!”
“Kenapa?”
“Hanya tidak ingin!”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin menjadi pengganggu. Puas?!!”
“Kamu tidak mengganggu siapapun. Ayo pulang.”
“Aku tidak mau. Kenapa Kamu maksa sih?!” Nisha berteriak,
airmata sudah mengalir di pipinya. Zico terkejut melihatnya.
“Hey, ssshhhh… kenapa menangis?” Zico mendekat dan langsung
memeluk tubuh Nisha. Terkejut, Nisha berusaha melepaskan diri.
“Lepaskan Aku!!” campuran kemarahan dan airmata memenuhi
emosinya.
“Ssshhhh…”
“Lepaskan Aku! Aku benci Kamu! Lepaskan Aku!Aaaaaa…” tangis
Nisha semakin keras. Zico tetap memeluknya dengan erat sembari berusaha
meredakan emosi wanita itu.
“Aku benci. Aku benci Kamu!”
“Iya, ssshhh…” Nisha masih tetap menangis. Sepertinya hanya
dengan tangisan emosinya bisa tersalurkan. Nisha berusaha melepaskan pelukan
Zico. Dia merasa sangat malu karena sudah menunjukkan begitu banyak emosi di
depan pria itu. Dia takut Zico mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
“Aku menangis karena hormon.”
“Iya.”
“Aku tidak menangis karena hal lain.”
“Iya.”
“Jangan berpikiran yang macam-macam. Aku sering menangis
untuk hal-hal lainnya juga.”
“Iya.”
“Aku ingin tidur disini. Aku nyaman di sini.”
“Kalau Kamu tidur di sini, Aku juga akan tidur di sini.”
“Kenapa tidur di sini?! Bukannya ada wanita cantik yang
menunggumu di apartemen?!”
“Jangan panggil-panggil sayang!! Aku bukan sayangmu!” Nisha
meraung. Hamil sepertinya membuat karakternya yang biasanya lembut menjadi
sedikit meledak-ledak. Zico memutuskan untuk mengalah.
“Apa Kamu marah karena wanita yang datang ke apartemen Kita?”
“Bukan urusanku!”
“Apa yang di katakannya padamu?”
“Sudah kubilang, itu bukan urusanku! Aku tidak tertarik
dengan hubungan kalian! Aku mau tidur!” Nisha berbalik dan berjalan menuju
kamar. Sebelum dia sampai di depan kamar, Zico menarik tangannya.
“Dengarkan penjelasanku.”
“Hubungan Kita tidak sedekat itu. Aku hanya mesin pembuat
anak untukmu. Setelah anak ini lahir, Kita tidak akan memiliki hubungan apa-apa
lagi. Jadi Kamu tidak berhutang penjelasan apapun padaku. Lepaskan Aku!”
Mendengar perkataan Nisha membuat Zico tertampar. Dia menjadi sadar dengan
posisinya. Akhirnya dengan berat hati dia melepaskan cengkraman tangannya.
“Aku akan tidur di sini untuk sementara waktu. Jangan memaksaku
untuk kembali.” Selesai berkata seperti itu, Nisha langsung masuk ke dalam
kamar. Meninggalkan Zico yang masih berdiri termangu, berusaha memahami
keadaan.
Hampir setengah jam Zico duduk di ruang tamu itu sembari
merenung. Pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Dia memberi kesempatan bagi
Nisha untuk berpikir tentang hubungan mereka.
***
“Mam… Mamaaah…” Zevana memasuki rumah besar itu seperti rumah
sendiri. Dia berteriak-teriak memanggil-manggil Mama Zico layaknya mamanya
sendiri. Mendengar suara berisik di ruang tamu membuat Mama keluar. Betapa
terkejutnya dia ketika melihat calon menantu kesayangannya datang.
“Zee??Zevana??!!”
“Mamaaahhhhh…” Zevana segera berlari dan menghambur ke
pelukan calon mertuanya. Mama membalas pelukan Zee dengan sangat antusias.
“Zee? Ini beneran Kamu Zee?” Mama melepas pelukannya dan
merangkum wajah Zee dengan kedua tangannya. Tatapan matanya masih tidak percaya
dengan apa yang di lihatnya.
“Iya Maah, ini Zee Maah…” Mata Mama tampak berkaca-kaca.
Dengan lembut dia mencium kening Zevana dengan sayang.
“Mama sangat senang Kamu sudah kembali Zee. Mama sangat
merindukanmu…”
“Sama Mah…Zee juga kangen banget sama Mamah…” Zee kembali
memeluk Mama dengan erat. Puas saling berpelukan, Mama membimbing Zee untuk duduk
di sofa.
“Mama masih gak percaya Kamu ada di hadapan Mama sekarang
Zee. Mama pikir akan sangat lama sekali untuk bisa melihatmu lagi…”
“Zee sudah kembali Ma…”
“Kamu akan kembali seterusnya kan Zee? Tidak akan kembali
lagi ke LN?”
“iyah Mah… Zee akan seterusnya berada di sini Ma… Zee kembali
untuk Zizi Ma…” Zee kembali memeluk Mama dengan erat. Matanya tampak
berkaca-kaca. “Zee menyesal sudah meninggalkan Zizi Ma. Zee berjanji kedepannya
tidak akan meninggalkannya lagi Mah…”
“Kamu kembali untuk Zico Nak? Lalu bagaimana dengan mimpimu
Nak? Apa sudah Kau raih semua?”
Zee menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak ada yang lebih
penting dari Zico Ma. Zee meninggalkan semua mimpi untuk kembali pada dia Ma…
Zee menyesal sudah meninggalkan dia Ma…” Zevana kembali memeluk Mama dengan
mata berkaca-kaca. Mama tampak tersentuh dengan perkataan Zee. Dia kembali
memeluk Zevana dengan erat.
“Perasaanmu sangat besar untuk dia Nak. Mama sangat senang
mengetahui putra Mama di cintai sebesar itu oleh wanita sepertimu. Apa Zico tahu
kalau Kamu sudah pulang Nak?”
“Dia sudah tahu Ma… tapi dia menolakku Mah…Huaaaa…” Zee
kembali memeluk Mama dengan erat. Mama membalas pelukannya dengan bingung.
“Menolak gimana Nak?”
Dan Zee pun menceritakan semua pengalamannya. Dari saat dia
tiba di bandara, ke apartemen Zico, bertemu dengan wanita bermata besar sampai
pada penolakan Zico. Mama mendengarkan semuanya sembari menahan emosi.
Perasaannya sangat marah pada Nisha.
“Kenapa Zizi bersikap seperti itu Ma? Mama tahu kan, Zizi
sangat mencintaiku. Aku pun juga sangat mencintainya. Tapi kenapa dia menolakku
seperti itu Ma? Kenapa Zizi memperkerjakan pembantu muda seperti itu? Apa gak
bisa cari yang tua? Kenapa Zizi rela ngejar pembantu seperti itu Ma? Apa Zizi
punya perasaan pada wanita itu?” Zevana mengeluarkan segala keluh kesahnya.
Mama hanya bisa mendengarkan dengan menahan amarah.
“Kamu tenang saja Nak. Mama akan mengembalikan apa yang
seharusnya sudah menjadi milikmu. Kamu dan Zico sudah di takdirkan untuk
bersama. Mama akan membuat kalian bersama lagi.” Mama kembali memeluk Zevana
yang balas memeluknya dengan senyum puas dan licik karena misinya telah
berhasil.
***