Love Me Please, Hubby

Love Me Please, Hubby
Ch 51 - Menjemputmu Pulang



Zico tiba di rumah bu Retno ketika matahari mulai terbenam.


Sepanjang perjalanan perasaannya sangat campur aduk. Dia begitu khawatir dengan


apa yang Nisha pikirkan tentang dirinya. Dia hanya berharap Nisha percaya


padanya dan mau menerimanya kembali.


“Dimana dia?”


“Nona ada di kamar, Tuan.”


“Apa dia tahu Aku di sini?”


“Saya akan menyampaikan kedatangan Tuan. Silakan duduk Tuan…”


bu Retno mempersilakan Zico masuk dan menunggu di ruang tamu. Zico menatap


sekelilingnya. Rumah bu Retno sangat sederhana tapi sangat nyaman. Zico


menunggu selama beberapa menit, tak berapa lama kemudian bu Retno kembali


datang menemuinya.


“Tuan, Nona ternyata sudah tidur. Apa perlu Saya


membangunkannya?”


“Tidur?” Zico menatap jam tangannya. “Ini masih Magrib, apa


dia benar-benar sudah tidur?”


“Iya Tuan. Tampaknya Nona sangat kelelahan. Apa perlu Saya


membangunkannya?”


“Tidak, tidak perlu.” Zico diam sebentar. Pikirannya tampak


berputar-putar. Akhirnya dia memutuskan sesuatu. “Tidak perlu membangunkannya.


Aku akan menginap di sini. Kalau tidak keberatan?”


“Ti…tidak Tuan. Tapi tempat Saya sangat tidak layak untuk


Anda. Saya akan sangat merasa bersalah bila membiarkan Anda tidur di tempat


yang sangat tidak layak ini…”


“Tidak apa-apa. Aku akan tidur di sini. Aku akan menunggunya


bangun.”


“Ta…tapi Tuan… ini sangat tidak layak…”


“Tidak apa-apa…”


“Tapi Tuan…”


“Aku bangun. Tidak perlu berdebat lagi.” Nisha tiba-tiba


muncul dari balik kamar. Zico tersenyum kecil melihatnya. Dia sudah menduga


bahwa wanita itu tidak benar-benar sedang tidur. Itu hanya akal-akalan wanita


itu untuk menghindarinya.


Bu Retno menatap pasangan itu dengan tatapan bingung. Bu


Retno menatap Nisha dengan tatapan khawatir. Nisha memberi isyarat dengan


matanya bahwa dia baik-baik saja dan meminta bu Retno untuk meninggalkan mereka


berdua.


“Ka…kalau begitu, Saya ijin keluar dulu untuk membeli gula di


warung.” Bu Retno keluar dari rumah, meninggalkan mereka dalam keheningan.


Zico menatap Nisha dengan sangat intens. Dia beranjak dari


duduknya dan melangkah mendekati Nisha.


“Aku kesini untuk menjemputmu.”


“Aku ingin tidur di sini.”


“Kamu akan merepotkan bu Retno.”


“Tidak, beliau tidak pernah mengatakan seperti itu.”


“Memang beliau tidak mengatakannya. Tapi kehadiranmu di sini


akan merepotkan beliau. Ayo pulang, tidur di rumah.”


“Aku tidak mau pulang!”


“Kenapa?”


“Hanya tidak ingin!”


“Kenapa?”


“Aku tidak ingin menjadi pengganggu. Puas?!!”


“Kamu tidak mengganggu siapapun. Ayo pulang.”


“Aku tidak mau. Kenapa Kamu maksa sih?!” Nisha berteriak,


airmata sudah mengalir di pipinya. Zico terkejut melihatnya.


“Hey, ssshhhh… kenapa menangis?” Zico mendekat dan langsung


memeluk tubuh Nisha. Terkejut, Nisha berusaha melepaskan diri.


“Lepaskan Aku!!” campuran kemarahan dan airmata memenuhi


emosinya.


“Ssshhhh…”


“Lepaskan Aku! Aku benci Kamu! Lepaskan Aku!Aaaaaa…” tangis


Nisha semakin keras. Zico tetap memeluknya dengan erat sembari berusaha


meredakan emosi wanita itu.


“Aku benci. Aku benci Kamu!”


“Iya, ssshhh…” Nisha masih tetap menangis. Sepertinya hanya


dengan tangisan emosinya bisa tersalurkan. Nisha berusaha melepaskan pelukan


Zico. Dia merasa sangat malu karena sudah menunjukkan begitu banyak emosi di


depan pria itu. Dia takut Zico mengetahui perasaannya yang sebenarnya.


“Aku menangis karena hormon.”


“Iya.”


“Aku tidak menangis karena hal lain.”


“Iya.”


“Jangan berpikiran yang macam-macam. Aku sering menangis


untuk hal-hal lainnya juga.”


“Iya.”


“Aku ingin tidur disini. Aku nyaman di sini.”


“Kalau Kamu tidur di sini, Aku juga akan tidur di sini.”


“Kenapa tidur di sini?! Bukannya ada wanita cantik yang


menunggumu di apartemen?!”


“Jangan panggil-panggil sayang!! Aku bukan sayangmu!” Nisha


meraung. Hamil sepertinya membuat karakternya yang biasanya lembut menjadi


sedikit meledak-ledak. Zico memutuskan untuk mengalah.


“Apa Kamu marah karena wanita yang datang ke apartemen Kita?”


“Bukan urusanku!”


“Apa yang di katakannya padamu?”


“Sudah kubilang, itu bukan urusanku! Aku tidak tertarik


dengan hubungan kalian! Aku mau tidur!” Nisha berbalik dan berjalan menuju


kamar. Sebelum dia sampai di depan kamar, Zico menarik tangannya.


“Dengarkan penjelasanku.”


“Hubungan Kita tidak sedekat itu. Aku hanya mesin pembuat


anak untukmu. Setelah anak ini lahir, Kita tidak akan memiliki hubungan apa-apa


lagi. Jadi Kamu tidak berhutang penjelasan apapun padaku. Lepaskan Aku!”


Mendengar perkataan Nisha membuat Zico tertampar. Dia menjadi sadar dengan


posisinya. Akhirnya dengan berat hati dia melepaskan cengkraman tangannya.


“Aku akan tidur di sini untuk sementara waktu. Jangan memaksaku


untuk kembali.” Selesai berkata seperti itu, Nisha langsung masuk ke dalam


kamar. Meninggalkan Zico yang masih berdiri termangu, berusaha memahami


keadaan.


Hampir setengah jam Zico duduk di ruang tamu itu sembari


merenung. Pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Dia memberi kesempatan bagi


Nisha untuk berpikir tentang hubungan mereka.


***


“Mam… Mamaaah…” Zevana memasuki rumah besar itu seperti rumah


sendiri. Dia berteriak-teriak memanggil-manggil Mama Zico layaknya mamanya


sendiri. Mendengar suara berisik di ruang tamu membuat Mama keluar. Betapa


terkejutnya dia ketika melihat calon menantu kesayangannya datang.


“Zee??Zevana??!!”


“Mamaaahhhhh…” Zevana segera berlari dan menghambur ke


pelukan calon mertuanya. Mama membalas pelukan Zee dengan sangat antusias.


“Zee? Ini beneran Kamu Zee?” Mama melepas pelukannya dan


merangkum wajah Zee dengan kedua tangannya. Tatapan matanya masih tidak percaya


dengan apa yang di lihatnya.


“Iya Maah, ini Zee Maah…” Mata Mama tampak berkaca-kaca.


Dengan lembut dia mencium kening Zevana dengan sayang.


“Mama sangat senang Kamu sudah kembali Zee. Mama sangat


merindukanmu…”


“Sama Mah…Zee juga kangen banget sama Mamah…” Zee kembali


memeluk Mama dengan erat. Puas saling berpelukan, Mama membimbing Zee untuk duduk


di sofa.


“Mama masih gak percaya Kamu ada di hadapan Mama sekarang


Zee. Mama pikir akan sangat lama sekali untuk bisa melihatmu lagi…”


“Zee sudah kembali Ma…”


“Kamu akan kembali seterusnya kan Zee? Tidak akan kembali


lagi ke LN?”


“iyah Mah… Zee akan seterusnya berada di sini Ma… Zee kembali


untuk Zizi Ma…” Zee kembali memeluk Mama dengan erat. Matanya tampak


berkaca-kaca. “Zee menyesal sudah meninggalkan Zizi Ma. Zee berjanji kedepannya


tidak akan meninggalkannya lagi Mah…”


“Kamu kembali untuk Zico Nak? Lalu bagaimana dengan mimpimu


Nak? Apa sudah Kau raih semua?”


Zee menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak ada yang lebih


penting dari Zico Ma. Zee meninggalkan semua mimpi untuk kembali pada dia Ma…


Zee menyesal sudah meninggalkan dia Ma…” Zevana kembali memeluk Mama dengan


mata berkaca-kaca. Mama tampak tersentuh dengan perkataan Zee. Dia kembali


memeluk Zevana dengan erat.


“Perasaanmu sangat besar untuk dia Nak. Mama sangat senang


mengetahui putra Mama di cintai sebesar itu oleh wanita sepertimu. Apa Zico tahu


kalau Kamu sudah pulang Nak?”


“Dia sudah tahu Ma… tapi dia menolakku Mah…Huaaaa…” Zee


kembali memeluk Mama dengan erat. Mama membalas pelukannya dengan bingung.


“Menolak gimana Nak?”


Dan Zee pun menceritakan semua pengalamannya. Dari saat dia


tiba di bandara, ke apartemen Zico, bertemu dengan wanita bermata besar sampai


pada penolakan Zico. Mama mendengarkan semuanya sembari menahan emosi.


Perasaannya sangat marah pada Nisha.


“Kenapa Zizi bersikap seperti itu Ma? Mama tahu kan, Zizi


sangat mencintaiku. Aku pun juga sangat mencintainya. Tapi kenapa dia menolakku


seperti itu Ma? Kenapa Zizi memperkerjakan pembantu muda seperti itu? Apa gak


bisa cari yang tua? Kenapa Zizi rela ngejar pembantu seperti itu Ma? Apa Zizi


punya perasaan pada wanita itu?” Zevana mengeluarkan segala keluh kesahnya.


Mama hanya bisa mendengarkan dengan menahan amarah.


“Kamu tenang saja Nak. Mama akan mengembalikan apa yang


seharusnya sudah menjadi milikmu. Kamu dan Zico sudah di takdirkan untuk


bersama. Mama akan membuat kalian bersama lagi.” Mama kembali memeluk Zevana


yang balas memeluknya dengan senyum puas dan licik karena misinya telah


berhasil.


***