
Mata Mama berkaca-kaca melihat sosok kecil di depan matanya. Tangannya berusaha meraih tubuh kecil Zoey.
"JANGAN SENTUH DIA!!" Nisha berteriak. Dia menarik tubuh Zoey ke belakangnya. Melindungi Zoey dari pandangan mata Mama. "Untuk apa Anda kemari?! Masih belum puaskah Anda membuat Kami menderita?!"
"Nisha..."
"Kali ini rencana apa lagi?!"
"Nisha, Mama tidak bermaksud..."
"Saya sudah menjauh dari putra Anda yang berharga! Tapi putra Anda yang menahan Kami di sini! Jika Anda ingin Kami pergi lagi, dengan senang hati Kami akan melakukannya!" Nisha berkata dengan berapi-api. Rasa takut menyelimuti dadanya. Tapi demi Zoey, dia tidak boleh lemah lagi. Dia harus kuat, karena dia lah satu-satunya pelindung Zoey.
"Ni-Nisha... Ijinkan Mama berbicara..." Mama berbicara dengan raut wajah memelas. Tampak butiran air mata berjatuhan di pipinya.
"Nisha, ijinkan Mama berbicara. Mama sangat menyesal dengan apa yang terjadi di masa lalu." Retha ikut-ikutan berbicara.
"Sudah seharusnya beliau menyesal!! Apa yang beliau lakukan sangat keterlaluan!"
"Nisha, Kami datang kesini bukan untuk bertengkar. Kami ingin meminta maaf..."
"Maafin Mama Nak!!" Tiba-tiba Mama bersujud dan memegang kedua kaki Nisha. Membuat Nisha sangat terkejut.
"Ap-Apa yang Anda lakukan?" Tubuh Nisha menjadi kaku, dia begitu bingung harus berbuat apa.
"Ma, kenapa Mama melakukan hal seperti ini? Bangun Ma..." Qintan merangkul tubuh Mama, mencoba membantunya untuk segera bangkit.
"Tidak!! Mama tidak akan bangun sampai dia memaafkan Mama. Nisha, maafkan Mama Nak. Mama benar-benar sangat menyesal. Selama lima tahun ini Mama hidup dalam penyesalan. Maafkan Mama Nak, gara-gara Mama hidupmu dan Zico jadi hancur...hiks..." Mama memohon sambil menangis. Mendengar nama Zico kembali di sebut, membuat Nisha tertarik.
"Hidup Zico hancur?"
"Iya Nak."
"Tolong berdiri. Saya merasa sangat tidak nyaman. Bila Anda benar-benar tidak ada niatan buruk, Saya akan mengijinkan Anda untuk masuk." Nisha berkata dengan dingin.
Mama berdiri dibantu oleh Retha dan Qintan. Nisha pergi lebih dulu sembari menggendong Zoey di lengannya, di ikuti oleh Mama di belakangnya. Nisha pergi ke ruang keluarga. Duduk di sofa dengan tubuh tegak. Berusaha untuk tampak tidak lemah. Bertemu dengan Mama dan kedua kakak iparnya ini kembali membuatnya teringat kenangan masa lalu. Bagaimana dulu wanita itu menginjak-nginjaknya. Menyuruhnya untuk menggugurkan Zoey dan meninggalkan Zico. Segala cara di lakukan untuk menjauhkannya dari Zico agar dia bisa memiliki menantu yang setara dengannya. Mengingat hal itu membuat Nisha sakit hati dan marah. Sekarang wanita itu kembali datang padanya. Tipu muslihat apalagi yang akan di lakukannya? Dan dimana menantu kesayangannya? Kenapa tidak ikut bersama rombongan ini?
"Silakan duduk." Nisha mempersilakan ketiga wanita itu duduk di depannya. Dia bersikap layaknya Nyonya di rumah itu.
"Mommih? Sapa Onty dan Glandma itu?" Zoey berbisik, penasaran dengan ketiga tamu mereka.
"Zoey diam ya Nak. Nanti Mommy kasih tahu." Nisha mengecup kening Zoey dan kembali memangkunya.
"Pas-pasti dia anak Zi. Dia sangat mirip Zi ketika masih kecil..." Mata Mama kembali berurai airmata. Tangannya terangkat, berusaha untuk meraih Zoey. Nisha memeluk Zoey dengan erat, takut Zoey di ambil darinya.
"Dia anakku!! Hanya anakku!! Tidak ada yang berhak terhadapnya selain Aku!!" Nisha berkata dengan tegas.
"Dia anak Zi. Mama yakin itu..."
"Anak yang Anda maksud sudah tidak ada. Dia sudah meninggal di hari Anda tidak menginginkannya!! Zoey hanyalah anakku!! Tidak ada hubungannya dengan keluarga terhormat kalian!" Nisha berkata dengan berapi-api, semakin memeluk Zoey dengan erat.
"Mommih... Sakiiitt Miih..." Zoey mulai merengek. Nisha segera tersadar. Dia merenggangkan pelukannya dan mencium Zoey dengan sayang.
"Maafkan Mommy Nak." Kata Nisha di penuhi dengan rasa bersalah.
"Apa tujuan kalian datang kesini? Apa kalian ingin mengusir Kami lagi? Kali ini kalian tidak perlu bersusah payah. Asalkan Kami bisa keluar dari pulau ini, Kami akan menjauh dari hidup kalian lagi!"
"Nisha, Kami datang kemari bukan untuk bersitegang. Kami ingin berdamai. Mama sudah sangat menyesal dengan perbuatannya. Tolong maafkanlah Mama." Retha berbicara. Mama tampak menunduk mendengar perkataan Retha.
"Nisha, Mama meminta maaf atas perbuatan Mama lima tahun yang lalu. Mama seharusnya tidak memisahkan kalian. Tidak membuatmu seolah-olah mengugurkan kandungan agar Zi membencimu. Apa yang Mama lakukan itu semua salah. Mama sangat menyesal..." Mama kembali berurai airmata.
Melihat Mama yang tampak menyesal dan menyedihkan membuat Nisha ragu-ragu. Wanita arogan, egois dan tinggi hati menjadi begitu lemah tak berdaya. Memohon kepadanya dengan begitu menyedihkan. Hati dan pikirannya bergejolak. Antara ingin mempercayai wanita itu atau tidak. Dia takut wanita itu akan memanipulasinya lagi. Membuat skenario demi memuluskan tujuannya lagi.
"Apa yang kalian mau sekarang? Apa yang kalian inginkan dariku? Aku yakin kalian memiliki tujuan lain dari melakukan hal seperti ini."
"Mama tidak memiliki tujuan lain Nak. Yang Mama inginkan hanya melihat kalian bahagia. Bila kebahagiaan Zi hanya dengan bersamamu dan anak kalian, maka dengan senang hati Mama akan merestuinya. Mama bersyukur Kamu sudah kembali dalam hidup Zi. Dia terlihat seperti manusia setelah bertemu denganmu..."
"Seperti manusia? Maksudnya apa?" Nisha bertanya dengan bingung.
Dan Mama pun mulai menceritakan semua penderitaan yang di alami Zico selama lima tahun terakhir. Kondisi psikologisnya yang terguncang, stress, dan percobaan bunuh diri berkali-kali semua Mama ceritakan. Nisha mendengar cerita Mama dengan terkejut. Dia tidak menyangka hidup Si Tuan Berkuasa Zico akan semenyedihkan itu. Tanpa sadar air mata menetes di pipi Nisha. Gelombang perasaan bersalah menghantamnya begitu dalam. Karena dirinya yang lemah dan begitu pengecut, dia membiarkan orang lain mengatur kehidupannya. Andaikan dulu dia memiliki keberanian untuk melawan, mungkin hasil akhirnya tidak akan seperti ini. Mungkin sekarang dia dan Zico sudah hidup bahagia. Dulu dia berpikir, bahwa yang paling menderita dari perpisahan ini adalah dirinya. Dia menganggap Zico sudah bahagia bersama pilihan Mamanya. Ternyata bukan seperti itu. Pada kenyataannya Zico lebih menderita darinya. Mengalami masa-masa sulit karena kehilangan anaknya. Sedangkan dia sendiri melanjutkan hidup dengan di temani Zoey. Meskipun membesarkan seorang anak tanpa di dampingi seorang suami itu sulit, namun ada orang-orang tersayang yang mendampinginya. Berbeda dengan Zico. Dia berpikir bahwa anaknya sudah meninggal, sehingga dia selalu berkubang dalam kesedihan yang mendalam. Tidak merasakan kebahagiaan sedikit pun.
Memikirkan itu membuat Nisha semakin menangis. Airmatanya tak berhenti mengalir. Melihat ibunya menangis membuat Zoey ikut menangis. Dia menangis sembari memeluk ibunya dengan erat.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!" Zico tiba-tiba datang. Menatap Ibu dan kedua iparnya dengan tatapan membunuh.
***
Happy Reading 😊🥰
Jangan lupa votenya ya, terima kasih 🥰😙