
Mereka tiba di kota Surabaya menjelang siang hari. Semakin dekat ke rumah Nisha, perasaan Zico semakin tidak
karuan. Kepercayaan dirinya yang tinggi seolah-olah luntur. Tidak ada sikap seorang direktur di dalam dirinya. Yang ada hanya sikap seorang laki-laki yang terlalu banyak melakukan kesalahan dan meminta restu pada orang tua perempuan.
Nisha melihat raut wajah gugup Zico. Dia tersenyum maklum. Nisha meraih tangan Zico dan menggenggamnya.
Seolah-olah berusaha memberikan kekuatan dari sana. Zico menatap Nisha dengan pandangan gugup. Melihat senyuman Nisha menenangkan hati Zico. Dia mengambil tangan Nisha dan mencium buku-buku jarinya.
"Tidak apa-apa Zi. Ibuku pasti mau menerimamu."
"Kuharap seperti itu sayang..."
Mereka berkendara mengarungi kemacetan di kota Surabaya. Mobil melaju ke area perumahan minimalis. Setelah
melewati puluhan rumah, akhirnya mobil berhenti di rumah ber-cat abu-abu.
"Ayo Kita turun." Ucap Nisha sembari menggendong Zoey. Zico masih gugup, dengan perasaan yang tak
karuan Zico turun dari mobil.
"Mom, Mommih.. Itu mobil uncle Niel." Zoey menunjuk2 mobil Mercedes Benz berwarna merah yang
terparkir di seberang jalan. Nisha mengikuti arah yang di tunjuk Zoey, dan benar saja. Memang itu mobil Daniel! Apakah Daniel sedang berada di rumah mereka?
Nisha bersiap-siap untuk menginformasikan hal itu pada Zico, namun sejurus kemudian pintu rumahnya di
buka dari dalam.
Ibunya, Daniel dan Alma tampak keluar dari dalam rumah. Ibu tampak sumringah melihat tamu yang datang. Beliau
segera berlari menyongsong mereka.
"Cucu Uti sudah datang!!" Ibu segera meraih Zoey yang berada di pelukan Nisha dan menggendongnya dengan sayang.
"Glandmaaa..." Zoey balas memeluk utinya dengan sayang. Dia menciumi pipi utinya.
"Cucu Uti kemana aja? Uti kangen..."
"Zoey pelgi cali Daddy. Zoey pulang bawa Daddy. Itu Daddy Zoey Glandma..." Zoey menunjuk Zico yang
berdiri di sebelah Nisha. Ibu menatap Zico dengan pandangan bertanya-tanya. Tatapan matanya secara bergantian melihat Nisha dan Zico.
"Ib-Ibu... Kita bicarakan hal ini di dalam. Ayo Kita masuk dulu." Nisha memecah keheningan dan meraih
tangan ibunya. Menuntunnya agar segera masuk ke dalam rumah. Di depan pagar dia berpapasan dengan Daniel, yang sedari tadi memperhatikan mereka dalam diam. Nisha tidak berani menatap wajah Daniel. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
Daniel menatap Zico dengan tatapan tajam. Aura ingin menghancurkan tampak dari gestur tubuhnya. Sementara
Zico menatapnya dengan penuh persahabatan. Tampak dari matanya bahwa dia sangat berterima kasih terhadap Daniel.
"Siapa dia Nduk? Kenapa Kamu pulang dengan membawa orang asing? Apa Kamu tahu betapa bingungnya Nak
Daniel mencarimu?" Ibu menyeret Nisha ke dapur dan membombardir Nisha dengan pertanyaan.
"Ibu, Nisha mohon Ibu jangan marah ya..."
"Kenapa Nduk? Ada apa ini? Siapa laki-laki itu?"
"Se-sebenarnya dia adalah ayahnya Zoey Bu..."
"A-APA?!!" Ibu tampak kehilangan keseimbangan. Nisha segera menahan tubuh Ibu agar tidak goyah. Dia
segera mengambil Zoey dari gendongan Ibu dan menyuruh Alma untuk menemani Zoey bermain.
Ibu terduduk di kursi. Rupanya beliau masih terkejut dengan berita yang di sampaikan putrinya.
"Ka-kamu yakin dia ayah Zoey Nduk?"
"Iya Bu, dia ayah Zoey..."
"Ke-kenapa dia kembali? Bukankah dia sudah meninggalkan kalian?!"
"Ib-ibu... Se-sebenarnya Nisha berbohong pada Ibu. Bukan dia yang meninggalkan Nisha Bu, ta-tapi Nisha
yang meninggalkan dia..."
"Ni-nisha punya alasan sendiri Bu..."
"Lalu mengapa Kamu sekarang membawa dia kemari? Apa Kamu berencana untuk kembali bersamanya lagi?!"
"Se-sebenarnya Nisha sudah menikah dengannya lagi Bu..."
"TANISHA!!" Tangan Ibu terangkat, tampak ingin menampar Nisha. Tapi tiba-tiba berhenti di udara.
Tangan Ibu tampak gemetar. Nisha memejamkan matanya, bersiap-siap untuk menerima tamparan dari ibunya.
"Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi wanita murahan seperti ini!! Kamu menikah tanpa meminta
restu pada Ibu! Menikah dengan laki-laki yang sudah meninggalkanmu! Apa Kamu bisa memahami perasaan Nak Daniel bila mendengar hal ini?!!" Ibu tampak murka. Nisha begitu terkejut dengan reaksi ibunya. Dia menganggap Ibunya pasti akan menerima Zico dengan tangan terbuka. Dia tidak menyangka Ibu yang biasanya
kalem akan semurka ini terhadapnya.
Nisha bersujud di kaki Ibunya, meminta pengampunan.
"Maaf, maafin Nisha Bu. Nisha tidak berpikir kesitu Bu. Tolong, tolong terima dia Bu. Bagaimanapun dia
juga telah banyak menderita Bu. Nisha yang salah karena sudah ninggalin dia Bu. Dia tidak salah apa-apa..."
"Bagaimana dengan Nak Daniel?! Kamu tahu dia sudah mencintaimu selama bertahun-tahun. Menunggumu
dengan sabar. Apa ini balasan yang bisa Kamu berikan padanya?! Kalau bukan karena Nak Daniel, Kita semua tidak akan bisa hidup seenak ini. Keluarga Kita tidak akan berkumpul. Kamu tidak akan pernah kuliah dan mendapatkan pekerjaan bagus. Adik-adikmu juga tidak akan kuliah. Apa Kamu pernah memikirkan
perasaannya?!"
Nisha terdiam mendengar perkataan Ibunya. Sebenarnya dia sangat mengetahui perasaan Daniel terhadapnya.
Tapi dia tidak bisa membuat perasaan itu berkembang. Kalaupun Zico tidak muncul lagi dalam hidupnya, dia juga tidak akan berakhir dengan Daniel. Hubungannya dengan Daniel mau sepuluh tahun pun berlalu tetap akan seperti ini, hubungan kakak dan adik. Dia bisa apa? Hatinya tidak bisa menerima Daniel sebagai pasangannya.
"Ibu tahu dari dulu perasaan Nisha terhadapnya selalu sama. Nisha tidak bisa menerima dia sebagai
pasangan Nisha Bu..."
"Tapi Kamu tidak bisa menghancurkan perasaannya seperti ini!! Membawa laki-laki lain di depan matanya.
Apa Kamu pernah berpikir bagaimana hancurnya perasaannya?!"
Nisha terdiam membisu. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Semua hal berjalan di luar kendalinya. Bila
Zico kembali dalam hidupnya dengan cara yang normal, dia pasti akan mengenalkan Zico secara pelan-pelan. Membuat Zico akrab dulu dengan keluarganya sebelum memutuskan untuk menikah lagi. Tapi dari awal alurnya memang sudah tidak normal. Zico memperkosa, menculik, dan memaksanya melakukan pernikahan itu
hingga alurnya menjadi kacau balau seperti ini.
"Daniel pasti akan mengerti Bu. Nisha akan bicara baik-baik padanya." Nisha terdiam, menunggu
sanggahan dari Ibunya. Ketika tak terdengar sanggahan, dia kembali melanjutkan. "Tolong temui dia Bu. Besar harapannya agar Ibu mau menerima dan merestuinya..."
Selesai berkata seperti itu, Nisha pergi ke ruang tamu. Di ruang tamu, dia melihat dua singa saling bertatap-tatapan dengan dingin. Atmosfer di ruangan itu tampak panas. Daniel tampak berusaha menahan amarahnya. Sementara Zico menatap Daniel dengan pandangan bersahabat.
"Ehem.. Zi, Aku akan keluar sebentar dengan Daniel."
"Kemana?"
"Ada yang ingin Kubicarakan."
"Apa Aku perlu ikut?"
"Ti-tidak perlu. Kamu di sini saja. Ibu ingin lebih mengenalmu."
"Ba-baiklah." Mendengar kata "Ibu" di sebut membuat nyali Zico ciut. Dengan
berdebar-debar dia menunggu kedatangan Ibu di ruang tamu. Sementara Nisha pergi
dengan Daniel. Banyak hal yang harus Nisha sampaikan pada pria itu. Dia
berharap Daniel bisa menerima semua keputusannya.
***
Happy Reading ^^